SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 149


__ADS_3

Persiapan Kencan


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Pekerjaan hari ini di tutup sempurna oleh Nia, dia selalu tersenyum cerah kemanapun dia berjalan setelah di antar oleh Aisakha kembali ke laboratorium selesai jam makan siang tadi. Aura bahagia terpancar dari mata cokelat Nia, membuat siapapun yang berada di dekatnya terbawa suasana bahagia tersebut. Itulah Nia, segala hal positif pada dirinya bisa menularkan kebaikan untuk lingkungan sekitarnya.


γ€€


"Baiklah sudah jam pulang, mari kita pulang semuanya ". Wulan bersorak semangat ke arah Nia, Resya, Anita dan Bowo.


γ€€


"Iya..mari kita pulang ". Anita sudah selesai mensterilkan semua peralatan labor yang tadi mereka pakai.


γ€€


"Wah, hari ini semua berjalan dengan baik, semua berkat kalian. Terima kasih ya sahabat-sahabat terbaikku ". Nia telah melepas jas labnya dan bersiap melangkah keluar dari laboratorium.


γ€€


"Eiittt, jangan sungkan. Kitakan tim, jadi kita pasti bisa selesaikan apapun itu kalau kita bersama-sama ". Resya merangkul Nia dan berjalan bersamanya.


γ€€


"Boleh tahu enggak, kenapa senyum di wajahmu itu gak bisa hilang setelah kita makan siang bareng tadi ? Presdir melepas kangenya sama kamu dengan cara apa sih ?" Senyum jahil menghiasi wajah Resya saat mengajukan pertanyaan pada Nia.


γ€€


"Tunggu, tunggu". Suara derap langkah kaki yang berjalan cepat terdengar di belakang Nia dan Resya.


γ€€


"Okeh, sekarang boleh jawab ". Wulan dan Anita sudah berdiri di dekat Nia.


γ€€


"Kalian ini apa coba ". Nia mulai merasa malu mendapati sikap penasaran dari para sahabat wanitanya itu.


γ€€


"Iya..cerita napa sih Nia. Bagi-bagi dong kebahagiaanya, jangan buat kami penasaran !" Resya mulai mendesak Nia.


γ€€


"Aduh, udah dong. Jangan gituh kaliannya". Nia berusaha berjalan duluan meninggalkan Wulan, Resya dan Anita yang ternyata tidak mau di acuhkan begitu saja. Mereka kembali mempercepat langkah untuk menyamakan langkah kaki Nia.


γ€€


"Kalian ini, biarkan saja Nia bahagia. Bukannya itu bagus, kitakan bisa melihat wajah cantiknya di penuhi bintang ". Bowo ternyata sudah berjalan di sebalah Nia, membuat mereka semua terkejut.


γ€€


"Kamu kapan jalannya Wo, kok udah sampe sini aja ?" Resya terlihat bingung.


γ€€


"Mangkanya jangan asyik godain Nia aja kerjaan kamu. Aku udah di belakang kalian, kalian malah gak tahu ".


γ€€


"Yeeee, yang godain Nia itu siapa coba ". Resya tidak terima dengan pernyataan Bowo barusan. "Kami itu cuma pengen tahu, gimana sih cara Presdir melepas rasa rindunya sama Nia. Sampe-sampe wajah sahabat kita ini gak ada capeknya buat tersenyum. Kan misterius banget tuh ".


γ€€


"Iya, iya ". Wulan dan Anita juga sependapat dengan apa yang diungkapkan Resya barusan.


γ€€


"Tapi kalau mukanya sudah memerah seperti tomat begitu, kalian harusnya sudah berhenti mengodanya. Kasihankan ". Bowo terlihat berusaha mengembalikan rambut Nia kembali kebelakang telinganya.

__ADS_1


γ€€


Spontan Damar menepis tangan Bowo yang terlihat hampir menyentuh rambut Nia. "Jauhkan tangan anda ". Damar memasang sikap bermusuhan pada Bowo. Nia terdiam, memamdang Bowo tidak percaya.


γ€€


Ah, dia lagi. Selalu saja dia. Cepat Bowo menurunkan tangannya, dia benar-benar kesal kepada Damar, sampai-sampai refleks Bowo mengepal tangan kanannya.


γ€€


"Jaga sikap anda, Pak. Jangan coba menyentuh nona !" Damar si pengawal Nia terlihat sangat waspada.


γ€€


"Iya kamu ini Bowo. Tumben deh aneh-aneh gituh ". Anita merasa suasana mulai tidak kondusif. "Maafkan Bowo ya Pak. Kami tadi cuma bercanda kok ". Anita berusaha menegahi ketegangan antara Bowo dan Damar.


