SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 7


__ADS_3

Kenapa Semua Bertanya Hal Yang Sama Hari Ini


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Pagi senin, seperti biasa Nia akan memulai aktivitas paginya sama seperti separuh mahluk di bumi ini yang akan berkutat dengan dunia masing-masing, memulai pekerjaan masing-masing. Setelah weekand di rumah Bibi Ros, kemaren malam Nia sudah sampai di apartemennya lagi.


γ€€


"Non sudah siap?" Pakde melihat Nia sudah rapi dan sudah selesai sarapan.


γ€€


"Udah pakde, ayo kita berangkat lagi". Nia pun pamit ke Bi Kartik dan berangkat ke tempat kerja dengan di antar oleh Pakde. Sekarang Nia bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga penelitian yang merupakan bagian dari perusahaan yang bergerak di bidang pertanian. Pekerjaan ini sesuai dengan basic ilmunya, pekerjaan yang sangat Nia sukai. Awalnya Nia tidak menyangka, dia akan lolos mengisi lamaran kosong sebagai peneliti di perusahaan tersebut. Walaupun Nia punya ijasah sebagai Sarjana Biologi tetapi selama di Jakarta dia bekerja di dunia yang tidak ada hubungannya dengan ijasahnya tersebut. Ya, jadi sudah lama Nia tidak berkecimpung di dunia penelitian berkutat dengan peralatan laboratorium.


γ€€


"Nanti pakde balik aja lagi setelah antar aku. Aku nanti balik agak malam karena ada penyelesaian proyek", Nia memberi tahu Pakde sopirnya.


γ€€


"Malemnya jam berapa Pakde jemput non?" Pakde pun menanyakan jam pulang Nia. Mungkin supaya majikannya itu tidak usah menunggu lama, jadi Pakde berencana mempaskan waktu sampainya. Maklumlah, jarak tempuh apartemen dan tempat kerja Nia berjarak 47 menit saat tidak macet. Tapi kalau sudah jam sibuk, jam pulang kerja, jarak yang 47 menit itu bisa lebih lama lagi. Bisa sampai 1 jam 20 menit untuk sampai ke apartemen atau pun sebaliknya.


γ€€


"Enggak usah Pakde, nanti aku di antar Wulan pulangnya, jadi Pakde gak usah jemput aku ya". Wulan adalah teman satu profesi denganya, sama-sama bekerja sebagai peneliti di perusahaan tersebut.


γ€€


"Baik non kalau begituh. Tapi kalau ada apa-apa cepat kabari Pakde ya non, biar Pakde segera datang". Sebenarnya Pakde senang kalau Nia akan pulang bersama temannya. Etttts, senangnya Pakde ini bukan karena dia akan bebas dari tugas menjemput majikannya. Jadi rasa senangnya itu timbul karena bagi Pakde itu pertanda kalau majikannya akan bersama orang seusianya. Bukankah seorang teman itu biasanya memilih berteman dengan orang yang usianya sama atau relatif sama. Begitu pikir Pakde, yang artinya majikannya itu akan bergaul layaknya orang seusia dia, syukur-syukur ketemu cowok cakep terus cocok deh. Jadi non Nia gak jomblo lagi. Pakde tersenyum sendiri sambil tetap fokus menyetir mobil. Sudah setahun Pakde bekerja sebagai sopir pribadi Nia dan istrinya, Mbok Kartik bekerja sebagai asisten rumah tangga di apartemen Nia. Dan selama satu tahun ini, bisa di hitung jari, Nia menerima tamu dari teman perempuannya di apartemen Nia. Dan untuk teman lelaki, Pakde dapat memastikan tidak pernah.


γ€€


Pakde geleng-geleng kepala sendiri, si non ini cantik, baik, pinter, dan penyabar banget. Tapi kenapa ya belum ada pacar? Apa iya si non Nia terlalu pemilih? Tapi kalau di lihat selama ini, si non bukan tipe orang yang milih-milih. Si non ini bersahaja, santun, bukan orang yang banyak maunya. Pakde masih belum bisa mencari jawaban kenapa Nia masih sendiri sampai saat ini.


γ€€


"Kenapa pakde, ada yang salah, kok menggeleng gituh?" Nia merasa heran melihat Pakde yang geleng-geleng kepala sambil menyetir.


γ€€


"Ooo, gak non. Itu, saya cuma lagi mikir non. Maaf tapi ya non sebelumnya. Emm, non Wulan itukan sudah punya pacarkan non. Lah nanti dia bareng pacarnya antar non pulangkan? Lah trus, non gak papah gituh non? Apa nonnnn, emmm, maaf ya non. Apa non gak ke pikiran buat cari pacar juga". Akhirnya Pakde berani menanyakan rasa penasarannya pada Nia. Cantik, sukses, mandiri, tetapi kenapa masih sendiri. Jelas pakde penasaran.


