
πππππ
γ
"Mau kemana kamu nak pagi-pagi begini ?" Mama Juwita, Mama kandung dari Kemala heran melihat dandanan si anak bungsungnya itu sudah sangat rapi. Rambut di kepang kecil dengan makeup cantik serta baju terbaik. Kemala sudah menyandang tas santai di bahu kanannya.
γ
"Aku mau ketemu Edo, Ma ". Jawab Kemala sambil berjalan ke arah sang Mama yang sedang sibuk menyirami bunga anggrek kesayangannya.
γ
"Udah janjian nak ?" Tanya Mama sambil melanjutkan aktifitasnya.
γ
"Sudah Ma ". Jawab Kemala bohong.
γ
"Kenapa enggak Edo saja sih yang di suruh ke sini ? Kenapa coba kamu yang harus nemuin dia ?" Mama memandang Kemala sesaat, dan setelah itu kembali lagi melanjutkan menyemprot deretan bunga anggrek mahalnya dengan alat khusus.
γ
"Pekerjaan Edo banyak Ma, yaaaa...jadi aku harus ngertiin dong Ma. Lagi pula kami nanti sekalian mengecek baju Ma. Sebelum besok pihak desainernya antar, kami mau cek and ricek terakhir dulu ". Dan kali ini Kemala masih saja membohongi sang Mama.
γ
"Oooooo, begitu rupanya ". Mama berhasil terperdaya semua ucapan Kemala.
γ
"Iya Mamaaaaa ". Kemala berusaha keras membuat sang Mama percaya.
γ
"Ya udah, gimana baik menurut kalian saja deh ". Sekarang Mama menatap Kemala lama. "Yang penting kamu hati-hati ya nak, dan setelah ini gak boleh keluar lagi. Apa lagi ketemuan sama Edo, pamali !"
γ
Kemala berusaha tersenyum, air mata berjatuhan di sudut hatinya. Rasanya dia sangat berdosa, bahkan hingga menjelang hari pernikahannya pun Kemala masih saja berbohong pada kedua orang tuanya. Menyembunyikan sikap dingin dan acuh Edo, sang calon suami kepada dirinya. Orang tua Kemala tidak pernah tahu, sudah berapa banyak air mata Kemala yang jatuh ke dalam karena rasa sakit atas keterus terangan Edo yang tidak pernah bisa mencintainya, bahkan 3 hari menjelang pernikahannya pun, Edo tetap tidak juga bisa belajar mencintainya barang sedikit saja.
γ
"Kalau gituh aku berangkat dulu ya Ma ". Kemala mencium pipi kanan sang Mama dan segera berjalan cepat menuju teras rumahnya tempat si sopir sedang menunggu di halaman rumah asri Papa dan Mamanya.
γ
Aku sudah tidak bisa menahan semua ini lagi, semua harus dibicarakan !
Hari ini harus ada kejelasan, harus ada titik terang !
Aku mencintainya dan aku siap menghabiskan seumur hidup bersamanya, mengabdi setulus cinta padanya.
Tapi dia ? Apa dia siap menghabiskan sisa umurnya bersamaku ?
Apa bisa dia bersamaku dalam jangka waktu selamanya ?
Apa dia tidak akan menyia-nyiakan aku, mengacuhkan aku dan tidak menganggap aku sebagai isterinya ?
Lantas apa gunanya kami di ikat dalam tali pernikahan suci di hadapan Tuhan ? Hidup hanya untuk saling menyakiti dan tersakiti, menderita selama nafas masih ada.
γ
Sepanjang jalan, batin Kemala terus menuntun alam pikirannya agar memikirkan semua ini, pernikahannya, masa depannya dan lelaki yang sangat di cintainya. Sayang, hanya dia saja yang memiliki rasa itu. Cinta tulusnya selalu di jaganya pada Edo sedari masa SMA. Khusus buat Yuedo seorang, hingga detik ini. Tetapi apa yang didapatnya ? Edo terus saja bertahan dengan tatapan acuh dan sikap dingin, seakan-akan dirinya bukanlah siapa-siapa dalam aliran nafas Edo.
γ
Apa salahku ?
Batin Kemala tidak terima.
γ
"Nona, sudah sampe. Nona mau turun sekarang ?" Sibuk dengan alam pikirannya sendiri, Kemala tidak menyadari kalau ternyata mobil yang dinaikinya sudah berhenti tepat di teras gedung bertingkat perusahan Edo.
γ
"Su, sudah sampe ya Pak ?" Tanya Kemala bingung sambil menatap ke arah luar.
γ
"Iya nona, sudah sampai ". Jawab si sopir sambil berjalan membukakan pintu belakang mobil tempat Kemala duduk. "Nona mau turun sekarang atau sebentar lagi ?" Sekali lagi si sopir mengulang pertanyaan yang sama.
