
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
"Ruang tengah ini juga persis seperti masa dulu ". Nia memandang kagum pada semua interior barang di dalam ruang tengah. Nia takjub, semua sama, benar-benar sama tidak ada beda di dalam matanya. Setelah acara sarapan pagi selesai dan tentunya acara menjahili Nia juga selesai di lakukan Aisakha. Maka pasangan suami isteri ini pun keluar dari kamar mereka. Aisakha mengajak Nia melanjutkan penjelajahan akan rumah masa kecil Nia.
 
"Ini, bahkan televisinya pun sama ?" Nia mengeleng tidak percaya.
 
Langkah mereka terus saja, hingga kebagian dapur. Bibi sedang menyusun piring di rak piring yang sangat Nia kenal. Bibi menunduk hormat, memberi ruang pada Nia untuk bernostalgia.
 
"Dapur nenek ". Nia memperhatikan setiap inci dapur tempat sang nenek di masa itu sering mengolah aneka makanan lezat untuk dirinya.
 
Dari arah dapur Nia memperhatikan keluar, ke arah teras belakang dengan berjinjit di jendela kecil.
 
"Tidak mungkin ?" Nia terlihat cukup tidak percaya.
 
Tanpa menunggu sang suami, Nia berjalan ke arah pintu samping, Nia menuju teras belakang.
 
"Pohon mangga itu ?" Tunjuk Nia ke arah pohon mangga yang sedang berbuah kepada Aisakha. "Bagaimana pohon mangga itu bisa ada di sana ?" Nia bertanya serius. Sedang Aisakha, dia hanya tersenyum.
 
"Aku, aku ngupahin orang waktu itu buat tebang pohonnya ". Nia menatap buah mangga yang masih cukup kecil bergelantungan di sela-sela dedaunan. "Pembeli rumah ini, waktu itu mereka bilang nggak mau punya pohon mangga. Jadi aku menebang pohon itu, dan itu 8 tahun yang lalu ". Lagi-lagi Aisakha hanya tersenyum.
 
"Ini semua, bagaimana bisa sayang ?" Nia menatap mata Aisakha.
 
"Duduklah, aku akan ceritakan semuanya ". Aisakha mengajak Nia bersantai di teras belakang.
 
"Waktu Paman mengusirku, waktu di Rumah Sakit dulu. Kamu ingat ?" Aisakha memandang Nia. Cepat Nia menganggukkan kepalanya.
 
"Waktu itu aku mengantarmu pulang, kamu di bawah pengaruh obat penurun panas, panasmu tinggi ". Nia hanya menyimak cerita Aisakha.
 
"Saat aku menjagamu, bibi datang hendak meletakkan baju bersihmu yang sudah di sterikanya ke dalam lemari. Tetapi aku melarangnya karena aku tidak mau ada yang menganggu aku bersamamu. Aku terlalu khawatir saat itu. Lalu saat aku lihat panasmu sudah turun, sebelum aku mengiyakan Bibi mengantikanku menjagamu sesaat. Aku menyempatkan diri meletakkan baju-bajumu ke dalam lemari ". Nia masih menyimak.
 
"Saat itulah aku tanpa sengaja melihat sebuah map plastik warna biru ". Aisakha kembali menatap mata Nia. "Maaf, tanpa izinmu, aku sudah membukanya ". Nia terlihar cukup kaget.
 
"Aku menemukan foto ini ", Aisakha mengeluarkan foto pertama dari saku celananya. "Foto ini, ini, ini, ini, dan ini ". Nia masih terkaget-kaget. "Maafkan aku, aku lancang melihat harta karunmu, Nia ".
 
__ADS_1
"Aku juga minta maaf. Melihat sketsa gambar ini ", Aisakha mengeluarkan lembar foto terakhir. Foto yang berisi gambar Nia pada sebuah kertas gambar. Gambar yang merupakan impian liar Nia tentang kamar tidurnya yang di sulap menjadi kamar tidur megah bagai milik raja-raja di dalam novel romantis yang dulu sering di bacanya.
 
