
Penjelasan Buat Paman
πππππ
γ
Entah sudah kali keberapa Paman mondar-mandir di depan pintu kamar operasi. Hatinya sudah sangat tidak tenang, rasanya batas sabar Paman sudah jauh di luar kemampuannya mengendalikan diri. Sempat terniat oleh Paman untuk mengetuk pintu kamar operasi dan bertanya pada siapa saja tentang keadaan isterinya saat ini. Tetapi, dengan alasan takut tindakanya itu malah membahayakan kondisi sang isteri yang mungkin saja sekarang tengah mendapatkan perawatan di dalam sana, maka Paman membatalkan semua niatnya tadi.
γ
Bagaimana ini? Aku tanya pada siapa ya? Paman sibuk mencari cara agar bisa tahu kondisi sang isteri.
γ
Dimana Alika dan Pandu? Nia juga, kemana dia?Β Paman sangat heran tidak menemukan anak dan menantunya, juga keponakannya.
γ
Apa, apa mereka sedang di minta mencari sesuatu? Apa telah terjadi hal buruk? Paman terus berasumsi sendiri.
γ
Aku tunggu setengah jam lagi, mungkin mereka semua di minta mencari sesuatu demi kebaikan isteriku. Akhirnya Paman membuat keputusan.
γ
Lelah berjalan kesana kemari, mondar-mandir menenangkan diri. Paman pun memilih duduk, berusaha mengumpulkan jalan pikiranya agar terus berada dalam kondisi baik. Paman mencegah dirinya berpikir buruk,Β berpikir yang tidak-tidak tentang kondisi sebenarnya dari sang isteri.
γ
"Ahhh, dimana mereka semua". Paman pun sampai pada titik kesalnya.
γ
γ
***************
γ
γ
"Tuan, semua sudah siap. Pemindahan ke Bunga Jaya bisa dilaksanakan sekarang". Kristo menghampiri sang tuan yang hanya duduk diam bersama Nia. Tadi beberapa kali Kristo mendengar sang tuan mengajak Nia berbicara, banyak hal, galor-gidul. Sebagai usaha sang tuan untuk sesaat mengalihkan duka Nia ke cerita lainnya. Tetapi bisa di tebak, Nia hanya menjawab dengan anggukan atau gelenggan dan sesekali dengan suara yang singkat, ya tidak. Itu saja.
γ
"Sukurlah. Siapkan mobil, kita berangkat sekarang!" Perintah Aisakha pada Kristo.
γ
"Benarkah Mas, kita sudah bisa pindahkan Bibi?" Sambil memegang tangan Aisakha, Nia meminta kepastian.
γ
"Iya sayang, kita berangkat sekarang ya". Jawab Aisakha lembut.
γ
Kristo menganggukan kepalanya dan berniat segera berlalu.
γ
"Tunggu". Suara Aisakha membuat Kristo membatalkan niatnya. "Helikopter untuk membawa Bibi sudah di atas?" Tanya Aisakha kemudian.
γ
"Sudah tuan, semua sudah siap". Jawab Kristo cepat.
γ
Nia dan Aisakha berjalan cepat menyusuri lorong demi lorong Rumah Sakit. Mereka berusaha secepatnya kembali ke depan pintu kamar operasi, hendak melihat proses pemindahan sang Bibi.
γ
"Niaaaaaa". Teriak Paman sangat senang mendapati Nia sakarang berjalan cepat menuju kearahnya.
γ
"Ya Tuhan, Paman sudah sampai. Sudah lama Paman?" Nia langsung mencium punggung tangan Paman.
γ
"Dari mana saja kamu? Paman sudah hampir setengah jam menunggu". Paman terlihat sangat cemas.
γ
"Maafkan aku, Paman. Tadi aku keluar sebentar". Nia merasa menyesal telah membiarkan sang Paman cemas dan menunggu sendirian.
γ
"Bagaimana Bibimu, nak?" Tanya Paman dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Mendung gelap telah berhasil menguasai mata lelaki paruh baya itu.
γ
"Ceritanya panjang Paman, aku akan ceritakan semua di perjalanan. Sekarang kita pindahkan Bibi dulu ya". Ucap Nia sambil memegang tangan Paman.
γ
__ADS_1
"Kemana? Kenapa?" Paman terlihat tidak mengerti.
γ
"Ke Rumah Sakit Bunga Jaya. Bibi butuh peralatan medis yang cangih Paman dan di sini tidak ada". Jawab Nia kemudian.
γ
"Kenapa? Bibimu kenapa?" Paman mendesak Nia menjawab.
