
πππππ
γ
Bunda sudah tertidur kembali, tidur dengan wajah yang mulai terlihat berdarah tidak pucat pasi seperti sebelumnya. Terakhir Nia memberikan obat pada Bunda, membelai rambut putih yang nyaris memenuhi kepala Bunda. Tanpa ada penolakan apa lagi aksi mogok seperti sebelumnya, Bunda patuh menelan semua jenis pil yang memiliki warna berbeda-beda itu.
γ
"Ini benar-benar permulaan yang baik. Saya tidak menyangka respon pasien akan sebagus itu ". Dokter Zaky menganguk senang.
γ
"Anda harus datang lagi besok. Tolong usahakan ya ! Ini baru permulaan soalnya, kalau sempat anda tidak muncul besok seperti janji anda. Maka sama saja kita mengali lobang kematian untuknya. Saya jamin Ibu Tiara akan semakin terpuruk. Efeknya akan sangat fatal ". Dokter Zaky menemani Nia dan Bowo keluar dari kamar rawatan itu.
γ
"Akan saya usahakan dok ". Jawab Nia cepat. "Saya juga senang bisa membantu, semoga saja Bunda cepat sehat ". Nia menatap tulus pada Bowo.Β semoga Bunda cepat sembuh.Β Doa Nia tulus.
γ
"Lili, kakak pamit ya dek ". Nia melepaskan tangannya dari pingang Lili. Sepanjang jalan keluar ruangan tadi Nia sengaja berjalan beriringan bersama Lili.
γ
"Aku tahu kakak bukan kakakku, tapi maafkan aku. Aku memiliki rasa bahwa kakak adalah kakakku. Kakak sangat mirip kak Amanda, kakak Manda juga sama lembutnya seperti kakak. Tulus menyayangi Bunda ". Cepat-cepat Lili memeluk Nia.
γ
"Dek, kakak bukan kakak Manda, Lili tahu itu kan ? Kakak enggak mau Lili terbuai dalam halusinasi sendiri kalau kak Manda hidup lagi, maaf dek itu gak mungkin terjadi. Tapi dek, Lili boleh percaya satu hal pada kakak, kakak sangat sayang sama Bunda. Sangat ". Nia mencium puncak kepala Lili sebagai wujud pernyataannya. "Kakak mungkin tidak sebaik kak Manda, tapi Lili boleh menyayangi kakak seperti seorang kakak sesungguhnya. Karena kakak sejujurnya langsung jatuh hati pada kamu saat kamu peluk kakak tadi, kakak langsung sayang sama Lili ". Ketulusan hari Nia membuat Lili merasakan kembali kehangatan kasih seorang kakak perempuan, tulus penuh cinta dan mengangapnya berharga.
γ
"Kak Nia, Lili sayang kakak ". Lili melepas pelukannya dari Nia, menarik tubuh tinggi Nia agar mau sedikit membungkuk ke arahnya dan " cup ", kecupan sayang seorang adik dihadiahkan Lili persis di pipi kiri Nia.
γ
***************
γ
Bagaimana ya cara agar tuan bisa tenang nanti ? Menurut Damar mobil Bowo memang benar terparkir di Rumah Sakit itu. Kalau aku gagal membuat tuan tenang, sudah dapat di pastikan kalau tuan akan mengamuk di sana, di tempat umum itu. Bisa gawat ini, apa lagi kalau berita ini tersebar. Pasti sangat heboh. Ini bisa merusak reputasi tuan.
Aduuuuhh...gimana ya ?Β Kristo memijat batang hidungnya sambil berpikir, dia belum menemukan solusi terbaik.
γ
"Tuan, saya mohon tuan mau menahan diri nanti ". Bujuk Kristo pada sang tuan saat mendengar perintah tegas Aisakha agar segera menjalankan laju mobil mewahnya tempat Nia berada.
γ
"Biar saya yang urus semua ". Kristo melihat kalau Aisakha tidak berniat mendengar ucapannya. "Saya mohon tuan, beri kesempatan saya mengurus semua ". Ulang Kristo, tetapi Aisakha tetap mengacuhkannya.
