SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
22


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Hampir 40 menit Bowo menjalankan laju stir mobil dalam diam, tidak dirinya tidak Nia. Mereka berdua sama-sama duduk dalam diam masing-masing. Bowo fokus memastikan kemudi mobil berjalan baik membelah lalu lintas Kota Bengkulu dengan selalu stabil dan aman. Sesekali dengan sudut matanya Bowo berusaha melirik ke arah Nia, Nia hanya diam memandang keluar dari jendela tepat di sisi kiri bahunya.


γ€€


Kepala mobil berbelok ke sebuah gang, kecepatan mobil di turunkan, Nia masih bisa melihat ada 2 buah rumah bercat putih dan hijau tepat di sisi kanan dan kiri gang masuk.Β Kemana ini ?


γ€€


Mobil kembali melaju seperti kecepatan di awal, Nia masih saja sibuk memperhatikan melalu kaca mobil,Β kok pelan lagi ?


γ€€


Nia mengalihkan pandangannya, dari sisi kiri kaca ke bagian depan kaca mobil. Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat.Β Nia membaca susunan huruf di sisi kanan gerbang masuk tepat di ujung gang yang mereka masuki tadi.


γ€€


"Kenapa kita ke sini ?" Sekarang Nia mulai bersuara sambil terus memperhatikan sekeliling dari kaca depan mobil.


γ€€


"Aku akan memberitahu kamu sebuah rahasia Nia ". Jawab Bowo sambil menurunkan kaca mobil di sebelah tangan kanannya.


γ€€


"Ooo, Bapak rupanya ". Sapa seorang lelaki muda berseragam security saat melihat sosok Bowo tersenyum ramah padanya. "Silahkan Pak, langsung saja ".


γ€€


"Baik, permisi ya Pak ". Bowo kembali menjalankan mobilnya.


γ€€


"Kamu sering ke sini ?" Nia heran mendapati sikap ramah security tadi pada Bowo, seakan-akan mereka sudah saling kenal cukup lama.


γ€€


"Ya ". Jawab Bowo sambil menatap Nia yang kebetulan juga sedang menatap kearahnya.


γ€€


"Ngapain, buat apa ?" Nia tidak bisa mencerna maksud semuanya.


γ€€


"Saat kita di dalam, aku akan ceritakan semuanya, aku janji. Aku mohon kamu jangan takut, sungguh aku tidak memiliki niat buruk padamu. Aku mohon, percayalah Nia !" Bowo pun memilih memarkirkan mobilnya di bawah pohon kelor yang cukup rindang.


γ€€


"Tapiiiiiiii ". Nia mendadak sangat ragu.


γ€€


"Kenapa ?" Bowo melihat ada keraguan di mata Nia, melebihi tingkat ragu di awal sebelum mereka berangkat.


γ€€


"Ini, tempat ini ". Nia terus memperhatikan sekelilingnya. Seumur-umur ini kali pertama bagi Nia menempuh gerbang sebuah Rumah Sakit yang menurut orang awam seperti dirinya cukup memiliki kesan mendalam dengan konotasi agak membuat kuduk berdiri. Jujur, Nia mulai takut. Perlahan dia mulai merutuki diri sendiri karena dengan bodohnya mau saja percaya pada Bowo, mengikuti Bowo hingga sejauh ini padahal di sebenarnya meragukan niat baik Bowo. Sekarang, lihat dimana dia berakhir. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya.


γ€€


"Bersiaplah, aku sudah membawanya ! Kami akan segera masuk ". Bowo baru saja mematikan teleponnya. Tanpa di sadari Nia, Bowo sudah berdiri di sisi pintu mobil tempatnya duduk.


γ€€


"Turunlah !" Bowo membantu Nia membuka pintu mobil.


γ€€


"Siapa tadi ? Kamu telepon siapa ?" Nia menolak turun.


γ€€


"Ikut aku, maka kamu akan tahu semuanya !" Bowo semakin misterius.


γ€€


"Tidak, aku mau kembali ke kantor. Cepat antar aku kembali !" Nia meraba saku celana kerjanya, mencari sesuatu.Β Hapeku....? Astaga, hapeku sama Damar. Aku lupa, gara-gara pengen bisa lepas dari kawalan Damar, aku malah melupakan benda penting itu. Sekarang bagaimana ? Ya Tuhan ? Aku harus apa ?

__ADS_1


γ€€


"Kamu tidak akan pernah aku antar kembali sebelum kita masuk ke dalam ". Bowo masih bersikeras meminta Nia turun dari mobil dan ikut dengannya masuk ke dalam Rumah Sakit tersebut. "Cepat turun !"


γ€€


"Wo, tolong, bawa aku kembali ". Nia sudah pada titik ketakutan terdalamnya.


γ€€


"Susah payah aku membawamu kemari Nia, sebelum semua selesai aku tidak akan mengantarmu kemana-mana apapun yang terjadi ". Jawab Bowo sangat yakin.


γ€€


γ€€


***************


γ€€


Empat puluh menit yang lalu...


γ€€


Mungkin sudah lewat 2 menit Damar menunggu di depan pintu pantry. Sesekali Damar melirik jam tangannya, ada tanda tanya di hatinya tentang Nia. Apa gerangan penyebab Nia masih belum juga kembali dari toilet. Sedikit penasaran, tetapi dirinya cukup segan jika harus masuk ke dalam memeriksan keadaan Nia. Damar mulai gelisah menimbang apa yang harus di lakukannya.


γ€€


Panggilan masuk terdengar di handphone Damar, ternyata Satriyo si penelepon yang menyebabkan handphonenya terus berdering.


γ€€


"Ya ". Ucap mulut Damar begitu menerima panggilan masuk dari Satriyo.


