SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
61


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


 


"Apakah ada kendala ?" Tanya Aisakha pada Pakde yang berada di ujung telepon. Sesaat setelah Nia meninggalkan Aisakha di dalam kamarnya, Aisakha berniat mandi. Sekarang perasaannya sudah sangat tenang, semua keraguan dan ketakukan yang menghantui hatinya akan kehilangan sosok Nia, pujaan hatinya itu hilang sudah, menguap entah kemana. Sebenarnya semalam Aisakha tidak bisa tidur sempurna, memorinya terus saja membuat dirinya ingat pada soerang Yuedo, lelaki di masa lalu Nia. Lelaki yang pernah di cintai Nia sepenuh jiwa. Ini jualah penyebab pagi ini Aisakha terlihat enggan keluar dari kamarnya, perasaannya terlalu galau, padahal dia telah bangun sejak subuh tadi, tetapi seluruh tubuhnya sangat malas beranjak dari perasaan khwatirnya akan kisah cintanya ini.


 


Dan pagi ini, saat Aisakha menyadari Nia masuk ke dalam kamarnya, wanita penyebab rasa takutnya itu sedang meletakkan punggung tangannya di kening Aisakha, sesaat Aisakha semakin ragu. Apakah pemandang indah ini adalah kejadian pertama dan terakhir dalam hidupnya ? Setelah ini dirinya tidak akan pernahkan merasakan perhatian penuh kekhawatiran Nia lagi padanya ?


 


Semua terjawab, ucapan sungguh-sungguh Nia yang berasal dari sanubari wanita cantik itu berhasil menghenyahkan kegundahan hati Aisakha. Mata hati Aisakha bisa melihat hingga ke dalam jiwa Nia, Nia ternyata sangat mencintainya, sama besarnya dengan cintanya pada Nia. Dan Nia hanya miliknya, Nia adalah wanitannya Aisakha.


 


"Semua lancar tuan, tinggal 60 persen lagi ", jawab Pakde sambil menganggukkan kepalannya di ujung telepon. Sayang Aisakha tidak bisa melihat gerakan kepala si sopir Nia ini.


 


"Syukurlah, terima kasih Pakde. Tetap semangat ya ". Suara Aisakha terdengar menyemangati Pakde di sana.


 


"Tuan jangan khawatir, hadiah pernikahan tuan untuk si non ini akan kami buat sama persis seperti semua gambar-gambar yang tuan berikan !" Pakde berusaha menyakinkan Aisakha.


 


"Ya..saya tahu itu. Karena itu saya mempercayakan semua ini pada Pakde dan Bibi. Saya yakin kalian mampu mewujudkan semuanya ", puji Aisakha pada diri Pakde.


 


"Jaga kesehatan Pakde dan Bibi ya !" Perintah Aisakha sebelum dirinya memutus sambungan teleponnya pada Pakde.


 


 


**************


 

__ADS_1


Toni duduk di meja makan bersama kedua orang tuannya, seperti biasa di saat hari libur seperti ini dan kebetulan sedang tidak ada kegiatan, maka Toni memilih menghabiskan hari bersama Papa dan Mamanya. Sebuah kegiatan yang sekarang mulai jarang dilakukannya karena terkadang Toni terlalu sibuk bekerja.


 


"Jam berapa selesai gladynya semalam Ton ?" Tanya Mama sambil meletakkan satu lembar roti tawar di piring sang suami.


 


"Cepat kok Ma, sekitar jam sembilanan ". Jawab Toni cepat.


 


"Gimana ?" Tanya Mama kemudian yang membuat Toni bingung harus menjawab apa.


 


"Gimana apanya Ma ?" Tanya sang suami pada isteri tercintanya itu. Sepertinya sang Papa tahu kalau pertanyaan isterinya tadi pada anak lelaki mereka terdengar mengambang, tidak jelas.


 


"Yaaaa...gimana sama anak kesayangan Papa ini, kapan dia akan menikah ? Edo saja besok siang akan menikah, lah anak Papa ini kapan ?"  Ucap Mama sambil mengerakkan kepalnya ke arah Toni.


 


"Saat sudah ada yang tepat, di saat itu aku langsung akan menikahinya Ma ", jawab Toni diplomatis.


 


 


"Maaaaaaa ", protes Toni yang di sertai gelak tawa sanga Papa.


 


"Sudah Ma, biarkan saja dia. Nanti kalau dia sudah bosan sendiri, dia pasti akan segera mengakhiri masa lajangnya ". Bela Papa pada Toni.


 


"Ehh, iya. Gomong-gomong soal melepas masa lajang. Apa Mama tahu kalau tuan Aisakha akan segera menikah ?" Tanya Toni pada sang Mama.


 


"Tuan Aisakha anak Winatakan maksudmu ?' Tanya Mama ragu.

__ADS_1


 


"Iya Ma, anak tunggal tante Nata ". Jawab Toni cepat.


 


"Wah, Mama malah gak tahu tentang itu ". Jawab Mama jujur.


 


"Kamu ketemi Nata dimana Ton ?" Sepertinya Papa menjadi penasaran dengan pertanyaan Toni tadi pada sang isteri.


 


"Di hotel tempat Edo akan menikah besok Pa, di hotelnya tuan Aisakha ". Jelas Toni. "Semalam Pa, saat aku hendak menuju ruang glady Edo ".


 


"Nata belum ada cerita sama Mama ?" Sekarang Papa mengalihkan matanya dari Toni ke wajah si isteri.


 


"Belum Pa ", jawab Mama sambil mengeleng pelan. "Padahal Mama video call sama Nata hampir 2 minggu yang lalu. Kami membahas berbagi hal, termasuk tentang panti asuhan. Tetapi, tentang dia yang akan bermenantu gak ada tuh Pa diceritakannya ".


 


"Kata tante nata, dia mau langsung ketemu Mama. Mau mengabari semuanya kepada Mama sambil memperkenalkan calon menantunya itu Ma ", ucap Toni sebelum mengunyah menu sarapannya.


 


"Mama kok jadi penasaran ya sama calon menantu Nata itu. Filling Mama mengatakan wanita itu pasti sangat luar biasa, hingga bisa masuk ke dalam keluarga besar Britana ". Suara Mama terdengar antusia.


 


"Ya udah, mumpung lagi libur. Kenapa kita nggak berkunjung saja Ma ke rumah Nata. Hitung-hitung silaturahmi, toh keluarga kita memang sudah lama gak saling berjumpakan ?" Sebuah usul meluncur begitu saja dari mulut sang suami.


 


"Iya Ma ". Jawab Toni bersemangat. "Tapi aku di bawa ya Ma, soalnya aku juga penasaran, hehehehe ", cenggir Toni sambil menatap sang Mama.


 


"Kalau begitu, selesai sarapan kita bersiap ya. Tapi nanti kita singgah di toko kue langganan Mama ya Pa, Mama mau belikan Nata cake kesukaannya buat oleh-oleh ", Mama menatap sang suami dan anak lelakinya secara bergantian. Seulas senyum tertata indah di sudut bibir Mama. Sepertinya Mama sangat senang dengan ide akan mengunjungi sahabat baiknya itu karena memang Mama sudah sangat merindukan Winata, sahabat terbaiknya itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2