
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Sementara Nia di ujung telepon masih mengaruk kepalanya sendiri. Dia terlalu bingung mau menjawab pertanyaan Aisakah yang mana. Nia masih bertahan dengan keyakinannya sendiri, kalau sang kekasih memang sedang mengigau. Udah pagi, tapi Mas masih sempat juga pake acara ngigau segala. Hehehehe, lucu deh.
 
Andai saja Nia tahu apa realita yang sebenarnya terjadi di seberang Pulau sana, tepatnya di dalam kamar Aisakha di rumahnya mewahnya di Kota Jakarta, mungkin Nia akan serta merta membuang jauh semua cekikikannya saat ini. Tapi itulah Nia, dia selalu saja memandang semua dari sisi positif, atau mungkin efek ke polosannya. Entahlah, yang jelas dia tetap tidak bisa merasakan bahwa sang kekasih sudah mengeluarkan tanduk kemarahan sambil menatap Kristo nanar.
 
"Mas ?" Panggil Nia mesra. "Sayang ".
 
Degggggggg.....ritme jantung Aisakha langsung tenang. Ademnya pagi-pagi dengar suara merdu ini.
 
Tapi itu hanya berlangsung sesaat , kemudian ingatan Aisakha kembali menbuatnya tersadar kalau dirinya sedang mengengam handphone milik Kristo saat ini.
 
"Kenapa pagi-pagi malah menelepon Kristo ?" Suara Aisakha berubah dingin.
 
"Wah, kayaknya nyawa Mas belum gumpul semua ya ?" Nia tersenyum sendiri.
 
"Apa maksudmu ?" Aisakha kesal mendapati sikap santai Nia di sana.
 
"Karena kalau nyawanya Mas sudah kumpul, Masnya pasti tahu kalau calon isteri Mas ini, tadi itu menelepon hapenya Mas. Ceritanya mau bangunkan Mas, biar mesra gituh. Hehehehe ". Nia cekikikan sambil menutup mulutnya.
 
Eh, apa iya ? Aisakha langsung menjangkau handphonenya yang berada di atas meja di dekat ranjangnya. Ada 2 panggilan tidak terjawab. Ya ampun..... Perlahan hati Aisakha bersorak riang. Senyum manis terkembang di bibirnya.
 
Tadi marah, sampai menendang pantatku. Sekarang senyum-senyum sendiri. Tuan benar-benar gak mikir perasaanku apa ? Sepertinya semenjak jatuh cinta, tuan udah jarang berpikir logis. Kristo mengusap-usap pantatnya yang masih meninggalkan sedikit rasa sakit. Kok rasanya pengen nangis ya, boleh gak ya ? Kristo diam, jangan deh...akukan cowok, masa nangis baru segituh ajah. Sabarrrrrrrr. Kristo mengurut dada perlahan.
 
Kembali ke dua insan yang sedang di mabuk cinta.
 
"Trus, karena Mas cuekin telepon aku, aku hubungin Kristo deh. Kata Mama, besar kemungkinan Kristo sedang kesulitan membangunkan Mas. Jadi, bisa aku tebak kalau Kristo ada di kamarnya Mas. Karena itu aku telepon dia. Dan benar, dia lagi membangunkan Mas ternyata. Hahahahaha ". Nia tertawa lucu.
 
Oooo...jadi aku dikerjain Kristo. Dasar kau ya. Cara mu membangunkan aku sangat tidak elegan, tidak berkelas, masa iya dengan manas-manasin aku memanfaatkan telepon Nia. Awas kau, aku sumpahin lebih bucin dariku saat kau jatuh cinta nanti. Biar tahu rasa. Aisakha memandang Kristo tajam, membuat Kristo sampai memegang tengkuknya yang mendadak terasa dingin.
 
"Mas ngigau ya ?"
 
"Maksudnya ?" Aisakha menaikkan sebelah alisnya.
 
"Itu, Mas tadi marah-marah. Suaranya keras banget, sampe sakit telingaku mendengarnya. Mas bilang apa tadi tuh ya ?" Nia diam sesaat, sedang berpikir mengingat semua rangkaian kata-kata Aisakha yang diucapkan dengan penuh kemarahan.
 
