SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 146


__ADS_3

Menu Makanan Camkohaa


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Dengan senyum mengembang, Aisakha melangkah masuk kedalam ruang kerja Nia di ikuti oleh Kristo dan Damar tepat di belakangnya. Kedatangan Aisakha membuat Wulan, Resya, Anita dan Bowo berdiri dan memberi hormat. Sudah seperti di film-film saja, Aisakha yang tampan berdiri sempurna dengan setelan jas mewah di kombinasi sepatu kerja yang mengkilap dan jam tangan mahal. Resya sampai setengah berbisik kepada Anita agar gadis itu cepat menutup mulutnya dan berhenti terkesima dengan ketampanan sang Presdir. Bukan apa-apa Resya takut Nia salah paham karena mendapati sahabatnya sendiri menatap kagum pada lelaki yang telah menjadi kekasih Nia itu. Ya, walaupun di dalam hatinya, Resya sendiri juga tengah menikmati pemandangan sempurna ciptaan Tuhan yang sekarang sedang berjalan ke arah Nia.


γ€€


"Sudah siap ?" Aisakha tersenyum pada Nia.


γ€€


"Sudah". Tidak seperti biasanya, kali ini Nia berani terang-terangan menyelipkan tangannya di lengan Aisakha.


γ€€


Tumben...Aisakha terlihat sedikit heran.


Kalau aku tahu dengan membawamu dan teman-temanmu makan siang bersama bisa membuat kamu jadi seberani ini menunjukkan perasaanmu padaku, sudah dari kemaren-kemaren aku ajak kamu dan mereka makan siang bersama setiap hari.


γ€€


Hari ini aku sangat senang karena Mas mau pergi bersamaku dan sahabat-sahabatku. Aku ingin Mas kenal dengan duniaku yang biasa-biasa ini. Aku ingin Mas benar-benar mencintai aku dan menyukai semua yang ada disekelilingku walaupun itu hanya hal-hal sepele dan sederhana.


γ€€


Kok rasanya jadi iri ya. Wulan hanya bisa menatap sedih kearah Resya dan Anita.


γ€€


Sabar, kamu enggak sendiri kok Lan. Aku juga iri lihat kemesraan mereka. Dan aku yakin Anita juga merasakan hal yang sama. Kan kita sama-sama gabung dalam jomblo se-Kota Bengkulu, hikss. Resya membalas tatapan Wulan dan kemudian melihat Anita yang menganguk pelan kearah dirinya dan Wulan.


γ€€


Sementara Bowo dia tersenyum senang kearah Nia, hanya kearah Nia.Β Cantik banget.


γ€€


"Baiklah, karena kalian adalah sahabat-sahabat terbaik dari calon isteri saya ini". Aisakha tersenyum ramah. "Saya akan mentraktir kalian makan siang hari ini. Jadi kalian mau makan siang dimana ?"


γ€€


"Senangnya". Wulan.


γ€€


"Terima kasih Presdir". Resya menunduk hormat.


γ€€


"Wah..ini serasa mimpi ya teman-teman, makan enak dan gratis lagi". Anita bertepuk tangan di depan wajahnya, seperti tingkah anak kecil yang terlihat girang saat mendapatkan apa yang diidam-idamkannya.


γ€€


"Mungkin Nia punya rekomendasi tempat ?" Hanya Bowo yang masih terlihat memandangi Nia. Beda dengan 3 sahabat wanitanya yang sibuk mengungkapkan ekspresi senangnya karena akan di traktir makan oleh Presdir mereka, sementara Bowo malah bersikap santai dan hanya fokus pada wanita cantik yang berdiri tepat di samping Presdir mereka.

__ADS_1


γ€€


"Kamu mau kemana sayang ?" Aisakha merasa ada yang janggal dengan sikap Bowo pada Nia.


γ€€


"Ada Mas". Nia terlihat bersemangat. "Kita ke kawasan Baru Koto ya, di sana ada lesehan yang menunya semua masakan khas Bengkulu. Aku pengen hari ini memperkenalkan menu makanan Camkohaa pada Mas". Nia terlihat mengangat ibu jarinya ke depan Aisakha membentuk sikap memberi jempol.