γ
"Paman, Bibi baik-baik saja. Hanya saja di sini tidak ada peralatan yang Bibi butuhkan, jadi kita pindahkan Bibi ke tempat yang lebih baik ya Paman". Aisakha maju, mencoba membantu menjawab pertanyaan Paman yang mulai di landa rasa khawatir teramat sangat.
γ
Siapa dia? Dokterkah? Paman baru menyadari kalau Nia tidak sendiri.
γ
"Baiklah, semua sudah siap". Dokter yang tadi menemui mereka setelah operasi kembali keluar dari kamar operasi. "Lima menit lagi helikopter akan berangkat. Sebaiknya tuan segera berangkat juga". Dokter memberitahu pada Aisakha.
γ
"Iya, terima kasih dokter". Aisakha mengulurkan tangannya kepada dokter.
γ
"Sama-sama tuan, semoga Ibu mertua anda cepat pulih". Doa dokter dengan tulus sambil menerima jabat tangan dari Aisakha. "Ingatlah, doa adalah kunci segalanya. Semoga mukzijat di kirim Tuhan untuk Ibu Ros".
γ
Mukzijat? Kenapa, kenapa ini? Paman tidak mengerti dengan maksud pembicaraan antara dokter dan lelaki yang bersama Nia.
γ
Aisakah tersenyum wujud terima kasihnya pada dokter, kemudian dia segera mengajak Nia dan Paman untuk segera berangkat. Kristo telah menunggu di mobil.
γ
Sampai diparkiran, terlihat Paman berjalan menuju ke arah mobilnya. Bukan mengikuti Nia dan Aisakha ke arah mobil yang telah disiapakan oleh Kristo.
γ
"Paman, kita sama-sama saja". Ajak Nia pada Paman.
γ
"Paman bawa mobil nak". Jawab Paman sambil menunjuk kearah mobilnya.
γ
γ
Paman kembali menatapa binggung pada Aisakha. Banyak pertanyaan muncul dibenaknya sehubungan dengan diri Aisakha. Paman melihat wajah Aisakha secara seksama, beberapa detik. Berusaha mengingat segala kemungkinan kalau dirinya mengenal Aisakha. Tetapi Nihil, Paman tidak bisa mengingat siapakah lelaki tersebut.
γ
Paman memperhatikan setelan jas dan mobil yang di miliki Aisakha, bukan orang sembarangan dan apa tadi? Orang suruhan? Paman pun bisa menarik sedikit kesimpulan.
γ
Sudahlah, nanti saja. Yang penting sekarang isteriku dulu. Paman menyudari rasa penasarannya terhadap Aisakha dan segera masuk kedalam mobil yang telah dibukakan pintunya oleh Kristo.
γ
Perjalanan di dalam mobil terasa lama, berkali-kali Nia meremas kuat bagian bawah bajunya. Aisakha menarik Nia masuk ke dalam pelukannya, membisikkan Nia kata-kata penguat yang sangat dibutuhkan oleh kekasih hatinya itu.
γ
Paman hanya diam, dengan sedikit keterangan yang di dapatnya tadi, hatinya masih belum merasa tenang. Masih ada begitu banyak kecemasan yang hinggap direlung jiwanya. Paman masih mengharapkan penjelasan terperinci dan sangat jelas.
γ
"Nia". Suara Paman memecahkan kesunyian. "Jujurlah pada Paman tentang kondisi Bibi".
γ
Nia melepaskan diri dari pelukan Aisakha, berusaha mengatur nafasnya agar bisa tenang.
γ
"Paman, Bibi siang tadi berencana mengantar makan siang untuk Mas Pandu". Nia memulai penjelesannya. "Tetapi baru beberapa meter dari rumah, Bibi mengalamai kecelakaan".
γ
"Siapa, siapa pelakunya". Tanya Paman geram.
γ
"Pelakunya sudah di tangkap, Paman". Sekarang giliran Aisakha yang memberi penjelasan. Aisakha tentu saja tahu versi cerita lengkapnya setelah Kristo memberi laporan lengkap padanya tadi.
γ
"Tetapi tidak begitu yang saya dengar". Jawab Paman tidak setuju.
γ
__ADS_1
"Benar Paman". Aisakha membenarkan cerita Paman. "Awalnya pelaku melarikan diri, tapi ternyata dia menyerahkan diri ke Kantor Polisi terdekat. Dia melarikan diri karena takut akan amukan massa, sekarang dia sudah mendekam di dalam sel tahanan. Pelaku tidak kenal pada Bibi dan semua keluarga Paman. Pengakuan pelaku, di membawa kendaraan dalam keadaan lelah dan ngantuk. Tetapi Polisi tidak percaya begitu saja, mereka masih mendalami kasus ini". Aisakha menjelaskan semua detail yang telah di dapatnya dari Kristo.
