SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 94


__ADS_3

Kedatangan Paman


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Aisakha telah meminta pada Profesor Yandi agar membawa para stafnya pulang, hari sudah semakin sore, mereka semua tentu saja sudah lelah setelah bekerja seharian. Sangat tidak baik rasanya kalau Profesor dan para stafnya masih harus bertahan di Rumah Sakit, apa lagi dengan kondisi Bibi Ros saat ini.


γ€€


Pakde dan Bi Kartik pun juga di minta oleh Aisakha untuk pulang, pasangan suami istri itu lebih baik menunggu kabar di rumah. Mereka bisa beristirahat sambil bersiaga, siapa tahu mendadak di perlukan. Ya, walaupun Bi Kartik sempat menolak hal tersebut dan berkeras tidak mau meninggalkan majikan mudanya, tetapi karena paksaan sang suami. Akhirnya Bibi pun mengalah, mau pulang, "non ada apa-apa bilang Bibi ya. Nanti Bibi pasti langsung datang". Janji Bibi pada Nia sebelum meninggalkan Rumah Sakit.


γ€€


Sekarang tinggallah Nia, Aisakha, Alika dan Pandu. Sebenarnya, Nia pun sudah meminta Alika pulang saja dulu. Kasihan Alex terlalu lama di tinggal bersama Mbok Nah. Apa lagi tadi saat Mbok Nah menelepon Alika, terdengar jelas kalau wanita tua itu kesulitan menghadapai Alex yang mulai rewel karena ingin bersama Papa Dan Mamanya. Alex tidak makan dan meminum susu formulanya, dia hanya menangis mencari Alika. Namun Alika menolak permintaan Nia untuk pulang, setidaknya sampai dirinya bisa melihat kondisi terbaru sang Mama. Mungkin setelah itu hatinya baru bisa tenang untuk meninggalkan Rumah Sakit sebentar.


γ€€


Langkah kaki Kristo dan dokter membuat perhatian Nia, Aisakha, Alika dan Pandu teralihkan. Cepat Alika berdiri dari kursinya dan menghampiri dokter.


γ€€


"Dok, boleh saya menemui Mama?" Tanya Alika penuh harap pada sang dokter.


γ€€


"Maaf nona, untuk saat ini belum boleh". Ucap dokter sambil tersenyum


γ€€


"Sebentar saja dok dan saya enggak akan ganggu. Cuma lihat, ya?" Alika bermohon penuh harap.


γ€€


"Nona, Ibu anda baru saja selesai operasi. Sekarang masih di ruang observasi. Jadi, biarkan beliau istirahat dulu sambil kami memantau perkembangannya. Kondisi Ibu anda sangat tidak baik, ikutilah prosedur!" Jawab dokter sambil menepuk pelan bahu Alika.


γ€€


Alika terdiam, pupus sudah harapannya dapat melihat sang Mama, hanya melihat saja. Begitu janji Alika tadi, hanya berdiri dari jarak jauh, tanpa meyentuh. Tetapi apa daya, dokter melarangnya dan semua demi kebaikan sang Mama.


γ€€


"Ka, pulanglah dulu, lihat Alex. Kasihan dia". Bujuk Nia pada Alika setelah dokter berlalu dari hadapan mereka dan kembali masuk ke kamar operasi.


γ€€


"Tenangkan Alex, mungkin dia lapar. Apa lagi hari sudah mau malam. Setelah itu baru kembali ke sini". Ucap Nia sambil memegang tangan sepupunya itu.


γ€€


"Tapi Niaaa, aku gak bisa". Jawa Alika sambil mengelengkan kepalannya.


γ€€


"Alika, apa yang di bilang Nia benar. Pulanglah dulu, lihat Alex, urus dia. Nanti saat Bibi akan dipindahkan ke Bunga Jaya, segeralah kembali". Aisakha pun terlihat membantu Nia membujuk sepupunya itu. "Sekarang tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa menunggu, karena itu kamu dan Mas Pandu pulanglah dulu. Lihat Alex, mandi dan makan, setelah itu segeralah balik ke sini". Aisakha pun mencoba menyakinkan Alika.

__ADS_1


γ€€


"Sayang, benar yang di bilang Nia dan tuan Aisakha. Selagi kita belum diizinkan melihat Mama, kita pulang sebentar. Kasihan Alex, apa lagi sudah mau malam. Dia enggak mau makan, enggak mau minum susu. Jangan sampai Alex kenapa-napa". Bujuk Pandu sambil memegang bahu Alika.


γ€€


Alika terlihat bimbang, sejujurnya hatinya sangat berat meninggalkan Rumah Sakit barang sebentar. Tetapi saat mendengar tentang anak semata wayangnya yang rewel, tidak mau makan dan tidak mau minum susu membuat hatinya khawatir. Ada rasa takut nanti malah Alex kecilnya menjadi sakit.


γ€€


"Ba-baiklah, kita pulang. Tapi hanya sebentar ya Mas. Nanti begitu Alex sudah tidur kita langsung balik ya?" Walau berat hati, Alika setuju dengan ajakan pulang sang suami.