γ€€


"Gimana maksud kamu, Mas gak ngerti Nia ?"Β Menu Camkohaa itu apa ? Kamu mau ngerjain aku ya ?


γ€€


"Pas banget. Berarti Mas memang belum pernah nih mencicipi menu-menu Camkohaa khas Kota Bengkulu. Sekarang waktunya, pokoknya aku jamin enak Mas. Mas pasti suka".


γ€€


"Memang teman-temanmu bakal suka ?" Lihat, mereka malah bengong mandangin kamu. Kecuali....hey, dari mulai aku masuk sampai sekarang mata Bowo hanya fokus pada Nia. Dalam keseharian apa Bowo seperti ini juga ? Nia juga beberapa kali memuji Bowo sebagai teman yang paling peka padanya, malah melebihi kepekaan teman-teman wanitanya. Tapi apa wajar sikap si Bowo ini? Aneh.


γ€€


"Kami suka kok tuan, kami pernah makan di sana bersama-sama. Menunya memang enak. Iyakan Wo ?" Wulan sengaja memanggil Bowo. Ternyata Wulan menyadari kalau Presdir mereka seperti merasa terganggu dengan cara Bowo memandangi Nia.


γ€€


"Iya...benar tuan. Kami". Bowo menunjuk Wulan, Resya, Anita dan terakhir Nia. "Pernah makan di sana. Benar kata Nia, di sana menunya masakan khas Kota Bengkulu dan rasanya pun sangat enak". Nia menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk gerakan oke kepada Bowo.


γ€€


Makasih Bowo udah bela aku..kamu memang teman yang baik. Nia tersenyum pada Bowo.


γ€€


γ€€


Aisakha mengengam erat jemari Nia, dia ingin memberitahukan pada siapapun yang tengah melihat pada sirinya dan Nia, bahwa Nia adalah miliknya seorang. Dengan lembut Aisakha mengajak wanita cantik ini berjalan bersamanya menuju mobil yang telah di siapkan oleh Kristo. Bahkan mobil pengawal yang biasa bertugas mengawal Aisakha pun telah standby sedari tadi. Meninggalkan para sahabat Nia karena mobil mereka terparkir pada lokasi yang berbeda dengan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


γ€€


Menu Bagar Hiu, Rebung Asam Undak Liling, Gulai Pisang, Lema, Gulai Kemba'ang, dan Tempoyak Patin sengaja di pilih Nia untuk di santap bersama Aisakha. Dengan wajah semeringah Nia memperkenalkan satu persatu menu yang telah tertata di atas meja kepada Aisakha. Bagai pecinta kuliner sajati, Nia berusaha menyakinkan Aisakha tentang kelezatan yang bakal dirasakan oleh lidahnya dari tiap-tiap hidangan tersebut.


γ€€


"Ini Bagar Hiu namanya Mas". Nia menunjuk piring berisi gulai yang sepintas penampakannya cukup pedas. "Inituh khasnya Kota Bengkulu, pake banget. Rasanya enak Mas, perpaduan pedas dan gurih. Rempah-rempahnya kerasa dan mix sama daging ikannya". Kening Aisakha sedikit berkerut.


γ€€


"Mas, olahan Bagar di sini menggunakan ikan hiu. Ettt, jangan gituh juga mukanya. Hahaha". Nia tertawa memperhatikan perubahan wajah Aisakha. "Ini tuh jenis hiu punai Mas, dagingnya enak dan gak amis. Habis itu di masak dengan rempah-rempah yang banyak dan kuahnya pun harus kental banget. Sama satu lagi, bagar hiu ini adalah menu favorit Presiden Sukarno selama beliau berada dalam masa pengasingan di sini. Jadi di jamin pasti enak".

__ADS_1


γ€€


"Kamu yakin. Hiu loh ?" Masih tersirat keraguan di wajah Aisakha.


γ€€


"Mas coba aja dulu baru setelah itu kasih pendapat !" Aisakha hanya menganguk sebagai wujud persetujuannya pada ide Nia.


