
πππππ
γ
γ
Sedari tadi Bowo sibuk memperhatikan jam tangannya, pikirannya mulai bercabang, ada keraguan dan rasa nekat yang berpadu dalam waktu bersamaan. Dia bingung, di satu sisi Bowo harus segera melaksanakan rencananya, sebab kalau sampai besok dia tidak juga berhasil membawa Nia, maka semua akan sia-sia. Dirinya pasti akan merasa sangat bersalah, mungkin rasa bersalah yang akan diratapinya seumur hidup. Namun, di sisi lain, pilihan melaksanakan semua rencananya pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada Damar dan seorang pengawal lagi yang tidak di kenal Bowo. Di tambah lagi sikap acuh Nia padanya, rasanya semua sudah pasti nihil belaka.
γ
Ah, perduli setan. Kalau aku tidak pernah mencoba maka semua akan sia-sia.Β Bowo kembali memperhatikan jam tangannya, 10 menit menjelang jam pulang kerja.
γ
Coba dulu baik-baik, kalau gagal baru aku gunakan cara paksa. Yang penting besok Nia bisa aku bawa. Walaupun aku sangat berharap tidak pernah menggunakan cara paksa pada Nia.
γ
Tekad Bowo sudah bulat, sekarang atau tidak sama sekali, dia benar-benar harus mengajak Nia berbicara. Bowo berjalan ke arah Nia, Nia sedang berdiri di depan papan tulis putih kesayangannya, jemari Nia sedang sibuk menghapus selurus sisi papan tulis putih yang sepertinya nyaris penuh dengan berbagai coretan tentang mematangkan konsep presentasinya besok.
γ
"Boleh bicara sebentar ?" Bowo telah berdiri di belakang Nia, hanya berjarak setengah meter dari Nia. Nia memilih berpura-pura tidak mendengar suara Bowo yang mengajaknya berbicara, menganggap Bowo tidak ada. Tapi beda halnya dengan Damar, pengawal Nia. Lelaki ini spontan bangun dari duduknya saat tahu Bowo sudah berdiri sangat dekat dengan kekasih sang tuan.
γ
Damar memasang sikap waspadanya, matanya sangat awas memperhatikan Nia, menunggu kode kalau-kalau Nia memerlukan bantuannya.
γ
"Baiklah, kamu enggak mau melihat aku, gak masalah. Aku tidak keberatan berbicara tanpa kamu tatap, yang penting kamu mau dengarkan aku, Nia. Plisss...cukup dengarkan saja. Setelah itu terserah kamu ". Ucap Bowo pelan.
γ
Nia masih bertahan berpura-pura tidak mendengar semua ucapan Bowo, walaupun dapat di pastikan kalau saat ini Nia mulai melebarkan telinganya demi bisa jelas mendengar semua hal yang ingin di sampaikan Bowo padanya. Ada rasa penasaran bercampur kecurigaan dalam dirinya.
γ
"Nia, maaf aku sudah berbuat lancang sebelumnya, tapi lagi-lagi aku bilang sama kamu. Jujur aku gak punya niat apapun, semua refleks saja, tanpa maksud apapun ". Bowo menatap punggung Nia, dapat di tebak Nia masih tidak ingin berbicara dengannya.
γ
"Aku sanggup mengulang kata yang sama beribu-ribu kali bila perlu, demi membuat kamu percaya, aku beneran tidak punya niat apapun. Nia tolong maafkan aku ". Bowo tetap pantang menyerah.
γ
"Nia, aku butuh pertolonganmu. Sangat-sangat butuh. Aku mohon tolong aku, hanya kamu satu-satunya orang yang bisa menolong ku. Aku tahu setelah kejadian itu kamu mulai ragu pada persahabatan kita, tapi aku tidak pernah berubah sedikitpun, sikapku masih sama. Aku tetap sahabatmu yang mendukung semua impian dan cita-cita kamu. Aku akan selalu ada buat kamu dan aku akan selalu bisa mengerti semua isi hati kamu. Tapi kali ini aku membutuhkan bantuan kamu. Bantuan yang ada hubungannya dengan sikap lancangku padamu beberapa hari lalu, aku akan jelaskan kenapa aku bisa terbawa suasana sampai berani merangkul dan memegang erat jemarimu ". Penjelasan panjang Bowo sukses membuat Nia membalik badan menatap padanya.
γ
"Aku salah, aku akui itu. Kamu pasti tidak suka dan curigakan ? Baik, aku terima Nia. Tapi demi Tuhan, aku enggak punya niatan buruk ". Bowo tertunduk, dia memang terlihat sangat menyesal.
γ
"Aku baru sadar ternyata aku enggak kenal kamu Wo. Kita teman, bahkan jadi sahabat baik, tapi aku merasa konyol tidak pernah mengenal sepenuhnya siapa sebenarnya orang yang aku sebut sebagai sahabat ini ". Bowo tidak berani menatap Nia.
γ
__ADS_1
"Belakangan ini aku sadar, kamu menyembunyikan sesuatu. Sikapmu juga beda. Siapa kamu sebenarnya Wo ?"
γ
"Aku masih sahabatmu Nia, aku, aku tidak berniat menyembunyikan apapun. Aku hanya terpaksa saja, semua tidak semudah apa yang kamu dan teman-teman lain pikirkan. Ah...". Bowo mengusap frustasi wajahnya.
