
Cabang di Kota Bengkulu
πππππ
γ
Sesuai rencana, pagi ini Aisakha akan meninjau proyek real estet yang tengah ditangani perusahaannya, baru setelah itu dia dan sang Mama akan terbang dengan jet pribadi mereka menuju Kota Bengkulu. Sebelum dia berangkat kerja tadi, Aisakha sudah meminta Mama bersiap dikisaran jam 11:00 Wib, menunggu Kristo si sekretarisnya menjemput.
γ
Kegiatan pagi berjalan dengan baik, semua lancar dan hasil pemeriksaan pembagunan real estetnya sesuai dengan harapan, sepertinya suasana hati Aisakha sedang bagus hari ini. Selesai dari proyek Real estet Aisakha sudah di antar ke bandara untuk persiapan keberangkatannya meninjau cabang di Kota Bengkulu. Setelah memastikan Aisakha sudah cukup nyaman di ruang tunggu pribadinya di dalam bandara, Kristo pun ditemani sopir menuju rumah sang tuan untuk menjemput nyonya besar, Ibu dari atasannya.
γ
Karena semua keperluan nyonya besar sudah disiapkannya sedari tadi, jadi begitu Kristo sampai di rumah besar milik keluarga Aisakha, dia hanya perlu waktu beberapa menit saja untuk kembali meminta sopir mengarahkan mobil kembali menuju bandara.
γ
"Tuan, semua sudah siap. Pesawat anda juga sudah mendapat izin untuk meninggalkan landasan. Mari tuan, nyonya kita berangkat lagi". Kristo mengarahkan tuan dan nyonyanya menuju pesawat. Hanya beberpa menit lewat dari rencana awal, akhirnya pesawat pribadi Aisakha terbang di angkasa membawa dia dan sang Mama menuju Kota Bengkulu.
γ
Setelah menempuh 1 jam 45 menit penerbangan, pesawat pribadi Aisakha pun mendarat mulus di landasan terbang Bandara Fatmawati. Aisakha dan sang Mama berjalan menuju pintu keluar bandara dengan pengawalan empat bodyguardnya yang telah dihubungi Kristo sesaat sebelum pesawat mereka terbang dari Jakarta tadi. Aisakha dan sang Mama ditempatkan dalam mobil ke dua dengan ditemani sopir dan satu pengawal. Sedangkan Kristo di mobil pertama bersama tiga pengawal lainnya.
γ
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian Kota Bengkulu menuju ke arah villa keluarga Aisakha di kawasan Pantai Panjang. Aisakha telah memerintahkan Kristo sebelumnya agar mengantarkan dia beserta Mamanya untuk beristirahat sejenak di villa mereka. Baru setelah itu melanjutkan rencana awal menuju kantor cabang perusahaannya di sana.
γ
__ADS_1
******************************
γ
Sementara itu, pagi hari Nia bisa berjalan sesuai harapannya kemarin. Entah apa gerangan, pagi ini tidak ada kejutan bunga mawar putih dari Bagas di atas meja kerjannya. Nia coba berpikir, apakah dia sedih karena tidak menemukan bunga favoritnya ada di atas meja kerjanya seperti biasa? Atau dia senang karena pagi ini bebas dari melihat bunga yang sepertinya sudah rutin di kirim Bagas padanya hampir dua minggu ini. Setelah merasakan dan memikirkan untuk sesaat, Nia merasa hatinya biasa-biasa saja mendapati kenyataan pagi ini tanpa bunga kiriman Bagas, sama sekali tidak ada rasa kehilangan dalam hatinya.
γ
Nia tersenyum puas, iya aku merasa biasa-biasa saja, tidak ada yang beda bagiku mendapati pagi ini tanpa bunga dari Bagas.Β Nia sangat yakin dengan isi hatinya, bahwa dia tidak merasa ada yang kurang apa lagi hilang dihatinya karena tidak menemukan bunga dari Bagas.
γ
Profesor Yandi heran melihat Nia tersenyum sendiri. Tidak ada siapapun diruangan tersebut, Profesor mencoba melihat sekali lagi kesekeliling ruangan dan memang tidak ada siapapun. Apa yang membuat Nia senyum sendiri,Β pikir si Profesor.
γ
γ
"Ya ampun Prof, anda masuk kok diam-diam? Saya sampe kaget loh". Nia menjawab sambil memegangi dadanya, keberadaan Profesor Yandi barusan membuat dia terlonjak kaget.
γ
"Hahahaha", tawa si Profesor. "Diam-diam gimana maksudmu, saya itu jalannya napak Nia bukan ngambang. Jadi kaki saya pasti menimbulkan bunyi saat saya melangkah. Hanya saja saya perhatikan kamu sibuk sendiri dengan pikiranmu, jadinya tidak dengar saat saya masuk tadi". Jelas Profesor.
γ
""Kalau gituh maaf ya Prof". Nia merasa malu sendiri karena ketahuan sedang tengelam dengan pikirannya sampai-sampai tidak menyadari kedatangan si Profesor.
γ
__ADS_1
"Ada apa Prof, kenapa kemari? Kenapa tidak memangil saya saja supaya menemui Profesor di ruang kerjanya Profesor?". Ujar Nia.
γ
"Ooo, kebetulan saya baru dari gedung utama perusahaan. Tadi saya di panggil untuk pemberitahuan. Nia kita semua di minta bersiap-siap untuk menyambut kedatangan presiden direktur perusahaan ini, yaitu tuan Aisakha Elang Britana. Beliau berangkat jam sebelas nanti dari Jakarta, mungkin setelah sampai dan beristirahat sejenak kira-kira jam dua di sudah sampai di sini". Jelas Profesor.
γ
"Ada apa ya Prof, biasanya kalau Presdir datang kita dari bagian laboratorium tidak di minta untuk menyambut juga? Apa ada sesuatu Prof?" Nia sedikit heran.
γ
"Saya juga kurang tahu. Sejujurnya saya juga merasa heran Nia. Biasanya, pengalaman saya selama mengabdi di sini, saat presdir datang hanya para kepala divisi dan saya kepala laboratorium saja yang di minta kumpul di aula utama. Tetapi kali ini semua divisi dan kita di bagian laboratorium di minta menyambutnya. Sudahlah, kita ikuti saja mau pimpinan kita. Lagi pula dia terbang dari jauh, kewajiban kita untuk menghargainya". Profesor Yandi memberi penjelasan pada Nia.
γ
Nia hanya manggut-manggut tanda mengerti apa yang baru disampaikan Profesor padanya.
γ
"Jangan lupa kamu sampaikan kepada semua rekan-rekanmu agar mereka sudah standby tepat pukul dua nanti. Jangan buat malu saya ya!" Perintah profesor Yandi pada Nia.
γ
γ
γ
γ
__ADS_1