
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Apa aku terlambat ?" Dengan nafas terenggah-enggah Resya berdiri sambil memegang dadanya di depan pintu laboratorium.
 
Nia, Damar dan Bowo menatap Resya secara bersamaan. "Kamu lari ?" Tanya Nia memperhatikan Resya yang masih sibuk mengatur nafasnya agar kembali teratur.
 
"Dikit, hehehe ". Cenggir Resya sambil menunjukkan deretan gigi putihnya. "Maaf ya telat ".
 
"Gak telat kok Sya, kan belum lewat jam masuk kerja ". Nia melirik jam tangan kecil di pergelangan tangannya. "Masih lama juga, masih 30 menit lagi ".
 
"Ahhhh ". Resya menarik nafas panjang. "Lega deh ". Resya segera mendekat kearah Nia. "Wulan dan Anita di bawa Profesor ke ruang meeting. Mereka di minta Profesor siapain ruangan. Tadinya aku juga di sana, ternyata kata Profesor cukup mereka saja. Jadi aku di suruh balik ke sini. Bantuin kamu ". Jelas Resya tentang keberadaan 2 rekan mereka lagi.
 
"Aku bantu apa ?" Sekarang Resya sudah berdiri di sebelah Nia. "Eh, anda kok di sini ?" Resya heran mendapati Damar duduk hanya beberapa centi meter dari Nia. "Baru nyadar kalau anda ada di dalam, ngapain ?"
 
"Ooo..itu.... ". Suara Damar terhenti.
 
"Damar bantu aku tadi Sya ". Jawab Nia cepat, membuat Damar membatalkan melanjutkan kalimatnya yang terpotomg oleh Nia.
 
"Ya udah, anda sudah bisa tinggalkan Nia sama saya sekarang. Biar saya yang bantuin ". Damar memandang sekilas pada Bowo, sepertinya Bowo sedang sibuk dengan pekerjaannya sehingga, tidak terlihat ada gelagat mencurigankan.
 
"Baiklah, saya akan pindah duduk di sana nona ". Ucap Damar pada Nia sambil menunjuk ke arah pintu. "Kalau ada apa-apa, nona tinggal kasih kode saja. Semua akan saya bereskan !" Suara Damar terdengar menyakinkan.
 
"Tenang, sudah ada saya di sini. Nia pasti saya bantu kok. Jangan khawatir ". Dengan penuh percaya diri, Resya mewakili Nia menjawab. Sepertinya Resya salah mengerti arti arti kata-kata Damar barusan. Sedang Nia, orang yang di maksud oleh Damar memilih mengangukan kepalanya untuk menjawab permintaan Damar padanya.
__ADS_1
 
***************
 
"Mohon nanti anda bersikap tenang, jangan terpancing suasana. Semua biar saya dan tim yang urus ". Bagas terlihat sedang berdiskusi di sebuah ruang tunggu di dalam gedung besar Pengadilan Tinggi Negeri Kota Bengkulu.
 
"Tentu saja saya tenang, memang kenapa saya harus marah, ha ? Sayakan tidak bersalah. Karena itu saya sewa kalian ". Seperti biasa, tabiat sombong tidak pernah hilang dari diri Bagas, walaupun sekarang dirinya tengah menunggu giliran sidang putusan perkaranya. Tapi masalah pongah tetap saja menempel habis padanya.
 
"Ya..kami tahu itu. Pokoknya dengarkan saja nasehat saya !" Si pengacara terlihat cukup sabar dalam menghadapi Bagas, klien barunya itu.
 
Aku harus bebas hari ini, aku sudah rindu pada Nia. Apa kabar wanita cantik yang sudah membuat aku mendekam di penjara beberapa mingu ini. Ah, apa Ibunya Nia sudah sehat ya ?
Eh, Ibunya kan yang sakit kemaren itu? Ahhhh...terserahlah mau siapanya yang jelas gagal sudah rencanaku mencari muka di depan keluarga Nia gara-gara orang-orang bodoh yang melaporkan aku. Heh, hanya luka gores sedikit di wajah dan bemper mobil penyok saja main laporakan aku. Cih, kampungan.
 