γ
"Aku akan turun Pak, Bapak istirahat saja dulu ya ! Aku mungkin agak lama ". Kemala melangkah memasuki gedung besar tempat sang calon suami bekerja sebagai pemilik utamanya. Sejenak Kemala menarik nafas panjang, dirinya butuh kekuatan ekstra untuk menyelesaikan urusan hatinya pada Edo sebelum lusa mereka terikat selamanya.
γ
"Ada yang bisa saya bantu Bu ?" Sapa seorang resepsionis wanita ramah pada Kemala saat tahu Kemala berjalan ke arah meja kerjanya. Jelas kalau siapa sebenarnya sosok Kemala ini tidak di kenali oleh siapapun di dalam perusahaan itu, mereka tidak tahu kalau Kemala adalah calon nyonya mereka kelak. Edo tidak pernah mempublikasikan hubungannya pada siapapun termasuk karyawan di kantornya.
γ
"Saya mau ketemu tuan Edo, bisakah ?" Tanya Kemala yakin.
__ADS_1
γ
"Ibu sudah membuat janjian sebelumnya ?" Si resepsionis masih melayani Kemala dengan sikap ramahnya.
γ
"Belum, tapi tolong di coba dulu hubungi tuan Edo. Sampaikan kalau Kemala Diyandra Kusuma mau ketemu beliau ". Sikap Kemala benar-benar tenang.
γ
Sesaat si resepsionis kelihatan ragu.
γ
"Saya mohon, coba....tolong di tanya dulu ". Kemala masih berharap si resepsionis mau membantunya
γ
"Baiklah... ". Dengan berat hati akhirnya resepsionis wanita ini mau juga membantu Kemala. "Ibu mohon duduk dulu, saya akan menghubungi tuan Edo ". Tunjuk si resepsionis pada sofa empuk yang beberapa meter di depan meja kerjanya.
γ
Kemalapun duduk sambil sesekali memperhatikan seluruh penjuru interior di lantai itu. Meja, sofa, vas bunga lengkap dengan bunga segarnya, lukisan dinding tertema abstrak dan.....
γ
Perhatian Kemala teralihkan, rupanya si resepsionis sedang berjalan ke arahnya
γ
"Tuan bersedia menerima Ibu ". Senyum khas seorang penerima tamu di suguhkan resepsionis pada Kemala. "Mari Bu, saya antarkan ke ruangan tuan ". Si resepsionis mempersilahkan Kemala berjalan mengikutinya.
γ
γ
***************
γ
γ
"Bagaimana kabar anda hari ini ?" Tanya salah satu pengacara Bagas, sosok lelaki yang usianya paling tua di antara 5 orang tim pengacara Bagas. Sepertinya sosok lelaki ini adalah pimpinan dari tim pengacara Bagas, yang paling senior. Sesuai janji mereka pada Bagas, pagi ini kelima orang pengacara yang tergabung sebagai tim pembelanya ini datang menemuinya, ada yang harus mereka bahas. Sesuatu yang penting, tentang kebebasan Bagas.
γ
"Sejujurnya...saya kurang baik ". Jawab Bagas lemah.
γ
γ
"Saya mau melakukan apa saja andai waktu bisa di putar Pak ". Bagas terlihat menghela nafas. "Saya tidak sanggup berada di sini lebih lama lagi ". Suara Bagas tersengar mengiba.
γ
"Ya...ya....kami semua mengerti sekali perasaan anda. Tolong, bersabarlah ". Ucap si pengacara senior sambil menepuk pelan bahu Bagas. "Kami sedang berusaha ".
γ
"Apa hasilnya, bagaimana, bagaimana kira-kira ?" Tanya Bagas bersemangat.
γ
"Ada satu cara paling ampuh. Tapi kami perlu kerja sama dari anda !" Bagas semakin bersemangat.
γ
"Apa ? Coba jelaskan !" Bagas sempat memperlihatkan senyum pengharapannya. Sungguh ini sebuah kabar baik di tengah oases ketakutannya akan masa depannya setelah semua ini.
γ
"Mengakulah bersalah, minta maaf setulus mungkin di depan hakim. Kami sangat yakin anda hanya akan di hukum percobaan dan itu bisa di jamin lagi, anda bisa bebas di luaran sana. Cukup wajib lapor saja ". Si pengacara senior berusaha menjelaskan semua secara perlahan pada Bagas.
γ
"Mengaku bersalah ? Sama saja dengan mengakui aku melakukan semuanyakan ?" Bagas cukup bingung.
γ
"Benar, tapi mengaku salah ini untuk tujuan baik. Demi masa depan anda ". Bujuk si pengacara. "Coba lihat dari sudut pandang baiknya ! Lagi pula saksi ahli memberatkan posisi anda. Anda sendiri mengakukan dalam berita acara kalau anda melakukan perlawanan hingga memaki para petugas patroki pengawal itu ?"
γ
Bagas hanya bisa menunduk diam.
