
Kepercayaan
πππππ
γ
"Betapa takutnya aku tadi Mas". Nia masih menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Aisakha, tangannya pun
masih di pertahankannya di dada Aisakha. Tempat jantung lelaki tampan itu berdetak dengan indah di telinganya.
γ
"Apakah kamu tidak percaya padaku?" Aisakha mengusap lembut rambut Nia.
γ
"Aku...aku...", Nia ragu untuk menjawab.
γ
"Kamu mencintaiku Nia?" Aisakha melongarkan pelukannya pada Nia, kemudian dia memegang dagu Nia. Membawa wajah cantik itu agar melihat tepat kematanya.
γ
Nia hanya diam, menatap Aisakha lama. Mencari-cari arti kata dari pertanyaan Aisakha pada dirinya. Sejujurnya di dalam hati Nia, dia ingin menjawab iya. Karena semua orang juga tahu kalau Nia memang telah mengakui cintanya pada Aisakha. Tetapi yang jadi masalah, bagaimana dengan Paman? Itulah yang masih menganggu Nia.
γ
"Sayang, beritahu aku apa yang membuatmu ragu padaku?" Aisakha masih mempertahankan mata Nia terus menatapnya.
γ
"Mas, bukan kamu. Bukan Mas, tapi aku ragu pada diriku sendiri. Mas, Paman tidak setuju pada kita. Dan, dan jujur. Saat aku tahu kamu meninggalkan aku semalam. Hatiku hancur Mas, rasanya sangat sakit. Begitu sakitnya sampai aku tidak bisa bernafas". Mata Nia nampak berkaca-kaca.
γ
"Dulu, dulu aku pernah kehilangan sosok lelaki yang aku cintai. Mas, aku di paksa meninggalkanya, aku di usir dan, dan....", Nia mengeleng pelan.
γ
Apa kamu masih memikirkan lelaki itu Nia? Aku akan membuat dia membayarnya kalau kamu jawab masih memikirkan dia. Aku tidak akan terima, kamu milikku. Hanya boleh memikirkan aku.Β
γ
"Dan apa?" Aisakha berpura-pura tenang saat bertanya pada Nia.
γ
"Dan aku merasa di buang, tidak di inginkan. Sakit mas, aku tidak akan sanggup melalui hari-hariku lagi andai kamu melakukan hal itu padaku". Sebutir air bening jatuh di sudut mata Nia.
γ
Aisakha tersenyum, diciumnya sudut mata Nia yang telah menjatuhkan butiran bening.Β Gadis bodoh. Mana mungkin aku memiliki kemampuan meninggalkanmu. Hanya maut yang bisa membuat itu terjadi sayang, hanya maut.
γ
"Saat Paman mengusirku, aku memang pergi. Aku pergi meninggalkan ruangan rawatan Bibi. Aku tidak mau berdebat dengan Paman, rasanya percuma saja. Karena itu hanya akan membuat Paman semakin membenciku. Jadi aku memutuskan keluar dari kamar rawatan Bibi dan duduk menunggu di kursi depan kamar. Aku duduk di sana di temani Kristo". Aisakha tersenyum pada Nia.
γ
Nia tidak percaya,Β benarkah? Benarkah kamu tidak meninggalkanku? Kamu hanya duduk di depan kamar saja?
γ
"Iya sayang, aku menunggu di luar. Sampai tengah malam, aku sudah tidak sanggup menunggu lagi. Aku begitu mengkawatirkanmu, aku sangat rindu padamu. Hingga, aku nekat masuk kedalam kamar rawatan bibi. Mengendap-endap seperti penjahat amatiran saja. Hahaha". Aisakha tertawa pelan.
γ
"Hah, kamu..kamu mengendap-endap?" Sebentuk garis tipis menghiasi wajah Nia. Nia tengah tersenyum.
γ
Aisakha mencium pipi kanan Nia, entah kenapa. Dirinya hanya refleks saja saat melihat senyum di wajah cantik sang kekasih.
γ
Nia kaget, memegang pipinya. Mendadak rasanya suhu tubuhnya memanas, sepertinya.Β Apa pipiku memerah ya? Kok rasanya panas ya.
γ
Cantik banget kamu sayang, pipi cantik kamu yang merona itu benar-benar membuat aku sulit mengendalikan diri.
"Kita nikah yuk". Ajak Aisakha tanpa beban, kata-kata itu meluncur begitu saja.
γ
"Hah?" Mata Nia melotot besar. Jantungnya berdegub kecang, ritmenya sangat cepat dan keras. Nia berdebar-debar antara malu dan senang.
γ
"Iya sayang, kamu dengarkan aku bilang apa?" Aisakha tersenyum melihat Nia yang terlihat sangat kaget.
