SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 141


__ADS_3

Handphone


🌈🌈🌈🌈🌈


Bowo bertahan di dalam rungan kerja mereka, dengan alasan akan menerima panggilan masuk di handphonenya maka Bowo meminta semuanya, Nia, Wulan, Resya dan Anita untuk berjalan terlebih dahulu bersama Profesor Yandi ke laboratorium dan Bowopun berjanji akan segera menyusul.


γ€€


Nia memilih berjalan bersama Resya tepat beberapa langkah di belakang Wulan dan Anita yang terlihat kesulitan menyesuaikan langkah kaki Profesor Yandi yang sangat lebar.


γ€€


"Maaf nona". Pengawal yang ditempatkan Aisakha untuk mengikuti Nia membuat Nia berhenti mendadak berjalan. "Nona mau kemana ?"


γ€€


"Saya mau kelaboratorium, mau kerja". NiaΒ  menatap lurus ke arah pengawalnya.


γ€€


"Boleh saya meminjam hape nona ?" Pengawal menunduk hormat pada Nia.


γ€€


"Ada apa ?" Resya berbisik pelan ke telinga Nia dan Nia hanya mengeleng pelan sebagai jawabannya.


γ€€


"Buat apa ?"


Jangan bilang kalau sekarang Mas mau memeriksa isi hapeku juga ?


γ€€


"Tuan Sakha yang memberi perintah nona !" Si pengawal bersikap sangat tenang menghadapi Nia yang mulai memperlihatkan gelagat tidak suka padanya.


γ€€


"Gunanya ?" Nia mulai kesal


γ€€


"Kata tuan, kalau nona mau bekerja di laboratorium. Maka hape nona jangan dimatikan, berikan pada saya untuk di pegang. Jadi kalau nanti tuan mendadak rindu pada nona, tuan tidak akan kesulitan menghubungi nona, saya bisa langsung memberikan hapenya pada nona secepatnya". Nia tertunduk malu mendengar penuturan pengawalnya, astaga...apa yang sudah Mas ajarkan pada pengawal ini ? Benar-benar membuat aku malu saja.


γ€€


"Hahaha". Spontan Resya tertawa mendengar penjelasan pengawal Nia barusan. "Cuma beda beberapa jengkal saja jarak laboratorium kita sama gedung kekasih hati kamu itu, tapi sepertinya dia begitu cepat kangen sama kamu Nia". Resya menepuk-nepuk pelan pundak kanan Nia. "Jadi iri deh melihat kamu diperhatikan seperti ini".


γ€€


"Sya..jangan ngeledekin aku dong !" Nia tertunduk malu.


γ€€


"Baiklah saya ambil dulu hape saya, karena tadi saya tinggal di ruangan". Nia menatap pada pengawalnya itu. "Sya, kamu mau duluan ? Aku mau ambil hapeku dulu". Nia menunjuk ke arah ruangan tempat mereka ngobrol bareng tadi.


γ€€


"Aku tunggu kamu deh, sana kamu ambil hapemu. Sebelum kekasihmu itu terkena serangan rindu yang kronis. Hahaha". Resya mendorong Nia agar segera berjalan.

__ADS_1


γ€€


"Resya, kamu ini apaan coba". Nia memegang wajahnya, rasanya dia sangat ingin memukul kepala sahabatnya itu karena terus saja mengodanya.


γ€€


"Apakah tuan Aisakha sangat mencintai Nia ?" Saat Nia telah berjalan kembali ke ruangan mereka, Resya tidak tahan untuk tidak mengajukan pertanyaan tersebut pada pengawal Nia.


γ€€


"Sepenuh jiwanya nona". Jawab pengawal tegas. Resya mengangguk senang dan tersenyum bahagia.Β Syukurlah, Nia memang layak untuk mendapatkan cinta sepenuh jiwa. Dia gadis baik...


