
Kencan Pertama (3)
πππππ
γ
Aisakha mengandeng erat Nia saat mereka berjalan masuk ke dalam lobby restoran. Suasanannya temaram, berhias lilin-lilin mengeluarkan aroma segar serta rangkaian bunga mawar putih terlihat menjadi dekorasi ruangan. Nia memandang takjub ke sekeliling ruangan. Kemudian, seorang pelayan wanita datang mendekati Aisakha dan Nia sambil memeluk buket bunga mawar putih yang sangat harum . Dengan menunduk hormat serta sambil menyerahkan satu buket mawar putih, bunga kesukaan Nia yang di peluknya sedari tadi pada Nia. "Selamat datang tuan, nona ". Ucap pelayan wanita hormat. "Mari saya antarkan tuan dan nona ke meja yang telah kami siapkan ". Pelayan wanita mempersilahkan Aisakha dan Nia mengikutinya
γ
Sebuah meja yang telah di tata indah, dengan 2 buah lilin tinggi berwarna merah pada ujung meja, membuat suasana romantis sangat terasa. Bahkan alunan lembut piano dari kejauhan ruangan, sukses menyempurnakan tingkat keromantisan suasan malam Nia dan Aisakha. Nia terkagum-kagum, seumur hidupnya, dia tidak pernah berpikir akan mengalami kencan yang super mewah dengan taburan bunga mawar putih kesukaannya dimana-mana. Sungguh kencan romantis yang mungkin hanya sanggup Nia lihat di film-film, tetapi lihat sekarangΒ ! Malah dialaminya langsung, serasa mimpi, tetapi jelas semua nyata
γ
"Ini luar biasa ". Nia berguman pelan.
γ
"Untuk bidadari secantik kamu, ini bukan apa-apa ". Aisakha mengajak Nia untuk duduk.
γ
"Terima kasih Mas ". Ucap Nia tulus saat Aisakha akan membantunya duduk. "Terima kasih sayang, ini sangat indah ".
γ
"Aku tidak mendengar jelas, bisa kamu ulang !" Aisakha ragu dengan pendengarannya pada akhir kalimat Nia.
γ
"Terima kasih sayang, ini sangat indah ". Walau malu, Nia berusaha memberanikan diri memanggil Aisakha dengan panggilan sayang.
γ
"Itu baru calon isteriku ". Aisakha mencuil hidung Nia. "Aku suka saat kamu berani mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Jangan malu padaku, kelak kita akan mengarungi bahtera rumah tangga bersama".
γ
"Iya sa-sayang, beri aku waktu. Ini tidak mudah bagiku, aku terlalu malu ". Nia tertunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai merona. Untung saja pencahayaan temaran dari deretan lilin-lilin beraroma wangi berhasil menyembunyikan rona merah yang memenuhi pipi Nia.
γ
"Sudah aku bilang, hingga kapanpun aku akan menunggumu sampai benar siap-siap menjadi Nyonya Aisakha. Dan sampai saat itu tiba, biarkan aku yang melimpahkan cinta dari hati ini untukmu. Karena aku sangat sayang padamu Syania ". Aisakha memegang dagu Nia, mengangkat wajahnya agar menatap padanya.
γ
Perlahan Aisakha mendekatkan bibirnya ke kening Nia, berhenti di sana dan mengecup dalam. Nia memejamkan matanya, hati Nia bersorak bahagia, rasanya dia adalah wanita paling beruntung di dunia ini. Dikarunia seorang lelaki setampan Aisakha sebagai kekasih hatinya, lelaki yang sangat mencintai dirinya apa adanya dan sangat memuja dirinya. Lelaki yang telah berhasil menyakinkan Nia bahwa dirinya sangat berharga untuk sayangi dan di cintai. Nia memeluk Aiskaha, spontan saja, dia ingin menunjukkan rasa sayangnya pada Aisakha. Dia ingin Aisakha tahu betapa dirinya pun sangat mencintai lelaki itu. Lama sepasang kekasih ini saling berpelukan, saling memperlihatkan isi hati masing-masing, hingga.....
γ
"Mau berapa lama kalian berpelukan seperti itu ?" Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Paman sudah muncul dari belakang Nia dan Aisakha.
γ
Baguslah, sudah datang ternyata. Aisakha.
γ
Secepat kilat Nia melepas pelukannya dari Aisakha, tertunduk malu bagai gadis remaja yang tertangkap telah melakukan sebuah hal memalukan oleh sang Ayah.Β Bukan halukan? Itu seperti suara....?
γ
"Paman, Bibi, Alika, Mas Pandu, Tomi". Aisakha memberi hormat pada orang-orang yang sangat menyayangi Syania, kekasihnya itu.
γ
"Ma ". Aisakha juga memberi hormat pada sang Mama.
