
BAB 4
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Pagi yang cerah, secerah hati Nia saat ini. Sedikit senandung meluncur begitu saja dari bibir mungilnya, jelas hatinya sedang riang. Sebuah perasaan yang berhasil di dapatnya setelah bertemu Toni semalam. Keraguan akan kemungkinan yang akan timbul dari masa lalunya ternyata bisa hilang begitu saja, menguap entah kemana saat dirinya bisa ada di titik ikhlas. Sebuah pencapaian yang tidak pernah terpikir sebelumnya akan sanggup di lakukan Nia. Dan ternyata, cinta seorang Aisakha mampu membuat Nia mencapai titik tertinggi tersebut.
 
Lega..itulah yang di rasakan Nia di setiap rongga hatinya. Pikirannya benar-benar tenang, tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi perasaan terbuang, Nia sudah siap menyongsong masa depan. Sudah waktunya bagi Nia melangkah bersama sang pujaan hati untuk masa depan mereka.
 
"Yang lalu biarlah berlalu, masa lalu akan terus ada di belakangku. Sekarang waktunya bagi masa depanku, harapan baru untuk waktuku dan rumah tanggaku bersama suamiku ". Guman Nia sambil memandang wajahnya di cermin meja riasnya.
 
Nia melangkah memasuki kamar mandinya, bersiap untuk memulai paginya hari ini. Semalam Aisakha sudah berjanji, akan membawa Nia berkeliling di kantor pusat Sunjaya Company. Dan tentu saja Aisakha ingin memperlihatkan laboratorium baru untuk Nia besok, di saat mereka telah resmi menikah.
 
 
***************
 
Edo masih duduk di atas ranjangnya, mobil iring-iringan penganting sedang di persiapkan. Sesuai rencana 10 menit lagi semua rombongan mempelai pria akan datang ke hotel tempat acara sakral dalam hidupnya akan di laksanakan.
 
Edo memandangi sekeliling kamarnya, pikirannya sesaat mulai ragu.
 
"Apa memang ini yang aku inginkan ?" Tanya Edo pada dirinya sendiri.
 
"Dan kamu masih bisa membatalkan semua ini, percayalah pada Papa !" Sepertinya Edo tidak sadar kalau sang Papa sudah masuk ke dalam kamarnya yang kebetulan memang tidak di tutup.
 
"Masih ada waktu, tolonglah nak pikirkan !" Papa duduk persis di sebelah Edo.
 
Edo menatap sang Papa sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan, menatap jendela besar dengan pemandangan pohon di depannya.
 
"Buatlah keputusan penting bagi hidupmu Do, ini saatnya !" Sepertinya Papa masih tabah membujuk Edo.
 
Edo menarik nafas panjang, menahannya sesaat di rongga dada dan menghembuskannya perlahan. Edo mengulang hal ini beberapa kali, seakan-akan dia sedang butuh banyak oksigen demi bisa membuat sebuah keputusan.
 
"Pa...Aku akan tetap menikahi Kemala. Aku sudah janji, setidaknya aku harus menjaga nama baik keluarga kita ". Jawab Edo tanpa mau menatap mata sang Papa.
__ADS_1
 
"Kamu yakin ?" Tanya Papa penuh keraguan.
 
"Iya Pa, ini pasti yang terbaik !" Edo masih enggan menatap mata sang Papa.
 
"Do, jika memang ini keputusan kamu. Maka berusahalah ciptakan kebahagian kamu di hari-hari rumah tanggamu nanti. Tolong jangan sampe kamu ciptakan neraka baru bagimu nak. Karena yakinlah, sekali kamu masuk ke dalam neraka itu. Kamu akan terjebak selamanya di sana !" Nasehat singkat dan penuh makna dari sang Papa.
 
Ahh, sudah lama aku hidup di dalam neraka Pa. Semenjak wanita sial meninggalkanku, duniaku sudah hancur. Jadi tidak ada yang salah dengan satu neraka baru. Aku sudah terbiasa Pa.Â
 
Sementara itu...
 
"Aduh...itu mobil mantennya kenapa belum selesai di hiasi bunga sih ?" Suara Mama terdengar ribut di lantai 1. Entah bagaimana caranya sang Mama pagi ini sudah sehat seperti sehat seperti biasa, bagai tidak pernah terjadi apa-apa semalam, segar bugar dan bukan seperti sosok wanita lemah yang semalam habis pingsan mendadak.
 
"Tini, Tini.. ", teriak Mama keras memanggil pelayan yang bernama Tini.
 
"Ini tuh di sebelah sana !" Tunjuk Mama pada vas bunga tulip yang berada persis di dekatnya kearah sisi lain meja di dekat tangga.
 