"Jadi, jadi kamu sudah melihat semua ini ?" Nia mengumpulkan lembar demi lembar foto itu satu persatu. Nia ingat semuanya.
 
"Maafkan aku, Nia. Aku tahu aku lancang. Tetapi aku terlalu penasaran ". Aku Aisakha penuh penyesalan.
 
Nia tidak menjawab, dirinya hanya memandangi foto di tangannya silih berganti.
 
"Lalu bagaimana caranya rumah ini bisa seperti sekarang ? Aku telah menjualnya ?" Tanya Nia kemudian.
 
"Setelah hari itu, aku minta Kristo mencari tahu. Akhirnya aku tahu kalau kamu telah menjual rumah ini. Hingga saat kamu menerima lamaranku, pada detik itu aku bertekad akan menjadikan rumah ini sebagai hadiah pernikahan kita. Aku tahu, dari setiap lembar foto-foto yang kamu simpan. Kamu sangat menyayangi rumah ini ". Jelas Aisakha.
 
"Dua minggu sebelum kita menikah, aku meminta bantuan Pakde dan Bibi agar mengembalikan semua bentuk dan isi rumah ini kembali kemasamu, sesuai isi foto-fotomu ". Aisakha tersenyum, Nia bisa melihat itu. "Syukurnya Tuhan berpihak padaku, semua selesai, semua telah tertata rapi persis dengan foto itu ". Tunjuk Aisakha pada lembar foto di tangan Nia.
 
Nia menarik nafas panjang. Meletakkan lembaran di tangannya dan berjalan ke arah Aisakha. Agak canggung, Nia mendudukkan dirinya di pangkuan Aisakha tanpa di perintah.
 
Aisakha sedikit di buat tidak percaya, isterinya itu sudah berani mengambil sebuah inisiatif yang membuat dirinya sangat senang. Ya, meskipun dengan wajah Nia yang terlihat merona menaham malunya. Khas Nia yang satu ini masih belum hilang.
 
"Saat aku mengambil keputusan menjual rumah ini. Aku pikir aku tidak akan pernah bisa melepaskannya sepenuh jiwa. Aku pasti akan merindukan rumah ini suatu hari nanti ". Nia bermain-main dengan rambut Aisakha. "Karena itu, aku mengambil banyak foto rumah ini. Foto pagar, halaman depan, teras luar, ruang tamu, semuanya. Pokoknya semua sudut rumah dari depan sampai ke belakang. Sampai pohon mangga itu sebelum di tebang juga aku foto ".
 
 
"Bagaimana dengan hasil gambarmu itu ?" Aisakha merasa Nia belum menceritakan tentang itu.
 
"Gambar itu...jadi, aku pernah baca sebuah novel romantis tentang kisah kerajaan gituh sayang. Dimana kamar sang paduka rajanya diilustrasikan seperti kamar kita sekarang. Aku terlalu terpesona, jadi aku coba tuangkan dalam selembar kertas sambil berdoa, semoga akan ada masanya aku memiliki kamar seromantis itu, indah dan mewah, tetapi sangat memanjakan pemiliknya ". Nia tersenyum simpul.
 
"Kamu suka setelah aku mengimplementasikannya dalam wujud nyata ?" Aisakha menunggu jawaban Nia.
 
"Sungguh indah, bahkan lebih indah dari impianku ". Jawab Nia jujur.
 
"Tetapi aku harus merombak beberapa bagian kamar lamamu untuk membuatnya menjadi seperti sekarang ". Aisakha memegang tangan kanan Nia dan mendekatkan ke bibirnya, satu kecupan tertinggal di sana.
 
"Dan terima kasih sudah memberikan aku kamar pengantin sesempurna itu ". Nia mengecup pipi kanan Aisakha lalu bersandar di bahunya.
 
"Aku suka melihat kamu berani seperti ini ". Guman Aisakja sambil merangkul Nia. "Kamu membuat aku sangat bahagia Nia ".
 
