SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
82


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


"Hahahahaha ". Semua masik asyik tertawa.


γ€€


"Brengsek kalian semua ". Teriak Edo keras.


γ€€


Braaakkkkkkk....


Edo membanting keras pintu ruang kerja Toni. Marah, kesal dan merasa di hianati. Edo berjalan cepat ke arah sofa, tempat Toni, Ardi, Dafi dan Angga sedang membesarkan bola mata mereka penuh ketidak percayaan.


γ€€


"Kau...", telunjuk Edo ke arah wajah Toni. "Penghianat ".


γ€€


"Dan kalian ". Wajah permusuhan Edo menatap benci pada Angga, Dafi dan Ardi. " kalian semua setan ". Maki Edo.


γ€€


"Tidak bisa masuk ke ruang kerja orang tanpa mengetuk pintu dulu ?" Tanya Toni santai sambil menatap malas pada Edo. "Nggak pernah di ajarkan sopan santunyaΒ  ?"


γ€€


"Setan kau...brengsek....sialan ". Maki Edo sambil berusaha menarik kerah baju Toni yang terlihat sudah kembali bisa menguasi ketenangan dirinya.


γ€€


"Hey...lepaskan tanganmu dari Toni !" Ardi berdiri, berteriak tidak senang pada Edo.


γ€€


"Kau yang setan, sahabat macam apa kau memaki kami semua begitu saja tanpa mencari tahu kebenaran terlebih dahulu ?" Ardi berhasil menarik Edo jauh dari Toni.


γ€€


"Aku tidak perlu mencari kebenaran. Bangkai itu akan tercium juga bau busuknya tanpa perlu bersusah payah mencari tahu dimana letaknya. Lihatkan, bagaimana cara Tuhan membongkar kebusukan kalian semua padaku. Kalian sama semuanya ". Tunjuk Edo kesegala arah. "Kalian sama-sama bangkai ".


γ€€

__ADS_1


"Sudah selesai tuan Edo ? Silahkan keluar dari ruang kerja saya !" Suara Toni terdengar dingin. "Atau perlu saya panggilkan keamanan untuk menunjukkan jalan keluar ?"


γ€€


"Ooooo, mengusirku ya ? Kenapa, mau membahas cara menghabiskan malam dengan wanita sial itu ? Setelah bertahun-tahun dia bergiliran menghangatkan tempat tidur kalian. Kalian masih belum puas juga ?" Edo memandang jijik pada Toni. "Memang wanita sialan. Bahkan kalian berempatpun jatuh ke dalam godaannya ".


γ€€


"Jaga bicaramu ! Atau aku tidak akan segan-segan padamu !" Ancam Toni yang terlihat sudah mengepalkan tangannya.


γ€€


"Bagaimana, servisnya memuaskan ?" Bukannya berhenti, Edo malah semakin menjadi. "Benar tebakanku, kalau sudah rusak, maka dia pasti akan merusak kalian semua. Kasihannya kalian terperdaya dengan kepolosannya. Hingga kalian tidak tahu betapa gilanya dia ".


γ€€


Bukkkkkkkkgggggg........


Satu pukulan keras mendarat di pipi Edo, Toni sudah tidak bisa menahan diri lagi. Amarahnya telah sampai di batas akhir, hingga pukulan kebenciannya pun mendarat sempurna di wajah Edo.


γ€€


"Kau yang gila, kau yang sialan dan kau....kau adalah manusia paling bodoh di dunia ini yang aku kenal ". Toni mengangkat kerah baju Edo, memaksa lelaki yang terduduk di ujung tembok sambil memegang sakit pipi kanannya ini untuk berdiri.


γ€€


γ€€


"Tuhan memang tahu, keberadaanmu dalam hidup Nia hanya akan menyiksa dirinya. Karena itu, Tuhan berikan lelaki yang jauh berpuluh-puluh juta kali lebih baik dari kau ". Toni masih saja terus memukul Edo. Sangat terlihat jelas, kemarahan Toni hari ini adalah luapan rasa marah dan kecewannya pada Edo, yang telah terakumulasi dalam waktu 3 tahun belakangan.