γ€€


"Entahlah pakde, aku masih suka sendiri. Mungkin nanti akan ada waktunya buat aku, tapi sekarang biarkan saja seperti ini". Nia mencoba menjawab pertanyaan Pakde dengan singkat dan sedikit diplomatis, karena dia sebenarnya sangat malas membahas masalah pacar, percintaan atau sejenisnya.


γ€€


"Maaf ya non, maaf bener Pakde lancang". Pakde tahu ada rasa tidak nyaman dalam suara Nia tadi saat menjawabnya.


γ€€


"Tidak papah Pakde". Hanya jawaban singat yang Nia berikan sambil menatap keluar jendela, memperhatikan bangunan yang dilewatinya sepanjang jalan.


γ€€


γ€€


**********************************


γ€€


"Pagi prof". Nia menyapa profesor Yandi, kepala laboratorium sekaligus kepala lembaga penelitian tempat dia bekerja.


γ€€


"Oo, pagi Nia. Sudah sampai kamu rupanya". Profesor Yandi membalas sapaan Nia sambil menaikan kaca mata tebalnya yang sempat turun menuju hidungnya. Sepertinya tadi si profesor sedang asyik membaca.

__ADS_1


γ€€


"Bagaimana rencana hari ini, apa sudah fix semua Nia?" Profesor Yandi bertanya kepada Nia sambil tetap fokus dengan bacaannya.


γ€€


" Sudah prof, semua sudah saya susun dengan baik. Tinggal finnising dan semoga besok bisa presentasi lagi". Jawab Nia sambil tersenyum manis.


γ€€


"Kamu apa gak bosan Nia?" Satu pertanyaan lagi diutarakan oleh si profesor kepada Nia.


γ€€


"Bosan kenapa ya prof?", Nia heran dengan jenis pertanyaan barusan.


γ€€


"Ya apa gak bosan gituh, selalu meneliti varietas-varietas baru untuk dijadikan bibit unggul dari berbagai jenis tanaman. Apa kamu gak penasaran mencari varietas bibit unggul yang cocok buat kamu sendiri? Memang kamu gak bosen hidup tanpa ada varietas unggulan yang mendampingi". Profesor Yandi menjelaskan maksud pertanyaanya tadi.


γ€€


"Profffffffffesor, apaan sih". Teriak malas Nia dengan pokok bahasan ini, Nia bisa menebak kemana arah pembicaraan si profesor.


γ€€


"Nia, saya ituh sayang sama kamu. Kamu sudah seperti anak saya sendiri, jadi wajarkan saya bicara seperti ini. Ya, anggaplah pembicaraan antara ayah dan anak. Wajarkan kalau seorang Ayah merasa heran kenapa anak gadisnya begitu sulit menemukan laki-laki yang bisa menjadi bibit unggul untuk membina masa depan bersamanya. Jangan bilang, kalau laboratorium ini sudah membuatmu lupa cara bersenang-senang dengan pria?" Profesor Yandi mencoba mengajak Nia bicara serius.


γ€€


"Tidak ada kata beresenang-senang dalam kamus hidupku sekarang prof. Yang ada kerja dan berikan dedikasi terbaik". Jawab Nia tetap dengan suara malasnya.


γ€€


"Oyaaa, untuk siapa? Untuk keluargamu, untuk suamimu, untuk anakmu? Hemmm, begitu Nia?" Profesor Yandi berusaha memojokkan Nia sekarang.


γ€€


Gadis yang keras kepala, setiap diajak bicara serius tentang pasangan, selalu saja menghindar. Andai aku punyak anak lelaki pasti aku akan memaksamu untuk menjadi menantuku Nia. Kamu itu cantik, baik, cerdas, kamu mandiri dan sangat mudah bergaul tetapi anehnya kamu belum memiliki pasangan. Profesor hanya bisa berbicara kesal sendiri di dalam hati karena lagi-lagi gagal memahami penyabab kesendirian Nia. Si gadis penelitinya yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.


γ€€


Di dalam laboratorium, Nia sempat terduduk diam melamun. Dia menyadari sikapnya tadi kurang begitu baik dengan mengabaikan Profesor Yandi yang sedang berbicara. Dia tahu Profesor Yandi sangat baik padanya, terkadang sikap si Profesor seperti ingin melindunginya layaknya anak sendiri, memberi Nia perhatian yang membuat Nia pun merasa memiliki kasih sayang dari seorang ayah. Apa lagi Nia memang terlahir tanpa pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, tetapi kalau sudah menyangkut masalah pasangan, Nia pasti akan selalu menghindari Profesor. Walaupun dia tahu Profesor Yandi kesal dengan sikapnya itu.


γ€€


"Mikirin apa Nia, kok pagiΒ  sudah melamun?" Kedatangan Wulan sukses membuat Nia terlonjak kaget. Nia tidak menyangka Wulan dan teman-temannya yang lain sudah berada di depan mikroskop masing-masing.


γ€€


"Ehh, gak kok. Aku cuma kepikiran si Tampan Alex. Rasanya masih kangen banget sama muka mengemaskannya itu. Tapi ya mau gimana lagi weekandkan sudah selesai, harus balik kerja seperti bisa lagi Lan". Nia mencoba menutupi perasaannya darii Wulan, mencari alasan tepat atas lamunannya tadi.