γ€€


"Sudah, sudah ". Nia berusaha menghentikan Damar yang terlihat masih berusaha menjauhkan dirinya dari Bowo. "Sudah Damar, ayo kita pergi. Saya harus ke Rumah Sakit lihat Bibi ". Damar menganguk hormat pada Nia. "Teman-teman, aku duluannya. Aku udah janji mau lihat Bibi. Takutnya kalau aku telat, Bibi malah khawatir ". Nia mulai berjalan. "Daa semua, sampe ketemu senin. Duluan ya ". Nia telah menjauh dari Wulan, Resya dan Anita, berjalan menuju parkiran tempat Pakde dan Satriyo, pengawal Nia yang lainnya telah menunggu di siaga di luar mobil.


γ€€


"Kamu sih Wo, apa-apa coba tadi itu ?" Wulan mengelengkan kepalanya sambil memandang Nia yang sudah menjauh di bawa oleh mobil yang di kemudikan Pakde, sopir Nia.Β  "Kerasukan apa kamu sampe lancang kayak gituh ?"


γ€€


"Aku gak ada maksud apa-apa Wulan, sungguh ! Tadi itu cuma refleks aja ". Bowo tidak bisa menjelaskan apa yang telah mengerakkan tangannya hingga bisa melakukan hal seperti tadi pada Nia.Β Aku hanya sayang saja pada Nia, apa salah ?


γ€€


γ€€


***************


γ€€


"Damar, apa yang terjadi tadi tolong jangan ceritakan pada tuan ya ". Nia berhenti sesaat di koridor Rumah Sakit.


γ€€


γ€€


"Tolonglah jangan kamu ceritakan. Saya tidak mau tuan Aisakha mengamuk. Kamu ngertikan ? Lagi pula kedepannya saya akan menjauhi Bowo, saya akan jaga jarak dari dia ". Nia menatap penuh permohonan pada Damar.


γ€€


"Berjanjilah nona, kedepannya jaga jarak dari lelaki itu. Perasaan saya ada yang di tutupinya nona. Saya tidak mau nona kenapa-kenapa karena dia ".


γ€€


Aku sendiri tidak bisa mengerti kenapa belakangan ini Bowo bersikap beda padaku, berani memegang tanganku. Bahkan berani menyentuhku lebih dari biasanya. Ada apa dengan Bowo ?


γ€€


"Iya, aku janji. Kamu jangan khawatir ya. Sekarang aku masuk dulu. Kamu mau ikut atau menunggu di sini ?" Nia sudah memegang gagang pintu kamar rawatan Bibi Ros.


γ€€


"Izinkan saya ikut ke dalam nona, nanti kalau saya yakin nona aman di dalam, saya akan keluar dan menunggu di sini". Maklumlah, ini kali pertama Damar mengawal Nia. Dia belum kenal seluruh keluarga Nia, jadi wajar saja bukan kalau Damar bersikap waspada dan memilih untuk mengikuti Nia masuk kedalam kamar rawatan sang Bibi ?


γ€€


"Aaa, Bibi sudah sangat sehat ternyata ". Nia berjalan kearah Bibi yang terlihat sudah bisa duduk bersandar di kepala ranjang. Tidak tiduran lagi, wajah Bibi pun sudah sangat segar. Tidak pucat seperti beberapa hari yang lalu.


γ€€


"Sini, sini nak. Beri Bibi pelukan !" Nia mendekati Bibi Ros dan memeluk Bibi lama. "Kamu cantik sekali nak ". Bibi mengelus punggung Nia. "Kamu sedang bahagia ya ?"


γ€€


"Bibi bisa saja ". Nia melepas pelukannya dari Bibi. "Bagaimana perasaan Bibi sekarang ?" Nia duduk di kursi persis di sebelah ranjang Bibi. Tangannya memegang erat jemari Bibi.

__ADS_1


γ€€


"Bibi sudah sehat, kamu lihat ". Bibi berusaha menyakinkan Nia. "Hanya kaki Bibi saja yang belum pulih. Kata dokter setelah lewat minggu depan, Bibi bisa mulai fisioterapi untuk pemulihan kaki ". Tunjuk Bibi pada kaki kanannya yang masih di balut perban.


γ€€


"Bibi sabar ya, seminggu itu gak lama kok. Lagi pula mendapati Bibi sangat sehat seperti sekarang, rasanya senang banget ". Nia tersenyum pada Bibi.


γ€€


"Maaf ya nak, pernikahan kamu terpaksa di tunda sampai Bibi sehat ". Bibi mendadak sedih.


