SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
19


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


 


Nia memperhatikan ruang meeting cukup ramai pagi ini, Kepala Divisi Promosi sudah duduk beserta seorang lelaki yang tidak di kenal oleh Nia tepat berada di ujung meja bundar dalam ruangan tersebut, di ikuti oleh Profesor Yandi dan 5 orang lagi staf Divisi Promosi dan seorang pria paruh baya yang merupakan Wakil Kepala Humas yang memang sengaja di undang oleh Profesor Yandi untuk hadir pada presentasi Nia dan rekan-rekannya pagi ini. Jangan lupakan Damar, meskipun bukan bagian dari penyaji atau pengamat hasil presentasi, Damar tanpa ragu juga  ikut mengambil posisi, terlihat dia sudah duduk santai, Damar sepertinya cukup tenang di pojokan ruangan. Ya, walaupun matanya tidak bisa lepas dari setiap gerakan sang majikan, tetapi setidaknya Damar memang terlihat cukup tenang.


 


Sejenak Nia merasa heran, dirinya telah melayangkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan meeting, memperhatikan satu persatu sosok manusia yang menjadi peserta presentasi hari ini. Tetapi Nia tidak menemukan sosok Bagas, Wakil Kepala Divisi Promosi. Bukankan Bagas yang mendapat tugas dari pihak Divisi Promosi untuk mendampingi projek terbaru Lembaga tempat Nia dan teman-temannya bekerja ? Aneh, begitu pikir Nia. Waktu kegiatan belum jalan, semangat banget. Sampe-sampe buat aku gak respek aja. Sekarang, tinggal selangkah menuju lounching malah gak muncul.


 


Wulan membagikan materi presentasi yang sudah di susun rapi oleh Nia tadi, sedang Resya dan Bowo bersiap di posisi sebagai penyatu semua bahan-bahan yang akan di jelaskan Nia beberapa saat lagi. Khusus Anita bertugas menyediakan segala jenis cairan hingga berbagai jenis zat kimia yang akan di gunakan dalam presentasi mereka. Nia berdiri di posisi penyaji presentasi, menatap penuh percaya diri semua orang yang tengah menatap mata cokelatnya, sambil menarik nafas panjang beberapa kali. Semua sudah siap pada posisi masing-masing sudah saatnya mereka tampil untuk menyakinkan Divisi Promosi agar menerima terobosan inovasi terbaru ini agar dipasaran.


 


Profesor Yandi mempersilahkan Nia memulai presentasi ya. Dengan sikap anggun dan tenang, Nia memulai semuanya. Sekarang semua mata tertuju padanya, semua penasaran dengan apa yang akan di sampaikan wanita cantik ini.


 


Perlahan Nia menjelaskan apakah sebenarnya projek terbaru Bidang Penelitian Pertanian dan Pengembangan Holtikultura tempat dirinya telah bernaung selama 3 tahun, hingga lanjut pada bagian utama, tahapan penting tentang pembuktian projek mereka dengan di bantu Wulan, Resya, Bowo dan Anita. Semua bekerja sesuai porsi tugas dari Nia, benar-benar kerja sama yang apik yang sukses membuat semua terpana dan berdecak kagum pada Profesor Yandi. Sepertinya cara Profesor Yandi membina dan membawahi staf di laboratorium semakin hari semakin menunjukkan debut positif.


 


Semua berteput tangan, bahkan Damar yang tidak mengerti sedikitpun dengan isi persentasi Nia, tidak mau kalah hebohnya memberikan bertepuk tangan saat majikan barunya selesai menyampaikan seluruh rangkaian ide-ide cemerlangnya tentang pengembangan varietas baru beras merah.  Semua orang yang hadir dari Divisi Promosi dan Wakil Kepala Humas terkesima, mereka mengapreasi hasil penelitian terbaru yang sukses di paparkan Nia.


 


Senyum puas terkembang di wajah para audiens, riuh suara terkagum-kagum membahana mengisi ruangan. Hampir 3 jam berlalu dan semua terlihat sangat antusias dengan cara Nia, Wulan, Resya, Bowo dan Anita dalam melakukan pemaparan. Para staf Profesor Yandi ini bersorak senang saat semua yang hadir memberi pujian tulus pada hasil jerih payah yang nyaris membutuhkan waktu selama 3 minggu untuk masa persiapannya. Rasanya semua jerih payah selama ini benar-benar sukses terbayar lunas, mereka memang terbukti hebat di bidanganya dengan forsi masing-masing.


 


"Kalian hebat ". Puji Profesor Yandi pada Nia, Wulan, Resya, Bowo dan Anita. "Saya tidak pernah ragu dengan kejeniusan kalian berlima ". Profesor menyalami semua stafnya satu persatu.


 


Menerima pujian yang begitu tulus, Nia dan rekan-rekannya tersenyum cerah. Hati mereka serasa berbunga-bunga saat tahu apa yang dikerjakan sepenuh jiwa di anggap berhasil dan memiliki nilai guna, wajar saja bukan rasanya hati kita akan merasa senang luar biasa.


 

__ADS_1


"Selanjutnya kita tinggal tunggu hasil akhir laporan Divisi Promosi pada Presdir saja lagi ". Semua orang sudah meningalkan ruang meeting. "Tapi saya pribadi yakin, pasti Presdir akan menerima. Penelitian kali ini tidak hanya bermanfaat bagi petani, tapi juga sangat bermanfaat bagi masyarakat luas, semua orang akan merasakan seperti apa olahan beras merah yang selama ini jauh dari kata legit bisa berubah sangat enak dan pulen berkat hasil penelitian kalian saat sudah di lounching. Kalian pasti akan membuat pundi-pundi rupiah Sunjaya Company tambah tinggi ". Profesor menganguk-anguk bangga saat berbicara.


