
Memberi Penjelasan
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Nia segera membuka kontak telepon di handphonenya, milih nomor telepon Aisakha dan langsung menekan panggilan ke sana. Terdengar beberapa kali nada sambung sampai akhirnya panggilannya pun di terima.
 
"Sedetik saja kamu tidak memberi kabar, dapatku pastikan satu bataliyon Brimob akan mengeledah tiap sudut kantor untuk mencari kamu". Terdengar nada suara ancaman Aisakha pada Nia.
 
"Maafkan aku, aku benar-benar lupa mengaktifkan hapeku tadi. Maafkan aku ya?" Ujar Nia penuh penyesalan.
 
"Panggil aku sayang! Mungkin setelah itu aku akan pertimbangkan untuk memaafkan kamu". Aisakha berusaha mengoda Nia.
 
"Aku, aku, emmm...aku". Nia mulai bingung harus menjawab apa.
 
Alihkan pembicaraan saja. Nasehat hati kecil Nia padanya.
 
"Apakah pekerjaan Mas sudah selesai?" Tanya Nia cepat, sebagai wujud usahanya menghindar permintaan Aisakha barusan.
 
"Bisa ulangin? Di sini sedikit berisik, suaramu tidak terdengar jelas". Permintaan Aisakha pada Nia. Sebenarnya bukan suara Nia yang tidak jelas di telinga Aisakha, tetapi rasa tidak percayanyalah pada apa yang didengarnya membuat dia ingin agar Nia mengulang apa yang disampaikannya tadi.
 
Tidak salah dengarkan? Nia bertanya apa pekerjaanku sudah selesai, apakah dia mulai merasa kehilangan aku? Apakah dia mulai merindukan keberadaanku? Batin Aisakha penuh tanda tanya.
 
"Ooh, dimanakah Mas sekarang memangnya?" Nia ingin tahu keberadaan Aisakha.
 
"Aku baru saja selesai meeting, ini sedang terjebak lampu merah". Jelas Aisakha pada Nia.
 
"Oooo, pantas saja. Pasti berisik lalu lintas di sekitar Mas sekarang". Ujar Nia menebak situasi dan kondisi Aisakha.
 
"Iya, kamu benar. Lantas apa yang kamu tanyakan tadi?" Aisakha ingin Nia mengulang kembali pertanyaan yang sempat membuat dia tidak percaya, tidak percaya kalau Nia akan mengajukan pertanyaan tersebut.
 
"Tadi aku tanya, apakah pekerjaan Mas sudah selesai di sana?" Dengan polosnya Nia mengulangi pertanyaanya tadi.
 
"Apakah kamu merindukanku?" Tanya Aisakha begitu bahagia.
 
Hahaha, tidak salah dengar ternyata.
 
"Hah?" Nia terkejut mendapati pertanyaan dari Aisakha.
 
__ADS_1
"Jujurlah", pinta Aisakha kemudian.
 
"I..iya Mas". Nia menjawab dengan sedikit gugup.
 
"Maukah kamu datang ke sini? Aku akan kirim Kristo menjemputmu". Aisakha mengajukan permintaan pada Nia.
 
Nia terdiam, suasana hatinya mendadak jadi gelisah. Kota Jakarta tempat Aisakha berada sekarang pernah memberi kenangan pahit padanya. Nia sangat sadar, saat ini hatinya masih belum bisa menginjakkan kami ke sana. Semua masih terasa jelas baginya, walaupun semua telah berlalu selama tiga tahun lebih ini.
 
"Maafkan aku, Mas". Jawab Nia pelan.
 
"Sayang, Niaaaa. Dengarkan aku, kamu tidak perlu meminta maaf atas apa yang tidak ingin kamu lakukan. Aku pun tidak akan pernah memaksakan kehendak padamu. Sayang, kamu jangan bersedih". Aisakha sangat tahu kenapa intonasi suara Nia menjadi pelan, tentu saja hasil penyelidikan Kristo untuknya tentang Nia sangat mendetail. Aisakha sangat ingin pujaan hatinya itu selalu bersama dengannya, tetapi jika Nia sendiri yang belum siap. Maka dia tidak akan memaksa Nia, apa lagi untuk kembali ke Jakarta.
 
"Terima kasih Mas". Jawab Nia tulus atas sikap bijaksana Aisakha padanya.
 
