SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 86


__ADS_3

Aneh


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Profesor Yandi geleng-geleng kepala sendiri melihat Wulan, Resya dan Anita bersorak senang, mereka saling tos bersama-sama. Melihat Bagas yang sudah berlalu dengan tangan terborgol di dalam mobil aparat keamanan. Jangan di tanya berapa kali ketiga staf Profesor itu berteriak mengucapkan kata syukur, menyumpahi Bagas, sampai-sampai Profesor pun harus berteriak tidak kalah kencang dengan ketiga staf itu agar mereka berhenti, menghentikan kelakuan konyol mereka sebab ini di Rumah Sakit.


γ€€


γ€€


"SUDAH-SUDAH, KALIAN BUAT SAYA MALU SAJA". Suara keras Profesor memarahi Wulan, Resya dan Anita.


γ€€


"Yeeeee, biar aja Prof. Orang kami senang. Hahahaha". Anita bukannya takut dengan suara keras Profesor, yang ada malah tertawa terbahak-bahak.


γ€€


"Yes, tidur sonoooo di sel tahanan". Wulan pun masih menyempatkan diri untuk teriak sekali lagi.


γ€€


"KALIAN DENGAR TIDAK SAYA GOMONG". Dan sekarang Profesor sudah membesarkan bola matanya saat berbicara dengan ketiga sahabat Nia itu. "Memalukan sekali, ini di Rumah Sakit. Bukan di pasar". Bentak Profesor Yandi.


γ€€


Dan cara itu ternyata ampuh, spontan Wulan, Resya dan Anita terdiam. Mereka saling sikut satu sama lain, tanpa berani menatap wajah Profesor.


γ€€


"Mau di sini atau mau lihat Nia". Suara keras Profesor kembali terdengar.


γ€€


"Lihat Nia, Prof". Jawab Wulan pelan mewakili kedua temannya.


γ€€


"Ayo!" Ucap Profesor Yandi memimpin ketiga stafnya berjalan di depan.

__ADS_1


γ€€


Wulan, Resya dan Anita mengikuti langkah Profesor, tidak terlalu cepat tetapi tidak juga terlalu lambat. Mereka satu meter di belakang Profesor, sedikit menjaga jarak.


γ€€


"Ehhhh, ehhhh". Anita berbisik pelan kepada kedua temannya. "Menurut kamu Lan, Sya, si Prof marah ma kita karena dia kesal kita tertawaain si Bagas ya? Kan kalian tau sendiri, secara Bagas itu pernah jadi kandidat utama Profesor untuk Nia?" Terdengar suara pelan Anita berbicara pada Wulan dan Resya.


γ€€


"Ah, enggaklah. Mana mungkin. Jangan sembarangan gomong kamu". Wulan langsung mengerakkan tangannya, sebagai wujud ketidak percayaannya pada Anita.


γ€€


"Iya, dari mana kamu dapat ide itu Nit?" Resya pun tidak sependapat dengan Anita.


γ€€


"Kalian ini". Anita menggeleng kesal. "Apa gak lihat, tadi itu wajah Profesor sangat kecewa lohh waktu Bagas di borgol".


γ€€


"Jangan sembarang gomong kamu Nit, dengar Profesor, bisa ngamuk dia. Kamu mau? Tadi ajak dia marah dah serem, apa lagi ngamuk". Wulan bergidik ngeri.


γ€€


γ€€


"Nahhhhh, itu..ituloh". Ucap Anita sambil memukul bahu kedua temannya.


γ€€


Wulan dan Resya terkejut, "ehhh, kamu mau di pitak ya?" Wulan kesal terhadap Anita.


γ€€


"Kagetttttt buk, hehehe". Cengir Anita kemudian.


γ€€


"Ituloh maksud aku teman-teman, kemarahan profesor itu tadi sama kita. Apa nggak berlebihan? Anehkannn Wulan, Resya". Anita meminta temannya berpikir.

__ADS_1


γ€€


"Kalau kalian masih mau berdiskusi, pulang saja sana. Biar saya sendiri di sini". Profesor berbalik badan, menatap Wulan, Resya dan Anita dengan wajah kesalnya. Bagaimana mungkin Profesor Yandi tidak kesal? Telinganya masih jelas mendengar kalau ketiga stafnya itu tengah membicarakan dirinya. Apa lagi yang mereka bicarakan itu tidak benar, jadi wajar saja bukan kalau Profesor kesal.Β Andai kalian semua tahu yang sebenarnya...


γ€€


Nahhhloh, kedengeran ya. Tamat sudah riwayatku. Anita.


γ€€


Marah lagi deh. Resya.


γ€€


Emmm, kok gelagat Profesor mendekati dugaan Anita ya? Wulan.


γ€€


Tanpa menyahut, Wulan, Resya dan Anita melanjutkan berjalan di belakang Profesor, dan kali ini benar-benar hanya berjalan dan mulut tertutup rapat.


γ€€


**********


γ€€


Kristo sempat terheran-heran mendapati tiga orang peneliti pada perusahaan Aisakha bersorak bahagia, melihat lelaki yang sempat menimbulkan kehebohan di area parkir di tangkap. Tentu saja dia tahu apa penyebab lelaki tersebut diamankan aparat, tetapi yang tidak dia tahu adalah hubungan antara penangkapan lelaki itu dengan suara sorak girang ketiga sahabat Nia. Belum lagi, Kristo dapat melihat ada aura marah di wajah Profesor saat mobil patroli berlalu menjauh, membawa si lelaki yang menurut petugas patroli pengawal mereka tadi, telah melakukan banyak kesalahan.Β Aneh....


γ€€


Aisakha tidak mau peduli dengan keributan orang yang menurut penjelasan Kristo padanya adalah sopir yang ugal-uggalan di jalan raya. Aisakha juga tidak mau ambil pusing dengan teriakan senang beberapa wanita yang tidak sedikit pun di cari tahunya siapa mereka. Bahkan, suara keras Profesor membentak ketiga wanita yang sempat bersorak senang itu pun hanya dianggapnya angin lalu. Sekarang fokusnya pada Nia, Nianya seorang.


γ€€


Cepat Aisakha memaksa kakinya melangkah, berjalan jauh meninggalkan parkiran menyusuri lorong-lorong sepi agar segera sampai ke kamar operasi. Entah bagaimana cara Aisakha mengungkapkan rasa khawatirnya saat ini, tingkat kecemasannya kalau boleh di buat skala, dari angka 1 sampai 10. Maka, dia sekarang ada diangka 8, dia benar-benar cemas, cemas terjadi sesuatu pada Nianya di sana.


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2