γ
Eh, apa ? Bukan cuma Paman ya ? Ada Bibi, Mas Pandu dan Alika juga. Bahkan Tomi pun ada ? Dan, dan Mama juga ? Apa iya ? Ada apa ini ? Kenapa mereka bisa ada di sini ? Nia masih tertunduk malu. Sepertinya kepalanya masih sangat berat untuk di angkat. Malunya, mereka semua lihat aku memeluk Mas tadi. Ya Ampun Nia...tapi tunggu dulu, Bibi ? Bagaimana mungkin Bibi bisa ada di sini ? Bukannya Bibi masih di rawat ? Begitu banyan pertanyaan memenuhi batin Nia.
γ
__ADS_1
Di hinggapi rasa penasaran, cepat Nia mengangkat wajahnya mencari keberadaan wanita yang tadi di sapa Aisakha sebagai Bibinya. Hingga sesaat kemudian Nia terkejut tidak percaya. "Ma ". Dengan canggung Nia menyapa Mama dari kekasihnya.
γ
Bagaimana mungkin ?
Terlihat Mama Aisakha berdiri di belakang kursi roda yang di duduki Bibi Ros. Di sebalah kanan kursi roda Bibi, ada Paman yang tengah melipat kedua tangannya di dada sambil memandang Nia. Dam di selah kiri kursi roda Bibi, ada Mas Pandu yang terlihat merangkul Alika. Alika mengacungkan jempol pada Nia sambil mengerakkan bibirnya tanpa suara, berujar "camkohaa". Dan terakhir, Nia melihat Tomi yang berdiri di dekat Alika.
γ
"Bibi bagaimana bisa di sini ? Bukankah seharusnnya Bibi masih di rawat ?" Nia terlihat sangat bingung. "Dan Mama, Mama juga kenapa ada di sini ? Bahkan Paman, Alika Mas Pandu dan Tomi pun ada ?"
γ
"Sa-sayang ada apa ini ?" Nia menatap tidak mengerti pada Aisakha.
γ
"Nia, hari ini di kencan pertama kita. Aku sengaja meminta para orang tua kita dan saudara-saudaramu untuk datang ". Dan seorang lelaki paruh baya dengan stelan jas biru datang mendekat ke ruang makan tempat Nia yang masih tertegu bingung sambil memainkan biola yang di sematkan di pundaknnya. Lantunan lagu Ed Sheeran berjudul Thinking Out Load mengalun indah. "Syania Fira Sujoko, wanita cantik pemilik hati dan separuh jiwaku ". Tiba-tiba Aisakha telah bersimpuh di depan Nia.
γ
"Apa ini Mas ? Kamu ngapain? Ayo berdiri ?" Nia sangat tidak percaya dengan apa yang tengah dilakukan Aisakha.
γ
"Sayang, bidadari cantikku ". Aiskaha memegang tangan Nia. "Maukah kamu menikah denganku ? Maukah kamu menghabiskan hari-harimu bersamaku, selamanya ?" Aisakha mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membuka tutupnya. Terpampang cincin bermata putih dan berkilau indah dari dalam kotak kecil tersebut.
γ
Nia berhenti bernafas, sesaat mendapati apa yang tengah dilakukan Aisakha padanya membuat dirinya lupa cara bernafas. Suasana menjadi hening, semua orang terdiam, berpasang-pasang mata menatap lurus pada Nia. Sepertinya semua sedang menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Nia.
γ
Nia takjub melihat betapa indah cincin yang tepat berada dalam kotak kecil di tangan Aisakha. Hatinya tengah menahan tumpahnya linangan air mata yang siap berjatuhan di sudut mata cokelatnya. Jantungnya berdetag keras, terlalu keras hingga Nia bisa mendengar jelas degubnya yang ribut. Sesaat Nia memadang ke arah Aisakha, kekasihnya itu masih bersimpuh di posis awal tanpa bergerak sedikitpun, sedang menunggu jawaban dari Nia. Nia pun memandang kearah Paman, Bibi, Mama Aisakha, Alika, Pandu dan Tomi bergantian.
Jawab iya, kira-kira seperti itulah arti pandangan mereka pada Nia. Nia menarik nafas panjang, dan bersiap membuka mulutnya.
γ
γ
Dengan wajah berseri bahagia, bagai lelaki yang telah menang dari sebuah pertempuran maha dahsyat. Aisakha bersorak kegirangan. "Terima kasih sayang ". Aisakha menyematkan cincin yang telah disiapkannya ke jari manis Nia. Sangat pas, sangat menawan berada di jari manis Nia.
γ
"Wahhhh, selamat ya ". Bibi dan Mama berucap bersama-sama.
γ
Mama mendorong kursi roda Bibi mendekat pada Nia dan Aisakha, diikuti oleh yang lainnya.
