SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
111


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Nia mengamati dengan seksama susunan pagar yang di cat warna putih beberapa meter darinya. Nia merasa kenal dengan bentukan pagar tersebut, Nia merasa sangat tidak asing.


γ€€


Bunga-bunga ini ?


Pagar itu ?


Nia mulai berspekukasi.


γ€€


Apa mungkin ?


Nia menatap sisi kiri tubuhnya.


γ€€


Jalan setapak dengan sisi kanan dan kiri di tutupi rapi rumput gajah mini.


γ€€


Lalu mata Nia terus menjelajah mengikuti ujung jalan setapak.


Seharusnya ada teras dengan kursi rotan kesukaan nenek.


Nia mulai berharap.


γ€€


"Ya Tuhan....", Nia terperanjat. Benar saja, Nia menemukan jejeran kursi rotan dengan warna sama seperti kursi rotan kesayangan sang nenek dulu.


γ€€


Cepat Nia berbalik badan, menghadapa ke arah Aisakha. Hanya sesaat dan setelah itu langsung mendongakkan wajahnya.


γ€€


"Ya Tuhannnn.... ". Lagi, lagi Nia di buat kaget tidak percaya. Pemandangan di depan matanya, apa yang ada persis di belakang suaminya. Nia sangat sulit percaya.


γ€€


Nia menutup mulutnya yang sedari tadi mengangga dengan kedua tangan. Dia mengeleng masih tidak percaya, matanya terlihat berkaca-kaca.


γ€€


"Ba, bagaimana mungkin ?" Suara Nia terputus-putus di balik tangannya.


γ€€


"Ini bukan mimpikan ?" Nia memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.


γ€€


"Sayang ", Nia menatap wajah Aisakha yang terus tersenyum padanya.


γ€€


"Ini, ini ?" Nia bingung harus berkata apa.


γ€€


"Hemmmm ", hanya itu yang diucapkan Aisakha.


γ€€


"Ini adalah rumah masa kecilku, rumah pertama kali ayah membawa Ibu sebagai isterinya. Rumah aku di lahirkan di besarkan penuh cinta dan rumah tempat aku merasakan hidup disayangi semua orang ". Air mata jatuh di sudut mata Nia.


γ€€


"Sayang ". Nia memeluk Aisakha erat. "Sayang ". Hanya itu yang mampu Nia ucapkan. Dirinya terlalu haru.


γ€€

__ADS_1


"Ini hadiah pernikahan kita, ini hadiahku untuk nyonya Aisakha ". Aisakha memeluk Nia tidak kalah eratnya.


γ€€


"Tapi, tapi bagaimana bisa ?" Tanya Nia heran.


γ€€


"Rumah ini, rumah ini sudah aku jual hampir 8 tahun yang laluΒ  ? Apa, apa kita hanya menompang berdiri di teras rumah yang punya saja ?" Nia bertanya dalam pelukan Aisakha.


γ€€


"Kemarilah ". Aisakha mengendong Nia.


γ€€


"Selamat datang nyonya dan tuan Aisakha ". Pakde dan Bi Kartik membukakan pintu depan untuk pasangan pengantin baru ini.


γ€€


"Loh.....", Nia kembali di buat kaget.


γ€€


"Pakde, Bibi ?" Nia serasa mimpi.


γ€€


Aisakha menurunkan Nia tepat di ruang tamu. "Ini rumah tuan dan nyonya Aisakha, non ". Pakde senyum melihat majikan kecilnya itu sangat terkejut.


γ€€


"Jadi, jadi ?" Nia sedikit terbata-bata sambil menatap mata biru suaminya.


γ€€


Lagi-lagi Aisakha terseyum, betapa mengemaskan wajah sang isteri sekarang.


γ€€


Nia berjalan pelan, memegangi sofa cokelat yang entah bagaimana masih sama seperti masa Ibu dan neneknya masih ada. Masih bagus seakan masih baru saja. Nia memandangi dinding putih ruang tamu, ada foto ayah dan ibu saat mereka baru menikah. Dan satu lagi, di sebelahnya ada foto dirinya dan Aisakha. Saat pernikahan mereka seminggu yang lalu. Nia mendekat ke sana, mengelus bingkai foto ayah dan ibunya itu dengan takjub.


γ€€


γ€€


Nia melanjutkan langkahnya. "Kamar Ibu ". Nia menatap pintu yang tertutup rapat.


γ€€


"Ibu ", suara Nia sedikit bergetar.


γ€€


Nia membuka pintu kamar itu pelan, mendekatkan tangannya ke sisi kiri dan menemukan saklar lampu di sana.


γ€€


"Bahkan posisi saklarnya pun masih sama ". Nia berguman tidak percaya.