γ€€


"Iya, hanya sebentar. Aku janji". Jawab Pandu menatap iba sang istri yang sangat berat memilih antara anak dan Mamanya.


γ€€


"Ada apa-apa bilang aku!" Perintah Alika pada Nia, sesaat sebelum dirinya berlalu menuju parkiran.


γ€€


Nia kembali duduk, rasanya semua persendian dibadannya sudah sangat letih menopang tubuhnya. Rasa lelah dan rasa cemas telah bercampur menjadi satu. Bibi telah melewati waktu yang sangat panjang dalam operasi tadi, tetapi semua belumlah baik-baik saja. Kondisi Bibi Ros masih belum stabil, tingkat kesadaranya masih di angka enam. Sempat menurut saat operasi karena paru-paru Bibi yang membengkak tidak bekerja,Β dan sekarang perlahan kembali naik, tetapi naik hanya satu angka dengan kondisi paru-paru yang masih belum juga bekerja.Β Ya Tuhannnn...


γ€€


Nia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia benar-benar lelah. Kecemasan telah membuat tingkat lelahnya berkali-kali lipat.


γ€€


"Tuan, nona". Kristo yang tengah melaporkan perkembangan persiapan pemindahan Bibi Ros pada sang tuan, terkejut melihat Nia yang tepat beberapa langkah berada di balik punggung sang tuan, terlihat menutup wajahnya dengan kedua tangan.


γ€€


γ€€


"Nia, kamu kenapa?". Aisakha berusaha melepas kedua tangan Nia yang menjadi penutup wajahnya.


γ€€


Dengan kedua tangan yang diletakkan Aisakha di pangkuannya, Nia hanya mengelengkan kepala.


γ€€


"Kenapa sayang?" Aisakha berusaha membuat Nia mau jujur padanya. "Bilang sama aku, ada apa?"


γ€€


"Masih lamakah Bibi baru dipindahkan?" Tanya Nia sambil menatap mata Aisakha.


γ€€


"Sebentar lagi ya, kita sedang menunggu semua peralatan datang dari Jakarta". Jawab Aisakha sambil mengelus lembut pipi Nia dengan tangan kanannya. Nia hanya menghembuskan nafas panjang tanpa mampu mengeluarkan suara apa pun.


γ€€

__ADS_1


"Tuan, bagaimana kalau kita ke cafetaria sebentar. Mungkin nona perlu minum?" Ajak Kristo pada sang tuan.


γ€€


"Benar". Jawab Aisakha, setuju pada usulan Kristo. "Kita ke cafetaria ya, di sana kamu bisa duduk sambil minum, bisa berpikir lebih tenang, ya?" Aisakha berusaha mengajak Nia.


γ€€


"Tapi, tapi...". Nia sedikit ragu.


γ€€


"Sebentar sayang, hanya minum. Menghangatkan tubuh, agar pikiran bisa sedikit lebih rileks. Hari masih panjang, kita harus terus mempertahankan pikiran jernih agar selalu bisa melakukan yang terbaik untuk Bibi. Kamu terlihat sangat lelah, sangat pucat, lantas bagaimana caranya kamu melalui semua ini. Semua masih belum berakhir". Aisakha mengingatkan Nia.


γ€€


Benar, semua yang diucapkannya Nia. Ayolah, satu teguk air saja agar kamu bisa lebih tenang. Semua membutuhkanmu sekarang, kamu harus kuat.


γ€€


"Baiklah". Nia mengangguk setuju.


γ€€


Aisakha mengenggam erat jemari Nia membawa langkah Nia berjalan menuju cafetaria Rumah Sakit.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


Paman menatap kosong semua kursi tunggu di sekitar kamar operasi. Pikiran buruk mulai memenuhi otaknya, berbagai bayangan menyendihkan membuat Paman sangat gusar.


γ€€


Bagai orang kesetanan, Paman memaksan agar laju kendaraannya bisa berjalan secepat mungkin. Tanpa memperdulikan kondisi lalu lintas, Paman terus menekan klakson sekuat mungkin sesering mungkin. Agar semua kendaraan lain mau mengalah dan membiarkan dirinya lewat. Paman sangat ingin sampai secepat kilat di Rumah Sakit.


γ€€


Saat mendapatkan kabar tentang kecelakaan yang di alami oleh Bibi Ros, sang isteri. Paman baru saja berangkat ke Napal Putih, ada proyek yang sedang dikerjakannya. Tanpa berpikir dua kali, Paman langsung putar arah, kembali ke Kota Bengkulu secepatnya. Saking cepatnya, jarak tempuh yang biasa dibutuhkan dari Napal Putih ke Kota Bengkulu selama enam jam, di paksa Paman menjadi hanya lima jam.


γ€€


Dan sekarang setelah bagian lobi memberitahu bahwa sang isteri masih berada di ruang observasi setelah melalui operasi. Paman malah mendapati diri hanya sendiri, tanpa siapa pun, tanpa ada yang bisa menjelaskan apa pun padanya.


γ€€


Ada apa ini, dimana semua orang? Paman masih berusaha mencari keberadaan manusia lainnya.


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2