γ
**************
__ADS_1
γ
Bowo membukakan pintu mobil untuk Nia, mempersilahkan wanita cantik yang baru saja menyelamatkan nyawa Bundanya untuk naik. Sikap Bowo sudah berubah ramah lagi pada Nia, hilang sudah sikap benci dan rasa tidak sukanya pada Nia tepat di saat Nia berhasil membuat sang Bunda tersenyum. Tidak hanya sebuah senyuman saja, cara Nia menyuapi dan menyentuh Bunda benar-benar tulus dari hati, Bowo tahu terharu dengan semua itu, Bowo tersentuh.
γ
"Terima kasih sudah melakukan semua ini. Terima kasih sudah menyelamatkan Bundaku ". Ucap Bowo sepenuh hati saat dirinya sudah duduk di belakang kursi kemudi.
γ
"Maafkan aku, caraku membawamu ke sini tidak sebaik yang kamu harapkan ". Bowo memandang Nia sesaat.
γ
"Dokter Zaky terus mendesakku seminggu terakhir ini. Keadaan Bunda benar-benar menurun, kami semua panik ". Bowo mencengkeram keras kemudi. "Aku takut kehilangan Bunda, aku juga takut buat jujur Nia. Jadi hanya inilah cara yang mampu aku pikirkan ". Bowo mengeleng pelan.
γ
"Kenapa kamu tidak pernah cerita Wo ? Kenapa kamu enggak jujur pada aku, Wulan, Resya dan Anita ? Kitakan sahabat baik, kenapa kamu harus merahasiakan semua ini ?"
γ
"Memang kalau aku jujur punya seorang ibu yang sedang di rawat di Rumah Sakit Jiwa kamu dan yang lain bisa santai, tidak memasang ekspresi ngeri ?" Ada nada mengejek dalam suara Bowo.
γ
"Aku masih ingat Nia, bagaimana takutnya kamu tadi. Kamu bahkan sibuk memikirkan cara melarikan diri dari sinikan ?" Bowo mengejek Nia.
γ
"Itu yang mau aku ceritakan pada kalian semua. Membiarkan kalian menertawakan aku, menjauh dan tidak berkenan lagi menjadi sahabatku ? Kamu yakin ?" Bowo memandang Nia.
γ
γ
Bowo mengaruk kepalanya sambil menuduk malu, "maafkan aku ". Ucap Bowo sungguh-sungguh.
γ
"Kamu mengaku aku dan yang lain adalah sahabat, tapi kamu hanya mengukur persahabatan kita ini dari sudut pandang kesinisanmu. Dan setelah itu kamu simpulkan sendiri dan kamu yakini sendiri, kamu yang anggap kami tidak akan bisa terimakan ?" Nia masih saja mencerocos kesal.
γ
"Semenjak Amanda pergi, aku merasa sangat hancur Nia. Aku gagal menjadi seorang kakak, aku membiarkan semua ini terjadi padanya. Kamu tahu, andai hari itu aku bisa mengantarkannya mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Tapi apa....", Bowo menarik nafas dalam. "Amanda pergi selamannya. Kamu tahu, Amanda saat di temukan sudah dalam keadaan membusuk ". Bowo menundukkan kepalanya kearah stir mobil.
γ
Mendadak Nia kesulitan menelan air ludahnya sendiri saat mendengar cerita Bowo tentang tubuh Amanda.
γ
"Bunda shock, bunda sampai 3 kali pingsan saat acara penguburan Manda ". Nia memejamkan matanya, cerita Bowo sangat menyakitkan bagi dirinya. Nia bisa membayangkan, pasti saat itu Bowo sibuk menyalahkan dirinya.
"Padahal Amanda sudah membujukku supaya mengantarkannya pagi itu. Tapi aku tidak bisa, ada projek baru dan kami semua harus datang pagi ". Rahang Bowo terlihat mengeras.
__ADS_1
γ
"Semenjak hari itu Bunda tidak pernah bicara lagi, meskipun Lili menangis di kaki Bunda. Bunda seakan sudah tidak perduli, aku merasa bunda sudah tidak ada lagi di antara kami. Memang raga bunda masih utuh, bunda masih bernafas, tapi jiwanya entah kemana ". Nia tidak tahu air mata Bowo telah jatuh menetes.
