
🌈🌈🌈🌈🌈
Aisakha sudah meninggalkan Nia bersama staf wanita dari cabang perusahaannya di Gorontalo di Pulau Cinta itu. Sekarang mobil mewah miliknya sudah melaju di jalan raya kembali, membawanya bersama Kristo untuk segera menyelesaikan urusan pekerjaan. Sesuai janjinya, Aisakha akan kembali kepada Nia dalam waktu 4 jam, jadilah Aisakha sekarang terlihat sangat bersemangat. Siap untuk berkerja dan siap untuk segera mengakhiri pekerjaannya. Ada senyum menghiasi wajah tampannya siang ini.
Sementara Aisakha sedang semangat dengan perkerjaannya, Nia pun terlihat semangat mendengar penjelasan Rahayu tentang apa saja jenis kegiatan yang bisa Nia lakukan di pulau sambil menunggu ke datangan Aisakha.
Rahayu memberi Nia pilihan mulai dari Spa, menjelajah hutan yang tepat berada di seberang Pulau Cinta, menyusuri Pulau Cinta dengan perahu, snorkeling dan diving, bermain ayunan di atas beningnya air laut, berfoto riang dengan panorama alam Pulau, atau mungkin bersantai di kolam pribadi. Rahayu memberikan Nia pilihan.
“Saya pilih Spa saja Rahayu “. Akhirnya Nia membuat sebuah keputusan.
Suami saya mau memulai bulan madu kami malam nanti, jadi saya harus siapin fisik saya. Karena saya tahu, tuan Aisakha itu mana mau berhenti sebelum saya berteriak dalam menyebut namanya. Batin Nia hingga tanpa sadar pipinya menjadi merona.
Rahayu hanya tersenyum, mengerti situasi sang nyonya mudanya itu. Namanya juga bulan madu, jadi dia sangat paham arti pilihan Nia barusan.
“Baiklah nyonya. Mari, akan saya tunjukkan di mana lokasi Spanya “. Rahayu mengerakkan tangan kanannya hormat. “Nyonya muda pasti akan merasa sangat bugar setelah di Spa nanti. Saya jamin, Spa di sini sangat profesional, nyonya pasti suka “.
Dan Niapun memulai sesi Spa di Pulau Cinta. Spa yang memang sangat nyaman bagi tubuhnya. Hembusan angin, pemandangan laut, birunya air laut, menjanjikan Nia ketenangan dan kebahagiaan. Dengan penjagaan ketat dan privasi di atas segalanya, Nia terlena dengan pijatan demi pijatan wanita muda yang sedang melayani dirinya di ruang Spa.
***************
Saat Nia sedang terbuai pola pijat profesional petugas Spa di Pulau Cinta, saat yang bersamaan Edo bersama Kemala dan sang Papa baru saja menginjakkan kaki di Kota Jakarta. Kondisi Edo sudah pulih, kesehatannya sudah sangat baik. Hanya tinggal kaki kanannya saja yang masih agak sakit kalau di paksa berjalan cepat. Edo hanya perlu terapi untuk bagian kaki kanannya itu di Jakarta besok hari, selama 4 hari ke depan.
__ADS_1
Mobil jemputan milik sang Papa sudah berjalan memecah lalu lintas Kota Jakarta, Edo duduk bersama Kemala di kursi belakang. Sedang sang Papa di di depan bersama sopir pribadi kepercayaan keluarga mereka.
Seperti biasa, Kemala hanya diam sepanjang hari, sepanjang perjalanan. Kemala akan bersuara kalau ada yang mengajaknya berbicara. Kalau tidak, dia bisa membisu berjam-jam lamanya.
Edo memandangi Kemala, terlihat wajah lelah dari aura sang isteri. Edo tahu, perjalanan Bengkulu – Jakarta bagi seorang Ibu hamil bukanlah hal mudah. Edo menyentuh tangan Kemala, bermaksud mengajukan pertanyaan pada Kemala.
Tetapi kenyataannya, Kemala refleks menarik tangannya jauh dari jangkauan Edo. Seperti bisa, Kemala akan membuat jarak antara dirinya dengan suaminya itu. Kemala tidak mau terlalu dekat, dia takut tekadnya yang sudah kuat untuk berpisah dari Edo akan sirna, dan keinginan untuk hidup bersama menjadi istri yang di cintai Edo akan kembali lagi. Sebuah keinginan yang hati kecil Kemala tahu, tidak akan pernah akan terjadi.
