
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Apa ?" Suara kaget Aisakha membuat sang Mama yang tadinya berencana ke kamar mandi langsung batal, Mama kembali duduk manis menguping pembicaraan Aisakha dengan seseorang di ujung telepon.
 
"Kenapa kalian sampai cerita ?" Tanya Aisakga marah. Mama terlihat membesarkan telinganya demi sukses mendengar ada apa gerangan.
 
"Kurang ajar ". Aisakha terlihat geram. "Dia pikir dia siapa, hah ?"
 
"Ya...ya...aku mengerti ". Aisakha menarik nafas dalam.
 
Sesaat kemudian, "Sudahlah...aku bisa mengerti kemarahan kalian. Berdoa saja, dia tidak pernah bertemu denganku ". Suara dingin Aisakha terdengar penuh ancaman.
 
"Baiklah.....terima kasih ". Dan Aisakha meletakkan asal handphonenya di atas meja. Sedikit keras hingga membuat sang Mama yang memang sudah penasaran, menjadi semakin ingin tahu saja.
 
"Kenapa, ada apa ?" Mama tidak memberi Aisakha kesempatan menghela nafas terlalu lama. Secepatnya Mama langsung bertanya.
 
"Lelaki di masa lalu Nia, dia mencari Nia ". Aisakha mengusap wajahnya, "ternyata selama ini Mamanya telah mencuci otaknya dengan memutar balikkan fakta. Hingga dia begitu membenci Nia. Tetapi sekarang, setelah dia tahu kebenarannya, dia ingin kembali pada Nia, Ma. Dia ingin merebut Nia dariku ". Mama terlihat mengangga tidak percaya.
 
"Apa yang harus aku lakukan Ma ? Ma ?" Aisakha berkali-kali mengelengkan kepalalnya. "Lelaki itu akan merebut Nia dariku Ma ".
 
"Sakha, kaaaaa....sakha, heyyyy ". Mama mencoba membuat Aisakha fokus kembali pada sang Mama. "Dengar Mama ! Apa yang kamu khawatirkan nak ? Kan kamu yang bilang lelaki dari masa lalu Nia. Masa lalukan ?" Aisakha menatap mata Mama.
 
"Kenapa kamu takut ? Dia bukan siapa-siapa bagi Nia. Nia hanya milikmu ! Nia mencintaimu ". Suara Mama terdengar keras. "Percayalah pada cinta kalian. Ini belumlah apa-apa nak, ini hanya ujian kecil sebelum kalian menikah. Dan kamu, jangan pernah ragu pada hati Nia, percayalah Nia mencintaimu ! Bukan masa lalunya ".
 
Aisakha memejamkan matanya, menarik nafas panjang. Membiarkan sedikit lama di paru-parunya, hingga perlahan menghembuskannya. Aisakha terus berada di posisi ini sampai dirinya benar-benar tenang.
 
"Nia akan menjadi isterimu, Nia akan menjadi menantu Mama. Percaya pada Tuhan, nak. Apa yang tidak mungkin kalau Dirinya berkehendak, apalagi masalah hati ". Mama meletakkan tangannya di paha Aisakha.
 
"Tiga tahun kamu menunggu Nia, berapa banyak hari kamu lalui untuk mememukannya. Dan apa, Tuhan malah selama itu menjaga Nia sangat dekat denganmukan ? Jangan pernah ragu pada-NYA Sakha. Percayalah, Nia mencintaimu ".
 
"Ma ". Masih ada nada keraguan di diri Aisakha.
 
"Hilangkan ragumu, Sakha ! Nia tidak akan segampang itu meninggalkanmu untuk sebuah masa lalu !"
 
__ADS_1
"Aku tidak akan sanggup hidup Ma tanpa Nia, Nia segalanya bagiku, Nia cinta sejatiku ". Ucap Aisakha tulus. "Aku sangat mencintainya Ma ".
 
Sementara itu.....
 
Nia menutup keras mulutnya, mencegah suara isak tangisnya terdengar siapapun. Nia bersandar pada dinding dingin kamar calon Mama mertuanya. Air matanya bagai aliran anak sungai, mengalir dan mengalir terus. Entah berapa kali Nia menyeka bulir bening itu agar berhenti menetes, tetapi tetap saja. Air matanya tidak mematuhi keinginannya, Nia berjalan perlahan. Bahkan lebih pelan dari saat dirinya bermaksud mendatangi kembali kamar sanga Mama mertua, Nia lebih hati-hati mengerakkan kakinya menapaki lantai lebar yang sangat malah di sepanjang jalan menuju kamarnya. Nia tidak ingin siapapun tahu, bahwa dirinya telah lama berdiri di sana, hingga saking lamanya Nia telah mendengar semua.
 
***************
 
"Tuan ". Sapa pelayan lelaki sopan saat membukakan pintu untuk Edo. Edo hanya melihat sesaat ke arah si penyapa, melihat dengan mata merah dan aura marah. Entah apa salah saya, pikir pelayan lelaki itu tertunduk penuh takut.
 
"Dimana orang tuaku ?" Tanya Edo sambil terus berjalan.
 
"Tuan besar di taman belakang tuan. Sedang mengopi, kalau nyonya di kamar beliau ". Jawab pelayan sambil berjalan mengekori Edo.
 
Tanpa menjawab, Edo terlihat mendekat ke kamar orang tuanya. Api kemarahan berkobar di seputar tubuhnya.
 
