
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Permisi ". Suara seorang wanita di iringi ketukan pintu membuat Nia melepas gengamannya pada tangan Mama Aisakha. Serta merta Nia mempersilahkan seseorang di depan pintunya masuk, tetapi Nia masih memilih menyender manja pada Mama. Sepertinya Nia sangat sulit melepaskan diri dari keinginannya untuk terus bermanja-manja pada sosok Ibu yang sangat menyayanginya itu.
 
"Permisi nyonya, nona ". Lita masuk sambil menunduk hormat, di tangan pelayan wanita ini ada baki berisi gelas cantik yang mengeluarkan aroma sangat wangi.
 
"Di sebelah sana saja ya !" Perintah Mama pada Lita sambil menunjuk meja kecil di dekat dirinya.
 
Dengan sigap Lita mematuhi perintah nyonya besarnya itu, tatakan gelas teh jahe merah untuk Nia telah tertata. Lita memilih menjauh, duduk diam di kursi meja rias Nia. Merasa tidak di suruh pergi, Lita memilih menunggu dan memperhatikan majikannya bersama si calon menantunya.
 
"Baiklah sayang, Mama harus meninggalkan kamu dulu ya. Mama dan Bibimu masih ada tugas mulia, sekarang kamu di temani Lita !" Mama sekali lagi mencium puncak kepala Nia. "Emm, atau gimana kalau Lita Mama suruh tinggal di sini saja ? Beberapa hari kedepan, semua orang akan sangat sibuk. Mama khawatir kamu gak ada temen cerita. Tapi, kalau ada Lita di sini, kamukan bisa minta dia bantuin kamu apa saja. Gimana ?"
 
Nia bersiap menjawab, bibir kecilnya baru saja akan terbuka. Di dalam hatinya Nia ingin menolak.
 
"Ahhh, kamu setuju ya. Baguslah. Kalau gituh Mama akan bilang sama Bibi Ros ya ". Nia kalah cepat, Mama telah menarik kesimpulan tanpa memberi kesempatan Nia menjawab. Alhasil, Nia hanya bisa tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Membiarkan saja apa yang ingin di lakukan wanita yang tadi baru saja mencurahkan segenap kasih sayang buat dirinya.
 
"Mau Mama bawakan apa ?" Tanya Mama sambil berdiri dari ranjang Nia. "Kamu terlalu kurus untuk kategori calon pengantin bahagia nak ". Canda Mama sambil menatap Nia yang sibuk mengelengkan kepalanya.
 
"Ya sudah, Mama tinggal dulu ya ! Nanti selesai acara Mama sama Bibi Ros, maka bakal temui kamu lagi !" Mama telah sampai di pintu kamar Nia. "Kamu istirahat ya, mau apa-apa bilang Lita !"
 
"Dan kamu, Lita ". Cepat Lita berdiri mendengar sang nyonya memanggilnya. "Tolong jaga Nia !"
 
"Baik nyonya ". Lita pun berjalan ke arah sang nyonya, menunggu Ibu dari majikan barunya itu pergi untuk kembali menutup pintu kamar Nia.
 
Hingga, "Nona minum dulu tehnya ". Lita sudah berdiri di sisi ranjang Nia. "Mumpung masih anget, nanti nona pasti merasa segar ". Ucap Lita begitu yakinnya.
 
"Makasih ya Lita ". Nia menyeruput pelan isi gelas di tangannya. Ada sensasi hangat yang perlahan menjalar dari kerongkongan hingga kesekujur tubuhnya, sensasi hangat yang membuat degub jantungnya perlahan menenang. Nia tersenyum sambil terus menikmati teh jahenya.
 
"Gimana, enakkan nona ?" Lita juga terbawa suasana saat melihat senyum manis nona mudanya itu.
 
"He-he, angget banget Lita. Jadi rileks ". Aku Nia jujur.
 
__ADS_1
"Oooo...jelas dong nona, itu karena saya yang membuatnya, saya buat dengan cinta ". Kekeh Lita penuh percaya diri.
 
"Cinta ?" Nia merasa tidak mengerti.
 
"Iya...cinta ". Ulang Lita sambil mengerakkan tangannya. " cinta saya pada nona yang baik hati, kan kemaren itu saya sudah bilang kalau saya jatuh hati sama nona. Nona itu cantik, baik, santun dan bersahaja. Paket komplit untuk menjadi nona muda saya ". Ucap Lita sambil menepuk dadanya bangga.
 
Nia tergelak melihat gaya bicara Lita, lucu dan jujur apa adanya. "Kamu apa belum kapok di marahi tuan Aisakha waktu itu ? Masih mau di usir lagi ?" Tanya Nia sambil masih tertawa pelan.
 
"Aaaaaaa ". Begitu panjang suara Lita menyebut huruf A. "Tentang itu, tuan saja yang terlalu posesif nona. Tuan itu salah paham. Mana mungkin saya cinta pada nona dalam pengertian salah. Saya inikan normal, tapi tuan itu terlalu cemburu. Terlalu menjaga nona, jadi cara berpikirnya salah ". Lita mengangguk percaya.
 
"Eeiiitttttt, berani bilang tuan seperti itu ? Wah, sepertinya saya memang harus mengadukan kamu ya ". Nia menatap Lita sambil menyipitkan bola matanya.
 
