SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
151


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Mobil mewah Aisakha sampai di teras Mall, tepat di saat Kristo sudah benar-benar kehabisan nafas. Aisakha melepaskan susunan jemarinya dari leher Kristo, mengapai pintu dan membuka cepat. Meninggalkan Kristo yang terbatuk-batuk karena terlalu sibuk mengisi paru-parunya dengan oksigen kembali, terburu-buru hingga membuat dadanya yang sesak menjadi sakit.


 


Sopir pribadi Aisakha bergerak sigap, tahu kalau sekretaris sang tuan sedang butuh waktu memulihkan diri. Maka, si sopir segera mengawal sang tuan. Ada garis pembatas milik aparat keamanan berwarna kuning terpasang panjang, ada sepasukan penuh orang-orang dengan seragam aparat penegak hukum sedang berjaga di lantai satu Mall. Tidak hanya itu, para pengawal Aisakha pun sudah berjajar apik dari lantai satu sampai lantai 3. Para pengawal dengan seragam hitam dan terlihat sangat serius. Mereka mendapat pesan dadakan dari Kristo, kode siaga untuk menyelamatkan nyonya muda.


 


“Situasi agak kurang menguntungkan tuan “. Pimpinan tertinggi aparat keamanan memulai penjelasan.


 


“Persisnya ?” Aisakha sedang menahan amarahnya.


 


“Lelaki itu menyandera nyonya dengan sebelah benda tajam, tepat di leher nyonya “. Berusaha menyampaikan dengan sebaik mungkin.


 


“Ya Tuhan, istriku “. Marah dan panik bercampur.


 


“Saya harap tuan dapat mengajak lelaki itu komunikasi dengan baik. Kita harus mengalihkan perhatiannya, agar kami bisa bertindak !”


 


“Apa rencana Bapak ?” Kristo sudah berhasil berdiri dengan sempurna di samping Aisakha. Sepertinya nyawa Kristo telah kembali ke raganya, dengan bekas jemari di lehernya.


 


“Kami akan menurunkan penembak jitu. Tetapi sebelum orang kami bisa melakukan tugasnya, kita harus pastikan nyonya muda ada di jarak aman “.


 


“Dan kalau peluang itu ada di pihak kami, apa kami bisa melakukan hal yang sama ?” Kristo mencoba mempelajari situasi. Sedang Aisakha hanya memilih menjadi pendengar, sejujurnya dia sangat ingin menerobos langsung ke lantai 3. Menyelamatkan Nia dan menyudahi nyawa orang yang sedang menyakiti istrinya.


 


“Sekarang, bisakah kita ke atas ?” sudah nyaris 6 menit Kristo dan Kepala aparat keamanan saling berdiskusi. Kesabaran Aisakha telah habis, pikirannya terlalu cemas.


 


“Baiklah, kita ke atas. Tapi tolong tuan jangan terpancing emosi !” Kepala aparat keamanan sekali lagi meminta kepastian dari Aisakha.


 


Saat Aisakha berjalan dengan berbagai perasaan takutnya akan keadaan Nia di lantai 3, di saat yang sama pula di lantai 3.


 


“Ayo sayang, kita pergi dari sini “. Bagas memaksa Nia melangkah. Membuat Dani, Bayu dan para pengawal Nia terpancing emosi.

__ADS_1


 


Bagas terlihat sangat bebas melingkarkan tangannya di bagian pinggan Nia, bahkan sesekali tanpa ragu mencium rambut Nia. Dani sangat tidak terima, tetapi posisi mereka terlalu lemah. Salah bertindak nyawa sang nyonya taruhannya.


 


“Apa mau kamu ?” Nia bersuara di antara rasa takutnya.


 


“Tentu saja Mas mau kamu sayang ?” Bagas begitu percaya diri.


 


“Lepaskan saya !” Nia mulai merasa kadar pusing di kepalanya semakin meningkat.


 


“Kenapa aku harus melepaskanmu ? Setelah berbulan-bulan aku bertahan untuk menjemput kamu sayang, dan sekarang kenapa kamu masih bersikap dingin padaku ?” Bagas masih berbicara dengan lembut pada Nia.


 


“Saya sudah bersuami, tolong, saya mohon “, Nia memejamkan matanya sesaat.


 


“Aku tahu, dan aku akan menyelamatkanmu dari orang tidak waras itu “. Berbicara penuh keyakinan. “Dia telah memaksamu, memisahkan kita. Membuat kamu menderita beberapa bulan ini. Tetapi, semua sudah berlalu. Ayo jalan sayang, aku akan membawamu pergi jauh ! Hanya ada kamu dan aku, hanya akan ada cinta kita saja “. Berbicara sambil menempelkan bibirnya di telinga Nia. Refleks Nia menjauhkan kepalanya agar bibir Bagas tidak mengenai telinganya.


 


“Suamiku tidak akan tinggal diam !” sebuah ancaman yang di harapkan dapat menakuti Bagas.


