
Senyum Di Wajah Bagas
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Prof, kapan kita nyusul Nia?". Tanya Wulan pada Profesor Yandi. Setelah Nia yang ditemani Bowo ke Rumah Sakit, tinggallah mereka, Wulan, Resya dan Anita bekerja seperti biasa di laboratorium. Tetapi tidak bisa dibohongi, mereka memang patuh melanjutkan pekerjaan yang sempat terbengkalai tadi. Hanya saja, pikiran mereka tidak fokus, mereka sibuk menebak bagaimana kondisi Bibi Ros saat ini dan bagaimanakah Nia di sana? Ketiga sahabat baik Nia itu sangat tahu betapa sayangnya Nia pada satu-satunya anggota keluarga yang dimilikinya, kepada Bibi yang telah menjadi penganti orang tuanya yang telah tiada.
 
"Sebentar lagi. Satu jam lagi, jam kerja kita selesai. Bukan apa-apa, kalau sekarang kita pergi, maka laboratorium akan kosong. Kalau ada yang tau bisa kena masalah kita". Jelas Profesor Yandi pada Wulan, Resya dan Anita.
 
"Iya sih benar juga". Anita mengiyakan penjelasan Profesor.
 
"Bersabarlah, setelah jam kantor selesai kita semua ke Rumah Sakit". Bujuk Profesor pada ketiga sahabat Nia.
 
"Prof, apa kami boleh menelepon Bowo?" Sekarang giliran Resya yang bertanya.
 
"Tentu saja, tapi bereskan dulu pekerjaan kalian, sterilkan semua peralatan kembali". Perintah Profesor kemudian.
 
Cepat, Wulan, Resya dan Anita mengiyakan syarat yang Profesor beri pada mereka. Tanpa menunggu lagi, mereka langsung merapikan seisi laboratorium. Meletakkan semua pada tempat semula dan mensterilkan peralatan berupa tabung, gelas takar, sendok kimia, timbangan digital dan banyak lagi peralatan lainnya sampai bersih, sampai steril kembali.
 
"Menurut kamu Sya gimana kondisi Nia sekarang ya?" Wulan masih menyempatkan diri untuk bertanya pada Resya.
 
"Aku enggak terlalu yakin si, secara kita semua tau gimana sayangnya Nia sama Bibinya itu." Jawab Resya yang sedikit ragu.
 
"Kasihan Nia ya". Resya merasakan sedih untuk Nia.
 
Setelah menyelesaikan semua pembersihan laboratorium, Wulan, Resya dan Anita segera menuju ruang kerja mereka. Berencana menghubungi Bowo untuk tahu perkembangan terbaru Bibi Ros.
 
"Lihat". Suara pelan Wulan menghentikan langkah ke dua temannya.
 
Dari tempat mereka berdiri saat ini bisa mereka lihat dengan jelas, kalau Bagas wakil Kepala Divisi Promosi sedang berjalan ke arah mereka. Mungkin lebih tepatnya ke arah laboratorium.
 
"Mau apa dia?" Tanya Anita dengan malasnya.
 
"Apa lagi kalau bukan gangguin Nia". Jawab Resya kesal.
 
"Ahhh, buat aku males aja. Sudah di tolak sekarang balik lagi". Resya terlihat sedikit kesal.
 
"Sudah-sudah, pelankan suara kalian. Dia sudah mendekat ke sini". Perintah Wulan pada dua temannya.
 
Berpura-pura tidak melihat, Wulan, Resya dan Anita melanjutkan rencana mereka untuk segera kembali ke ruangan, agar bisa secepatnya menghubungi Bowo.
__ADS_1
 
"Hai". Sapa Bagas ramah pada ketiga rekan kerja yang sekaligus sahabat Nia itu.
 
"Ooh, Pak Bagas". Jawab Resya datar mewakili teman-temannya.
 
"Kok cuma bertiga? Mana Nia?" Tanya Bagas kemudian.
 
"Iya Pak, cuma bertiga aja". Resya sengaja tidak memberi jawaban pasti pada Bagas.
 
"Nianya mana ya?" Bagas kembali kepertanyaaan awal.
 
"Enggak ada di sini Pak". Resya menjawab sesukanya.
 
"Loh kemana? Sudah pulang duluan? Tumben, inikah belum selesai jam kantor?" Bagas mengajukan banyak pertanyaan pada Resya.
 
"Oooo, Nia ada urusan Pak, jadi izin". Lagi Resya memberi jawaban sekenaknya saja pada Bagas.
 
Kurang ajar perempuan ini, sepertinya dia menyepelekan aku. Cihhh, sudah jelek belagu lagi.
 
"Izin kenapa?" Bagas kembali bertanya.
 
 
"Kami kurang tau Pak. Maaf Pak kami permisi dulu". Wulan segera menarik kedua temannya berlalu dari hadapan Bagas.
 
"Sial". Bagas mengepalkan tangannya, betapa tidak sukanya dia diperlakukan sedemikian rupa oleh ketiga wanita tadi. "Awas kalian nanti".
 