“Maaf “. Suara Edo yang membuat sang Papa melirik dengan sudut matanya ke arah kursi belakang. “Aku bukan mau menyakitimu, sungguh “. Ucap Edo menyakinkan.
Sang Papa menarik nafas dalam, belakangan ini Papanya Edo ini bisa melihat telah terjadi perubahan besar dalam dirinya anaknya terhadap menantunya itu. Tanpa mereka berdua sadari, belakangan ini Edo sering sekali mengucap kata maaf, seakan-akan sangat takut melukai fisik dan psikis Kemala. Suatu sikap yang sang Papa tahu, tidak pernah di tunjukan Edo pada istrinya itu. Tidak pernah, meskipun Kemala pernah mengiba memohon pada Edo untuk sekedar melihat keberadaannya, bukan mencintai, tetapi lihat kalau ada dirinya sebagai istri Edo.
“Ada apa ?” Suara Kemala pelan. “Apakah kaki kananmu sakit ? Mau aku pijat ?” Kemala tidak menatap Edo, tetapi suaranya terdengar cukup khawatir.
“Tidak, aku baik-baik saja. Dan berhenti mengkhawatirkan aku !” Suara Edo cepat.
Sayangnya Edo tidak menyadari, susunan kata-katanya barusan terasa menohok hati Kemala.
“Maaf “. Ucap Kemala lirih sambil mengelus perut ratanya.
“Tunggu, kamu salah paham Mala “. Edo mendadak merasa sangat bersalah sudah mengucapkan kata-kata yang bisa bermakna ambigu bagi Kemala.
__ADS_1
“Dengar, aku sama sekali tidak bermaksud meminta kamu berhenti memperhatikan aku ! Aku suka kamu perhatian padaku, sungguh !” Edo menatap sisi kanan wajah Kemala yang di palingkan jauh darinya.
“Maksud perkataanku tadi, kamu, seharusnya kamu juga memperhatikan dirimu. Kamu lagi hamil, perjalanan Bengkulu - Jakarta tadi itu cukup jauh. Kamu pasti lelahkan ? Jadi jangan cemaskan aku lagi, aku mau kamu dan anak kita baik-baik saja “. Ucap Edo serius.
Apa, anak kita ? Aku salah dengar deh. Batin Kemala ragu. Ah, pasti salah dengar.
“Sekarang jawab aku !” Edo berusaha memegang tangan Kemala, dan kali ini Kemala memilih diam, tidak berniat menjauhkan tangannya dari jangkauan Edo. “Apa kamu lelah ? Apa dia baik-baik saja ?” tanya Edo cemas.
“Aku memang agak sedikit lelah, kakiku pegal “. Suara Kemala jujur. “Dan Dia “, Kemala mengelus perutnya. “Dia baik-baik saja “
“Syukurlah kalau dia baik-baik saja “. Edo terdengar senang. Sedang Kemala lagi-lagi merasa salah dengar.
Sebaiknya aku periksa telingaku ke spesialis THT deh kapan-kapan. Perasaan belakangan ini aku sering dengar Edo memberikan perhatian padaku dan anak ini. Sesuatu yang dalam mimpipun tidak akan terjadi, apa lagi di dunia nyata. Batin Kemala bingung.
“Siniin kakimu !” Edo menepuk kedua pahanya. “Naikkan ke sini, biar aku pijit !” Dan Edo berhasil membuat Kemala memalingkan wajahnya pada dirinya. Kemala menatap kedua bola mata Edo bergantian. Tidak percaya dan merasa sangat tidak yakin.
“Kenapa, apa aku salah kalau memijat kaki istriku ?” Edo tersenyum pada Kemala yang seakan sedang terpana pada sesuatu yang terlihat tidak masuk akalnya.
Edo menggeser tubuhnya, “Sini !” Dengan lembut Edo mengangkat kedua kaki Kemala ke atas pahanya. Kemudian meminta Kemala memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman. Dan setelah itu Edo terlihat telaten memijati kaki Kemala. Sangat lembut, seakan takut menyakiti Kemala, tetapi ada penekanan yang membuat Kemala merasa senang.
“Katakan kalau aku menyakitimu “. Ucap Edo sambil memberi senyum cerah pada Kemala.
__ADS_1