 


"Kalau itu mah Profesor jangan ragu, don't worry Prof ". Anita melirik ke arah Nia, "kita jadikan tugas mulia bagi Nia saja buat bisikin kekasih hatinya itu ".


 


"Nggak lucu ". Jawab Nia menanggapi caandaan Anita.


 


"Iya Nia, kan tinggal bilang satu kata saja. Presdir pasti langsung luluh ". Sekarang Resya sudah ikut-ikutan mengoda Nia.


 


"Kalian ini. Sejak kapan coba kita perlu memanfaatkan sebuah hubungan untuk memuluskan jalan kita. Selama ini kita selalu bisa, kerja sama kita selalu berbuah manis. Kita adalah kumpulan orang hebat yang profesional dan punya keahllian paling mumpuni di bidang kita ". Nia menatap Anita dan Resya bergantian. "Lantas kenapa sekarang kita harus ragu, sampe perlu pake cara konyol gituh ?"


 


"Iyaaaah...bu Presdir. Kita tadi cuma bercanda. Serius amat sih, hahaha ". Resya memegang bahu Nia. "Udah jangan serius-serius lagi ah, kitakan udah selesai presentasinya loh ".


 


 


Jangan di tanya bagaimana girangnya Nia dan teman-temannya mendengar kata traktiran dari sang Profesor, bayangan makan enak dan kenyang pun sudah memenuhi otak masing-masing.


 


"Asyikkk...makasih ya Prof ". Jawab Nia tersenyum senang kepada Profesor.


 


***************


 


Sementara itu...

__ADS_1


 


"Berdasarkan keterangan para saksi, tanpa mengurangi unsur dari setiap keterangan pihak pembela. Dan setelah mendengar sudut pandang para ahli, maka dengan ini kami nyatakan bahwa Bagas Dwiantara bersalah atas kasus perkara pelangaran lalu lintas nomor 79, yaitu dengan sengaja mengemudikan kendaraan dengan lalai dan ugal-ugalan, serta kecepatan melebihi batas normal. Sehingga menimbukan kecelakaan lalu lintas dengan kerusakan kendaraan dan atau barang. Karena hal tersebut, maka saudara Bagas akan dipidana dengan pidana penjara selama 3 bulan sesuai dengan Undang-Undang Lalu Lintas yang berlaku ". Suara lantang Majelis Hakim yang terhormat membcakan putusan pengadilan Bagas, sontak membuat Bagas terlonjak tidak terima dari duduknya.


 


Bagas marah, dengan tangan terkepal dia berteriak memaki pihak korban yang nyaris dicelakakan olehnya, jangan harap menyesal, yang ada Bagas malah terlihat membuat onar. "Kau, kau kurang ajar. Kau bodoh...kalau kau mau uangku bilang saja. Kau mau berapa, hah ? Aku bahkan bisa beli harga dirimu dengan semua uangku. Cih, hanya sedikit goresan di wajah dan mobilmu, kau sudah membuat aku terlibat masalah seperti ini ". Bagas benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.


 


"Tenang, bukankan sudah saya bilang tadi. Tenangkan dirimu, jangan seperti ini ! Kita masih bisa banding ". Pengacara Bagas mencoba menenangkan kliennya itu.


 


"Tenang, kau suruh aku tenang. Karirku jadi taruhan, kalau aku dinyatakan bersalah habis sudah karirku di Sunjaya Company. Padahal aku hanya melakukan kesalahan kecilkan, lihat. Semua ini karena kau dan timmu tidak becus bekerja ". Bukannya mereda, kemarahan Bagas malah semakin menjadi. Bagas lepas kontrol, bahkan pengacaranya pun tidak luput dari makiannya.


 


"Saudara terdakwa, harap tenang. Ini ruang sidang yang terhormat, tolong jaga etika anda. Kalau tidak kami tidak akan segan menuntut anda karena menghina persidangan hari ini ". Suara keras majelis Hakim rupanya cukup ampuh membuat Bagas tertunduk lemas.


 


"Duduklah dan tolong kendalikan diri anda, kalau tidak semua akan semakin sulit ". Pengacara Bagas menarik tangan Bagas agar mau kembali duduk di sebelah mereka.


 


"Kau harus tolong aku, aku mohon ". Suara Bagas yang tadi sangat lantang dengan sikap pongah khas dirinya yang tidak bisa menghargai orang lain, berganti suara mengiba yang sangat putus asa.


 


"Aku mohon, tolong selamatkan aku ". Dengan mata berkaca-kaca, Bagas sepertinya melupakan harga dirinya demi bisa bebas dari jeratan hukum.


 


Bagas sadar banyak yang di pertaruhkannya di pagi menjelang siang ini apabila dirinya benar-benar dinyatakan bersalah. Masa depan dengan karir cemerlangnya di Sunjaya Companya, nama baik keluarganya, citra donjuan yang melekat padanya, hingga kesempatannya memiliki Nia, wanita cantik yang telah dikejarnya lebih dari satu satu tahun terakhir ini. Semua akan berakhir dalam sekejab mata saat keputusan Hakim sudah final, palu keadilan telah di ketuk.


 


 

__ADS_1


__ADS_2