γ
"Aku enggak bisa Mas". Cepat Nia mengatur nafasnya, walaupun jantungnya masih berdebar tak menentu. Tetapi dirinya sedang berusaha membuat semua terkendali. Dia harus berpikir logis.
__ADS_1
γ
"Kenapa enggak bisa? Kenapa? Kamu gak mau menikah denganku?" Aisakha terlihat kecewa.
γ
"Te-tentu aku mau Mas". Nia tertunduk malu. "Tapi...tanpa restu keluarga, tanpa restu Paman. Mana bisa Mas". Nia kembali memperlihatkan wajah sedihnya.
γ
"Aku lupa". Wajah kecewa Aisakha auto berubah semeringah lagi begitu mendengar penjelasan Nia.Β Kirain serius aku di tolak. Rupanya..hahahahaha.
γ
"Apa, apa yang lupa?" Tanya Nia cepat.
γ
"Lanjutin cerita aku tentang mengendap-endap tadi". Jawab Aisakha sambil mengedipkan sebelah matanya.
γ
"Belum selesai? Kan Mas ke tangkap Paman kan? Trus Paman marah, terus di suruh pergi". Nia mulai mengarang indah untuk lanjutan cerita tersebut.
γ
"Ya dan tidak". Jawab Aisakha sambil bersandar di kepala ranjang, kemudian menarik Nia kembali dalam pelukannya. "Pake ya selimutnya, udaranya masih dingin!" Aisakha menyelimuti kaki hingga pingang Nia.
γ
Nia hanya diam saja, tidak menolak saat Aisakha menyelimutinya. Dia hanya terlihat sangat nyaman mendapat perhatian sedemikian rupa dari lelaki tampan itu.
γ
"Lanjut ceritanya". Rengek Nia pada Aisakha.
γ
"Kenapa, udah enggak sabar ya buat nikah?" Goda Aisakha di telingga Nia.
γ
"Aku serius Masssss". Nia mulai mencebek.
γ
"Jelek ah". Aisakha mengeleng melihat bibir Nia yang maju beberapa milimeter ke depan.
γ
Sedang Nia, dia acuh saja. Tetap bertahan dengan model bibir majunya sampai Aisakha kembali melanjutkan ceritanya.
γ
γ
"Mas yang wangi, aku suka banget wanginya". Jawab Nia sambil memainkan jemarinya di dada Aisakha.
γ
"Kalau gituh kita nikah". Lagi Aisakha mengajak Nia menikah dan kali ini sangat serius.
γ
"Massss..fokus sama ceritanya". Dan Nia kembali mencebek. "Jangan becanda terus".
γ
"Astaga sayang, kamu pikir aku bercanda? Seserius ini dan kamu malah bilang becanda?" Aisakha malah terlihat tidak percaya mendengar kata-kata Nia barusan.
γ
Wah..serius ya. Tapi masak iya ngajak gituh aja? Enggak romantis. Nia malah jadi malu sendiri.
γ
γ
"Mas, lanjutin ceritanya". Nia terdengar memelas di dalam pelukan Aisakha, sementara jemarinya tengah sibuk mengambar hati di dada Aisakha.
γ
Aisakha tersenyum senang, dirinya bisa merasakan dengan jelas wujud gambar yang di hasilkan jemari Nia,Β " ya udah. Aku lanjutkan ceritanya". Akhirnya Aisakha melanjutkan ceritannya.
γ
"Aku lihat kamu, meringkuk di atas tempat tidur dengan wajah tertutup bantal". Memori menyedihkan itu kembali terbayang di benak Aisakha.
γ
"Aku sangat sedih, aku merasa sangat bersalah padamu. Aku pikir sebegitu takutnya kamu sama aku,Β sampai kamu terlihat begitu rapuh".
γ
"Tunggu, Mas pikir aku takut sama Mas?" Nia melepaskan dirinya dari pelukan Aisakha. Memotong cerita Aisakha. "Kenapa?"
__ADS_1
γ
"Bagaimana tidak, aku lihat kamu berangsur-angsur menjauh dariku setelah aku...", Aisakha sedikit ragu. Kemudian menarik nafas panjang. "Setelah aku menampar Kristo. Kamu menjauh Nia, kamu bahkan menepis tanganku".
γ
"Tidak..tidak..Mas salah paham". Nia melambaikan tangan. "Aku, aku bukan takut pada Mas. Ya, aku akui, aku memang menjauh dari Mas saat itu. Aku kaget Mas bisa menampar Kristo begitu kerasnya. Kemudian, kilas peristiwa tiga tahun lalu memenuhi otakku. Aku pernah di dorong keras Mas waktu bersimpuh, memohon agar jangan di usir. Dan situasi semalam membuat kenangan itu muncul lagi. Aku takut". Nia jujur menceritakan semua perasaannya tentang kejadian semalam pada Aisakha.