γ
"Segala cara aku lakukan, hingga pilihan terakhir adalah membiarkan dokter memberi perawatan intensif untuk bunda di sini. Aku takut Nia, saat kalian tahu bundaku di sini, kalian akan menjauhiku. Kamu sendiri yang bilangkan, konotasi tempat ini negatif. Hatiku sudah hancur, sebagai seorang kakak aku gagal dan sebagai seorang anak aku juga gagal. Lantas kalau aku cerita jujur apa aku tidak akan gagal jadi teman kalian ". Bowo masih bertahan menunduk di depan stir.
γ
"Maafkan aku, aku tahu semua ini sulit ". Nia sekarang bisa memahami semua alasan Bowo menyimpan keadaan Ibunya dari mereka, merahasiakan semua cerita tentang Amanda. Ini pasti tidak akan mudah bagi Bowo yang sudah terlanjur menyalahkan dirinya karena gagal menjaga adik dan Ibunya.
γ
"Saat kamu datang, hari pertama kamu masuk laboratorium 3 tahun lalu, aku pikir Tuhan pasti sedang menghukum aku dengan mengirim kamu. Sosok wanita yang sangat-sangat mirip Manda, aku sempat loh takut sama kamu. Heh, aku takut kamu datang untuk menuntut balas padaku, pada seorang lelaki yang tidak becus menjadi kakak ". Bowo menegakkan kepalanya, Nia melihat ada sisa bulir bening di sudut mata Bowo.
γ
"Tetapi, dari hari ke hari aku lihat, kamu memang sangat mirip Amanda. Tidak hanya wajahmu saja, tapi kelembutan dan kebaikanmu sangat mirip Amanda. Sejak itu aku berjanji dalam hati, aku akan menjaga kamu Nia. Mungkin ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan padaku untuk memperbaiki semua kesalahanku dulu. Dan aku selalu berusaha menjagamu sebaik mungkin. Bowo menatap mata cokelat Nia.
γ
"Karena itu kamu paling tahu semua perasan aku ya, kamu peka banget ?" Dan Bowo menganguk cepat untuk semua jawaban pertanyaan Nia padanya.
γ
"Trussss, kenapa kamu foto aku diam-diam ?" Bowo mengerurkan keningnya mendengar pertanyaan Nia. "Dokter Zaky yang cerita, kamu diam-diam ambil foto aku dan kamu tunjukkan pada Bunda ".
γ
"Maaf, aku benar-benar minta maaf untuk kelancanganku itu. Tapi menurut Dokter Zaky semua foto-foto kamu yang aku tunjukkan pada bunda cukup ampuh untuk membuat bunda punya harapan baru ". Sebentuk senyum tipis tertarik di sudut bibir Bowo.
γ
"Hingga semua menjadi mimpu buruk, menurut dokter Zaky, bunda memiliki keinginan untuk bertemu kamu. Sosok wanita yang di pikirnya adalah Amanda ". Bowo hanya bisa mengeleng. "Hingga akhirnya kamu lihat sendiri seperti apa kondisi bunda tadi ".
γ
"Semoga setelah ini bunda segera sehat kembali ". Nia memegang bahu Bowo.
γ
"Terima kasih ya untuk semua ini, meskipun hanya sepengal kalimat, bunda sudah mau memulai berkomikasi. Terima kasih dik ". Bowo meletakkan tanganya di atas tangan Nia yang masih berada di bahunya.
γ
"Aku sayang kamu dik". Sekarang Bowo memegang tangan Nia, mendekatkan ke arah bibirnya. Dengan sudut mata meneteskan butir kesedihan mendalam Bowo terlihat akan mencium jemari Nia.
γ
Dan..........Buggghhhhhhkkkkkkk.....
γ
Entah bagaimana caranya, tubuh Bowo sudah berada di lantai parkir dengan sudut bibir berdarah. Bowo meringkuk kesakitan terkapar di sana memegang perutnya.
__ADS_1
γ
γ