γ€€


Ardi, Angga dan Dafi, mereka hanya menonton Toni memberi pelajaran penting pada Edo. Mereka sama marahnya seperti Toni, bahkan diam-diam di dalam hati masing-masing berharap punya kesempatan yang sama pula, agar bisa mrnghajar Edo. Edo sungguh sangat keterlaluan, 3 tahun hidup dengan selalu memaki Nia. Bahkan parahnya hari ini menuduh para sahabatnya sendiri dengan begitu hina. Wajar saja bukan, kalau semua orang di dalam ruangan itu sangat berharap bisa memukul Edo sampai puas ?


γ€€


"Kau...kau berani memukulku hanya karena wanita sial itu ?" Ucap Edo lemah sambil menahan sakit di wajahnya. Edo tidak terima. "Hahahaha.....berarti servisnya di atas ranjangmu sangat hebat ya ?" Tawa Edo begitu merendahkan.


γ€€


Bukkkkkkgggghhhhh.....


Entah pukulan yang keberapa di hadiahkan Toni kepada Edo. Edo mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya semakin banyak, beberapa saat Edo terlihat hanya bisa meringkuk sakit di lantai sambil memegang perutnya.


γ€€

__ADS_1


"Kau mengenal Nia lebih baik dari kami berempat. Kau memacarinya dan menjalankan hari bersamanya, tetapi kenapa hatimu tidak bisa melihat betapa baiknya Nia padamu. Seharusnya diantara kita semua, kau


Lah satu-satunya orang yang sangat tahu isi hatinya. Tapi kau membuat kami semua kecewa Do, kau malah jadi orang yang paling kejam, selalu menghina dan merendahkannya. Kau sama saja seperti Mamamu ". Toni bermaksud membongkar semua kebusukan Mama Edo padanya saat ini.


γ€€


Dengan sisa-sisa tenaga, Edo mencoba untuk duduk, bersandar pada dinding sebisa mungkin. "Kau jangan bawa-bawa Mamaku !" Edo terlihat menyeka cairan merah di sudut bibirnya. "Mama tidak ada hubungan dengan ini semua ! Justru Mamaku berkali-kali lipat lebih baik dari wanita sial itu ". Teriak Edo tidak terima.


γ€€


"Oooo...aku mau lihat, apakah kau masih bisa menyanjung Mama tersayangmu itu saat tahu yang sebenarnya ?" Ejek Angga.


γ€€


"Ceritakan saja Ton, toh kita juga sudah muak bersahabat dengan lelaki ini ! Lelaki bodoh yang hanya bisa memaki dan memaki. Kau tahu Do, kau sangat bodoh ". Tunjuk Angga mengarah ke wajah Edo.


γ€€


"Kau yang bodoh, kalian semua yang bodoh !" Edo tetap tidak mau mengalah. "Wanita sial itu sudah mencuci otak kalian. Apa itu yang dilakukannya saat naik ke ranjang kalian ? Cih....".


γ€€


"Kauuuuu sialan Do ", Dafi sudah bersiapa untuk menendang Edo. Rasa marahnya pada Edo membuat dirinya sangat ingin menendang Edo dan membuat lelaki itu menutup mulutnya.


γ€€


"Daf...Dafi...berhenti ". Suara Toni membuat Dafi terdiam di tempatnya.


γ€€


"Apa, kau ingin membelanya ?" Tanya Dafi tidak senang pada Toni. "Biarkan aku membuat mulut kotornya itu berhenti berbicara, aku sudah muaaaaaakkkkk ". Teriak Dafi kesal.


γ€€


"Sudahlah, percuma menghajarnya. Dia hanya akan semakin menjadi. Lebih baik kita beritahukan saja semua, sekarang sudah waktunya !" Toni menatap wajah Dafi, Ardi dan Angga silih berganti.


γ€€


"Baiklah, aku tidak sabar melihat makian apa yang akan kau ucapkan saat tahu kebenarannya ", senyum sinis menghias wajah Dafi saat membantu Edo duduk di sofa. Edo hanya diam, sekujur tubuhnya sangat sakit, bahkan sesekali Edo masih harus menyeka sudut bibirnya. Sepertinya Toni memang menghajar Edo habis-habisan tadi. Membuat tampilan dirinya menjadi kacau saat ini.


γ€€


"Pasang telingamu baik-baik !" Toni menatap Edo yang hanya tertunduk menahan sakit. "Kami semua punya cerita untukmu !"


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2