γ
"Selamat datang menantu Mama di keluarga kami ". Mama memeluk Nia dan mengecup puncak kepalanya. "Sekarang tinggal peresmian hari suci kalian saja lagi nak ". Dan Mama berganti memeluk anak lelaki kesayangannya, Aisakha.
γ
"Selamat ya nak ". Bibi memeluk Nia yang telah berdiri dengan kedua lututnya di depan Bibi. "Kata dokter, bulan depan Bibi sudah pulih benar. Jadi, sebulan lagi kamu akan segera kami nikahkan dengan lelaki tampan yang telah melamarmu tadi ". Bibi tersenyum pada Aisakha. "Bibi dan Mama mertuamu akan menyiapkan semua.
γ
"Bagaimana bisa Bibi ada di sini. Bukankah Bibi seharusnya masih di Rumah Sakit ?"
γ
"Kamu pikir Bibi akan melewatkan lamaran kamu tadi ? Jangan salah nona, apapun akan Bibi tempuh demi bisa melihat moment indah tadi !" Jawab Bibi tegas.
γ
"Iya, iya, tapi bukannya Bibi masih dalam perawatan ?"
γ
__ADS_1
"Bibimu sudah mendapatkan izin pulang pagi tadi nak ". Paman membelai rambut Nia.
γ
"Benarkah, kenapa tidak ada yang memberitahu aku ? Ya Tuhan, betapa bersyukurnya aku. Bibi sudah sehat ternyata ". Nia mencium pipi kanan sang Bibi.
γ
"Iya, Bibi sudah sehat dan kami sengaja ingin memberikan kamu kejutan". Bibi terharu menerima perlakuan Nia barusan padanya.
γ
"Nia ". Alika memanggil Nia saat sepupunya itu telah berdiri kembali di bantu Aisakha. "Selamat ya, aku sangat senang akhirnya cinta sejatimu melamarmu".
γ
"Terima kasih ya Ka, kamu dan Mas Pandu selalu menjaga aku selama ini ". Nia memeluk Alika. "Terima kasih juga adik kecilku". Nia melihat kearah Tomi ". Tomi mengangguk dan tersenyum pada Nia.
γ
"Terima kasih pada Bibi, Paman, Alika, Mas Pandu, dan Tomi. Terima kasih selalu ada dalam suka dan dukaku selama ini. Terima kasih sudah melindungi dan menjaga aku di saat terapuhku, terima kasih sudah merestui hubunganku dengan lelaki yang sangat aku cintai ". Nia menunduk hormat.
γ
"Dan Mama ". Nia bergeser kearah Mama Aisakha. "Terima kasih telah menerima aku apa adanya. Terima kasih telah memilih aku sebagai pendamping anak semata wayang Mama, terima kasih Ma. Terima kasih telah merestui kami ". Sekali lagi Nia menunduk hormat.
γ
"Khusus untuk kamu, sayang ". Nia meletakkan tangan kanannya di pipi Aisakha. "Terima kasih untuk cintamu padaku. Aku sangat-sangat sayang padamu ".
γ
Aisakha pun memeluk Nia, meletakkan wajah cantik Nia yang terlihat telah menjatuhkan air mata bahagia di sudut mata cokelat, tepat kedalam dada bidangnya.
γ
Semua yang memandangi romansa kisah cinta Nia dan Aisakha saat itu, langsung bertepuk tangan bahagia. Mereka terbawa haru biru suasanan malam ini. Mama mengengam jemari Bibi, kedua ibu ini terbawa suasan bahagia Nia dan Aisakha. Sepertinya cahaya rembulan pun merestui kebahagiaan Nia dan Aisakha, karena dengan gagahnya, sang rembulan melimpahkan cahaya megahnya untuk menyempurnakan malam romantis nan bersejarah bagi Nia dan Aisakha.
γ
γ
Β Β Β Β Β Β Β Β Β END
γ
γ
***************
γ
Hai..hallo kaka-kaka readers yang budimana dimanapun berada.
Alhamdulilah, kisah cinta Nia dan Aisakha telah sampai di penghujungnya. Telah sampai pada akhir perjalanan panjang dua insan ini dalam balutan sebuah cincin yang sementara menjadi pengikat mereka hingga hari suci janji mereka akan terucap nanti.
γ
Semoga kaka-kaka readers budiman dimanapun berada terhibur dengan hasil karya author ini.
Terima kasih untuk segala support kaka-kaka readers, apapun wujudnya. Lik kah, komen kah, votekah, hingga share ke teman dan keluarga. Terima kasih banyak.
γ
Sehat selalu ya kak, jaga diri dan jangan lupa berbahagia π
γ
See you againt kaka-kaka readers budimanπ€
γ
γ
__ADS_1