
Membeli Hadiah Untuk Alex
πππππ
γ
Acara makan pun selesai, belanjaan si Ibu sudah berada di dalam pelukan Nia. Sekarang tinggal mengantarkan Ibu ke bagian pintu masuk Mall tempat sopir yang telah menunggu si Ibu di samping mobil.
γ
"Terima kasih ya nak, sudah membantu Mama dan sudah mau menemani Mama makan". Ucap Ibu sambil memeluk Nia yang telah memberikan kantong belanjaan Ibu pada si sopir.
γ
"Sama-sama Ma,Β senang rasanya bisa membantu Mama dan terima kasih ya Ma untuk traktirannya tadi". Ujar Nia sambil melepas pelukan si Ibu.
γ
"Nomor Mama sudah disimpankan?" Tanya Ibu sambil mendudukkan diri di kursi bagian belakang.
γ
"Sudah Ma". JawabΒ Nia cepat.
γ
"Kapan-kapan Mama akan meneleponmu, kita pergi bersama ya nak". Pinta Ibu pada Nia.
γ
"Iya Ma, tentu saja, dengan senang hati. Saya akan selalu menunggu telepon Mama. Mama hati-hati ya dan jangan lupa istirahat". Jawab Nia sambil menutup pintu si Ibu.
γ
Tidak lama setelah Nia melepas kepergian si Ibu di pintu masuk Mall, Nia pun melanjutkan niat awalnya untuk berbelanja hadiah untuk si tampan Alex, ponakan tersayangnya. Nia kembali menaiki eskalator menuju lantai dua kebagian perlengkapan anak. Nia melihat beberapa baju, baju kemeja untuk si ngembul Alex yang menurut Nia sangat lucu. Apa lagi saat baju tersebut dipadu-padankan dengan celana jeans yang bermotif batik pada bagian pinggang, saku dan betisnya.
γ
Nia tersenyum sendiri, membayangkan saat Alex mengenakan baju tersebut.Β Pasti ketampanannya akan berkali-kali lipat.
γ
Selesai di satu pajangan baju anak, Nia melanjutkan kesisi lain untuk mencari lagi baju-baju yang bisa menaikan ketampanan Alex menjadi berlipat ganda. Dan akhirnya Nia menemukan sebuah taxido yang mungkin akan bisa di pakai oleh Alex, Nia tertawa geli membayangkan Alex memakai taxido itu.
__ADS_1
γ
Pasti lucu banget, aku nggak sabar melihat si tampan pake ini.
γ
Nia memanggil seorang pelayan untuk membantu dirinya memilih taxido seukuran Alex, taxido lengkap mulai dari celana bahan warna biru gelap, kemeja biru muda kecil yang imut-imut banget, rompi biru terang yang terlihat kecil banget di tangan Nia dan dasi kuning dengan motif garis lurus.Β Sempurna.
γ
Nia tertawa pelan sambil sibuk mengelus-ngelus satu set taxido yang tengah di tata oleh pelayan Mall untuk Nia. Pelayan pun tersenyum melihat Nia yang kegirangan berdiri disampingnya.
γ
"Kakak sangat bahagia sekali?" Tanya si pelayan pada Nia.
γ
"Iya, saya enggak pernah sangka ada taxido buat si tampan kesayangan saya". Jawab Nia sambil tersenyum simpul.
γ
"Kebetulan ini memang prodak baru kak, baru masuk satu bulan ini". Ujar si pelayan dengan bangga.
γ
γ
"Mba, untuk mainan anak ke sebelah mana ya?" Tanya Nia pada si pelayan.
γ
"Di sebelah ujung sana Kak, Kakak sudah selesai? Kalau sudah mari saya antar ke sana". Si pelayan memberi penawaran pada Nia.
γ
"Terima kasih, mari. Kebetulan saya sudah selesai di sini". Jawab Nia kemudian.
γ
Si pelayan pun menemani Nia ke arah conter mainan anak, menjelaskan persis letak-letak mainan yang Nia inginkan.
γ
__ADS_1
Nia berjalan menyusuri satu persatu deretan etalase mainan tersebut, dari satu tempat ke tempat lain, berpindah-pindah sambil mengamati jenis-jenis mainan tersebut. Nia ingin mencari mainan yang aman bagi anak, baik dari bahan hingga bentuk dari mainan itu sendiri. Demi memastikan keamanan dan kesehatan ponakan kesayangannya itu dari benda yang akan di belinya.
γ
Sedang asyik-asyiknya memilih mainan yang akan di belinya, tiba-tiba Nia merasa handphonenya berbunyi. Cepat Nia membuka tas kerja yang sedari tadi di sematkannya di bahu kanannya. Nia melihat siapa penelepon. Presdir, cepat Nia mengeser gambar telepon warna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
γ
"Hallo", Nia menyapa Aisakha begitu telepon dari Aisaka telah diterimanya.
γ
"Kok cuma hallo?" Tanya Aisakha di ujung telepon.
γ
"Maksudnya Mas?" Nia tidak mengerti arah pertanyaan Aisakha.
γ
"Kenapa enggak ada sayangnya?" Lagi Aisakha mengajukan pertanyaan pada Nia.
γ
"Apa itu Mas?" Nia tetap belum mengerti arah pembicaraan Aisakha.
γ
"Hahahahah", terdengar tawa Aisakha yang sedang membayangkan wajah polos Nia yang sedang bingung. "Maksudnya, kenapa menyapaku hanya dengan hallo saja? Kok tinggal kata sayangnya, hallo sayang. Begitukan seharusnya Nia, calon ibu dari anak-anakku". Jelas Aisakha kepada Nia.
γ
Nia menghentikan langkah kakinya begitu mendengar kata-kata Aisakha barusan. Perasaannya campur aduk, Nia tidak tahu harus mengucapkan apa, bibirnya kelu, Nia terdiam.
γ
"Nia, masih di sana?" Tanya Aisakha yang heran karena tidak ada respon.
γ
γ
γ
__ADS_1
γ