SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
49


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


γ€€


"Kalau Pakde dan Bibi sudah paham, sekarang berkemaslah ! Tapi ingat, semua harus sealami mungkin, Nia tidak boleh curiga apa lagi sampai tahu !" Aisakha terlihat meminta kepastian dari Pakde dan Bibi sesaat sebelum mereka kembali ke belakang, ke kamar mereka.


γ€€


"Baik tuan ". Jawab Pakde dan Bibi bersamaan. "Tuan jangan ragu pada kemampuan akting kami ". Bibi menunduk hormat pada Aisakha sambil berlalu kembali ke arah dapur, ke kamar mereka.


γ€€


Aisakha menyakini kalau Pakde dan Bibi sudah meninggalkan ruang tamu apartemen sang kekasih. Sekarang waktinya bagi Aisakha untuk mengurus Bayu dan Dani. Di mata Aisakha, para pengawalnya ini sudah melakukan sebuah kesalahan, cukup fatal. Kalau di tanya pendapat Aisakha, kenapa ? Karen itu berhubungan dengan Nia, calon isterinya.


γ€€


"Siapa diantara kalian yang mau bicara ?" Mata biru Aisakha menatap lurua pada Bayu dan Dani, menunggu juru bicara di antara kedua pengawalnya itu bicara.


γ€€


Bayu dan Dani saling bersitatap, memberi kode dengan bahasa batin mereka agar segera menjawab pertanyaan sang tuan. Mereka saling tunjuk dalam kebisuan masing-masing.


γ€€


"Kris !" Ternyata Aisakha mulai bosan menunggu, hingga akhirnya si sekretarislah yang si minta melanjutkan seso wawancara itu.


γ€€


"Jangan diam saja ! Apa kalian mau ini adalah hari terakhir kalian bekerja ?" Ancam Kristo sepenuh jiwa. "Jangan pikir karena ini di rumah nona, lantas kalian akan selamat dari tuan !" Mendadak Bayu dan Dani merasa dingin di bagian kuduk mereka. Ancaman Kristo terlalu horor bagi mereka.


γ€€


"Tuan ", setengah memaksakan diri dengan semua keberaniannya, Danipun memilih menjawab.


γ€€


Jujur sajalah. Toh ada Bayu saksinya, kalau aku juga yang salah menurit tuan, berarti memang nasibku benar yang jelek. Dani.


γ€€


"Tuan, saya sudah melaksanakan tugas yang tuan perintahkan ", Dani berhenti sesaat. Mendadak oksigen di dalam paru-parunya habis. Dani perlu waktu untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lagi. Dia harus bernafas normal.


γ€€


"Saya dan Bayu sudah memulai jam kerja kami dari pukul 5 pagi. Bayu masuk ke dalam dan saya berdiri di depan pintu. Hingga saat pukul 06.30, nona menyuruh Bayu memanggil saya masuk ! Saya di suruh berjaga dari sisi dalam dan nona memilihkan posisi di sini ". Dani menatap Dani, meminta dukungan temannya itu untuk membenarkan semua cerita yang telH disampaikanny kepada sang tuan.


γ€€


"Dan tepatnya setelah nona sarapan, nona langsung menjelaskan kepada saya. Kalau saya berjaga di sisi dalam pintu, nona melarang saya di luar dan menurut nona itu berlaku dari sekarang ! Saya sudah menjelaskan tuan, tidak demikian keinginan tuan, tapi kata nona. Tolong jangan bantah beliau !" Dani masih sesekali menatap Bayu, dirinya samgat perlu pembenaran dari Bayu untuk semua yang disampaikannya barusan.


γ€€

__ADS_1


"Benar tuan ", akhirnya Bayu pun berani bersuara. "Semua perintah nona. Saya sendiri sudah menjelaskan pada nona, tapi nona meminta supaya kami mematuhinya ". Jelas Bayu sambil tertunduk.


γ€€


"Menjelaskan itu saja sangat sulit ". Aisakha terlihat menganggukkan kepala. Dia bisa menebak apa gerangan penyebab Nia meminta Dani pindah, berjaga di dalam. Pasti karena kasihan, kasihan kalau Dani harus berdiri lama di luar sana.Β Itukan memang sifatnya, ngampang iba. Bidadariku mana tegaan orangnya, Nia...Nia.....


γ€€


"Selama itu tidak membuat kinerja kalian menurun, patuhi saja ! Tapj ingat, kalau itu bisa berdampak pada keselamatannya, maka jangan coba-coba membantah apa yang saya suruh ! Atau kalian akan menyesal selamanya !" Ancam Aisakha membuat Bayu dan Dani semakin ngeri saja.


