
🌈🌈🌈🌈🌈
“Nanti non mau di masakin apa untuk menu siang nanti ?” tanya Bibi sebelum melepas Nia pergi ke laboratorium kesayangannya. Pagi ini, setelah kehebohan buah mangga semalam, semua nampak baik-baik saja. Nia bangun pagi seperti biasa, memasang wajah tanpa dosa saat semua pengawal menyapanya sebelum naik ke mobil mewah milik sang tuan.
“Bi, boleh tolong sayur asem sama sambal gorenh ati ?” Nia nampak menelan ludah, sepertinya Nia sedang membayangkan jenis makanan yang di sebutnya barusan.
“Itu saja non ?” Bibi tersenyum senang.
“Boleh tambah kerupuk udang sama pergedel jagung ?” Nia semakin semangat menyebutkan menu makanan yang sedang diinginkannya.
“Boleh dong “. Senyum bibi secerah mentari mendengar permintaan Nia.
“Wih...senangnya “. Nia sangat bahagia saat pintu mobil di tutup. “Kalau begitu aku pergi dulu ya Bi “. Suara Nia pamit dalam perasaan bahagia.
“Nanti sebelum jam makan siang, semua pesanan non sudah datang “. Bibi melambaikan tangannya, melepas sang majikan.
“Ah...semoga saja perasaanku benar “, gumam bibi sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
***************
“Bu, apa perlu foto Presdir di pajang di situ ?” suara Resya menggoda Nia. Hampir jam 10 pagi, Nia terlihat tekun dengan aneka angka yang di torehkannya di papan tulis putih. Satu tangan memegang alat tulis berwarna biru dan satu tangan memegang penghapus papan tulia.
“Ya perlu dong, wajah tampannya itu membuat aku semangat “. Nia tahu kalau Resya, sahabatnya itu sedang menggoda dirinya. Semenjak menikah dengan Aisakha, Resya mendapati Nia punya kebiasaan aneh. Membawa foto Aisakha dan menempelkan foto suaminya itu di papan putih kesayangannya.
Resya tahu, Nia akan sangat tekun berkerja sambil tersenyum memandangi wajah tampan Aisakha. Kadang malah pakai acara tertawa, yang kadang membuat jiwa para staf penelitinya yang masih jomblo nampak menderita.
“Iya..iya..aku tahu. Kamu mana bisa lepas dari wajah di dalam foto itu “. Resya mencibir Nia.
__ADS_1
“Hahahahaha “, tawa Nia pelan. “Tunggu sampai kamu menemukan belahan jiwamu, Sya. Aku sumpahi kelakuanmu lebih norak dari aku “, Nia memasang tangan menegadah ke atas, sikap berdoa.
“Ah, mana mungkin Nia “. Wajah Resya mendadak sendu.
“Loh, di dunia ini apa yang tidak mungkin Sya. Jangan pesimis gituh dong “. Nia menarik Resya duduk ke sisi ujung papan tulis kesayangannya. Ada 2 kursi kosong di sana. "Lihat aku dan Presdir, apa yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak ?"
"Itu kamu Nia, dan sepertinya tidak untuk kisah percintaanku ", Resya membantah dengan wajah sedih.
“Sya, memangnya gimana hubungan kamu sama Reski ?” tanya Nia setelah mereka duduk saling berhadapan.
“Aku juga enggak ngerti Nia, hampir satu bulan ini komunikasi kami tidak baik. Reski seakan sangat sibuk hingga jarang menghubungi aku. Dan kalau aku yang hubungi dia, percakapan kami tidak lebih dari 5 menit. Alasannya bisa kamu tebakan ?” wajah Resya terlihat sedih.
“Sya, apa kamu mau cuti ? Mungkin kamu harus ke Bengkulu dan mengecek semua keanehan sikap Reski padamu ? Menurut aku, kamu harus perjuangkan cinta kalian yang telah terjalin lama !” Nia menggenggam jemari Resya.
“Atau “, Nia menaikkan kedua alisnya menatap Resya. “Aku akan minta pada suamiku agar mengirim orang kepercayaannya untuk menyelidiki tentang Reski, gimana ?”
“Hah, apa boleh seperti itu ?” Resya cukup terkejut. “Apa itu tidak terlalu berlebihan, nanti Presdir malah mengutuki aku, Nia. Membawa masalahku dalam hidup kamu, sampai meminta bantuan kamu untuk menyelidiki ?”
“Hey, kita inikan sahabat “. Nia menepuk pelan punggung tangan Resya. “Lagi pula, semakin cepat kamu tahu kebenaran tentang Reski, bukankah akan semakin baik ? Kalau benar Reski sedang melakukan sesuatu yang salah, bukankah kamu bisa segera menata hatimu masa depan yang lebih baik ? Dan andai ternyata Reski memang benar sibuk dalam pengertian sebenarnya. Bukankah kamu mulai dari saat ini harus belajar mengendalikan perasaanmu. Karena kamu punya pasangan yang super sibuk ?”
Resya menatap mata Nia lama, sedang mencerna semua perkataan Nia yang sebenarnya masuk kategori sebagai solusi terbaik untuk dirinya saat ini. Pergi ke Bengkulu, mengecek langsung kebenaran masalah dirinya dan Reski. Resya yakin bisa melakukan itu, Nia pasti memberikannya izin dari rutinitas laboratorium, untuk terbang ke sana.
Tetapi, apakah memang itu yang Resya ingin lakukan ? Apakah dirinya benar-benar siap untuk segala kemungkinan buruk, kemungkinan yang belakangan ini menghantui pikirannya. Pikiran dari perasaan seorang kekasih terhadap sosok yang di cintainya. Bukankan perasaan seorang wanita itu sangat kuat ? Dan Resya ragu dengan kesiapan mentalnya.
“Ayolah, biar aku minta tolong Presdir buat selidikin ya ?” Nia membuat Resya tersadar dari lamunan akan perasaan kacaunya.
__ADS_1
“Nia, kamu coba bilang aja sama Presdir. Tapi, misalnya “, Resya nampak serius. “Terlihat wajah keberatan Presdir. Tolong jangan desak beliau. Biarkan saja aku cari cara sendiri nanti buat selidiki !”
“Baiklah, itu lebih baik. Sisanya serahkan padaku “. Nia kembali menepuk pelan punggung tangan Resya.
“Makasih ya Nia “. Resya spontan memeluk Nia.
“Iya, iya “, Nia mengusap-usap punggung Resya.
“Eh..Sya ?” Nia melepaskan pelukan Resya.
“Iya ?”
“Kamu ganti parfum ya ?” Nia mengeryitkan hidungnya.
“Enggak “. Jawab Resya heran. “Kenapa ?”
“Ohh, aku kirain ganti. Soalnya baunya agak beda di hidungku “. Nia menatap Resya yang sedang menggelengkan kepala.
“Ya udah..lupakan saja !” Nia berdiri.
“Aku minta tolong ekstraksi larutannya kamu yang pimpinnya, selesaikan sesuai urutan angka yang sudah aku susun !” tunjuk Nia ke papan tulis putih.
“Siap Bu Kepala “, Resya memasang sikap siap. “Tapi Ibu Kepala mau kemana ?” Resya memperhatikan Nia sedang melepas jas laboratoriumnya.
“Aku mau minta pentry siapkan cemilan. Kayaknya makan bluebarry cake enak deh “. Jawab Nia sambil tersenyum.
__ADS_1
Bluebarry cake, jam segini ? Batin Resya heran. Tumben ?