SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
163


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Kristo duduk di sofa empuk di dalam kamarnya, duduk persis di depan televisi dengan remot pengatur siaran di tangan. Dirinya sudah mandi, sudah segar dan sudah terlihat nyaman dengan kopi hitam yang tadi di buatnya.


 


Kristo menukar siaran televisi, sepertinya siaran yang menyuguhkan tentang film barat bernuansa horor itu bukanlah tontonan yang di inginkannya. Sekarang siaran berita malam, Kristo memilih tayangan ini.


 


Kaki naik ke atas meja, ditumpang tindih satu sama lain dan posisi badan bersandar ke sofa. Kristo sedang menatap lurus ke arah televisi, tetapi sayangnya pikirannya bukan sedang menikmati siaran berita yang dipilihnya.


 


Aku tidak mengenalnya dengan baik, tetapi keberaniannya saat di Mall membuat aku tidak habis pikir. Tubuh mungil seperti itu, bagaimana bisa punya rasa berani begitu besar ? Jelas dia harus menanggung sakitnya sayatan pisau tajam di lengannya, sampe pingsan malah. Tapi, tetap saja dia begitu khawatir pada nona sampe lupa pada lengannya yang harus mendapat jahitan. Kristo melamun, batinnya sedang mengajaknya bercerita.


 


Sebenarnya, kalau aku perhatikan dengan seksama. Dia cantik, lucu malah. Namun, apa yang menyebabkan kekasihnya tega menghianati gadis seperti dia ya ? Kalau dia tersenyum, rasanya hati ini damai banget. Bukankah itu ciri wanita idaman, senyumnya bisa membuat hati tenang ? Lantas, bagaimana bisa ada lelaki bodoh yang menduakan dia, dengan temannya sendiri lagi ? Kali ini Kristo membatin dengan banyak pertanyaan.


 


“Lantas, apa masalahnya dengan aku ? Kenapa aku harus membatasi gerak langkahnya ? Kenapa aku harus memiliki rasa untuk menjaganya ?” bergumam pada layar televisi. “Apa karena dia sahabat nona Nia, jadi aku merasa perlu menjaganya ?”


 


“Tetapi, nona enggak pernah kok menyuruh aku menjaga dia. Lantas, kenapa aku harus repot membatasi siapa yang boleh dan tidak boleh berteman dengannya ?” bertanya sambil mengganti lagi siaran televisi.


 


Kristo menggenggam erat gelas kopinya, kepalannya di rebahkan ke sandaran sofa, matanya terpejam, sepertinya Kristo sedang berpikir dalam.


 


Bayangan Resya yang menatap matanya saat di Mall, entah bagaimana Kristo merasakan kalau dirinya bisa membaca isi hati Resya saat itu. Seakan ada telepati di antara mereka, Kristo tahu apa yang akan Resya lakukan.


Resya mendorong keras tubuh Bagas, memberi kesempatan pada dirinya untuk menarik pelatuk senjata di tangannya. Bagas tumbang dan lengan Resya mengeluarkan darah, hingga beberapa detik kemudian, Resya pingsan dalam pelukannya.


 


Kristo membuka mata, menarik kakinya dari atas meja. Meletakkan gelas kopi yang nyaris kosong, sekarang dengan tangan yang leluasa bergerak, Kristo memilih memijat keningnya sendiri.


 


“Dia pemberani, tetapi dia juga rapuh. Hatiku tidak nyaman saat melihat dia menangis “. Dengan tangan masih memijat keningnya sendiri, Kristo bergumam pelan lagi.


 


“Aku ini kenapa ?” sekarang sudah berhenti dari gerakan memijat kepala. “Kenapa aku memikirka dia ?” kembali lagi menatap lurus ke arah televisi, tetapi bukan untuk menonton.

__ADS_1


 


“Apa yang salah pada diriku, kenapa aku harus memikirkan dia ? Padahal aku sangat lelah, aku butuh istirahat dan anehnya, aku malah masih punya energi untuk memikirkan dia “. Menggelengkan kepala.


 


Kristo pun memilih mematikan televisi, beranjak ke arah ranjang hangatnya. Masuk ke bawah selimut tebal yang sepertinya menjanjikan kenyamanan untuk dirinya. Kristo memejamkan mata, menutup segala pertanyaannya tentang sosok Resya dan memilih beristirahat. Sedikit lebih lama dari biasanya, tetapi akhirnya Kristo berhasil. Kristo pun tertidur, tenggelam dalam alam bawah sadarnya bersama mimpi yang panjang.