γ
"Percaya pada kami, mengaku salah bukan berarti andak kalah ". Suara si pengacara di buat setenang mungkin untuk membujik Bagas. "Dari 3 bulan hukuman bisa menjadi 1 bulan, di kurangi selama masa penahanan paling 10 sampai 14 hari lagi. Dan itu bisa dilakukan penjaminan, anda bisa keluar dari sini !"
γ
"Hanya itukah caranya ?" Bagas mulai memijat pelan kepalanya, mendadak dirinya merasa pusing, otaknya buntu.
γ
__ADS_1
"Iya..hanya itu saja. Kita paksa naik banding juga percuma, posisi anda memang salah ". Kata-kata terakhir para pengacara Bagas ini cukup mengena di hatinya.
γ
"Pikirkanlah !" Bagas menganguk pelan dan terlihat sedang merenung lama.
γ
***************
γ
Sementara itu di ruang kerja Edo.....
γ
"Duduklah !" Ucap Edo tanpa menatap ke arah Kemala. Seperti biasa, Edo selalu bersikap acuh pada calon isterinya itu.
γ
"Ada perlu apa ?" Edo masih sibuk dengan sebuah map tebal berwarna hitam, matanya masih fokus pada benda di atas meja kerjanya itu.
γ
"Kita harus bicara !" Meskipun hatinya sedang menangis sedih atas sikap Edo padanya, tetapi Kemala tidak mau lemah, dia tidak mau Edo melihat dirinya sedang tersakiti atas perlakuan Edo padanya.
γ
"Aku sibuk ", jawab Edo acuh.
γ
"Sebentar saja ". Kemala masih memcoba tenang.
γ
"Gak lihat apa ? Pekerjaanku banyak. Kamu bisa gak sih ngertiin posisi aku ?" Edo mulai tersulut emosi.
γ
"Lantas bagaimana dengan aku ? Apa kamu pernah mencoba ngertiin aku ?" Kali ini hilang sudah sikap tenang kemala. Dengan mata melotot besar, Kemala langsung bertanya.
γ
"Apa lagi, memangnya kamu kenapa ?" Edo mulai terlihat malas.
γ
"Aku bukan patung, aku bukan kayu. Aku ini hidup, apa kamu tahu itu ?" Kemala sudah di titik kesakitannya. Menurut Kemala, Edo sangat keterlaluan.
γ
"Kamu pikir aku sebodoh itu apa ? Sehingga harus menjawab pertanyaan aneh kamu ". Kemala semakin kesal pada Edo. "Dengar ya ! Aku ini banyak pekerjaan. Kalau mau gomong langsung saja, jangan muter-muter !"
γ
"Baik. Sekarang aku tanya, kamu beneran mau menikah sama aku ?" Pertanyaan Kemala pada Edo barusan sukses membuat pikiran Edo melayang entah kemana.
γ
"Jawab ! Kan kamu mau cepat aku pergi dari sini. Jadi jawab dong !" Desak kemala.
γ
"Kalau aku nggak mau nikahi kamu, buat apa aku melakukanΒ semua persiapan ini ?" Edo malah balik bertanya.
γ
"Persiapan ? Heh, persiapan apa ?" Tanya Kemala sinis. "Kamu hanya sibuk sendirk, kamu mengacuhkan aku dan tidak menganggap aku ".Β Melihat Kemala begitu kesal padanya, Edo pun akhirnya mulai terpancing emosi.
γ
"Akukan sudah bilang, aku ini sibuk. Gak ada salahnya dong kamu yang selesaikan semua ! Kamu jangan manja deh, kalau memang bisa mengerjakan sendiri, ya kerjakan ! Belum menikah saja sudah merepotkanku, sudah gak bisa mengerti aku ". Cerocos Edo kesal.
γ
"Astaga Do, apa sebenarnya salah aku sama kamu ? Kenapa kamu begitu kejam sama aku ? Aku ini salah apa sebenarnya ?" Kemala mulai meremas pinggiran tasnya. Sungguh ini adalah situasi yang sangat menyakitkan baginya
γ
Edo terdiam, suara Kemala dengan semua susunan kalimatnya, ternyata cukup membuat hati kecilnya merasa bersalah
γ
"Maaf.....", hanya itu kata yang mampu Edo ucapkan pada Kemala.
γ
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku, maka kedatanganku kemari aku mau bilang ". Kemala terlihat menarik nafas dan sesat kemudian menghembuskannya. "Semua belum terlambat, pernikahan ini kita batalkan saja !" Mendadak Edo menatap ke arah Kemala. Ternyata wanita itu sedang berusah keras menahan air matanya. Miris, itu yang Edo rasakan hanya dengan melihat mata hitam Kemala mulai berkaca-kaca.
γ
"Aku enggak mau kita terjebak dalam neraka kecil yang kita buat sendiri. Itu pasti sangat menyakitkan. Jadi masih ada kesempatan, kalau kamu mau mundur. Aku akan terima itu !" Edo masih menatap bola mata hitam Kemala, diam-diam ada rasa iba dihatinya, rasa bersalah atas semua perbuatannya pada Kemala.
γ
__ADS_1
γ