SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 74


__ADS_3

Operasi


🌈🌈🌈🌈🌈


 


"Keluarga Nyonya Rosza Hariningrum". Panggil lelaki paruh baya dengan jas putih yang terlihat ada bercak darah di beberapa tempat di bagian dada dan lengannya.


 


"Iya, iya". Jawab Nia cepat. Segera Nia menuntun Alika kearah suara pemanggil dan diikuti oleh Pandu.


 


"Kami, kami keluarga Ibu Ros". Nia membuka suara setelah sampai di depan lelaki paruh baya itu.


 


"Nona, perkenalkan. Saya dokter Andri, saya adalah dokter yang pertama memberikan pertolongan pada Nyonya Ros setelah beliau sampai di sini. Saya harus bicara jujur pada kalian semua, kondisi Nyonya Ros tidak baik. Tingkat kesadarnnya menurun drastis diangka enam. Kondisi fisik luka robek di bagian kiri kepala, patah di lengan kanan, luka robek di betis kanan, patah dua tulang rusuk dan paru-paru yang sedikit membengkak. Dengan kondisi tersebut saya telah konsultasi ke dokter spesialis yang berkompeten. Hingga di tarik kesimpulan Nyonya akan segera kami operasi. Sekarang saya tengah menunggu tiga orang spesialis untuk melaksanakan operasi segera. Mungkin kira-kira setengah jam lagi operasi akan dilaksanakan". Dokter memberi banyak pemberitahuan dan penjelasan pada Nia, Alika dan Pandu.


 


Serasa dadanya tengah di remuk, sakit, sangat sakit. Nia merasa tidak siap dengan segala pemberitahuan dan penjelasan dokter pada mereka. Rasanya Nia ingin berteriak, tetapi belum lagi rasa sakit di dadanya terucap jelas. Tahu-tahu Nia mendapati Alika sudah mulai lunglai di dalam pelukanya.


 


"Mas, Mas Pandu. Mas..tolong, Alikaaa". Panik, Nia setengah berteriak pada Pandu.


 


"Ya Tuhan, Alika". Segera Pandu memegang erat Alika dan mengendongnya. Membawa Alika berlari ke arah ruang periksa dokter terdekat meninggalkan Nia bersama sang dokter.


 


"Apa yang harus saya lakukan dokter?" Nia meminta petunjuk pada dokter.


 


"Persiapkan keluarga yang memiliki golongan darah O positif, Nyonya Ros banyak kehilangan darah. Kita harus antisipasi, apa lagi beliau akan segera di operasi. Dan yang paling penting berdoa, berdoalah selalu nona, sebanyak yang kalian bisa. Demi kesembuhan orang tua kalian". Berbagai arahan di berikan dokter pada Nia sebelum akhirnya dokter kembali masuk ke dalam ruang gawat darurat dan mempersiapkan segala keperluan operasi Bibi Ros.


 


Rasanya lutut Nia melemah, kepalanya sedikit pusing, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Bowo segera berlari ke arah Nia, di ikuti Pakde dan Bi Kartik.


 


"Non". Bibi memeluk Nia. Nia hanya diam, tidak bergerak, tidak merespon pelukan Bibi. Pandangannya kosong, hatinya ketakutan.


 


Sembuhkanlah Bibi ya Tuhan..jangan ambil Bibi, hanya Bibi yang kami punya. Tuhan, sembuhkanlah Bibi, aku mohon, aku mohon.


 

__ADS_1


"Nia". Bowo mulai khawatir dengan sikap diam Nia.


 


"Bi..bawa Nia kembali ke tempat duduk". Ucap Bowo pada Bibi.


 


Bi Kartik menuntun Nia kembali duduk, memeluk dan mengelus rambut panjang Nia. Mengulang-ulang gerakan tersebut. Dan Nia masih diam, hanya diam membiarkan Bibi menenangkannya. Batapa pilu hati Bi Kartik melihat keadaan Nia, diam dengan pandangan kosong. Bibi lebih suka melihat Nia menangis, mengeluarkan kesedihannya atau mungkin berteriak sekuatnya, dari pada seperti ini. Rasanya Bibi sangat tidak sampai hati, mendapati Nia berusaha tegar demi Alika sepupunya, padahal Bibi tahu, Nia pasti amat sangat takut kehilangan satu-satunya orang tua yang dia punya setelah Ayah, Ibu dan neneknya tiada.