γ€€


***************


γ€€


Mama sebenarnya tidak terlalu senang, harapannya belum bisa dikatakan sukses, Paman dan Bibi Nia sampai terakhir dirinya berpamitan pulang tadi hanya memberi jawaban di angka 3 minggu, bukan 2 minggu seperti keinginannya.


γ€€


Tetapi apa mau di kata, satu sisi Mama bisa memahami semua penjelasan penolakan dari keluarga Nia tadi. Semua karena mereka ingin bisa berpartisipasi dalam acara sakral Nia, mereka semua menyayangi calon menantunya itu.


γ€€


Tiga minggu bukanlah waktu yang lama, aku yakin Sakha bisa terima itu.


Satu minggu ini akan Sakha dan Nia habiskan di Jakarta, minggu kedua aku bisa konsentrasi ke persiapan pernikahan mereka. Minggu ketiga hingga sampai hari-H aku bisa siapkan segala bentuk penyambutan Nia dalam keluarga besar kami.Β 


Ya, rasanya cukup baik...aku bisa terima usul dari keluarga Nia. Aku setujui saja semua itu, dari pada satu bulan ?


γ€€


Mama mengangguk pelan, akhirnya hati kecil Mama bisa menerima usul Paman dan Bibi Nia tentang tanggal pernikahan Nia yang dimajukan seminggu lebih cepat dari rencana awal kedua belah keluarga.


γ€€


"Sudahlah...lebih baik aku mampir ke butik langgananku. Sakha bilang tadi mau bawa Nia ke rumah, aku mau membelikan calon menantuku itu sebuah hadiah. Hadiah yang sangat indah dan elegan jika di pakai oleh Nia ". Guman Mama pelan sambil tersenyum-senyum sendiri di bangku bagian belakang mobil yang tengah membawanya memecah laju lalu lintas Kota Bengkulu saat itu.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


"Kali ini jangan coba-coba marah padaku !" Toni sudah duduk santai di sofa singel di seberang meja kerja Edo. Pagi ini Toni sengaja datang mengunjungi sahabat baiknya itu, setelah menerima telepon dari Edo yang memintanya untuk datang.


γ€€


"Kau selalu saja membuat aku kaget. Masuk main nyelonong, ketok pintu dulu napa ?" Edo tertangkap basah oleh Toni sedang termenung. Jelas-jelas Toni sudah mengetuk beberapa kali pintu ruang kerja Edo. Tetapi sayang, ketukannya diabaikan saja oleh Edo, Edo sama sekali tidak mendengar kedatangannya.


γ€€

__ADS_1


"Kalau begitu segeralah periksa jantungmu ke dokter spesialis. Aku takut kamu mulai mengidap penyakit berbahaya ". Toni terlihat memasang tampang serius. "Kau terlalu sering melamun, sepertinya penyakit melamumu mulai akut. Hahaha ". Tawa senang Toni bisa mengejek Edo sahabatnya itu


γ€€


"Sialan kau Ton ". Upat Edo kesal.


γ€€


"Ada apa pagi ini kau memintaku datang ? Apa ini ada hubungannya dengan isi lamunanmu tadi ?" Tebak Toni Kemudian.


γ€€


"Kemala ". Jawab Edo singkat sambil berjalan meninggalkan kursi kerjanya, menuju ke arah Toni.


γ€€


"Dia baru saja dari sini ", Edo sudah duduk di singel sofa persis di sisi kanan Toni.


γ€€


"Tumben ?" Tanya Toni heran.


γ€€


"Dia membujukku membatalkan pernikahan kami, di bilang pernikahan tanpa dasar saling mencintai ini tidak akan berhasil ". Edo memberi sedikit penjelasan pada Toni.


γ€€


"Oyaaa?" Ekspresi Toni tidak Percaya.


γ€€


"Baguslah kalau begitu, berarti masih ada yang waras di antara kalian berdua. Masih ada pihak yang berpikir jauh tentang masa depan kalian ". Ucap Toni lancar.


γ€€


"Kurang ajar kau Toni ".Β  Suara Edo terdengar kesal.


γ€€


"Santai bro, santai ! Jangan emosian gituh dong ! Aku kan cuma kagum saja sama kewarasan Kemala. Kenapa malah kau marah ?" Toni memang terlihat cukup santai.


γ€€


"Dia memintaku belajar mencintainya, sedikit saja . Begitu tadi bilangnnya ". Edo terlihat mengeleng pelan.


γ€€


"Lantas ?" Toni mulai memasang tampang serius.


γ€€


"Ya mana mungkin. Kamukan juga tahu, kalau aku tidak mencintainya. Jadi jangan mimpi bisa mendapat cinta tulus dari aku ". Edo memasang tampang acuh.

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2