SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
159


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


“Kris, sambil ke rumah. Kau jemput dulu Resya “. Aisakha duduk di ruang baca. “Sudah sebulan Nia tidak bertemu sahabatnya itu. Saya yakin, kalau hari ini Nia tidak juga bertemu dengannya, dia pasti akan merajuk “. Aisakha menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.


 


“Baik tuan, akan saya bawa sahabat nona itu “. Patuh.


 


“Ada agenda mendesakkah ?”


 


“Tidak tuan, semua sudah saya tangani. Hanya ada beberapa dokumen yang perlu pendapat tuan. Serta, rapat pagi ini telah saya atur ulang jadwalnya menjadi jam 2 siang nanti “. Kristo berbicara sambil melangkah meninggalkan ruang kerjanya.


 


“Bagus, terima kasih Kris “. Memijat keningnya yang sebenarnya tidak sakit.


 


“Ada hal khusus yang tuan ingin saya lakukan ?” sudah hampir sampai laboratorium tempat Resya berada.


 


“Tidak ada. Cukup bawa Resya ke mari !”


 


“Baik tuan “.


 


Kristo mematikan handphonenya tepat di saat dirinya telah sampai di depan pintu laboratorium. Suasana hening, bisa di tebak oleh Kristo kalau semua penghuni gedung tersebut sedang sibuk dengan eksperimen mereka di ruang khusus.


 


Tanpa menunggu, Kristo masuk ke ruang kerja Resya. Tanpa mengetuk pintu, langsung membuka begitu saja.


 


Kristo terteguh. Resya menguncir rambut sebahunya tinggi dengan asal. Meninggalkan anak rambut di sisi belakang yang sesekali tertiup angin saat Resya melakukan suatu aktivitas.


 


Resya nampak serius dengan beberapa tabung larutan dan pinset perak. Ada getar halus di hati Kristo, memandang takjub pada sosok cantik Resya. Sebuah perasaan asing yang membuat Kristo hanya sibuk menatap Resya lama.


 


Lucu, batin Kristo masih dalam diam memandang Resya. Rasanya aku ingin menyentuh kulit lehernya itu.


 


Hingga, suara berdehem yang berasal dari Paramita, salah satu rekan peneliti, kerja Resya membuyarkan isi batin Kristo.

__ADS_1


 


“Ada yang bisa saya bantu Pak ?” suara Paramita ramah.


 


“Tidak usah. Saya hanya perlu sama Resya “. Memberi jawaban datar.


 


“Saya bantu panggil Pak ?” Paramita menawarkan.


 


“Boleh juga !”


 


“Bapak silahkan duduk, saya akan membawa Kak Resya ke sini “. Paramita menunjuk sopan pada kursi yang tidak berapa jauh dari pintu, tempat Kristo berdiri saat ini. Tetapi, Kristo hanya mengerakkan tangannya singkat. Tanpa suara, hanya sebuah kode kalau dirinya tidak perlu duduk.


 


“Kak..Kak Resya “, Paramita menyentuh bahu Resya.


 


“Kamu ini, buat aku kaget saja “. Resya tanpa sengaja menjatuhkan pinset di tangannya. Jelas dirinya memang kaget dengan kedatangan Paramita di tengah keseriusannya bekerja.


 


“Hehehe “, cenggir Paramita salah tingkah. “Maaf ya, enggak sengaja kok “.


 


 


“Ada yang cari tuh “, Paramita menunjuk ke arah Kristo.


 


“Sudah berapa lama ?” Resya mendadak takut.


 


“Sudah satu jam kayaknya “. Menjawab asal.


 


“Hah, mati aku “. Tambah takut. Kemudian cepat Resya berjalan ke arah Kristo. Menunduk penuh hormat di antara rasa takutnya.


“Maafkan saya, Pak “.


 


“Apa yang sedang kamu kerjakan ?” bertanya heran dengan sikap takut Resya.


 

__ADS_1


“Sa, saya sedang menyelesaikan larutan akhir sesuai permintaan Kepala Laboratorium Pak “. Menjawab gugup


 


“Dan kalau lagi kerja, kamu seserius itu ?” Kristo memperhatikan kalau saat ini Resya menjadi tambah ciut.


 


“Ma, maafkan saya, Pak. Sa, saya benar-benar enggak tahu Bapak ada di sini. Saya, saya bukan maksud untuk tidak menyambut kedatangan Bapak. Tapi, sungguh saya tidak tahu “. Bicara panjang lebar. Tetapi, Kristo tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Resya.


 


“Kamu sudah 2 kali minta maaf sama saya, ada apa ? Dan tentang saya datang ke sini, kenapa harus kamu sambut ? Memang kamu pikir saya petinggi Negara ?”


 


Ma, mati aku. Tamat sudah karirku di sini. Batin Resya sudah di titik ketakutan terbesarnya.


 


“Maaf kan saya Pak “. Tidak punya pilihan lain, Resya kembali minta maaf pada Kristo.


 


“Kamu ini kenapa sebenarnya ?” heran menatap Resya yang semakin tertunduk. “Saya ke sini mau jemput kamu, nona Nia mau ketemu sama kamu “.


 


“Hah, Bapak serius “. Mengangkat kepala senang, tersenyum manis dan memegang tangan Kristo penuh.


 


“Senangnya Nia mau ketemu saya, saya kangen sama dia “. Menggoyang tangan Kristo tanpa sadar.


 


Dug, dug, dug....debar ribut jantung Kristo tidak beraturan. Ada hawa panas menjalar dari tangan Resya ke arah jantungnya. Rasanya sekarang mendadak demam.


 


“Saya kangen sama Nia, Pak “. Memberi Kristo senyum terbaik. Membuat Kristo semakin kaku saking malu.


 


Ini orang, sudah main pegang tangan sembarangan, pake senyum manis lagi. Nah, aku..kenapa juga jadi kikuk hanya dengan lihat senyumnya. Gadis yang aneh. Membatin kesal pada diri sendiri.


 


“Kalau begitu bersiaplah !” bicara cepat saking segera ingin menyudahi panas di wajahnya


 


“Baiklah, Bapak tunggu sebentar ya “. Melepaskan tangannya yang sedari tadi menempel di tangan Kristo dan melangkah cepat.


 


Tidak butuh waktu lama, beberapa menit kemudian Resya telah berdiri lagi di hadapan Kristo dengan bahu kanan menyandang tas kerja.

__ADS_1


 


 


__ADS_2