
🌈🌈🌈🌈🌈
“Apa ?” Kristo mengangkat kerah baju pelayan lelaki yang sengaja datang menemuinya. Menyampaikan pesan Resya untuk dirinya.
“Resya mendadak harus pulang, dia sedikit kurang enak badan “. Isi pesan singkat yang membuat Kristo naik darah. Kristo marah, sementara si pelayan ketakutan setengah mati.
“Apa yang kau lakukan pada wanitaku ?” Kristo membuat pelayan lelaki itu mulai sulit bernafas. “Apa, JAWAB !” Sangat marah.
“Saya, saya “. Kesulitan bicara.
“JAWAB ! atau nyawamu berakhir saat ini juga !” Kristo sudah tidak bisa menahan diri.
Wajah si pelayan sudah memutih, pucat pasi dengan bibir juga nyaris putih. Sementara si Manajer, nampak tidak kalah takutnya. Siapa yang tidak kenal sekretaris Sunjaya Company itu, kekejaman dan sikap tidak pandang bulunya dalam menghabisi siapa saja. Nyawa orang bisa sekejab saja melayang, Kristo bukan tipe manusia berbaik hati saat perasaannya sedang tidak senang.
“Saya akan jawab semua tuan. Tapi, tolong, tolong izinkan saya bernafas. Daya mohon “. Berbicara di antara sulitnya bernafas.
“Tu, tuan..tolong beri kesempatan pelayan saya buat menjelaskan “. Manajer ikut memohon.
Tangan kekar Kristo melonggar di leher si pelayan, Kristo memberi kesempatan pelayan itu untuk bicara.
“Tuan, nona itu nampak sedih, saat bertanya pada saya di mana letak toilet “. Si pelayan mulai bicara di antara usahanya menarik banyak oksigen untuk paru-parunya yang nyaris berhenti tadi.
“Tapi, saat keluar dari toilet. Wajah nona itu lebih sedih lagi “.
“Bagaimana bisa ?” Bertanya masih dengan marah. “Apa kau goda dia ? Iya ? Saya lihat tadi, saat kami datang, kau sibuk tebar pesonakan pada Resya ?”
“Tidak tuan..itu tidak benar “. Mengatupkan kedua tangan di atas kepala. “Saya mana berani tuan. Sungguh “.
“Saya, tadi itu saya hanya mencoba ramah tuan. Saya, kami semua mendapat perintah untuk selalu ramah pada tamu. Sumpah tuan, saya tidak pernah menggoda nona “. Bersumpah dengan bersungguh-sungguh.
“Jadi, kenapa Resya bersedih ? Siapa yang sudah buat dia sedih, hah ?” Bertanya dengan marah.
“Maafkan kami tuan, maafkan kami “. Manajer tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sungguh, lelaki yang mungkin usianya sudah masuk angka 40 ini bingung dengan penyebab perginya sosok wanita yang diakui Kristo sebagai kekasihnya itu.
Aihhhh, ini bagaimana coba ? Membatin penuh takut.
“Cepat selesaikan administrasi pembelian cincin itu “. Membentak Manajer.
Sementara itu, Resya sudah sampai di kontrakannya. Hari mulai gelap, hujan turun dengan derasnya. Untung saja Resya sampai tepat waktu, dirinya selamat dari hujan lebat. Tetapi, perasaan kacau di hatinya belumlah selamat. Suasana hatinya masih menyisakan rasa sakit. Resya hanya bisa meratapi semua kebodohannya menyalahkan arti pertemanan antara dirinya dan Kristo.
Jam 8 kurang, hujan masih turun deras, udara semakin dingin. Resya memilih duduk di atas kasur sederhana di dalam kamar tidurnya. Makan malam di lewatkan Resya begitu saja, rasa lapar di perutnya menguap entah kemana.
Resya menatap telepon genggamnya. Tidak ada panggilan atau sekedar pesan singkat di sana, seperti seseorang penyebab kesedihan Resya hari ini benar-benar telah melupakan dirinya.
“Hebat, kamu benar-benar mengacuhkan aku. Aku pergi begitu saja, kamu sama sekali gak merasa kehilangan “. Sedih memeluk guling.
“Pasti sekarang kamu lagi sibuk sama wanita yang mau kamu sematkan cincin itu kan ?” Berasumsi sendiri.
__ADS_1
“Kamu jahatttttttt “. Berteriak sambil menenggelamkan wajah di bantal guling.
Air mata jatuh di pipi Resya, habis sudah segala pertahanan di dalam hatinya. Runtuh sudah harapan akan rasa yang sempat mengisi hatinya. Sekali lagi Resya merasa terbuang, harapan hanya anggan. Resya menangis pilu.
Resya sedang membiarkan air matanya terus jatuh, padahal waktu cukup lama berlalu. Hingga sebuah ketukan di pintu depan rumah kontrakannya menyadarkan Resya kembali.
“Siapa coba malam-malam dan hujan gini bertamu ?” Bergumam sambil menghapus air matanya.
Ketukan kedua terdengar, Resya kembali merasa terganggu.
“Ihhh, males banget deh “. Mencoba mendengarkan suara ketukan di luar sana.
Dan sekali lagi, ketukan ketiga terdengar. Kali ini lebih keras.
“Ya ampun, siapa coba ?” Akhirnya Resya menghapus sisa air mata terakhir di pipinya. Mencuci muka asal di kamar mandi, lalu bergegas ke pintu depan.
Pintu terbuka, Resya melihat punggung lelaki sedikit gemetar, mungkin karena kedinginan karena basah kuyup di teras rumahnya. Sepintas, Resya merasa kenal dengan tampilan punggung yang basah itu.
“Pak ?” Ragu, tapi juga yakin.