 


***************


 


Aisakha sudah lama tidur sambil memeluk tubuh Nia, sebuah ritual tidur yang sangat di sukanya. Satu tangan menjadi bantal bagi kepala Nia, dan satu tangan lagi melingkar di pinggang Nia. Pasangan suami istri ini telah terlelap dalam kebahagiaan mereka.


 


Hingga beberapa waktu terlewati, Nia mendadak membangunkan Aisakha.


 


“Sayang “. Membalikkan badan, tangan menyentuh pipi Aisakha.


 


“Kenapa Nia ?” mata terpejam.


 


Mendengar permintaan Nia, serta merta Aisakha membuka matanya. Ada rasa tidak percaya dengan penuturan Nia barusan.


 


“Ada apa istriku ?” Menatap langsung ke mata Nia, kesadarannya sudah terkumpul.


 


“Buka bajumu “. Merengek.


 


“Baju aku ?” Bertanya heran. “Kenapa ?”


 


“Lagi pengen “. Masih dengan merengek.


 


“La, lagi pengen ?” senyum senang, isi kepala sudah membayangkan hal-hal yang sangat diinginkannya. “Serius ?” meminta kepastian.

__ADS_1


 


“Hu-uh “. Memelas menatap mata biru Aisakha.


 


“Oke, sebentar ya “. Meletakkan kepala Nia di bantal dengan lembut. Kemudian duduk dan membuka baju tidurnya dengan cepat. Memamerkah tubuh putih dengan perut bagai roti sobek ke hadapan Nia.


 


“Sudah istriku “, Senyum semeringah. “Ayo kita mulai “. Mendekatkan kepalanya ke wajah Nia, senyum semeringah itu terkembang indah wajah Aisakha.


 


“Ayo..kita tidur lagi “. Tanpa dosa mengajukan permintaan baru lagi.


 


“Tidur ?” Suara Aisakha sangat tidak percaya.


 


“Iya tidur dan tidurnya peluk aku lagi ya seperti tadi “. Benar-benar berbicara tanpa dosa, sedang Aisakha nampak tidak percaya dengan kenyataan yang sedang berlangsung.


 


“Nia, kalau akhirnya kita kembali tidur, kenapa kamu minta aku buka baju ?” Tidak bisa menahan diri lagi, sikap si istri terasa seperti sedang menjadikan dirinya sebagai bahan candaan. “Kenapa membangunkan aku malam-malam seperti ini kalau hanya akhirnya menyuruh aku tidur lagi ?”


 


“Ka, kamu marah ya ?” suara Nia mendadak sedih. “Itu, itu bukan keinginan aku. Sungguh “. Menatap penuh penyesalan. “Anak kita mendadak tidak suka dengan aroma baju tidurmu. Karena itu aku minta kamu buka “. Memberi penjelasan dengan mata berkaca-kaca.


 


“Maaf, aku salah “. Suara Nia terdengar serak, sepertinya Nia mulai sulit menahan jatuhnya air mata pertamanya malam ini.


 


Ya Tuhan...aku sudah berpikir akan ada moment manis dengan mendengar Nia meneriakan namaku dalam. Dan ternyata.... ? Ahhhh, sabar Sakha. Sabar, itu semua keinginan junior. Membatin sambil menghela nafas dalam.


 


Menatap mata Nia, mengecup sayang kening Nia, memperbaiki rambut Nia di atas lengannya dan dengan tangan satu lagi menarik selimut hingga menutupi mereka berdua. Kemudian memeluk tubuh mungil Nia dan mengajak Nia melanjutkan tidur mereka.


 


Nia segera terlelap, bisa di pastikan begitu keinginannya tercapai dirinya langsung tidur nyenyak. Tetapi, hal serupa tidak terjadi pada Aisakha. Lelaki tampan bermata biru ini jelas kesulitan memulai kembali tidur nyenyaknya. Apa lagi setelah tadi otaknya sempat memberi harapan akan ada adegan penyatuan indah atas permintaan Nia. Tapi apa, Aisakha menelan ludah, jakunnya naik turun sedang berusaha meredakan isi kepala yang indah tadi.


 


Huuuuuuffft, teganya kamu nak sama Papa. Aisakha membatin dengan mata masih terbuka lebar. Padahal Papa sudah siap loh.

__ADS_1


 


 


__ADS_2