 
***************
 
"Nanti malam kita kumpul yuk ". Sebelum keluar kamarnya Nia membaca notifikasi pesan masuk di handphonenya. Ternyata sebuah pesan masuk dari Toni.
 
"Ajak tuan Aisakha. Kita kumpul bareng. Aku mau kasih kejutan ke Dafi, Angga dan Ardi. Gimana ?" Nia melihat ada emoji kedua buah tangan terlipat seakan sedang bermohon.
 
"Aku gak janji ya Ton. Aku tanya suamiku dulu, wkwkwkw ". Ketik Nia cepat membalas pesan dari Toni sambil tersenyum geli sendiri.
 
"Wadaawwwww, suami. Ngeri nih ". Canda Toni pada pesan terbaru yang dikirimnya untuk Nia.
 
"Nyonya Aisakha bilang saja jujur, kalau kami para sahabatmu ini pengen ajak kamu dan suamimu kumpul bareng. Banyak cerita yang kita lewatkan selama 3 tahun ini. Kami semua rindu kamu Nia ". Nia membaca sebuah pesan baru di layar handphonenya.
 
"Aku coba ya Ton, bilang sama suamiku ". Ketik Nia segera sebagai balasan pesan Toni tadi. Sekarang Nia memenabg pipinya sendiri. Ada sensasi malu dan seru hanya dengan mengakui kalau Aisakha itu adalah suaminya. Meskipun candaan belaka, tapi bagi Nia sangat bermakna. Tanpa di sadarinya, Nia tersenyum semeringah dan memeluk benda kecil berwarna hitam itu di dadanya.
__ADS_1
 
Suamiiii....
 
"Siapa ?" Suara berat Aisakha mengagetkan Nia, membuyarkan semua senyum semeringahnya tadi. Bahkan, nyaris saja Nia menjatuhkan handphone di dalam gengaman tanganya itu saking kagetnya.
 
"Ini Toni sayang ". Kata Nia sambil bersusah payah menahan bunyi genderang jantungnya. Ternyata setelah di lihat langsung wajah si punya suara berat itu seakan penuh dengan rasa tidak senang, mendadak Nia menjadi ciut. Wajah sang kekasih sangat menyeramkan, sepertinya Aisakha sedang berusaha untuk tidak murkanya karena cemburu di puncak kepalanya.
 
"Apa perlu senyum-senyum seperti itu saat membaca pesan darinya ?" Suara Aisakha tersengar dingin di tengkuk Nia. Mendadak Nia kesulitan menelan sulivannya sendiri.
 
"Itu, itu semua karena Toni mengodaku sayang ". Jawaban polos Nia sukses membuat Aisakha hilang kesabaran, hingga merebut paksan handphone Nia dari tangannya.
 
Cepat Aisakha memeriksa semua isi chat sang kekasih dengan lelaki yang di kenal Aisakha sebagai sahabat Nia itu. Sejuta ancaman sudah di susun Aisakha andai dia menemukan tanda-tanda ketidak beresan dalam isi pesan Toni pada Nia.
 
Aku sudah memperingatkanmu Toni. Memandangi Nia saja aku larang, apa lagi mengirimi Nia pesan yang tidak-tidak. Akan kubuktikan padamu kalau aku bisa melakukan apa saja sebagai wujud rasa tidak senangku saat ada yang berani mendekati milikku. Tidak perduli kamu adalah sahabatnya sekalipun
 
Aisakha membaca satu persatu teks pesan di layar handphone Nia. Membaca pelan untuk memastikan uraian kata yang dipakai Toni tidak mengandung unsur perasaan sayang, layaknya lelaki dewasa pada pujaan hatinya.
 
Ehh..
Aisakha mengalihkan pandangannya dari layar handphone Nia langsung ke wajah Nia yang sepertinya sedang sibuk menatap lantai di bawah telapak kakinya itu, dengan bibir bawah yang sedang di gigit. Khas seorang Nia yang menahan malu.
 
Suami ya ? Hahahaha
Tawa Aisakha bangga di dalam hatinya.
 
"Ada apa di lantai ?" Tanya Aisakha kali ini dengan suara yang ramah, tidak seperti di awal.
 
Nia hanya mengelengkan kepalanya pelan.
 
"Suamimu ini di depanmu isteriku, bukan di bawah sana, di lantai. Jadi tolong tatap wajah suamimu ini !" Suara Aisakha di buat seromantis mungkin.
 
Dan sampai di sini, Aisakha bisa menebak kalau tingkat kadar rasa malu Nia sudah sampai di level 10. Sambil mempertahankan lehernya terus tertunduk, Nia mengerak-gerakkan kaki kanannya penuh salah tingkah dan mengigit bibir bawahnya menahan rasa malunya. Rasanya wajah Nia mendadak panas, padahal dia sedang tidak demam.
 
__ADS_1