
πππππ
γ
"Ya Tuhan, masih banyak yang belum di buka ". Nia memandangi semua susunan kado pernikahannya yang masih tertata rapi belum terbuka, padahal Nia dan Aisakha sudah membuka puluhan kado sedari tadi, tetap saja jumlah yang belum masih sangat banyak.
γ
"Ayo kesayangan Bunda ", Nia menatap wajah lucu Alex. "Bunda di tolongin dong nak, kan masih banyak ini ".
γ
Alex hanya menatap Nia sekilas, tertawa senang dengan kehebatannya mengoyak asal bungkus kado Nia, hingga kemudian melanjutkan tugas mulianya itu. Memporak-porandakan pembungkus kado yang sudah mulai membentuk serpihan halus.
γ
"Kalau udah capek, kita udahan saja dulu nak ". Mama mertua Nia tersenyum pada Nia.
γ
"Enggak Papah, Ma. Aku cuma kaget saja, semua orang sangat baik padaku. Sampai aku mendapat kado sebanyak ini ". Nia terlihat senang.
γ
"Kalau hati kita baik, kita tulus pada orang lain. Balasannya pasti hal yang sama, karena kamu itu punya hati yang baik, jadi saat kamu sedang berbahagia, mereka juga pengen andil dalam kebahagiaanmu, Nia ". Mama mertua Nia berucap bijak masih tersenyum pada Nia.
γ
"Iya benar, apa yang di katakan ibu besan itu memang benar ", Bibi Ros mengiyakan semua ucapan Mama mertua Nia.
γ
"Entah bagaimana cara berterima kasih pada semuanya. Pada Mama, pada Bibi, pada Paman, pada Alika dan mas Pandu, juga padamu dik ?" Nia memandang Tomi.
γ
"Jalani rumah tanggamu bersama suamimu dengan baik, jadi isteri yang penyayang dan selalu berbahagia !" Paman mewakili semua untuk menjawab. "Itu sudah lebih dari cukup ".
γ
Nia memegang tangan Aisakha sambil tersenyum mesra, hatinya selalu berdebar saat bersama suaminya itu. Dipandanginya Aisakha yang sedang memberikan senyuman terbaiknya. "Sepenuh jiwaku Paman, aku akan mengabdi pada suamiku ". Ucap Nia tulus dari hati.
γ
"Dan aku akan membahagiakan kamu selalu ". Balas Aisakha tidak kalah tulusnya.
γ
__ADS_1
"Eheeem, eheeem...", Tomi merusak suasana romantis yang sedang berlangsung.
γ
"Maaf ganggu ", ucap Tomi asal.
γ
"Sekedar pemberitahuan kakak, abang. Kalau aku, aku nggak minta apa-apa kok sama abang sama kakak. Yang penting sehat selalu, rumah tangga damai-damai, saling mengasihi dan....", Tomi menatap serius ke arah Nia dan Aisakha.
γ
"Anu...sama itu....", Tomi mengaruk-garuk kepalanya tanpa alasan.
γ
"Apa ?" Tanya Aisakha.
γ
"Heheheehehee ", cengir Tomi. "Itu bang, sama uang jajanku di tambah ya ". Ucap Tomi tanpa dosa.
γ
"Tomiiiiiiiii ", suara Nia ribut sambil mengeleng malas.
γ
γ
"Kamu ini, uang aja. Memang prestasi kamu udah bagus apa ? IPK masih jarang 3, 5 aja sudah berani banyak permintaan ". Sekarang Paman bersemangat memarahi Tomi.
γ
"Hahahahahaha, biar saja Paman. Buat adikku, aku akan berikan tamban uang jajannya. Tapi pake syarat ya !" Aisakha mendapatkan angukan kepala dari Tomi.
γ
"Apa bang, apa ?" Tanya Tomi semangat. Sementara Paman dan Bibi, orang tua Tomi di buat mengeleng dengan kelakuan anak lelaki mereka itu.
γ
"Setiap ada waktu luang, kamu harus tengokin kami di Jakarta. Kan Bandung-Jakarta itu dekat. Jadi, saat libur datanglah ke rumah !"
γ
"Wah...kalau itu aku ikhlas banget jalanin syarat abang. Apa lagi kalau aku sudah punya ponakan nanti, bakalan betah aku di Jakartanya ". Jawab Tomi sambil mengangkat tangan kanannya tinggi ke udara.
__ADS_1
γ
"Tomiiiiii ", sekali lagi suara Nia terdengar heboh mendengar keusilan sepupu tersayangnya itu.
γ
Betapa hangat suasana di ruang keluarga rumah Bibi Ros saat ini, semua sedang tertawa lepas menikmati aura kebahagiaan Nia dan Aisakha. Sungguh hebat pasangan pengantin baru ini, keberadaan mereka melengkapi rasa bersyukur semua orang.
γ
***************
γ
Edo sudah berkali-kali, bolak balik di kamar hotelnya. Dirinya sedang sibuk menyusun rencana terbaru dan terbaik untuk menemui Nia. Senyum bangga menghias wajah Edo, sepertinya dirinya sudah sangat yakin, sudah sangat mantap. Tetapi beberapa saat kemudian, hatinya meragu. Dipikir-pikir lagi, apa yang di katakan sang Papa tadi ada benarnya, banyak benarnya malah. Menemui Nia sama saja dengan menantang tuan Aisakha. Sosok lelaki superkaya dan berkuasa itu pasti tidak akan merelakan dirinya untuk leluasa bisa bertemu cinta masa lalunya itu.
γ
Edo memilih berhenti dari aktivitas mondar mandirnya di depan jendela besar kamar hotelnya, menatap ke luar ke arah pemandangan pohon pinus yang hijau menjulang tinggi. Dia mulai meragu, tetapi hatinya menuntut harus bertemu Nia.
γ
Edo benar-benar terbuai dalam harapan bisa kembali pada Nia, bisa memadu kisah kasih indah dan memilikiΒ Nia seorang diri, seutuhnya seperti dulu lagi. Rasanya segenap cinta dirinya tidak akan pernah habis buat Nia, Edo masih merasa sebagai yang terbaik untuk menjadi pendamping wanita berambut panjang itu.
γ
Lama Edo termenung, solusi terbaik belum bertemu. Dia mulai merasa bosan, pikirannya mulai kacau.
γ
"Arrrggggghhhhh ". Dan sekarang Edo sudah berteriak marah.
γ
"Apa yang harus aku lalukan Nia, agar kamu mau kembali padaku ?" Tanya Edo sepenuh jiwa, penuh pengharapan dan kekesalan.
γ
Suasana sepi, Edo kemudian berdiam diri.
γ
"Aku harus menghubunginya. Iya, hanya itu caranya !" Edo meletakkan tangannya di kaca jendela. "Aku tidak akan mungkin bisa menembus lapisan pengawalan Nia, apalagi dengan Aisakha itu di sisinya. Semakin nihil harapanku. Tetapi, kalau menghubunginya dan janjian sama Nia, pasti semua bisa terjadi ".
γ
γ
__ADS_1