 


Aku belum berbakti pada Bibi, Tuhan. Aku masih belum berbakti, Tuhan..kembalikanlah Bibi pada kami, aku mohon. Berulang, terus dan terus, Nia berdoa, mengajukan permohonannya pada Tuhan. Hingga tiba-tiba Nia tersadar, ingatannya kembali pada Alika.


 


"Bi, bagaimana dengan Alika?" Tanya Nia sambil melepaskan diri dari pelukan Bibi.


 


"Non Alika di bawa den Pandu ke ruang periksa dokter non. Non mau Bibi temani ke sana?" Tanya Bibi sambil merapikan rambut Nia kebelakang telinganya.


 


"Iya Bi, aku harus menguatkan Alika. Kasihan Dia". Ucap Nia pelan.


 


 


"Aku nggak papah Bi". Jawab Nia berbohong.


 


"Di sini ada Bibi,  ada Pakde, ada den Bowo. Non enggak sendiri ya". Ucap Bibi sambil mengelus tangan Nia.


 


"Terima kasih Bi". Nia berusaha tersenyum, walaupun yang terlihat hanya sedikit senyum kaku yang terbentuk di sudut bibirnya.


 


"Ayo, Bibi temani lihat non Alika". Bibi memegang erat tangan Nia dan menuntunnya ke ruang periksa dokter tempat Pandu tadi mengendong Alika.


 


Nia melihat wajah pucat Alika terbaring lemas di atas tempat tidur, di ruang periksa dokter. Terlihat bekas air mata yang telah mengering di bagian bawah matanya. Mata Alika terpejam, nafasnya berhembus teratur, sudah beberapa menit Alika pingsan.


 


"Alika, buka matamu. Aku, Mas Pandu, kami butuh kamu. Bibi butuh kamu, Alika". Nia mencoba menyadarkan Alika. Dan terlihat pergerakan jemari Alika, pelan jemari Alika membalas sentuhan tangan Nia.


 

__ADS_1


Perlahan, mata Alika membuka. Menyesuaikan pandanganya terhadap lingkungan sekitar. Menatap lurus kearah langit-langit kamar. Sukurlah semua hanya mimpi. Alika merasa tadi dia tengah bermimpi buruk.


 


Setelah matanya bisa menyesuaikan dengan pencahayaan sekitar, Alika pun menatap Pandu yang duduk tepat di sebelah kanannya.


 


"Ngapain Papa di sini? Kok enggak makan? Makan dulu Pa? Kenapa malah duduk lihatin Mama?" Tanya Alika bingung mendapati sang suami hanya duduk disampingnya.


 


Pandu hanya mencoba tersenyum, menatap Alika dengan penuh cinta.


 


"Nia, kamu ngapain? Loh, Bi Kartik juga ada di sini ya? Ini ada apa, ngapai kalian di kamarku?" Terlihat jelas Alika kebinggungan melihat semua orang yang ada di sekitarnya.


 


"Ma, sayang". Pandu pun tidak kuasa melanjutkan kata-katanya.


 


"Papa tahu, aku tadi mimpi aneh. Mimpi serem tentang Mama, tentang Mama yang kecelakaan dan koma dengan luka berat di sekujur tubuhnya". Ucap Alika sambil menatap langit-langit kamar kembali.


 


"Sayang". Pandu mencium jemari Alika.


 


"Ini bukan di kamar kitakan?". Alika mulai kembali pada kenyataan yang ada. "Ini di Rumah Sakitkan? Semua ini nyata? Kenapa, kenapa? TIDAKKKKKK, JANGAN TUHAN". Jerit histeris Alika.


 


Bibi menangis melihat kerapuhan Alika, Pandu segera memeluk Alika sekuat tenaga, berusaha keras menenangkannya. Dan Nia hanya diam menyaksikan kepedihan sepupunya, mati-matian berusaha agat tidak terlihat lemah.


 


"Nia, Niaaaaa...kenapa harus Mama. NIAAAA". Kembali Alika menjerit histeris meminta jawaban pada Nia.


 


Nia hanya diam memandangi Alika yang sangat terpukul, melihat tubuh mungil Alika terguncang saat berteriak dan menangis histeris. Sungguh Nia tidak tahu apa jawaban terbaik atas pertanyaan Alika, Nia hanya mampu berjuang agar tidak membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2