γ
Paman sangat marah, rahanganya mengemerutuk, hatinya tidak terima semua rentetan kejadian yang menimpa isteri tercintanya, rasanya Paman sangat ingin memutar waktu agar semua musibah ini tidak pernah terjadi.
γ
"Paman". Mendapati Paman terdiam, Nia mulai merasakan kesedihannya kembali.Β Kasihan Paman.
γ
"Cerita selanjutnya apa Nia?" Tanya Paman pada Nia.
γ
"Bibi di bawa oleh tetangga ke Rumah Sakit". Nia berhenti sesaat, mencoba mengisi paru-parunya dengan lebih banyak oksigen. "Kondisi Bibi tidak baik saat di bawa Paman". Kembali Nia mencoba menghirup sebanyak mungkin oksigen agar bisa melanjutkan ceritanya.
γ
"Bibi mengalami luka robek di dahi dan paha, Bibi, Bibi juga mengalami patah lengan kanan dan betis kanan". Nia mulai ragu melanjutkan ceritanya.
γ
"Lantas". Suara Paman terdengar dingin di telinga Nia.
γ
"Mungkin karena benturan keras, paru-paru Bibi membengkak dan tingkat kesadaran Bibi hanya, hanya enam Paman". Jawab Nia pelan.
γ
"Ooooh, isteriku". Suara Paman terdengar penuh kepedihan.
γ
"Paman, kuat. Harus kuat". Nia mencoba menguatkan Paman.
γ
"Dokter telah melakukan segala yang terbaik Paman". Aisakha juga berusaha menguatkan Paman.
γ
"Lantas kenapa Bibi dipindahkan". Paman mencoba melanjutkan meminta penjelasan dari Nia.
γ
"Paman, semua luka fisik pada Bibi telah dioperasi para dokter. Bagaimana hasilnya menunggu perkembangan berikutnya. Tetapi untuk paru-paru Bibi". Nia terlihat ragu melanjutkan ceritanya. Nia menatap Aisakha, terlihat keraguan dimatanya. Aisakha mengengam jemari Nia dan menganggukan kepala. Sebagai tanda agar Nia melanjutkan ceritanya.
γ
"Apa, apa ha?" Paman mulai emosi.
γ
"Itu, Paman. Paru-paru Bibi, mungkin karena benturan keras akibat kecelakaan. Sekarang tidak bekerja sebagaimana mestinya". Jelas Nia.
γ
"Ya Tuhannnn....sayangku". Paman menutup wajahnya sambil mengeleng keras. Hatinya terasa sangat sakit, bagai tersayat sembilu. "Oooh, isteriku". Paman terdengar sedang meratap sedih.
γ
"Paman sabar, harus kuat". Nia memegang bahu sang Paman. Mencoba menyalurkan energi positif yang masih bersisa di dalam dirinya untuk sang Paman.
γ
"Karena itu Bibimu di pindahkan?" Tanya Paman sambil memegang erat jemari Nia.
γ
"Iya Paman. Rumah sakit itu hanya memiliki peralatan standar, sementara Bibi perlu peralatan cangih selama paru-parunya tidak bisa bekerja sendiri". Jawab Nia.
γ
"Dan di Bunga Jaya ada?" Tanya Paman meminta kepastian Nia.
γ
"Awalnya tidak ada. Kemudian Mas mengirim peralatan itu dari Rumah Sakitnya di Jakarta ke Bunga Jaya, ke Rumah Sakitnya di sini. Karena itu Bibi harus kita pindahkan Paman. Bibi sudah Mas terbangkan Melalui udara, aku rasa sekarang sudah sampai di Bunga Jaya". Nia masih memegang bahu sang Paman selama memberi penjelasan tadi.
γ
"Sukurlah, sukurlah". Jawab Paman sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Nia.
γ
Pasti lelaki itu yang di maksud Nia dengan Mas. Siapa dia? Kenapa dia begitu baik? Kenapa dia bisa memiliki peralatan cangih?
γ
Sesaat semua kembali pada kesunyian masing-masing, tengelam dengan pikiran masing-masing dan suasana pun sangat tenang di dalam mobil yang tengah dikemudikan Kristo memecah lalu lintas Kota Bengkulu.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