γ
Berarti Nia belum terlepas sepenuhnya dari masa lalunya? Jangan-jangan, itu yang membuat dia mendadak panas tinggi kemaren. Aisakha menjadi ingat hasil diagnosa awal dokter yang memeriksa Nia semalam.
γ
"Jadi bukan karena aku, sungguh?" Aisakha menatap mata coklat Nia.
γ
"Iya, sungguh. Mana mungkin aku takut sama Mas". Jawab Nia sungguh-sungguh, "aku kan...", Nia terlihat malu melanjutkan ceritanya.
γ
"Apa?" Aisakha penasaran.
γ
"Emmm, nanti aku jawab. Sekarang Mas tolong lanjutkan dulu ceritanya". Pinta Nia pada Aisakha.
γ
"Baiklah". Aisakha kembali menarik Nia dalam pelukannya. Dan Nia pun terlihat asyik kembali memainkan jemarinya di dada Aisakha sambil mendengar sang kekasih bercerita.
γ
"Aku berjalan terus berjalan ke arahmu, aku yakin kamu pasti menangis hingga tertidur di balik bantal itu. Rasanya aku tidak tahan, entah bagaimana caranya akhirnya aku hampir berhasil untuk mengangkat bantal, hingga Paman tiba-tiba Paman menghentikan langkahku. Dia menegurku dengan kesal, suaranya keras sekali".
γ
"Mas di usir lagi, di suruh pergi sama Paman?"
γ
"Tidak".
γ
"Tidak, Paman mengizinkan Mas mendekatiku, iya..iya Mas?" Nia terlihat sangat penasaran.
γ
"Paman bertanya kenapa aku begitu nekat, kenapa aku sangat keras kepala. Hahahaha". Aisakha tertawa pelan mengingat bagaimana kesalnya Paman saat itu.
γ
"Terusssss". Nia mendesak Aisakha melanjutkan ceritanya.
γ
"Yah, Mas jujur aja sayang. Bilang kalau Masmu ini tidak bisa pergi meninggalkanmu". Aisakha memainkan rambut Nia. "Bisa mati aku kalau hidup tanpa separuh jiwaku". Jawab Aisakha jujur. "Paman mengajukan banyak pertanyaan padaku, hingga akhirnya. Paman bisa melihat kesuungguhanku dan....", Aisakha mengangkat jemari Nia yang dipakainya untuk bermain di dada Aisakha ke arah bibirnya. "Paman merestui kita". Aisakha mengakhiri ceritanya.
γ
"Ya Tuhan, sungguh? Benarkah itu?" Nia metapa mata biru Aisakha, berusaha mencari celah kecil tanda kebohongan di mata itu. Lama Nia memandang ke sana, mengali sedalam mungkin demi jawaban yang sangat diharapkannya. Dan Nia menemukan, tidak ada kebohongan di mata biru itu. Semuanya benar, Paman telah merestui mereka.Β Tuhan, terima kasih. Terima kasih.
γ
Air mata Nia jatuh perlahan, Nia sendiri tidak tahu kenapa. Padahal dia tidak sedang bersedih, dirinya justru sangat bahagia sekarang.
γ
"Jangan menangis cintaku". Aisakha mendekatkan wajah Nia ke bibirnya, mengecup pelan mata yang meneteskan Air mata itu satu persatu. "Semua sudah berlalu".
γ
"Mas, aku mencintaimu". Nia membuka matanya, menatap teduh ke arah mata biru di depan wajahnya. "Aku sangat mencintaimu sayang". Dengan wajah merona dan kumpulan keberanian yang luar biasa banyaknya, Nia akhirnya menyatakan perasaannya pada Aisakha. Perasaan yang sangat dia inginkan agar Aisakha tahu langsung, langsung diri bibirnya.
γ
Aisakha tersenyum sangat, sangat bahagia. Hatinya serasa melayang, terbuai pengakuan yang selam ini selau di harapkannya, selalu di nantinya. Dan sekarang, Nia jujur mengungkapkan itu, bibir tipisnya tulus menuturkan perasaan hatinya. Rasanya Aisakha adalah lelaki paling bahagia di muka bumi ini.
γ
"Terima kasih, sudah jujur padaku". Aisakha mendekatkan wajah Nia ke arah wajahnya, sangat dekat. Menyatukan kening mereka, saling merasakan hembusan nafas hangat masing-masing di wajah mereka.
γ
"Aku", Aisakha mengecup sayang mata kanan Nia. "Sangat". Mengecup mata kiri Nia". "Mencintaimu". Bibir Aisakha terlihat mendekat, perlahan, semakin dekat ke arah bibir tipis Nia.
γ
Nia memejamkan matanya, jantungnya berdegub kencang, pipinya mulai terasa panas. Dan tepat di saat itu, bibir Aisakha telah berhenti berbicara di bibirnya.
γ
γ
__ADS_1
γ
γ