 


 


Sial, itu pasti Aisakha. Batin Bagas menyakini. Padahal langkah Bagas dan Nia tinggal sedikit lagi, untuk sampai ke arah tangga berjalan yang di khususkan bagi pengunjung yang ingin turun.


 


Bayu dan Dani mengikuti langkah Bagas perlahan, mencoba menjaga jarak aman demi istri tuan mereka. Menerka-nerka ke arah mana Bagas membawa Nia yang mendadak menjauh dari arah tangga turun.


 


Susana hening, wajah Kepala aparat keamanan terlihat muncul duluan saat tangga berjalan menghantarkannya ke lantai 3. Bagas waspada, kembali mendekatkan sebilah besi tajam ke leher Nia.


 


“Cukup sampai di sana tuan Aisakha yang terhormat “. Bagas membesarkan bola matanya saat melihat Aisakha sudah sampai di lantai 3.


 


“Kau “, spontan marah dan berjalan mendekat. Aisakha emosi, melihat betapa kacau kondisi Nia saat ini.


 


“Owww, no...no...noooooo “, Bagas tanpa dosa menyatukan sebilah besi tajam dalam genggamannya ke kulit leher Nia. Nia memejamkan matanya, ada rasa dingin dari tajamnya sisi besi yang posisinya tepat di tenggorokan Nia.

__ADS_1


 


“Maju selangkah lagi, pisau ini akan berpindah ke dalam tenggorokan Nia “. Suara Bagas tanpa ragu. “Jangan coba menguji saya, Aisakha. Saya lebih rela Nia mati dari pada kau sentuh. Saya pernah hidup sendiri tanpa Nia, jadi boleh kau uji, saya akan memastikan leher Nia terpisah “.


 


Wajah Aisakha pias, jangan di tanya betapa takut dirinya saat ini. Nalurinya mengatakan, kalau Bagas tidak hanya mengancam. Lelaki itu bukanlah orang waras yang mau berpikir baik dan benar. Salah langkah semua akan sia-sia. Tetapi, menuruti kemauan Bagas sama juga tidak benar, membiarkan Bagas menguasai situasi sama dengan membiarkan Nia jatuh ke tangan lelaki yang sangat nekat itu.


 


“Baik, baik...saya tidak akan mendekat “. Berusaha berbicara dengan tenang. Sedang beberapa orang yang tadi bersama Aisakha naik ke lantai 3, mulai bergeser pelan. Berusaha memisahkan diri demi mencari posisi terbaik menolong Nia.


 


“Sekarang bisakah kita bicara baik-baik ? Apa maumu ?” Bujuk Aisakha.


 


“Oooo, sekarang kau mau bicara ya ? Cih “, meludah asal ke arah Aisakha.


 


“Ke mana saja anda tuan Aisakha yang terhormat selama ini ? Apa kau tahu, kau telah menghancurkan hidupku ? Kau itu lelaki brengsek, kau tidak hanya membuat masa depanku hancur. Kau bahkan mencuri wanitaku, kau paksa dia menikahimu. Kau iblisssss “. Memaki keras.


 


Rahang Kristo mengeras, tangannya terkepal kuat. Kata-kata yang baru saja di lontarkan Bagas, membuat dadanya mendidih. Rasa bersalah dan rasa tidak terima mendapati sang tuan yang sangat di hormatinya di maki begitu saja. Kristo sangat ingin membuat nyawa Bagas pergi ke alam baka secepat mungkin.


 


“Maafkan saya “. Semua orang tersentak mendengar suara tidak berdaya Aisakha.


 


“Apa ? Hahahahahaha.... maaf ?” mencemooh. “Kau bisa bilang maaf ya ?” masih tertawa penuh ejekan.


 


“Terlambat !” Membentak keras. “Aku tidak akan memaafkanmu, kau manusia kejam. Aku akan membawa Nia bersamaku, aku akan membebaskannya dari kau, Aisakha “.


 


Situasi sudah tidak baik lagi, Nia meneteskan air matanya. Betapa pedih terasa di dalam sudut hatinya melihat suami tercintanya di maki begitu saja oleh Bagas. Tetapi, dengan keadaannya yang sangat tidak berdaya saat ini. Nia hanya bisa menatap Aisakha dengan penuh cinta.


 


“Masalah ini, antara saya dan kamu. Tolong lepaskan Nia “. Aisakha sangat tidak berdaya, tatapan cinta Nia. Air mata Nia, Aisakha ingin sekali memeluk Nia.


 


“Jangan mimpi, aku tidak akan melepaskan Nia “. Mengecup bagian belakang kepala Nia. Air mata Nia menolak perlakuan Bagas, tetapi badannya hanya bisa membeku. Sedang Aisakha, wajahnya penuh kemarahan. Tidak terima, tidak rela, Aisakha sangat marah.


 


“Lepaskan istriku !” Aisakha lupa mengendalikan emosinya. “hey, kau sialan. Lepaskan istriku !” kembali maju, tekadnya untuk menghabisi Bagas sudah tidak bisa di tahan lagi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2