
Apartemen Nia
πππππ
γ
"Terima kasih banyak tuan, sampai di sini saja. Saya permisi masuk dulu". Nia segera berusaha keluar dari mobil Aisakha hendak sesegara mungkin berlalu.
γ
"Perbaiki bahasamu". Ucap Aisakha pelan sambil menahan tangan Nia.
γ
"A, apa tuan?" Nia terkejut mendapati diri kembali tertahan di dalam mobil.
γ
"Perbaiki bahasamu sayang", Aisakha kembali mengulang kata-katanya.
γ
Astaga..kebiasaan, kok susah banget ya merubah kata tuan?
γ
"Maafkan saya, eemm..Mas". Lagi Nia tertunduk malu.
γ
"Itu baru benar". Ujar Aisakha sambil tersenyum senang. "Apakah aku tidak boleh mengantarkanmu sampai ke dalam?" Tanya Aisakha kemudian.
γ
"Hah, ke..kenapa tu, eh...Mas?"? Nia terkejut dengar pertanyaan Aisakha barusan.
γ
"Ya, aku hanya ingin memastikan kamu sampai dengan selamat. Itu saja". Jawab Aisakha sambil terus menatap Nia. "Tidak boleh ya?" Tanya Aisakha kemudian.
γ
"Bukan tidak boleh Mas, tetapi Masnya kan harus segera pulang. Supaya bisa segera beristirahat, Mas pasti sudah capek". Nia mencoba mencari alasan menolak.
γ
"Bersamamu aku nggak pernah capek", ucap Aisakha sambil memegang dagu, memaksa Nia agar menatapnya.
__ADS_1
γ
Begitu pandangan mata mereka bertemu, Nia terlihat sangat malu. Cepat dia menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa malunya.
γ
"Kalau begitu tentu saja boleh, mari tu, eh..mas". Jawab Nia gugup.
γ
Aduh, keseringan dilihatin sama wajah setampan ini, bisa kena penyakit jantung aku. Dari tadi ritme jantungku selalu cepat. Wajahku pun terasa panas, gawat.
γ
Aisakha menunggu Kristo membukakan pintu mobil untuknya dan Nia, setelah itu masih dengan mengandeng tangan Nia, Aisakha telah melangkah menuju apartemen Nia.
γ
*************************
γ
γ
Bibi mendengar suara bel di pintu, pasti non Nia. Segera Bibi mempercepat langkahnya untuk membukakan pintuΒ bagi majikannya itu.
γ
γ
Siapa ya? Perasaan non selama ini nggak pernah di antar orang pulangnya. Apa jangan-jangan non sakit, jadi di antar pulang temannya?
γ
"Non enggak kenapa-napakan? Non sehat, baik-baik aja?" Tanya Bibi cemas.
γ
"Aku baik kok Bi, aku nggak kenapa-napa.Β Memang kenapa Bi?" Tanya Nia heran.
γ
"Itu non, gak biasanya non pulangnya di antar. Bibi pikir tadi ada apa?" Bibi pun menjelaskan.
γ
"Perkenalkan, saya Aisakha Elang Britana. Saya kekasihnya Nia". Ujar Aisakha pada Bibi.
__ADS_1
γ
"HAH". Suara terkejut bibi dan Nia secara bersamaan.
γ
"Non?" Bibi melihat ke arah Nia.
γ
Jadi selama ini non punya pacar, tapi kenapa gak pernah tau ya aku. Kok tiba-tiba sudah muncul berduaan saja ini?
γ
"Bu..bukan, bukan seperti itu Bi". Cepat Nia meralat gaya perkenalan Aisakha barusan. "Beliau ini adalah pemilik perusahaan tempat aku kerja Bi". Ujar Nia sambil menunjuk Aisakha.
γ
sembarangan saja bilang kekasih, hampir saja jantungku lompat keluar. Kapan kita jadiannya tuan, kok udah kekasih aja? Tuan itu maha dewanya dunia bisnis. Mana mungkin akan menjadi kekasih saya. Bisa di hajar saya sama keluarga tuan. Nia.
γ
Yang benar yang mana? Tuan ganteng ini bilang kekasih, si non bilang majikan? Padahal kalau di lihat-lihat mereka sangat serasi loh. Jadian aja napa? Bibi restui kok. Bibi.
γ
"Kalau kamu masih belum mau mengakui aku, ya sudah. Aku tidak akan mempermasalahkannya, toh sudahku bilang, aku akan memberi kamu waktu". Ucap Aisakha kepada Nia.
γ
"Sekarang masuklah dan istirahat, besok aku jemput kamu. Kita ke kantor sama-sama". Aisakha menuntun Nia agar masuk ke dalam apartemennya.
γ
"Bi, saya pamit dulu. Jaga Nia baik-baik ya, pastikan dia tidur nyenyak malam ini". Perintah Aisakha pada Bibi.
γ
"Ba, baik tuan. Terima kasih banyak sudah mengantar non Nia pulang". Bibi pun membungkuk memberi hormat pada Aisakha.
γ
Aisakha berlalu dari apartemen Nia, meninggalkan Nia yang masih terdiam dengan perasaan tidak percayanya. Semua ini bukan mimpi, pasti bukan. Karena nyata-nyata ada Bibi yang dilihatnya sedang menekan alaram pintu, tetapi kalau bukan mimpi, lantas apa nama yang cocok untuk menjelaskan semua peristiwa yang dialaminya hari ini?
γ
γ
__ADS_1