
Meja Operasi
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Meja operasi telah disterilkan, semua peralatan medis untuk pelaksanaan operasi Bibi Ros di tata oleh seorang perawat yang mendapat tugas membantu para dokter spesialis pada meja khusus untuk peralatan perak tersebut. Semua dokter yang bertugas pada operasi Bibi Ros telah siap dengan baju khusus mereka.
 
Bibi Ros di bawa ke ruang operasi, di dorong menggunakan tempat tidur dari ruang gawat darurat. Alika berlari mendekat ke arah Bibi yang tergolek lemah dengan selang oksigen di mulut serta banyaknya alat-alat medis lain yang tidak tahu apa kegunaan masing-masingnya. Nia pun mendekat ke arah Bibi Ros, mencium kening sang Bibi dan membisikkan sesuatu di telinga kanan Bibi Ros. "Bibi sudah janji padaku, tidak akan meninggalkan aku. Bibi sendiri yang bilangkan? Ingin melihat aku menikah, bahagia bersama suami dan anakku. Sekarang aku tagih janji Bibi, Bibi harus kuat, harus sehat. Demi aku, demi Alika, kami semua butuh Bibi".
 
Air mata bening pun jatuh di sudut mata kanan Bibi, Alika jelas melihat itu. "Ma, Mama harus kuat. Alika mohon Ma". Ucap Alika sambil mencium pipi sang Mama.
 
Bibi pun di bawa masuk keruang operasi, pintu ruangan di tutup, lampu berwarna merah yang berada tepat di bagian luar pintu pun menyala tanda operasi tengah berlangsung.
__ADS_1
 
Nia membimbing Alika duduk di bangku kosong yang tidak berapa jauh dari pintu kamar operasi. Mereka duduk dalam diam, sangat larut dalam doa dan harapan masing-masing. Sedangkan Pandu, sibuk berjalan hilir mudik di hadapan Nia dan Alika. Lain halnya bagi Bi Kartik dan Pakde, mereka lebih memilih duduk di kursi lain yang juga tidak jauh dari kamar operasi.
 
Bowo berjalan kearah Nia, duduk tepat di samping Nia. Memandang wajah Nia yang terlihat letih, memperlihatkan tampilan wajahnya yang sudah tidak menentu dengan riasan wajah yang telah kacau. Bowo memegang bahu Nia, menepuk pelan beberapa kali sebagai wujud supportnya pada Nia.
 
Sementara itu, Aisakha telah berada di dalam pesawat pribadinya, siap lepas landas. Izin terbang telah dikantongi pilot yang akan membawa Aisakha ke Bandara Fatmawati di Kota Bengkulu, otoritas bandara telah memberi lampu hijau bagi pesawat Aisakha untuk terbang.
 
 
Kristo bernafas lega, satu tugas selesai. Sekarang tinggal memastikan tuannya sampai di Bengkulu tepat waktu dan aman sepanjang perjalanan.
 
__ADS_1
"Semua informasi tentang Bowo sudah kau dapat?" Tanya Aisakha pada Kristo.
 
"Sudah tuan". Jawab Kristo sambil menyerahkan handphonenya yang berisi segala informasi yang di minta Aisakha padanya.
 
Pelan, Aisakha mulai memainkan jemarinya di layar sentuk handphone milik kristo. Membaca perlahan semua hasil pencaharian yang telah di tunggunya.
 
Jadi umurnya dua tahun di atas Nia. Oooo, rupanya dia lulusan Universitas Negeri terbaik di Kota Padang. Dari Fakuktas Pertanian rupanya. Berarti tidak salah aku menerimanya dulu. Jadi dia punya dua orang adik perempuan yang salah satunya telah meninggal empat tahun yang lalu. Hey, tanggal lahir adiknya yang telah tiada sama persisi dengan tangal, bulan, dan tahun kelahiran Nia. Apakah ini arti sikap Bowo pada Nia selama ini, sepertinya Bowo terbawa bayangan adiknya yang telah tiada, hingga kemudian dia bersikap layaknya seorang kakak pada saudaranya, seperti itukah? Benarkah dia tulus pada Nia, dia tidak punya keinginan lain, apa pun itu pada nia? Tapiiiiiii, Kenapa aku masih ragu?
 
 
 
__ADS_1