Gleekkk....
"Ja, jangan nona ". Lita terlihat gugup. Jantungnya berdegub takut.
Habis aku, kali ini pasti serius di usir.Â
 
"Jangan ya nonaku sayang ". Rayu Lita mengiba. "Nona adalah idolaku ".
 
 
"Nah, begitu dong nona. Tertawa bahagialah ! Nona itu cantik banget kalau tertawa. Jangan bersedih, ada saya di sini". Lita duduk di ujung ranjang, di dekat kaki Nia.
 
"Saya pijatin nona ya ?" Tawar Lita kemudian. "Biar capek-capek nona cepat hilang ".
 
"Memang kamu bisa memijat ?" Nia berpura-pura ragu.
 
"Aiihhh, nona belum pernah merasakan pijatan wanita bertangan sakti ini ". Lita mengangkat tangannya tinggi ke udara.
 
"Oooya ?"
 
"Baiklah...nona bersiap ya ! Nona jangan sampai menyalahkan saya kalau nanti ketagihan ". Litapun memulai memijat kaki Nia, perlahan tetapi cukup memiliki tekanan. Diam-diam Nia pun menyukainya.
 
"Lita ". Tanya Nia setelah beberapa waktu berlalu dalam kediaman antara majikan dan pelayannya itu.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kamu kerja sama Mama Nata ?"
 
"Baru nona ". Jawab Lita tanpa menghentikan gerakan memijat tangannya. "Baru 5 tahun ini nona ".
 
"Lima tahun ya, dan itu baru ?" Senyum lucu menghiasi wajah Nia.
 
"Perasaan saya memang merasakan begitu Nia. Soalnya nyonya itu orang baik, tuan Aisakha juga baik. Saya dan yang lain memang pelayan di istana megah mereka. Tapi nona ". Lita menatap Nia sesaat. "Cara nyonya dan tuan Aisakha memperlakukan kami semua sangat baik, seperti keluarga. "Semarah-marahnya nyonya, saya belum pernah merasakan nyonya memaki saya. Nyonya itu baik, sama seperti nona ". Puji Lita tulus.
 
"Jangan samakan saya sama nyonya. Saya ini hanya orang biasa Lita ". Nie mengeleng.
 
"Apa bedanya sama saya nona, malah saya lebih biasa lagi. Saya cuma pelayan ". Bantah Lita tidak setuju. "Saya percaya Nona, orang baik akan bersama orang baik. Nona baik, tuan juga baik. Wajar saja bisa berjodoh ".
 
"Tuan itu tidak pernah marah sama kami nona ". Ucap Lita terdengar menyakinkan.
 
"Ke, kecuali yang waktu itu ". Lita berbicara gugup dengan lebih pelan.
 
"Saya takut banget nona, sumpah ". Lita melihat Nia sedang menahan tawa. "Selama 5 tahun bekerja, baru kali itu saya lihat tuan marah, tapi marahnya itu yang saya nggak ngerti kenapa ".
 
"Sampai Pak Kristo bercerita, kalau tuan marah karena kami salah bicara. Saya baru mengerti, ternyata tuan itu bucin. Bucin akut, hahahaha ". Tanpa sengaja Lita melepas tawanya begitu saja.
 
"Litaaaa ?" Suara Nia membuat Lita terdiam sempurna. Nia berpura-pura memasang wajah kaku seakan penuh amarah.
 
"Ma, maaf nona ". Lita serta merta menghentikan gerakan memijat tangannya. "Maafkan saya nona, saya lancang. Maaf ". Lita tertunduk benar-benar menyesal dengan tangan tertangkup di depan dada.
 
Tetapi bukannya marah, Nia malah gagal mempertahankan sikap kaku di wajahnya. Nia tertawa lucu sambil memegang perutnya. "Hahahaah, kamu ini berani ya bilangin tuan Aisakha bucin akut. Awas kamu ya...", Nia masih terus tertawa. Lita yang memperhatikan sang nona tertawa, spontan melega, detak jantung ketakutannya tadi langsung bahagia. Lita pun tertawa pelan, sejujurnya kalau dirinya mengingat situasi di saat itu, Lita memang suka tertawa sendiri. Seorang tuan Aisakha yang di kenalnya selama 5 tahun ini bukanlah tipe lelaki lembut, tetapi juga bukanlah lelaki berkarakter kejam. Aisakha lebih terlihat acuh dan tidak tersentu kalau itu tentang wanita, hanya saja kali ini. Sudah satu bulan ini tepatnya, Lita melihat kalau tuan mudanya itu sangat berbeda. Aisakha sangup melakukan apa saja buat kekasih hatinya. Begitu tenang dan begitu memuja Nia, Aisakha malah terlihat manis di depan Nia.
 
Salut, seorang gadis biasa bisa merubah tuan menjadi lelaki luar bisa.
Lita memandang takjub pada Nia.
Semoga Tuhan menyatukan tuan dan nona, selamanya.
Sambil terseyum bahagia, Lita melanjutkan pijatannya di kaki Nia. Pijatan pelan dan memiliki tekanan yang Lita tahu Nia pasti menyukainya.
 
 
__ADS_1