SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
175


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


Saat Kristo sedang sibuk dengan menu nasi goreng di kontrakan Resya. Aisakha juga sedang sibuk loh di rumah cinta, rumah masa kecil sang istri, Syania.


Aisakha sedang sibuk menuruti kemauan si jabang bayi, yang mendadak pengen makan mangga muda seperti tengah malam waktu itu. Tapi, untuk kali ini, maunya mangga itu di petik langsung dari pohonnya, tanpa jatuh ke tanah dan semua harus Aisakha yang melakukannya.


Gampang. Aisakha membatin dengan permintaan sang istri. Sekedar memanjat pohon, tentu itu perkara mudah baginya.


Tetapi, sepertinya Aisakha terlalu menggampangkan sesuatu hal, karena setelah dirinya sampai di atas pohon mangga, barulah di sadari, banyak semut merah yang bersarang di sana.


Aisakha melompat turun, kakinya sudah di sentuh para semut yang bersemangat menyambutnya di atas pohon tadi.


“Tuan “, para pengawal panik melihat sang tuan merasa ada sisa perih bekas gigitan semut di kakinya.


“Ternyata banyak semutnya “. Aisakha memperlihatkan bekas gigitan semut.


“Sudah tuan, biar kami saja “. Mencegah sang tuan melanjutkan misi beresiko ini.

__ADS_1


“Mana bisa, kalian dengar sendirikan apa kata istriku ?” Menolak dengan tegas.


“Kalau nyonya tidak tahu, kami rasa itu tidak masalah tuan “. Membujuk dengan ekspresi penuh keyakinan.


“Apa bisa begitu ?” Mulai terhasut.


“Bisa tuan. Nanti kami bagi tugas. Ada yang manjat pohon petik mangganya, ada yang berjaga di pintu buat awasi kedatangan nyonya dan ada yang perhatikan jendela dapur. Mana tahu nyonya bakal muncul di dapur “. Memberitahukan strategi mereka. “Bagaimana tuan ?”


Aisakha memandang pintu samping. Tadi saat dirinya ke halaman belakang, Nia sedang di kamar tidur mereka, sedang membaca buku. Keningnya mendadak berkerut, Aisakha sibuk menimbang baik dan buruknya. Otaknya mencerna ide para pengawal setianya.


Dan, “baiklah, tapi semua hati-hati jangan sampai ketahuan !” membuat keputusan setuju.


“Jon, kamu jaga di pintu samping, pastikan kondisi di sana aman dari nyonya !” Suara pengawal pertama membagi tugas. “Trus Wawan, kamu jaga di jendela dapur ! Yanto, kamu panjat pohon mangganya. Khusus buat tuan, tolong jaga di bawah, tangkap buah mangganya biar gak jatuh ke tanah. Sekalian, supaya aroma tangan tuan nempel di buah mangganya, jadi nyonya gak curiga !”


“Ooo, benar juga. Nia biasa bedakan aroma tangan aku sama orang lain, semenjak hamil penciumannya sangat sensitif “. Setuju dan akhirnya mengambil posisi di bawah pohon mangga.


“Kalian yang cepat ya kerjanya !” Aisakha ingin segera selesai dengan perkara mangga muda ini.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, semua selesai. Dua buah mangga muda ukuran besar sudah di tenteng Aisakha masuk ke dalam rumah. Situasi rumah aman, Nia sepertinya masih di dalam kamar mereka.


Aisakha segera memanggil istrinya itu, berampang letih dengan gaya habis menjadi pemanjat pohon sejati.


“Wah, mangganya besar sekali sayang “. Nia semeringah senang.


“Tentu saja dong istriku. Aku pilih yang paling besar buat anak kita, biar dia puas makannya “. Tersenyum.


“Kalau gituh, kita buat rujak yuk. Tapi rujak mangga saja “. Bertepuk tangan kesenangan.


“Nanti kamu makan juga ya sayang, bareng aku ?” Nia membawa mangga itu kebelakang, memberikan pada bibi untuk di buatkan menjadi rujak mangga muda. Meninggalkan Aisakha yang sedang menelan ludah dengan kepala menggeleng cepat.


Makan rujak mangga muda ? Membatin dengan isi kepala bisa membayangkan seberapa asam rasa buah tersebut.


“Kalian, cepat cari cara terbaik buat saya nolak permintaan Nia !” Berbisik pelan pada para pengawal yang langsung bingung dengan permintaan sang tuan.


“Kalau gagal, kalian semua juga akan ikut menikmati rujak mangga itu !” Tersenyum licik, berencana membagi penderitaannya bersama para pengawal.

__ADS_1


Sedang para pengawal, wajah mereka pias. Keasaman buah mangga yang masih jauh dari kata matang itu langsung terasa di lidah mereka semua.


Tamatlah kita, membatin penuh ketidakberdayaan.


__ADS_2