__ADS_1
"Terlebih aku, sayang. Aku sungguh sangat-sangat bahagia. Kamu benar-benar membuat aku merasa sangat di cintai. Berjanjilah jangan pernah meninggalkan aku !" Nia terdengar sangat bermohon.
 
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, hingga nafas ini berembus hilang dari ragaku, Nia ". Janji Aiskaha sepenuh jiwa.
 
"Terima kasih sayang ". Ucap Nia untuk kesekian kalinya. "Terima kasih ".
 
Lama Nia dan Aisakha menikmati pagi indah mereka bersama di teras belakang. Ada gelak tawa ada juga rengekan manja. Nia sedang bercerita masa kecilnya di istana indahnya itu. Bukan rumah megah seperti milik Aisakha. Tetapi entah kenapa, bagi seorang Nia rumah masa kecilnya itu benar-benar adalah sebuah istana.
 
"Tunggu dulu ". Nia membuat Aiskha berhenti bersuara, saking seriusnya wajah Nia saat ini. "Bagaimana caramu mendapatkan rumah ini kembali sayang, apa mereka menjualnya ?"
 
"Tidak ". Jawab Aisakha santai. "Aku hanya mengajak mereka bertukar saja ".
 
"Seperti barter ?" Nia agak tidak yakin.
 
"Seperti itu kira-kira ". Angguk Aisakha setuju.
 
"Apa, barter dengan apa ?" Nia semakin memaksa Aisakha segera menjawab.
 
"Rumah ini dengan satu unit apartemen di dekar pusat Kota, kalau mereka mau. Mereka juga akan mendapati apartemen itu dalam kondisi lengkap ". Aisakha mencoel puncak hidung Nia.
 
"Apa ? Apa sayang ?" Nia terlihat tidak percaya. "Bagaimana bisa ? Sayang, ini hanya rumah biasa. Kenapa kamu menukarnya dengan apartemen mewah ?" Nia mengeleng tidak percaya.
 
"Nia ". Aisakha tersenyum tulus menatap kedua mata sang isteri. "Ini rumah yang sangat spesial, sangat berharga. Ini rumah isteriku semasa kecil. Rumah yang sangat disayanginya, tempat dirinya dibesarkan dengan kasih sayang. Dan ini, ini adalah rumah dimana aku membawanya dengan sepenuh cintaku, hingga di sini juga. Di rumah ini aku menjadikan dia sepenuhnya milikku, isteriku seutuhnya ". Aisakha menarik nafas dalam.
 
"Hanya sebuah apartemen, itu sangat biasa-biasa saja di bandingkan memori isteriku di sini ". Aisakha melanjutkan kata-katanya. "Bahkan kalau mereka mau mobil, uang atau apalah lagi sebagai tambahannya. Aku dengan senang hati akan memberikan. Asalkan aku bisa membuat senyum isteriku tercinta selalu menghiasi wajahnya ini ". Dengan punggung tangannya, Aisakha membelai wajah Nia.
 
"Terima kasih ", ucap Nia sambil memejamkan mata. "Aku cinta padamu ". Nia tidak tahu apa lagi kata-kata terbaik yang dapat di ukirnya, untuk diungkapkan pada sang suami. Aisakha begitu mencintainya, begitu sempurna untuknya. Nia sangat bersyukur.
 
"Terima kasih sayang ". Nia memegang tangan yang sedang membelai wajahnya, mencium dalam di bagian telapaknya.
 
"Bagaimana kalau kata terima kasihnya diucapkan di atas ranjang, seperti semalam ". Bisik Aisakha di telinga Nia. Pelan dan sangat dalam. Membuat sebentuk gelora yang semalam di rasakannya kembali hadir di dalam tiap jengkal tubuhnya.
 
"Boleh aku meminta itu ?" Rayu Asiakha membuat Nia kembali tengelam dalam rasa yang masih aneh baginya, tetapi dirinya jelas menikmatinya. Nia bertanya ada apa dengan dirinya ? Apa yang terjadi pada tubuhnya ?
 
Nia menatap mata Aisakha, tersenyum dengan seluruh tubuh yang mendamba.
__ADS_1