***************
 
 
Mama Sandara, Ibu kandung Edo berjalan dengan senyum semeringah sambil mengandeng erat tangan wanita muda cantik ke arah meja makan. Tanpa canggung si wanita cantik ini di minta duduk pada kursi kosong tepat di sebelah Edo.
 
"Kemala duduk di sebelah Edo !" Ucap Mama senang. Sedang Edo hanya memasang tampang acuh, bahkan sedari awal dirinya di beritahu tentang kedatangan Kemala, calon isterinya itu oleh sang Mama. Edo hanya menanggapi datar. Hari ini Kemala memang sengaja di undang sarapan pagi oleh keluarga Edo, kebetulan pagi ini mereka berdua harus melakukan pengecekan seputar persiapan pernikahan yang waktunya sudah mulai mepet.
 
"Hai....". Sapa Kemala manis kepada Edo sebelum mendudukkan badannya di kursi.
 
Yang di sapa hanya diam, memilih terus mengunyah makanan di dalam mulutnya, sepertinya kedatangan Kemala tidak diharapkan oleh Edo.
 
__ADS_1
"Do, kok enggak di jawab sapaan Kemala sih ?" Mama terlihat kesal dengan sikap anak lelakinya itu. Dan Edo tetap memilih menggunyah makanan di dalam mulutnya secara perlahan. Barulah beberapa saat kemudian, setelah makanan tersebut sukses melewati tengorokannya, Edo mulai bersuara.
 
"Hemm ". Jawab Edo singkat sambil menatap Kemala. Sedang Kemala, gadis cantik yang kurang 2 minggu lagi akan dinikahi Edo ini tersenyum tulus ke arah sang calon suami.
 
Maaf, aku masih belum terbiasa denganmu. Atau lebih tepatnya aku sendiri tidak tahu kapan akan bisa menerimamu. Meskipun aku tahu kamu lebih baik dari wanita sialan itu, tapi aku masih saja belum bisa....
 
"Kamu mau aku ambilkan apa ?" Suara Kemala membuat Edo segera membuang muka.
 
"Makanlah cepat. Setelah ini kita segera cek gedung dan kateringnya. Aku masih banyak pekerjaan soalnya ". Suara dingin Edo menghilangkan senyum di wajah Kemala.
 
Kemala memilih menunduk, ada sesak menghinggapi dadanya. Nyaris 2 tahun lamanya bagi Kemala bersikap lembut dan baik pada Edo, tulus mencintai lelaki yang sudah di taksirnya sejak masa SMA, tapi apa yang di dapatnya. Menjelang hari suci pernikahan mereka yang tinggal hitungan hari saja, Edo masih memperlihatkan sikap dingin, seakan belum bisa menerima dirinya.
 
***************
 
Pakde terlihat sibuk memainkan handphonenya. Kadang menyalakan dan membuka kunci di layar sentuh itu, tapi kadang memilih mematikan layar handphonenya. Perasaannya masih terbawa suasana pagi tadi, saat mendapati majikan kesayangannya sedang tertidur di meja makan. Sungguh, itu bukan kebiasaan seorang Nia di tambah lagi perjalanan menuju kantor tadi di lalui Nia dengan diam, bagi yang mengenal sosok Nia pasti bisa menebak, ada yang tidak beres dengan wanita bermata cokelat itu.
 
"Apa aku lapor tuan saja ya ?" Pakde bertanya pada dirinya sendiri.
 
"Tapi iya kalau memang si non ada apa-apa, lah kalau enggak gimana ? Bisa nambah beban pikiran tuan saja nanti ". Dan Pakde mulai ragu.
 
"Andai memang ada apa-apa dan aku malah mendiamkannya dari tuan........ ?" Pakde sedang berpikir serius sampai-sampai kerutan tua di keningnya semakin dalam. "Wah, tuan bisa ngamuk hebat nanti tuh. Aduh, kok jadi bingung ya ?". Pakde mengaruk keras kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
 
"Begini saja, kata non kan pagi ini ada presentasi tentang pekerjaannya. Jadi siang saja aku kabari tuan setelah presentasi non selesai. Kalau memang sikap aneh non itu karena pekerjaan, pasti siang nanti sudah hilang semua. Tapi kalau karena hal lain, tuan pasti bisa membantu mencari tahu, iya..iya...". Pakde yakin dengan argumennya sendiri.
__ADS_1