"Lantas kenapa kamu terlambat keluar ruangan tadi?" Sekarang, Aisakha mencoba mengalihkan pembicaraan meraka.
 
"Tadi aku sedang berbicara sama Bowo, Mas". Jelas Nia.
 
"Bowo, siapa?" Aisakha merasa tidak pernah menemukan nama Bowo dalam daftar keluarga Nia.
 
 
"Bowo ini lelakikah?" Tanya Aisakha yang sebenarnya mulai cemburu.
 
"Iya Mas, Bowo lelaki". Jawab Nia singkat tanpa rasa bersalah.
 
Kalau begituh aku harus tau banyak tentang lelaki ini. Batin Aisakha yang mulai merasa tidak senang ada lelaki lain yang bersama Nia.
 
"Apakah kalian berbicara berdua saja?" Aisakha benar-benar di buat penasaran.
 
"Awalnya berempat Mas, ada Resya dan Anita. Trus mereka pamit pulang duluan, jadi tinggal aku dan Bowo". Nia tetap melanjutkan penjelasannya atas semua pertanyaan Aisakha padanya.
 
Wah, berdua saja mereka.
 
"Apa yang kalian bicarakan sayang?" Tanya Aisakha ingin lebih tahu.
 
"Tentang Mas, tentang kita?" Nia memberi jawaban mengantung pada Aisakha.
 
__ADS_1
"Tentang apakah itu?" Aisakha menjadi penasaran dengan penjelasan Nia.
 
Nia pun menjelaskan semua apa yang dipertanyakan Bowo padanya, tidak lupa Nia menjelaskan kalau diantara rekan-rekan kerjanya yang sekaligus menjadi sahabatnya itu, hanya Bowolah yang memiliki tingkat kepekaan padanya, Bowo seakan-akan tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh hati kecil Nia.
 
Aku memang harus menyelidiki laki-laki ini. Sikapnya cukup aneh, kepekaannya itu pertanda murni persahabatan atau ada rasa lebih dari itu. Karena perhatiaannya pada Nia sangat beda.
 
"Lantas?" Tanya Aisakha kemudia.
 
"Bowo tanya apa hubungan aku sama Mas?" Penjelasan Nia tentang Bowo sudah sampai pada tahap apa yang menjadi topik pembicaraan mereka tadi.
 
"Dan jawabanmu?" Aisakha cepat meminta jawaban dari Nia.
 
"Jawabanku, aku tidak bisa bercerita sekarang sama dia Mas. Aku masih menata hatiku, jadi aku belum bisa cerita apa-apa". Jawab Nia kemudian.
 
"Sayang, aku tidak ingin memaksamu. Perlahan cobalah buka hatimu padaku, aku sayang padamu. Aku cinta padamu, beri aku kesempatan, maka kamu akan tahu". Aisakha berusaha menyakinkan Nia.
 
"Iya Mas". Jawab Nia singkat.
 
"Iya apa?" Tanya Aisakha meminta jawaban pasti dari Nia.
 
"Emm, iya. Iya aku akan mencoba membuka hatiku". Jawab Nia malu. Andai Aiskaha ada didepannya saat ini, pasti lelaki itu bisa melihat bagaimana malunya Nia dengan apa yang diucapkannya barusan.
 
"Terima kasih sayang, aku akan memperjuangkan kamu". Jawab Aisakha sambil membayangkan seperti apa wajah Nia saat ini.
 
"Lalu, sekarang sudah jalan pulangkah?" Tanya Aisakha lagi.
 
"Sudah Mas, tetapi aku berencana mampir di Mall sebentar sebelum pulang. Ada yang ingin aku beli". Jawab Nia.
 
"Baiklah sayang, kalau begituh kamu lanjutkan berbelanja nanti ya. Jaga diri dan tunggu aku kembali". Ucap Aisakha di ujung telepon.
 
"Terima kasih Mas, Mas hati-hati di sana dan cepat kembali kemari". Ucap Nia sungguh-sungguh.
 
"Iya, aku pasti akan cepat kembali. Tunggu aku ya?"
 
Akhirnya sambungan telepon pun di putus setelah Nia mematikan teleponnya. Rasa bahagia sedang menjalar dalam aliran darahnya. Suasanan hatinya sedang senang saat ini.
 
 
__ADS_1