γ€€


"Ooo, aku pikir kamu lagi melamun jorok, hahahahaha". Suara tawa Wulan membuat semua teman-teman mereka di laboratorium tertawa.


γ€€


"Sialan kamu Lan, emang aku tuh kamu yang isi kepalanya jorok semua". Nia jelas-jelas marah mendengar candaan Wulan.


γ€€


"Ya udah..biar kangen kamu samaa si Alex imut tuh cepat tersalurkan aku ada loh caranya, gak perlu weekand malah. Biasa langsung praktek". Wulan mencoba mencari solusi buat Nia.


γ€€


"Wah, hebat kamu. Apa coba caranya". Nia semangat nunggu jawaban Wulan


γ€€

__ADS_1


"Ya buat sendiri dong Niaaaa, buat sendiri Alex kecil versi kamu. Yang lebih ngemesin dari anak sepupumu itu. Gampangkan. Tinggal cari bibit unggulnya dari lelaki jantan, di tanam deh di LA-HAN-MU. selesaaaaiiiiiii". Wulan sengaja memberi jawaban disertai penegasan pada beberapa kata dalam kalimatnya.


γ€€


"Brengsek kamu". Nia menghembuskan nafas kesal yang teramat sangat sambil melototkan bola matanya dengan jawaban Wulan. Awalnya Nia masih menganggap semua sebagai candaan saja. Tapi sekarang dia benar-benar kesal, kenapa ya hari ini semua orang mempertanyakan sosok lelaki dalam kesendiriannya.


Dan lagi-lagi semua orang tertawa di dalam laboratorium itu mendengar solusi jitu Wulan buat Nia.


γ€€


**************************************


γ€€


Tapat pukul 20.30 Wib Nia dan Wulan udah berada di dalam mobil Risky, pacarnya Wulan. Pekerjaan berjalan lancar hari ini. Semua selesai sesuai target, besok tinggal presentasi ke bagian Divisi promosi tentang hasil dari proyek varietas baru jagung yang hampir satu bulan ini mereka teliti.


γ€€


"Nia..makan dulu ya baru pulang, aku laper banget nih". Wulan mengajukan permintaan kepada Nia.


γ€€


"Boleh juga, eh..tapi apa gak papah Ky kita makan dulu baru antar aku pulang setelah itu? Apa kamu gak terlalu repot jadinya?" Nia bertanya kepada Risky.


γ€€


"Nyantai aja Nia, nggak masah kok. Lagian aku juga belum makan, sengaja mau makan bareng sama bibadari cantikku ini". Jawaban manja Risky sambil mencium tangan kanan Wulan kekasihnya itu dengan mesra di hadapan Nia. Riksy sengaja melakukan itu untuk memanasi Nia. Pertemanan Wulan dan Nia sudah membuat Risky memiliki banyak informasi tentang Nia si jomblo sejati dari Wulan kekasihnya.


"Heiiiii..tolong deh kalian, adegan tidak senonoh itu jangan di umbar di depan aku kenapa! Aku tuh ya masih polos, masih suci, jangan kalian nodai". Nia menghentikan adegan sepasang kekasih itu dengan jengah.


γ€€


Wulan dan Risky tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Nia yang berada di kursi belakang. Bukannya menghentikan kegiatan bermesraan itu Wulan malah sengaja meminta Risky untuk menciumnya. "Sayang, malam ini aku belum dapat kiss sedap dari kamu. Lihat nih bibirku kering sayang karena belum tersentuh bibir hangatmu". Wulan memonyongkan bibirnya ke arah Risky.


γ€€


"Ihhhhh..kalian berdua tuh ya, bisa nggak pacaranya normal-normal aja jangan lebay deh. Aku tuh masih hidup kali di belakang sini". Nia sudah merasa kesal dengan penampakan kemesraan dua mahluk hidup di depannya.


γ€€


"Nia..Nia..mangkanya nikmati hidup dong, punya pacar gituh jangan abadi jomblo. Memang enak nahan trusss di belakang". Wulan sengaja mengkompori Nia


γ€€


Dan Nia pun di paksa menikmati kemesraan ke dua mahluk hidup yang duduk di bangku depan dan bangku kemudi. Akhirnya Nia memilih pura-pura tidur, memejamkan mata hanyut dalam pikirannya sendiri.


γ€€


γ€€


*****


γ€€


Hai..hallo gesss..terimakasih ya sudah setia pada novel ini...


Trus aku tuh mo minta tolong, Likenya yaaaaaa..Comentnya yaaaaa...dan KOIN RECEHNYA PLISSSSSSSS


Ngareppp bget tor???hahahahaha, ho-oh, akuh tu ngareppp bget gesss. Demi semangat nulis


So gess, makasih banyak ya.


Sehat selalu dan jangan lupa bahagiaπŸ™


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2