
Pertanyaan
🌈🌈🌈🌈🌈
 
"Duduk", perintah Profesor Yandi pada Nia sambil menunjuk sofa singel, sedangkan Profesor sendiri memilih duduk di double sofa tepat di sebelah lengan kanan Nia.
 
Profesor menatap mata Nia, ada begitu banyak pertanyaan yang ingin diajukannya setelah beberapa saat tadi sang presdir meneleponnya dengan penuh kekhawatiran. Profesor heran, sangat heran, bagaimana mungkin seorang Aisakha Elang Britana bisa begitu peduli pada Nia, begitu mengkhawatirkan Nia. Tentu saja Profesor bisa menyimpulkan kalau sang presdir sangat khawatir pada sosok wanita cantik yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
 
Aku pikir telah terjadi hal buruk padamu semalam, dengan melihat reaksi presdir yang tidak terduga. Tapi kenyataannya sekarang malah membingungkan. Kenapa presdir begitu kawatir padamu Nia?
 
'Dimana hape mu?" Tanya Profesor kepada Nia.
 
"Di ruangan Prof'. Jawab Nia kemudian.
 
"Kenapa di tinggal?' Tanya Profesor lagi.
 
"Karena kitakan di Laboratorium Prof". Jawab Nia, sambil mulai berpikir ada apakah gerangan dengan Profesor Yandi.
 
Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa aku merasa seperti sedang diintrogasi ya?
 
"Dimatikan?" Tanya Profesor singkat.
 
"Iya". Nia menjawab kata yang tidak kalah singkat.
 
"Kenapa?" Lagi Profesor memberi Nia pertanyaan singkat.
 
__ADS_1
"Maksud Profesor apa?" Nia tidak paham dengan arah pertanyaan Profesor Yandi.
 
"Maksud saya, kenapa hape kamu dimatikan?" Profesor meralat pertanyaannya pada Nia.
 
"Ooo, seperti biasa Prof, saat di laboratorium kita semuakan tidak membawa hape. Jadi hape saya, saya tinggalkan di ruangan. Karena saya tidak di ruangan, jadi rasanya sangat tidak efiisien kalau saya biarkan hape hidup. Sementara saya di tempat lain, tidak mendengar. Jadi kembali lagi Prof, seperti biasa saat di laboratorium saya lebih memilih mematikan hape saya". Jawab Nia panjang.
 
Profesor mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia paham dengan jawaban Nia, dengan penjelasan panjang Nia.
 
"Apakah kebiasaanmu itu sudah kamu jelaskan pada tuan Aisakha?" Tanya Profesor selanjutnya.
 
"Hah?" Nia terkejut sekaligus tidak percaya dengan pertanyaan Profesor.
 
Salah dengar mungkin, tapi jelas ada nama tuan Aisakhanya tadi.
 
 
"Hah?" Pertanyaan Profesor berikutnya kembali membuat Nia terkejut.
 
Ternyata tidak salah dengar, memang ada nama tuan Aisakha.
 
"Hampir saja tuan Aisakha mengirim satu pleton Polisi Polda buat cari kamu?" Ujar Profesor sambil gelang-geleng kepala.
 
"Apah, ke-kenapa?" Nia sangat tidak percaya dengan apa yang diutarakan Profesor padanya.
 
"Hahahaha, akhirnya ada juga kata-kata yang keluar dari mulutmu selain hah. Nia, Nia, siapakah kamu sebenarnya? Saya jadi bertanya-tanya apa yang telah kamu sembunyikan dari saya?" Akhirnya Profesor mengajukan juga pertanyaan yang sempat memenuhi isi kepalanya sedari tadi, sejak sang presdir, majikan tertingginya, tuan Aisakha menelepon Profesor dengan penuh kekhawatiran dikarenakan Nia.
 
__ADS_1
"Sa-saya, saya adalah Nia, Prof. Syania yang Profesor kenal, tidak ada apapun yang saya sembunyikan dari Profesor. Percayalah". Nia berusaha menyakinkan Peofesor.
 
"Kalau begitu, kamu jangan mengulangi hal tadi. Jelaskan baik-baik pada tuan Aisakha tentang kebiasaanmu saat bekerja, agar tidak timbul salah paham". Perintah Profesor pada Nia.
 
"Sa-saya......"
 
Belum sempat Nia melanjutkan kalimatnya, tahu-tahu handphone Profesor Yandi berbunyi.
 
"Sebentar", ujar Profesor kemudian.
 
Presdir...
 
"Hallo, tuan". Profesor memulai pembicaraan setelah menekan tombol bergambar telepon di handphonenya.
 
Nia diam, menyimakan dalam diam apa yang diucapkan Profesor, walaupun dia tidak bisa mendengar isi percakapan Profesor dengan si penelepon. Tetapi dia bisa menebak kalau yang sedang berbicara dengan Profesor adalah tuan Aisakha.
 
"Iya tuan, sekarang dia bersama saya". Jawab Profesor kemudian kepada penelepon.
 
"Tidak tuan, dia baik-baik saja. Tuan tidak usah kawatir, tadi dia sedang bekerja". Jawab Profesor selanjutnya.
 
"Iya, iya..ini dia tuan. Silahkan, saya akan berikan telepon ini padanya". Lagi Profesor menjawab sambil menyerahkan teleponnya pada Nia.
 
"Nia, bicaralah!" Perintah Profesor saat memberikan teleponnya pada Nia.
 
 
__ADS_1