“Astaga Pak. Ngapain sampe basah seperti ini ?” Resya sangat kaget, benar kata hatinya. Dia mengenali pemilik punggung yang basah itu. Itu adalah Kristo, Kristo yang kedinginan dengan wajah yang agak lelah.
“Kamu nangis ?” Bukan menjawab pertanyaan Resya, Kristo malah balik bertanya. “Kenapa ?” Menggenggam tangan Resya.
“Itu...itu....!” Tergagap tidak tahu mau jawab apa.
“Bapak basah kuyup “. Menyadari tangan Kristo dingin. “Masuk, ayo masuk ! Keringkan badan Bapak dulu “. Mengajak Kristo masuk.
“Keringkan badan Bapak, terus pake baju ini ya buat sementara “. Menyerahkan handuk dan baju bersih. “Kamar mandi di dalam sini “. Menunjuk kamar tidur. “Bapak masuk saja ya. Saya mau ke dapur, buatkan Bapak minuman hangat “. Kristo cuma menangguk patuh.
“Eh, lupa “. Resya berhenti melangkah. Begitu pula Kristo, batal melanjutkan masuk ke kamar Resya.
“Bapak sudah makan ?”
“Belum “. Jawab Kristo singkat.
“Ya sudah, Bapak mandi dan ganti baju ya “.
******************
“Enak “. Puji Kristo pada menu makan malam buatan Resya. Sambal sarden dengan cabai merah segar di tambah potongan kentang goreng, serta tumis labu siam dan toge. Bukan menu makanan mewah ala restoran. Tapi Kristo tanpa ragu melahap semuanya.
“Makasih Pak “. Senang mendengar pujian Kristo. “Silahkan Bapak tambah, ini masih banyak loh “.
“Kok cuma aku, kamu tambah juga dong !” Menyadari Resya hanya makan sedikit.
“Saya sudah kenyang Pak. Bapak lanjut saja ! Ayo, silahkan !” Mendekatkan piring berisi sambal ke arah Kristo.
Dan tanpa ragu, Kristo melanjutkan menyantap menu makan malam buatan Resya. Entah karena memang semua hidangan buatan Resya memang enak, atau karena perutnya yang sangat lapar. Kristo berhasil menghabiskan dua piring nasi putih,berikut sambal dan sayurnya.
__ADS_1
“Enak banget Sya. Kamu ini benar-benar wanita idaman, cantik, cerdas, pinter masak lagi “. Berbicara sungguh-sungguh.
Ah, kenapa harus gomongin itu sih Pak ? Kan sedih lagi. Membatin sambil menunduk sedih.
“Aku salah gomong ya ?” Sadar Resya sudah tidak bersemangat berbicara padanya lagi.
“Enggak kok Pak “. Cepat berdiri membereskan piring bekas makan mereka dan berlalu ke dapur.
Resya terdiam di sana, di depan wastafel cuci piring. Rasa sakit yang tadi singgah di hatinya kembali lagi, hadir dan menganduk kacau setiap sudut hatinya.
“Bapak tega, Bapak jahat “. Menunduk putus asa. “Bapak puji saya, tapi Bapak tidak menginginkan saya “.
“Maafkan aku, Resya “. Suara Kristo tepat di belakang Resya, sangat dekat. Resya bahkan bisa mendengar hembusan nafas Kristo perlahan.
“Aku tidak pernah berniat menyakiti kamu “. Resya mencengkeram pinggiran wastafel dengan erat.
“Pergilah ke depan, tolong biarkan aku sendiri !” Resya hanya bisa menunduk terus. Bayangan cincin yang telah disiapkan Kristo untuk sosok spesial dalam hidupnya. Resya yakin dirinya akan menangis lagi.
“Resya, aku mau jujur “. Kristo sudah tidak bisa menunda lagi.
“Aku sudah tahu “. Segera menjawab.
“Benarkah “. Ada suara nafas lega.
Ya Tuhan, begitu leganya harimu. Membatin dengan tangan kanan di dada kiri.
“Kamu tahu, aku pikir kamu tidak bisa merasakannya “. Bersuara tenang.
Apa, tidak bisa merasakannya ? Kamu pikir aku sebodoh itu apa ? Membatin dengan benteng pertahanan air mata yang jebol juga. Kamu jahat banget.
“Cukup Pak, cukup !” Resya menggelengkan kepalanya. “Aku mohon cukup !”
“Tapi, aku mau kamu dengarkan semuanya !” Merasa hal ini sangat penting.
“Resya, aku tidak pernah menduga akan seperti ini. Aku terus berpikir apa ini mungkin. Aku butuh waktu 2 bulan untuk bisa sampai pada tahap keberanian ini. Aku mohon kamu dengarkan “.
“Aku gak sanggup Pak “. Resya masih menolak.
“Jadi, kamu tidak setuju ?” Mendadak suara Kristo melemah. “Padahal aku sudah berharap “. Sangat kecewa.
“Mau Bapak apa sebenarnya ?” Berbalik badan dengan air mata yang mengalir bagai tetesan hujan.
“Kenapa Bapak jahat banget ?” Nampak putus asa.
“Sya, kamu menangis ?” Terkejut bukan main.
“Apakah aku sebegitu tidak pantasnya Sya ? Kamu bahkan bilang aku jahat ?”
“Iya, iya, iya...kamu jahat !”
__ADS_1
Kristo terdiam, rahangnya mengeras, hatinya perih. Dua bulan yang indah, usaha Kristo untuk menjadi teman terbaik bagi Resya, usahanya untuk membuat Resya sadar keberadaan dirinya, hatinya, cintanya. Dan Resya malah menganggap semua itu hal jahat.
Kristo melihat bagaimana bulir bening itu jatuh membasahi pipi Resya, relung hatinya terluka, sekujur tubuh Kristo terasa mati rasa.