
πππππ
γ
Nia memijat pelan pelipisnya, kepalanya sedikit berdenyut. Jam makan siang sudah tiba, Nia mendudukkan diri di kursi kerjanya, dirinya butuh ketenangan setelah semua kejadian semalam.
γ
Hari ini Nia masuk kerja seperti biasa, meskipun cutinya belumlah habis. Tetapi Nia memilih membatalkan sisa cuti tersebut dan masuk kantor seperti biasa. Nia rindu pada sahabat-sahabatnya, apa lagi kurang beberapa hari Nia akan pindah meninggalkan mereka semua. Jadi Nia memilih memanfaatkan setiap waktunya demi bersama orang-orang terbaik dalam hidupnya.
γ
"Nona baik-baik saja ?" Bayu segera mendekat ke arah Nia, menatap heran pada Nia yang entah sudah keberapa kalinya sibuk memijat pelipis kepalanya.
γ
"Ehh ". Nia memandang Bayu sesaat. "Aku baik-baik saja Bay, cuma agak pusing ".
γ
"Kita ke dokter !" Ajak Bayu cepat.
γ
"Nggak, gak usah. Aku istirahar saja dulu ". Nia bermaksud ingin meletakkan kepalanya di atas meje, beralas kedua tangan yang terlipat bagus sebagai alas.
γ
"Kita ke ruang kerja tuan saja nona. Nona bisa rebahan di sana ". Bayu memberi ide pada Nia.
γ
"Ah, iya benar juga ". Nia langsung setuju.
γ
"Kalau begitu tolong suruh Dani bawa makan siang saya ke sana ya. Tadi Resya traktir makan siang, mereka berkumpul di ruang kerja Profesor. Makan bersama di sana ". Pinta Nia kemudian.
γ
"Iya, nona tenang saja ". Bayu membuka kunci di layar sentuh handphonenya, mengerakkan ibu jari mencari nomor telepon Dani.
γ
Tetapi.....
γ
"Permisi ". Lelaki tinggi bertopi dan berseragam khas sebuah Rumah Makan membuat Bayu menghentikan gerakan jarinya.
γ
"Saya di perintahkan mengantar makan siang ini untuk nona Nia ". Ucap lelaki itu sopan.
γ
"Ooo, pas sekali. Letakkan saja di sana ". Tunjuk Bayu ke meja terdekat lelaki itu.
γ
__ADS_1
"Baiklah, saya permisi ". Lelaki itu memandang Nia sesaat,Β yang sedang terpejam di kursi kerjanya.
γ
******************
γ
Nia duduk di sofa besar di dalam ruang kerja kekasih hatinya. Matanya memandang kesegala arah, sepi dan senyap. Ruangan itu terasa hampa tanpa sosok lelaki yang biasanya selalu memuja dirinya. Seperti rencana sebelumnya, hari ini Aisakha telah sampai di cabang perusahaan di Kota Samarinda.
γ
"Ahhh ". Nia melihat kursi besar tempat biasa Aisakha duduk. "Aku merindukanmu ". Ucap Nia penuh keputus asaan.
γ
"Maaf nona ". Entah kapan Bayu datang, Nia heran mendapati Bayu sudah berdiri sopan di depannya.
γ
"Nona mau makan sekarang ?" Tanya Bayu sambil menunduk hormat.
γ
"Nanti saja Bayu, saya mau istirahat dulu ". Tolak Nia. "Kamu tolong letakkan saja di sana ya, saya mau tidur sebentar ".
γ
Nia melangkah ke arah ruangan di balik pintu di sudut lain ruang kerja itu. Kamar tidur yang biasa di pakai si empunya untuk sekedar merehatkan lelahnya. Meninggalkan Bayu yang menata menu makan siang Nia di atas meja.
γ
γ
Hingga hitungan jam berputar, membuat Nia terjaga dari rasa nyaman. Perutnya berbunyi, Nia melirik jam dinding dan tertawa geli. Wajar saja dirinya merasa sangat lapar, ternyata dia tertidur lebih dari satu jam lamanya.
γ
Nia kembali ke ruang kerja Aisakha, memperhatikan menu makan siang yang cukup mengoda. Aroma wangi ikan bakar membuat Nia terlihat bersemangat ingin segera mencicipi semuanya.
γ
Nia duduk dan mulai mencoba sedikit rasa dari ikan yang sepertinya cukup besar untuk dirnya sendiri, setelah mencuci tangan.
γ
"Enak ". Puji Nia sambil melanjutkan suapan kedua.
γ
"Emmm, memang enak ". Aku Nia sambil memperhatikan si ikan yang berlimpah bumbu mengoda itu. "Resya pesan dimana ya ?"
γ
Suapan kelima, ada rasa haus yang menuntut kerongkongannya segera di bahasi. Nia mengambil gelas berisi air putih, menegok pelan sambil sibuk memperhatikan. Sebuah kartu ucapan ada di antara tatanan menu makan siangnya.
γ
"Apa ini ?" Nia membasuh tangan dan membuka kartu berwarna biru terang.
__ADS_1
γ
"Aku pernah berjanji padamu, seumur hidupku akan membuatkan kamu menu makan siang ikan bakar gurami manis ini. Kamu ingatkan sayang ? Dan hari ini, aku membuatkannya lagi untukmu, spesial dengan cintaku. Nikmatilah sayang, aku harap kamu masih suka seperti dulu ".
γ
Nia menatap sekeliling ruang kerja Aisakha, jantungnya mulai kembali bermasalah. Bunyi debaran yang keras membuat dirinya melempar kartu itu begitu saja.
γ
Nia meringkuk bingung, membuat memorinya kembali berputar.
γ
"Aku nggak mau makan ". Tolak Nia saat lelaki yang duduk di samping dirinya dengan sabar terus membujuk Nia.
γ
"Kalau aku masakin sesuatu, apa kamu mau makan ?" Tanya lelaki itu sambil tersenyum sayang.
γ
"Memang kamu bisa masak apa ?" Ada nada antusias di suara Nia.
γ
"Ikan bakar gurami manis ", jawab lelaki itu percaya diri.
γ
"Okeh...aku mau ". Nia bertepuk senang.
γ
Dan Nia, dirinya bisa ingat bagaimana rasanya lezat dari ikan bakar itu. Begitu enaknya sampai-sampai Nia sanggup menghabiskan satu porsi sendiri. Membuat si lelaki pembuatnya terkagum bangga, Nia memang jujur sangat suka.
γ
"Aku janji akan memasakan ikan bakar ini seumur hidupku untukmu sayang, sebagai menu makan siangmu ". Ucap si lelaki penuh cinta sambil membantu Nia mengelap bibir mungilnya.
γ
"Ya...Tuhan...", hanya guman kecil penuh lirih yang mencoba berpasrah diri pada Sang Maha Kuasa mampu Nia lakukan saat ini.
γ
Semua kenangan itu kembali lagi, semalam, hari ini. Nia sangat bersedih.
γ
Nia memandang ikar bakar hanya sedikit di sentuhnya. Menatap lama dan Nia bisa mengingat semua. Kemudian, Nia beralih, memandang kursi kerja Aisakha, kursi mewah tempat biasa lelaki yang begitu mencintainya duduk tekun dan bertanggung jawab sepenuh jiwa.
γ
Nia menarik nafas panjang, menatap lurus kedepan.Β Mata indah itu berkaca-kaca lagi, betapa berat beban di hati.
"Sayang ". Ucap Nia lirih memanggil sosok yang entah pada siapa, tiada yang tahu. Tetapi yang jelas Nia sangat merindu.
γ
__ADS_1
γ