γ€€


"Kalau ini namanya rebung asam undak liling". Nia menunjuk menu selanjutnya. "Ini tuh Mas terbuat dari irisan rebung atau tunas bambu yang benar-benar muda, terus di masak bareng liling atau yang biasa kita kenal dengan keong sawah. Ini tuh kaya kandungan protein Mas, aku yakin Mas juga bakal suka". Aisakha hanya memandangi menu kedua yang diperkenalkan oleh Nia padanya.


γ€€


"Nah, kalau biasanya pisang buat cemilan atau buah pelengkap dalam keseharian kita, tapi kalau di sini beda Mas. Di sini pisang dijadikan gulai. Coba deh Mas cium aromanya !" Nia sengaja mengangkat piring saji berisi menu gulai pisang mendekat kearah Aisakha. "Khas bangetkan ? Wangi dan seger gimana gituh".


γ€€


"Kalau yang itu apa ?" Aisakha menunjuk piring saji berikutnya yang berisi Lema.


γ€€


"Oooo...itu namanya lema, Mas". Nia ikut menunjuk ke arah piring yang tadi sempat di tunjuk Aisakha. "Lema itu adalah irisan tunas bambu yang masih muda, kemudian di cincang kasar dan di fermentasikan dulu Mas baru bisa di olah jadi masakan. Beda ya Mas sama gulai rebung yang itu". Nia menunjuk ke arah piring berisi rebung asam undak liling. "Kalau rebung asam undak liling, rebungnya gak di fermentasikan dulu sama masaknya pake liling. Nah, kalau lema harus fermentasi dulu rebungnya sama masaknya pun bareng ikan nila yang sudah di goreng. Begghhhh...enaknya Mas. Camkohaaaa". Nia mengangkat tinggi ibu jarinya keatas membentuk sikap jempol.


γ€€


"Apa maksud kamu Camkohaaa itu ?" Aisakha hanya tersenyum melihat ulah Nia.


γ€€


"Nanti aku jelaskan sama Mas. Sebelum itu masih ada satu menu lagi, aku jelasin dulu ya". Nia menunjuk deretan piring saji terakhir yang berisi tempoyak patin. "Itu namanya tempoyak patin Mas. Masakan ini berasal dari daging buah durian yang di fermentasikan baru setelah itu di olah dengan rempah-rempah dan cabe terbaik bersama ikan patin. Aromanya khas banget Mas dan rasanya juaraloh".


γ€€


"Durian ?" Aisakha sangat tidak percaya.


γ€€


"Iya buah durian yang sudah mateng Mas. Enak deh ". Nia berusaha menyakinkan Aisakha. "Semua ini". Nia mengembangkan kedua tangannya, bermaksud untuk menunjuk berbagai jenis menu pilihannya di atas meja. "Adalah menu camkohaa Mas". Jempol Niapun kembali diangkatnya. "Artinya Mas, enak banget atau sangat lezat. Jadi camkohaa itu adalah ekspresi yang di berikan oleh masyarakat Kota Bengkulu atas hal-hal baik atau luar biasa, yang mereka jumpai, tapi juga bisa untuk mengekapresikan rasa kagum dan suka pada sesuatu seperti makanan ini, dengan cara mengangkat jempolnya seperti ini dan bilang camokohaa". Nia mempraktekan semua penjelasannya pada Aisakha.


γ€€


"Camkohaa ?" Aisakha mengulangi gerakan Nia.


γ€€


"Iya, iya..Mas benar". Nia bertepuk senang melihat apa yang dilakukan Aisakha barusan. Sementara Wulan, Resya, dan Anita di buat salah tingkah dengan ulah sepasang kekasih itu. Mereka senyum-senyum sendiri sambil menahan iri melihat kedekatan Nia dan sang Presdir. Bagaimana tidak, secara aura kasmaran Nia dan Aisakha terasa jelas, hingga membuat jiwa jomblo mereka meradang. Hahaha.


γ€€


Tetapi yang paling ajaib adalah Bowo. Bowo sangat tenang menatap Nia sambil tersenyum sendiri menyaksikan kebahagiaan yang jelas terpancar di wajah cantik yang sangat berseri itu.


γ€€


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2