γ
"Ceritakan semuanya !" Suara Nia terdengar tegas.
γ
Bowo mengangkat wajahnya, matanya beradu pandang dengan mata cokelat Nia. Ada aura curiga dan kesal yang terpancang dari mata Nia, Bowo menghembuskan nafas dalam. Perasaannya sedikit kacau, bukan tatapan seperti itu yang di harapkannya dari Nia. Tapi semua sedah terjadi, mungkin tanpa di sadar, dirinya memang telah membuat Nia curiga dan kesal padanya walaupun Bowo tidak pernah berencana akan seperti ini akhirnya.
γ
"Aku tidak cuma menceritakan semuanya padamu, aku bahkan akan memperlihatkan semuanya padamu. Aku memang memiliki rahasia Nia tentang keluarga kandungku. Kamu mau tahu ?" Sekarang Bowo sudah sangat yakin, inilah saatnya dia beraksi, dia harus membuat Nia percaya padanya dan bersedia ikut dengannya.
γ
"Ya, aku mau tahu semuanya Wo ".
γ
"Baik...besok siang setelah jam istirahat, kamu ikut aku. Aku akan tunjukkan semuanya, kamu lihat sendiri dan nilai sendiri, aku tidak pernah punya niatan apapun padamu tidak dulu tidak sekarang ".Β Aku hanya sayang padamu Nia. Hanya sayang saja. Ituhal wajar bukan ?
γ
"Kemana ? Kenapa harus ikut, kamukan bisa jelaskan di sini ?" SemangatΒ Nia mulai surut.
γ
γ
Bagaimana ini ?Β Nia sangat ragu.Β Ikut Bowo ? Apa aman ? Memang tujuan dia apa coba ? Nanti malah kenapa-kenapa gimana ?Β Nia menatap Bowo sesaat.Β Eh, kan ada Damar sama Satriyo. Mereka bakal menemani aku kemanapun. Iya, kenapa ragu juga? ada mereka pasti aman.
γ
"Oke, aku setuju ". Jawab Nia sangat percaya diri.
γ
"Dengan satu syarat ". Bowo membuat Nia kepercayaan diri Nia menjadi goyah.
γ
"Apa ?" Tanya Nia malas.
γ
"Kamu sendiri, kita hanya pergi berdua saja tanpa pengawalmu !"
γ
"Mana bisa begitu ". Tolak Nia tegas. "Dan sekalipun kamu sangat ingin kita pergi berdua saja, tidak akan bisa. Damar dan Satriyo tidak akan mengizinkan ".
γ
__ADS_1
"Mereka biar aku yang urus. Yang penting kamu mau dulu pergi sama aku, selebihnya semua adalah tanggung jawab aku ".
γ
"Maaf, kalau tanpa pengawalku aku tidak akan mau Wo ". Nia kembali berbalik badan dan melanjutkan menghapus papan tulis putih yang sempat terhenti.
γ
"Aku butuh bantuan kamu, Nia. Aku mohon ". Suara Bowo sangat mengiba. "Tolong ikut aku besok ".
γ
Nia menghentikan aktifitas tangannya, "bantuan apa ?"
γ
"Ikutlah dengaku besok ! Keadaan ini sangat mendesak. Kalau kamu bantu aku, kamu akan tahu semua rahasia aku ". Bowo mencoba menyakinkan Nia. "Aku mohon Nia, kasihanilah aku ".
γ
Nia mendengar betapa mengibanya Bowo, suaranya bergetar menahan kesedihan, sungguh bukan Bowo yang biasanya.Β Sebenarnya ada apa dengan Bowo ? Aku harus berbuat apa ya ? Kalau aku iyakan, apa Bowo bisa di percaya ? Pergi tanpa kawalan Damar dan Satriyo, apa tidak terlalu nekad ? Bagaimana kalau Mas sampai tahu, apa dia akan memaafkan aku karena aku memilih pergi bersama Bowo tanpa memberitahu padanya ?
γ
"Aku mohon ". Suara Bowo benar-benar terdengar sangat pasrah.
γ
"Kalau aku iyakan, apakah kita bisa kembali secepatnya ? Aku tidak mau timbul keributan kedepannya karena aku ".
γ
"Bisa, tentu saja bisa. Secepatnya kita akan kembali ke kantor, sebelum jam kerja berakhir ". Sekarang suara Bowo sudah terdengar bersemangat kembali.
γ
"Baiklah, aku percaya padamu. Aku akan menolongmu, carilah cara teraman, aku akan ikut kamu besok ".
γ
Nia mengapai penghapus papan tulis yang tadi di letakkannya dan memilih melanjutkan menghapus papan tulis yang hanya tinggal sedikit lagi.
γ
"Terima kasih Nia ". Bowo setengah membungkuk hormat di belakang Nia. Nia hanya memperhatikan sikap Bowo padanya dari sudut mata tanpa berkenan kembali berbalik ke arahnya. Bowo benar-benar bersyukur dalam hatinya, agak sulit membujuk Nia dia awal, tapi akhirnya berkat kesabarannya dia berhasil. Itu yang penting.
γ
Trus kamu gimana cara bawa Nia luar dari sini tanpa dicurigai ha ?
Tenang, masih ada waktu buat cari caranya, aku akan pikirkan itu. Senyum merekah menghiasi sudut bibir Bowo, hatinya sangat senang.
γ
γ
γ
__ADS_1
γ