Ini mau ada perang dunia ya ?
Pelayan lelaki yang mengekori Edo terlihat ragu untuk terus mengikuti langkah majikan mudanya itu.
Ahh..lebih baik aku lapor tuan sajalah. Soalnya aku enggak ngerti, ini ada apanya ? Ma tahu ada adegan horornya. Daya khayal si pelayan terlalu tinggi.
 
Suara benda yang terbuat dari kaca pecah, keras dan sangat mengagetkan.
 
"Eeeelahhhh, dalahhhhh ". Latah kaget di pelayan.
 
"Tu..tuan....tuaaaannnnn ", jerit pelayan lelaki tadi sambil berlari ke halaman belakang.
 
"Tuan Edo, tuan Edo ". Telunjuk pelayan bergerak-gerak menunjuk ke arah dalam rumah.
 
"Apa ?" Edo kenapa ?" Tanya Papanya Edo sambil berdiri cepat.
 
"Tuan Edo gamuk ". Jawab Pelayan singkat, tetapi cukup membuat sang tuan terkejut diam.
 
Secepat yang dirinya bisa, lelaki paruh baya yang memiliki bentuk wajah sangat mirip Edi berlari ke arah yang di maksud pelayannya.
 
Dengan nafas tersengal, nampaklah di mata tuanya bagaimana pecahan kaca yang entah berasal dari barang apa saja telah berserakan ke segela arah, memenuhi lantai kamar tidurnya.
__ADS_1
 
"Ada apa ?" Tanya Papa sambil memperhatikan sosok isterinya yang sangat shock.
 
"Aku sudah tahu semuanya Pa ". Teriak Edo lantang.
 
"Dia ". Tunjuk Edo ke wajah sang Mama. "Dia sangat kejam Pa, dia tega memisahkan aku dari separuh hidupku ".
 
"Apa, apa alasanmu sekejam itu ha ? Apa aku bukan anakmu ? Atau, atau aku pernah melakukan sesuatu yang buruk, hingga aku di balas seperti itu ?" Edo masih saja berteriak.
 
"Jawab ?" Sebuah vas bunga yang tidak berapa jauh dari jangkauan Edo berakhir menjadi serpihan kecil di lantai.
 
"Mengacam akan menyakiti dirimu ? Iya ? Ayoooo...ayooooo ! Aku mau lihat seberapa hebat kamu menyakiti dirimu ". Edo memandang Mama dengan tatapan kebencian. Sang Mama hanya meringkuk takut di ujung ranjang sambil menutup kuat telinganya. Edo marah, hilang sudah kendali dirinya. Dengan mudahnya, Edo membalikan sebuah meja kecil di dekat kakinya. Menjungkir balikkan semua isi di atas meja itu menjadi serpihan kecil pemenuh lantai.
 
"Cukup ". Merasa suasana sudah tidak terkendali lagi, Papa menarik tangan Edo menjauh, bermaksud membawa Edo keluar dari kamar tidurnya. Jelas wajah sang isteri telah memutih, menangis tersedut dengan mata terpejam.
 
"Lepas Pa !" Edo berusaha meronta.
 
"Aku sudah tidak sanggup lagi. Bertahun-tahun, pikiranku di racuni oleh wanita yang sangat aku sayangi Pa. Hingga aku begitu membenci gadis yang menjadi belahan jiwaku ". Edo terus saja berteriak, membuat para pelayan berdatangan menonton keributan di kamar sang tuan besar.
 
"Aku tidak pernah menyangka, seorang Ibu sanggup melakukan hal seperti itu pada anaknya ". Tunjuk Edo pada sang Mama.
 
"Harta, kedudukan, status sosial..itukan alasannya ? Baik, baik....aku tidak butuh harta ini, ambil...ayo ambil kedudukan ini, aku tidak perlu semua itu. Aku cuma mau cintaku ". Edo mulai menangis, luapan kesedihannya telah sampai di akhir pertahanan.
 
"Aku hanya mau Niaku, cintaku ". Seperti anak kecil, Edo terus menangis.
 
Papa memeluk Edo, menepuk pelan punggung anak lelaki kesayangannya itu. Entah apa yang harus diucapkannya sebagai kata penghibur terbaik, semua telah terjadi. Sisi menakutkan dari kebohongan sang isteri telah terbongkar. Papa hanya bisa diam, berusaha menenangkan Edo yang histeris dalam tangisan.
 
Waktu berlalu, beberapa detik berjalan. Edo sudah mulai tenang.
 
"Pa...aku tidak akan sanggup serumah dengannya ". Tanpa melihat ke arah sang Mama yang masih menangis pucat di sudut ranjang.
 
"Aku akan pergi, dan Papa tahu harus cari aku dimana ". Edo berjalan meninggalkan sang Papa yang hanya menganggukkan kepalanya pelan
 
Edo berbalik sesaat, "jangan biarkan wanita jahat itu muncul di hadapanku Pa ! Aku sangat membencinya ". Dan Edo benar-benar pergi. Meninggalkan sang Papa yang hanya tertunduk iba melihat hancurnya jiwa Edo dengan sebuah realita yang pasti sangat sakit ini. Meninggalkan sang Mama yang sekarang hanya bisa menekan dadanya yang terasa sangat perih, seumur hidupnya. Tidak pernah sekalipun terbayang oleh Mama, akan di benci sedemian rupa oleh darah daging sendiri. Hancur, Mama sangat ingin mata saat ini. Dan meninggalkan Kemala yang terduduk lemas sambil menyembunyikan wajahnya di atas lutut. Kemala mendengar semua, Kemala tahu semua, dan Kemala bisa merasakan hidupnya sebagai isteri sah Edo tidaklah berguna.
 
__ADS_1