γ€€


"Loh, loh..Bibi jangan gomong gituh dong".


γ€€


"Bibi sangat ingin terlibat dalam acara pernikahanmu. Bibi ingin bisa terlibat mempersiapkan semuanya bersama Ibu mertuamu. Itu impian Bibi, impian seorang Ibu untuk anak gadisnya". Mata Bibi mulai berkaca-kaca.


γ€€


"Aku tahu, Bibi sayang sama aku sama seperti sayang Bibi pada Alika. Aku dan Mas tidak mempermasalahkan pernikahan kami menunggu sampai Bibi sehat benar. Lagi pula Bibi tahukan, aku mana punya pengalaman tentang persiapan pernikahan. Tentu saja aku sangat mengantungkan diri pada Bibi, jadi Bibi cepat sehat ya. Supaya aku bisa merepotkan Bibi nanti ". Nia tertawa pelan sambil menutup mulutnya, sepertinya Nia cukup malu membicarakan semua pada sang Bibi.


γ€€


"Hahaha, kamu ini sudah mau jadi isteri orang, tapi masih juga pemalu ". Bibi membelai kepala Nia. Dan Nia hanya cengar-cengir menutupi sikap salah tingkahnya.


γ€€


"Kamu dan Aisakha sudah bicara serius tentang masa depan kalian, nak ?"


γ€€


"Sudah Bi, tadi kami lama bicara panjang lebar dari hari ke hati ". Nia sangat antusias.


γ€€


"Baguslah nak, bagus sekali. Kedepannya baik-baiklah berumah tangga. Meski tidak mudah, kamu harus selalu percaya padanya. Aisakha itu lelaki yang baik, dia sangat mencintai kamu. Lihatlah apa yang tidak mungkin", Bibi menunjuk ke segala arah pada peralatan kesehatan canggih yang mengelilinginya. "Karena sayangnya dia padamu, nak. Semua bisa sangat mungkin untuk dilakukannya. Jadi, jangan sampai hal-hal buruk mengacaukan rumah tangan kalian suatu hari nanti. Andai ada sesuatu yang menganggumu, cepat kamu tanyakan padanya. Jangan di tunda-tunda hingga menjadi bom waktu untuk pernikahan kalian. Serta satu lagi, kamu harus lebih mencoba mengekspresikan diri di depannya, jangan malu. Saat kamu telah menjadi isterinya nanti, belajarlah untuk membagi suka dukamu padanya. Itulah kasih sayang sejati dalam berumah tangga. Ya ?" Bibi memberi banyak nasehat pada Nia.


γ€€


Nia menganguk kepada Bibi, tersenyum cerah dan memeluk Bibi untuk berterima kasih. Rasanya hati Nia sangat terharu dengan kasih sayang yang Bibi berikan padanya selama ini. Bibi sudah seperti penganti Ibunya yang telah lama tiada. Keberadaan Bibi dan Paman telah menyempurnakan hari-hari Nia sebagai seorang anak yang dicintai keluarganya.


γ€€


"Lantas apa acara kamu besok nak ?" Nia telah melepas pelukakannya dari Bibi.


γ€€


"Hehehe, itu Bibi ". Nia mengaruk ujung keningnya, sikap salah tingkahnya kembali melandanya. "Sebenarnya besok itu, Mas mengajak aku. Malamnya ". Nia mulai bicara tanpa jelas kemana arahnya. "Itu Bi, dia mau ajak aku kencan malam besok. Hehehehe".


γ€€


"Wah..berita bagus itu ". Bibi langsung bersemangat. "Besok pagi kamu pergi kesalon sama Alika ya. Habis itu belanja baju dan sepatu baru. Kamu harus cantik nak, inikan kencan pertama kalian. Mana hape Bibi, aduh mana ya ?" Bibi sibuk mencari kesana kemari, melihat tiap sisi tempat tidurnya. "Coba tolong Bibi cari dulu, dimana Pamanmu meletakkan hape Bibi !"


γ€€


"Ini Bi ". Nia menemukan handphone Bibi yang ternyata diletakkan Paman di atas meja.


γ€€


"Aaa, terima kasih ya nak. Bibi akan telepon Alika, besok dia harus temani kamu untuk memanjakan diri seharian di salonΒ Bibi mau kamu tampil bagai malaikat, membuat Aisakha semakin cinta sama kamu ".


γ€€


"Hah ?" Lagi-lagi Nia di buat salah tingkah setelah mendengar rencana Bibi untuk persiapan kencan pertamanya bersama Aisakha besok malam.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2