Tanpa melihat ke arah belakang, dengan kekuatan penuh tiga sahabat Nia itu berjalan menuju ruangan mereka. Terlihat usaha mereka agar bisa menjauh dari Bagas. Dalam hati mereka masing-masing tergambar kekesalan mereka saat ini pada sosok lelaki yang tidak juga menyerah mengharap cinta Nia, walaupun semua bisa melihat betapa Nia tidak punya keinginan untuk membalas cinta tersebut.
 
"Orang yang aneh". Suara kesal Resya sambil menarik nafas panjang untuk mengurangi kelelahannya setelah berjalan sangat cepat tadi.
 
"Iya, aku tuh males banget deh meladeni dia". Wulan mengiyakan Resya.
 
"Sudah, lupakan orang enggak penting itu. Cepat telepon Bowo deh". Anita menyudahi pembicaraan yang sangat tidak berguna tersebut.
 
"Pake hape aku aja". Wulan pun mengambil handphonennya dan menekan nomor Bowo.
 
"Spaker, spaker!" Ucap Resya pada Wulan.
 
__ADS_1
Terdengar beberapa kali nada sambung, tetapi belum ada suara si penerima telepon. Hingga akhirnya....
 
"Hallo, Wulan". Suara Bowo terdengar di ujung telepon.
 
"Masih di Rumah Sakit Wo?" Tanya Wulan kemudian.
 
"Iya masih di sini semua". Jawab Bowo singkat.
 
"Gimana kondisi Nia?" Tanya Wulan selanjutnya.
 
"Kasihan dia, dia berpura-pura tegar. Dia nggak mau nangis, dia menutupi kesedihannya demi menghibur Alika dan Mas Pandu". Terdengar suara iba Bowo di ujung telepon.
 
"YA KAMU HIBUR DONG NIA, GIMANA SIH". Tiba-tiba Anita berteriak kepada Bowo.
 
"Jangan teriak juga Ta, aku belum budeg kok". Bowo kaget mendengar suara keras Anita barusan. "Sudah aku hibur, Pakde bahkan Bi Kartik, kami semua menguatkan Nia. Tapi kalian tau apa jawabnya? Aku baik-baik saja, aku kuat, Alika membutuhkan aku". Jelas Bowo.
 
"Ya Tuhan, apa memang kondisi Bibi tidak baik?" Tanya Wulan.
 
"Iya, sangat tidak baik. Sekarang sedang di operasi, sudah lebih satu jam. Ah, keadaan Bibi memang sangat mengenaskan teman-teman". Terdengar tarikan nafas berat Bowo saat menceritakan kondisi Bibi Ros.
 
"Kasihan Nia, malang betul nasibnya. Padahal Nia sangat menyayangi Bibi". Wulan tidak kuasa membayangkan kesedihan Nia saat ini.
 
"Kapan kalian ke sini? Mana tau kedatangan kalian bisa menghibur Nia?" Tanya Bowo pada teman-temannya.
 
"Sebentar lagi Wo. Sebenarnya kami sudah membujuk Profesor dari tadi. Tapi Profesor ragu kalau kami ke Rumah Sakit sekarang. Takut ada yang tau kalau kita semua enggak ada di tempat, takut kita dapat masalah nanti. Jadi selesai jam kerja, kami langsung kesitu". Jawab wulan.
 
"Iya, iya benar juga. Kalian ikuti aja apa saran Profesor. Nanti kalian langsung ke kamar operasi saja ya. Sepertinya operasi masih lama. Kalian parkir di sisi timur gedung trus jalan lurus aja. Ujung koridor sisi timur adalah kamar operasi. Kita ketemu di sini". Bowo mengarahkan teman-temannya.
 
"Makasih ya Wo..titip Nia dulu, bentar lagi kami ke sana". Pinta Wulan pada Bowo sebelum mematikan telepon.
 
Wulan menatap Resya dan Anita, terlihat wajah mereka juga tidak kalah khawatirnya seperti dirinya. Berbeda, sangat berbeda jauh dengan Bagas. Bagas tersenyum bahagia dari tempat dia berdiri.
 
Bagas? Iya benar Bagas, si wakil Kepala Divisi Promosi ituloh, sedang tersenyum senang dari tempat dia berdiri. Bagaimana bisa? Jadi, tanpa disadari oleh Wulan, Resya dan Anita selama mereka menelepon Bowo tadi, ternyata ada pasang telinga yang sibuk mencuri dengar pembicaraan mereka. Siapa lagi kalau bukan Bagas si penguping pembicaraan itu. Dan sekarang Bagas terlihat bahagia, segurat senyum terbentuk di kedua sudut bibirnya.
 
Tuhan selalu berpihak padaku. Sekarang waktunya menjadi menantu yang baik. Nia, Mas Bagas datang untuk mengabdi pada Ibu mertua. Hahahaha......
 
 
 
__ADS_1