"Kira-kira...Mas bilang, kenapa menelepon lelaki jelek, trus apakah ada yang selingkuh, trus kurang kerjaan, pokoknya banyak deh Mas. Aku lupa persis kata-katanya ".
 
"Maaf ya, namanya juga orang baru bangun, masih kebawa mimpi ". Aisakah berbohong. Untung di kira ngigau. Kalau Nia tahu sebenarnya aku tadi marah karena terbawa emosi akibat rasa cemburuku, mungkin dia sudah mematikan teleponnya. Untung, untung.Â
 
"Maaf ya, pasti kamu kaget ?"
 
"Iya, aku sampe bingung loh Mas mau jawab apa. Untungnya aku tahu kalau Mas itu ngigau. Maskan mana mungkin marah-marah kayak gituh sama aku ". Jawab Nia terlalu yakin.
 
"Hehehe". Aisakha cekikikan merasa bersalah. "Dimaklumin ya sayang, namanya juga orang baru bangun tidur ".
 
__ADS_1
"Iya, aku ngerti kok Mas ". Suara Nia terdengar begitu bijaksana. Lagi Aisakha tersenyum lebar hanya dengan mendengar suara sang pujaan hati yang terasa sangat enak di telinganya. Dan Kristo, tentu saja kembali lagi melongo heran melihat ulah sang tuan. Sepertinya Kristo belum juga bisa terbiasa dengan perubahan sikap sang tuan yang terkadang tertawa sendiri sambil memeluk handphone. Atau kadang malah senyam-senyum gak tahu gerangan penyebabnya, atau yang lebih ekstrim lagi, memarahinya padahal jelas dia sama sekali tidak bersalah, sedikitpun.
 
"Sudah siapa kamunya ?" Tanya Aisakha kemudian sambil melirik jam di handphonenya sendiri.
 
"Sudah Mas, tinggal turun dan sarapan bareng Mama ".
 
"Enak tidurnya semalam ?"
 
"Banget ". Jawab Nia senang.
 
"Kalau dari cctv, Mas lihat kamu meluk bantal Mas semalamankan ?" Aisakha mulai mengoda Nia.
 
Nia sibuk memperhatikan seluruh penjuru kamar, melihat tiap sudut langit-langit kamar Aisakha dengan seksama. "A, ada kameren cctv ya Mas ?" Tanya Nia polos.
 
"Loh, memang kamu gak tahu. Enggak lihat ?" Tanya Aisakha sambil menahan tawanya.
 
"Masa iya sih ? Kok aku gak lihat ya ?" Nia mengulang memperhatikan setiap jengkal isi kamar Aisakha.
 
"Ka, kalau gituh Mas lihat dong waktu, waktu aku ganti baju ?" Suara Nia mendadak pelan.
 
"Oooo, pastinya ". Jawab Aisakha semeyakinkan mungkin.
 
"Astaga ". Nia setengah berteriak di telepon. Membuat Aisakha hampir saja gagal menahan tawanya.
 
"Kenapa sayang, ada yang salah ?" Tanya Aisakha tanpa beban.
 
 
"Jangan gigit bibirmu !" Aisakha dapat menebak apa yang sedang dilakukan dan di pikirkan Nia saat ini. "Kenapa kamu harus malu, bulan depankan kita bakal tidur satu kamar, satu ranjang malah. Dan kamu tahukan saat tidur itu kita...........?" Aisakha sengaja mengantung kalimatnya.
 
Tut, tut, tutttttt...sambungan telepon di putus sepihak. Aisakha menatap layar handphone Kristo. "Mati ?" Aisakha mengangkat tinggi benda kecil dalam gengamanya itu ke arah Kristo. Kristo hanya mengangak kedua bahunya sebagai jawaban.
 
Ya terang aja mati, tuan bercandanya sampe segitu juga. Auto malu dong nona, tuan. Kristo hanya bisa mengeleng pelan di dalam hatinya. Yang satu isengnya kelewatan, yang satu polosnya enggak ketulungan. Lengkap sudah. Lucu sih sebenarnya. Hehehehe. Terus bagaimana denganku, kira-kira kalau aku punya pacar suatu hari nanti, kayak apa ya sifatnya. Kristo mulai berkhayal.
 