γ€€


"Dimana ? Apa gak jadi ? Aku dan Pakde sudah lama menunggu ". Ternyata Satriyo dan Pakde masih berada di parkiran persis di dekat gedung laboratorium.


γ€€


"Nona sedang di toilet, tunggulah sebentar lagi. Enggak mungkin gak jadi, nonakan sudah janjian sama Profesor dan teman-temannya ". Jawab Damar cepat.


γ€€


γ€€


Damar kembali menunggu, sambil terus menenteng tas kerja Nia, Damar bertahan menunggu sampai sang nona menghampirinya.


γ€€


Lima lebih menit berlalu, perasaan Pakde mulai tidak tenang. Benaknya dipenuhi tanda tanya, kemana majikan kecilnya kenapa tidak muncul juga, apa Nia membatalkan rencana makan siangnya bersama Profesor Yandi dan para sahabatnya ? Sebuah pertanyaan mulai menghiasi batinnya.


γ€€


"Pak, apa semua baik-baik saja ? Kenapa si non enggak juga ke sini ?" Pakde khusus mendekat ke arah Satriyo hanya untuk mencari tahu keadaan Nia.


γ€€


"Kalau memang enggak jadi pergi, kenapa si non enggak bilang ke saya ya ?" Pakde masih terus bertanya pada Satriyo.


γ€€


"Saya juga enggak tahu Pakde. Sebentar, saya hubungi Damar dulu ". Cepat Satriyo menekan nama Damar yang telah di temukannya pada layar handphonenya.


γ€€


"Mana nona ?" Begitu tahu Damar telah menerima panggilannya, Satriyo langsung bertanya.


γ€€


"Sepertinya masih di toilet ". Jawab Damar ragu.


γ€€


"Di toilet ? Ini sudah lebih 5 menit Damarrrrr ". Suara teriakan Satriyo membuat Damar kembali gelisah.


γ€€


"Lantas mau kamu, aku gimana ?" Tanya Damar serba salah.


γ€€

__ADS_1


"Ya lihat, cari tahu apa masalah nona sampai begitu lama di dalam sana !" Jawab Satriyo kesal


γ€€


"Kamu pikir aku mau cari mati masuk ke sana. Tahu tuan, habis sudah nyawaku yang cuma satu ini ". Tolak Damar keras.


γ€€


"Kamu kok bodoh amat Damar ?" Satriyo mulai terlihar kesal. "Kan tinggal cari siapa gituh wanita di sekitar sana. Minta tolong cek ke dalam. Masa itu kamu nggak bisa juga ". Degus Satriyo kesal sambil merutuki kebodohan Damar dalam hatinya.


γ€€


"Ooo...iya, iya aku ngerti ". Jawab Damar cepat. "Jangan matikan teleponmu, aku cari orang dulu buat di suruh periksaΒ  ke dalam !"


γ€€


Dari telepon yang masih melekat di telinganya,Β  Satriyo bisa mendengar suara derap langkah kaki Damar, sepertinya Damar berjalan sangat tergesa-gesa, tebak Satriyo.


γ€€


"Maaf, boleh saya minta tolong ". Satriyo mendengar suara Damar sayup-sayup di ujung telepon.


γ€€


"Iya boleh. Apa ?" Sepertinya Damar sudah menemukan seorang Wanita.


γ€€


"Saya minta tolong, tolong cek toilet wanitanya. Bagaimana keadaan di dalam sana !" Satriyo masih terus mendengarkan suara Damar mengajukan permintaan.


γ€€


"Kenapa memangnya ?" Bisa di tebak, wanita yang di minta tolong oleh Damar tidak serta merta langsung mau menolong Damar.


γ€€


"Nona saya tadi masuk ke toilet itu, sudah cukup lama dan belum juga keluar. Saya pengawalnya, tapi enggak mungkinkan saya nyelonong masuk ke toilet wanita ?" Damar mencoba menjelaskan situasi yang dihadapinya.


γ€€


"Ooo, baik, baik..ayo ! Saya akan bantu kamu ". Sekarang Satriyo mendengar 2 pasang langkah kaki yang berjalan cukup cepat.


γ€€


"Tunggulah, saya akan periksa ke dalam !" Satriyo mendadak gelisah menunggu di ujung telepon.


γ€€


"Gimana ?" Pakde ternyata lebih tidak sabaran dari Satriyo.


γ€€


"Sebentar Pakde, lagi di cek. Tunggu ya !" Suara pelan Satriyo pada Pakde. Pakde pun mengangguk-angukan kepalanya patuh.


γ€€


Beberapa saat berlalu....


γ€€


"Kosong Pak, di dalam tidak ada siapapun ". Setengah berteriak si wanita yang di minta Damar mengecek kondisi toilet langsung berlari kearah Damar. "Sudah saya periksa semuanya. Enggak ada siapa-siapa ". Satriyo mendengar suara si wanita yang terdengar sangat yakin.


γ€€


Ga, gawat.....


γ€€


"Damar, Damarrrrrrrr ". Satriyo berteriak sekuatnya di telepon.


γ€€


"Kau sudah dengar ?" Dapat di bayangkan bagaimana kalutnya Damar saat ini.


γ€€


"Masuk, cepat masuk. Periksa setiap inci, mungkin ada petunjuk ! Aku akan ke tempatmu sekarang !" Tanpa memberitahukan apa yang terjadi pada Pakde, Satriyo berlari cepat.


γ€€


"Loh, lohhhh...mau kemana ? Pakkkkkkkkk ". Pakde berteriak memanggil Satriyo, tapi sayang yang di panggil terus saja berlari tanpa memperdulikan lelaki tua itu yang terlihat sudah sangat panik.

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2