γ€€


Nia memandangi tiap sudut kamar itu, kamar orang tuanya dulu. Kamar itu masih sama seperti puluhan tahun yang lalu, sempurna seakan memang seperti adanya, tiada ubah.


γ€€


Nia keluar dari kamar orang tuanya, melanjutkan langkah ke sisi lain rumah. Penjelajahan Nia belum selesai.


γ€€


Sebuah piano, piano kesayangannya yang selalu menemani masa kecilnya, hingga suatu hari sang nenek sakit keras dan sang Ibu memutuskan menjual piano itu. Mereka perlu uang untuk pengobatan sang nenek. Nia membuka penutup tuts piano, meletakkan telunjuk lentiknya di sana, menekan satu tuts dengan baik.


γ€€


Terdengar bunyi, Nia tertegu. Nia lama berdiam di sana, semua masih sama. Tanpa di sadari air matanya jatuh satu persatu di pipinya. Sebuah kenangan indah, sosok Ibu, sosok nenek hadir kembali dalam memori terindahnya. Nia memejamkan mata, tangannya memegang erat tepian piano.


γ€€

__ADS_1


"Nia... ", Aisakha berdiri di belakang Nia. Memeluk pinggang Nia erat. "Isteriku ".


γ€€


"Semua ini, semua ini begitu indah sayang ", ucap Nia menahan isak tangisnya.


γ€€


"Aku serasa kembali ke masa kecilku, semua persis waktu dulu. Tidak ada ubah ".Β  Nia bersandar di pelukan Aisakha.


γ€€


"Bagaima mungkin aku bisa ada di sini hari ini ?" Suara Nia pelan masih tidak percaya.


γ€€


"Sayang, bagaimana kamu bisa begitu baik padaku ? Bagaimana bisa kamu begitu mencintaiku ?" Suara Nia terdengar sangat dalam.


γ€€


"Bahkan aku tidak pernah berani berkhayal bisa memiliki semua kenangan indah ini lagi, apa lagi tinggal di dalamnya ". Nia membalik badannya. Menatap mata biru Aisakha di antara air matanya.


γ€€


"Hey...kenapa menangis isteriku ?" Aisakha menghapus air mata Nia dengan lembut.


γ€€


"Akukan sudah bilang, di dalam duniaku tidak mungkin, tidak ada yang tidak bisa aku berikan untuk kamu, isteriku ". Aisakha mengangkat dagu Nia.


γ€€


"Aku mencintaimu Nia, aku akan terus melimpahkan cintaku padamu. Aku ingin setiap detikmu tidak pernah kamu lewatkan tanpa cinta dariku ". Aisakha menatap Nia sepenuh jiwa.


γ€€


"Terima kasih, terima kasih sayang ". Ucap Nia sambil meletakkan kedua tangannya di pipi Aisakha. "Terima kasih, untuk cintamu, untuk hadiahmu ". Mata Nia mulai berkaca-kaca lagi. "Terima kasih telah mengajarkan aku cinta tulus dan luar biasa ini ".


γ€€


Aisakha tersenyum, dibawanya Nia dalam pelukan hangat cintanya. Pakde dan Bibi yang melihat itu ikut terharu, lebih-lebih Bi Kartik, wanita paruh baya ini juga ikut menangis.


γ€€


"Bagian terindah yang telah aku siapkan belum nyonya Aisakha lihat ". Ucap Aisakha berbisik di telinga Nia.


γ€€


"Ma, masih ada lagi ?" Tanya Nia tidak percaya.


γ€€


"Masih, ini belum semuanya Nia. Tetapi untuk malam ini aku akan langsung membawamu ke bagian terpentingnya ! Besok kita baru selesaikan sisa penjelajahan ini ". Aisakha mengendong Nia.


γ€€


"Pakde dan Bibi terima kasih. Sekarang kalian sudah bisa beristirahat. Tolong Kristo dan yang lain di tunjukkan kamar mereka ". Aisakha segera berjalan ke sebuah kamar yang tidak berapa jauh di sisi tengah ruangan keluarga.


γ€€


"Ini, ini ke arah kamarku sayang ?" Nia pun merasa kenal tujuan kaki Aisakha melangkah.


γ€€


γ€€


γ€€


*******************


γ€€


Upssss...ceritanya author cut, heheheeh.


Kaka-kaka readers yang budiman pada deg-degan ya?


Hehehe\, sengaja kaka. Author lagi pengen denger koment kaka-kaka semua. Apa ya kira-kira pendapat kaka tentang lanjutannya ceritanya *_*

__ADS_1


γ€€


Sehat selalu kaka-kaka readers yang budiman dan jangan lupa berbahagia πŸ™


__ADS_2