
Cepat Dua Menit, Terlambat Dua Menit
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Bagas berusaha mengendarai laju mobilnya agar berlari secepat mungkin, sepanjang jalan Bagas sibuk menekan klakson mobilnya, memaksa mobil-mobil lain untuk menepi memberi kesempatan pada dirinya agar bisa melaju dengan bebas.
 
"Ayo..ayoo, minggir sana". Suara kesal Bagas saat mendapati mobil didepannya tidak mau menepi, tidak memberi peluang padanya untuk memotong jalan. Kesal, Bagas kembali menekan klaksonya sekeras mungkin. "Hey, hey..ayolah..minggir". Teriak Bagas di dalam mobilnya.
 
Profesor menyalip kendaraan didepannya, setiap dirinya mendapat peluang, Profesor akan memaksa agar mobilnya bisa segera mendahului mobil yang ada didepannya.
 
"Cepar Prof, saya mulai tidak melihat mobil Bagas lagi". Wulan yang duduk di depan, di sebelah Profesor Yandi terlihat bersemangat memperhatikan keberadaan mobil Bagas.
 
"Iya, saya sedang berusaha". Jawab Profesor sambil mencari celah untuk kembali memotong mobil di depan.
 
"Jarak kita sama Bagas hampir dua menit, kalau kita gak bisa kejar dia, kita bakal terlambat dua menit Prof. Ayo Profesor, cepat". Wulan kembali memaksa Profesor agar lebih cepat lagi.
 
"Ngapain coba Bagas bawa mobil seperti itu". Anita mulai kesal sendiri.
 
__ADS_1
"Ya apa lagi kalau bukan agar bisa mendahului kita sampai di Rumah Sakit. Pasti dia ingin tebar pesona dihadapan Nia". Jawab Resya kesal.
 
"Ada saja ulahnya, mencuri dengar pembicaraan kita teman-teman". Wulan melihat ke arah kursi belakang tempat Resya dan Anita duduk.
 
"Lama-lama aku jadi takut sama dia, gelagatnya buat aku ngeriloh. Masak seorang laki-laki nguping, ihhhhh". Anita berbicara sambil menggelengkan kepalanya, wujud rasa tidak percayanya.
 
"Wajarkan dari awal aku bilang sama kalian kalau dia nggak cocok sama Nia". Wulan mengingatkan teman-temannya.
 
"Tapi apa kalian ingat, Profesor berkali-kali loh mencoba menyatukan Nia sama Bagas". Resya berbicara sambil menatap wajah Profesor dari kaca kecil di atas kemudi.
 
 
"Tapi Profesor lihatkan, dia aneh". Resya masih memandang Profesor dari kaca kecil di atas kemudi.
 
"Saya menyesal". Ucap Profesor sepenuh hati. "Tapi lelaki yang sekarang dekat dengan Nia adalah orang baik. Saya langsung merestui mereka tanpa pernah memiliki rasa ragu". Ucap Profesor sangat yakin.
 
"Jadi Profesor tau tentang lelaki tersebut?" Resya setengah berteriak saking tidak percayanya.
 
__ADS_1
"Siapa, siapa dia Prof?" Wulan mulai mendesak Profesor.
 
"Iya, kasih tau kami, siapa dia Prof?" Anita pun tidak kalah ributnya sekarang.
 
"Nia melarang saya untuk bilang. Kalian tanya langsung saja sama dia". Jawab Profesor sambil tetap fokus mengejar mobil Bagas.
 
"Sudah, tapi gak mau cerita". Jawab Resya yang langsung diiyakan oleh Wulan dan Anita.
 
"Nanti saja kita bahas, saya harus konsentrasi mengejar Bagas". Profesor memaksa Wulan, Resya dan Anita untuk diam.
 
Meskipun sangat penasaran, tetapi Wulan, Resya dan Anita memilih mengalah. Kembali fokus ke depan memperhatikan lalu lintas Kota Bengkulu, mencari keberadaan Mobil Bagas dan mendesak Profesor Yandi untuk sedikit lebih cepat.
 
Bagas bagai orang keserupan, berkali-kali berteriak. Memarahi para pengemudi lain yang tidak ingin mengalah darinya. Terus menekan klakson sepanjang jalan, menimbulkan kebisingan di setiap sudut jalan raya. Bagas kesal kepada pengemudi yang tetap bertahan tidak memberikan dia peluang untuk memotonga jalan.
 
"Lihatkan kelakuannya? Sudah tau jalan rame, tetap maksa juga". Dengan kesal, Wulan mengomentari cara Bagas membawa mobil.
 
 
__ADS_1