"Kemarilah !" Rencana Kristo mengkhayalpun batal.
 
"Iya tuan ?" Kristo sudah berdiri di depan Aisakha.
 
"Sakit ?" Tanya Kristo sambil memiringkan sedikit wajahnya ke sisi kanan pinggang Kristo.
 
"Sedikit tuan ". Jawab Kristo pelan.
 
"Ah, cuma tersengol kakiku saja sampe berasa sakit. Kau jangan melebihkan gituh dong ". Aisakah terlihat tidak terima.
 
Iya tuan, tersengol kaki tuan dengan kekuatan penuh, sepenuh jiwa. Grutu Kristo kesal.
 
"Maafkan aku. Aku tadi resfleks ". Ucap Aisakha sungguh-sungguh. "Kau juga sih, kenapa sengaja memanasiku seperti tadi ? Akukan jadi percaya kalau kamu sengaja sedang bermesraan dengan Nia di belakangku ". Jawab Aisakha sewot.
__ADS_1
 
"Di belakang tuan gimana ? Jelas-jelas saya menerima telepon nona di depan tuan ". Kristo seakan tidak terima.
 
"Ya, tapikan aku sedang tidur. Manaku tahu kau cuma iseng memanfaakan situasi untuk membangunkaku. Berarti itu salahmu ". Aisakha tetap merasa tidak berdosa.
 
Aku jugaaaa lagi.
"Baiklah, yang penting tuan akhirnya bangun juga ". Kristo memilih mengalah, percuma berdebat dengan majikannya yang sedang di mabuk cinta itu. Bisa dipastikan, yang bersalah tetap saja dirinya. Meskipun semua tahu kebenaran yang sebenarnya.
 
"Maafkan aku ". Ulang Aisakha bersungguh-sungguh.
 
Kristo hanya menganguk dan meninggalkan kamar Aisakh, membiarkan sang tuan bersiap karena mereka akan segera berangkat ke kantor.
 
 
***************
 
EPILOG.
 
Sambil menentang tas kerjanya, Nia setengah berlari menuruni anak tangga Villa Aisakha.
 
"Nona, pelan-pelan. Jangan lari !" Suara Damar membuat Nia otomatis mengerem langkahnya. Damar ternyata sudah duduk di tempat yang sama saat subuh tadi dia menyapa Nia.
 
"Damar, apa di kamar tuan ada kamera cctvnya ?" Sambil menarik nafas perlahan, Nia langsung mengajukan pertanyaan pada Damar.
 
"Setahu saya tidak nona. Di beberapa ruangan di Villa ini memang ada kameranya nona. Seperti ruang keluarga ini ". Tunjuk Damar ke pojok ruangan. "Tapi kalau kamar, tidak nona ".
 
"Tapi.........?" Nia berguman tidak jelas.
 
"Ada apa nona, ada masalah ?" Damar sudah bersikap waspada.
 
"Ti, tidak..lupakan saja ". Nia memilih meninggalkan Damar yang menatap penuh tanda tanya padanya dan berjalan menuju meja makan.
 
"Ayo sini, kita sarapan ya !" Ajak Mama begitu melihat Nia sudah hampir sampai ke meja makan.
 
"Ma, apa di kamar Mas ada kamera cctvnya ?" Bukan menjawab pertanyaan sang calon mertua, Nia malah mengajukan sebuah pertanyaan.
 
"Enggak, di kamar manapun gak ada kameranya nak. Kenapa ?" Mama memperhatikan Nia yang duduk dalam diam.
 
"Tapi Mas bilang tadi ?"
 
"Hahahahahaha ". Spontan Mama tertawa terbahak-bahak. Nia mengerutkan keningnya, menatap bingung pada Mama. "Apa Aisakha bilang sesuatu ?" Tanya Mama di selai derai tawanya. "Bilang kalau di kamarnya ada kamera cctv ?"
 
Nia mengangukkan kepalanya sambil menatap wajah teduh calon metuanya. Takjub dengan kemampuan Mama menebak isi hatinya.
 
"Kena kamu Nia, anak nakal itu pasti sudah mengoda kamu ".
 
"Hah ?" Nia memegang kedua pipinya dengan mulut terbuka lebar.
__ADS_1