γ€€


"Bersabarlah, aku pasti akan membawanya !" Nia sudah berada di pintu masuk ruang kerja mereka tepat di saat Bowo mengakhiri pembicaraannya dengan si penelepon pada handphonenya.


γ€€


"Sudah neleponnya ?" Tanya Nia saat telah berdiri di belakang Bowo.


γ€€


Bowo terlihat cukup terkejut,Β bodoh..kenapa aku sampai tidak waspada. Apa Nia mendengar semua pembicaraanku. Habislah aku kalau sampai dia tahu. Bisa gagal semua rencanaku.


γ€€


"Hey..aku nanyaloh. Kok didiamin ?" Nia telah mengengam handphonenya dan bersiap keluar ruangan.


γ€€


"Maaf, maaf". Bowo berusaha bersikap sebiasa mungkin. "Sudah lama kamu berdiri di belakangku tadi ?" Bowo perlu kepastian dari Nia.


γ€€


γ€€


"Oh, gak ada. Aku pikir kamu sama yang lain sudah di laboratorium". Bowo berlagak santai.


γ€€


"Ini, aku ambil ini ". Nia memperlihatkan handphonenya pada Bowo.


γ€€


"Tumben ? Biasanya kamu gak pernah bawa hape ke laboratorium".


γ€€


"Iya". Nia menarik nafas panjang. "Kali ini luar biasa. Presdir minta pengawal yang pegang hape aku. Kepaksa deh balik ke dalam buat ambil ini".


γ€€


"Kok gituh ?"


γ€€


"Kata pengawal supaya Presdir gampang menghubungi aku". Nia menjawab dengan sedikit berbohong.Β Maaf aku malu ceritakan detailnya. Pokoknya intinya gituh Wo. Heheheh.


γ€€

__ADS_1


"Wah calon nyonya Presdir ". Bowo tersenyum melihat Nia sedikit kurang nyaman menjawab pertanyaanya barusan.


γ€€


"Udah..udah". Nia mengangkat tangan kanannya kearah Bowo. "Kamu jangan coba-coba ngeledekin aku. Bagus sekarang kita ke laboratorium aja yuk". Nia berbalik berniat jalan duluan.


γ€€


Bowo hanya diam mengikuti langkah Nia. Sepertinya Bowo sedang berpikir saat ini. Entahlah, Nia tidak pernah tahu akan hal itu.


γ€€


"Ini". Nia memberikan handphonenya pada pengawal. "Sekarang sudah bisa saya tinggal ?"


γ€€


"Sudah nona, silahkan". Pengawal yang dikemudian hari Nia tahu bernama Damar itu mempersilahkan Nia berjalan dengan tangan kanannya sambil menunduk hormat. Dan setelah melihat Nia berjalan bersama Resya, Damar si pengawal Niapun ikut berjalan di belakangnya. Mengikuti setiap langkah Nia kemanapun dia melangkah.


γ€€


"Apa kamu akan selalu mengekori Nia ?" Bowo sudah mensejajarkan langkahnya dengan kaki Damar.


γ€€


Damar menatap Bowo sesaat dan kemudian kembali fokus pada tugas utamanya tanpa memberikan jawaban apapun pada Bowo.


γ€€


Sial....Bowo.


γ€€


γ€€


**********


γ€€


Hai..hallo kaka-kaka readers yang budiman.


Mohon maaf ya kak, selama ramadhan ini kinerja author kurang maksimal.


Benar-benar mohon pemakluman dari kaka-kaka readers yang budiman.


Karena ramadhan ini sedikit berbeda, maka authorpun butuh banyak penyesuaian dalam menikmati hari di bulan suci ini kak.


γ€€


Kedepan author akan mencoba lebih memperbaiki diri demi bisa semaksimal mungkin memberikan kisah-kisah terbaik untuk kaka-kaka readers semua.


γ€€


Semoga kaka-kaka semua suka. Selamat membaca kaka, sehat selalu ya kak dimanapun berada.


Dan jangan lupa berbahagia πŸ™


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2