
🌈🌈🌈🌈🌈
 
 
Aisakha berjalan ke arah kamarnya setalah beberapa saat tadi Kristo meninggalkannya sendiri di ruang baca, dia harus menenangkan diri, perasaannya sedang tidak menentu saat ini. Rasanya dia sangat marah dan di lain pihak dia juga sangat takut. Semua sedang campur aduk, memutari kepalanya, membuat dirinya serasa sulit bernafas.
 
Entah kenapa waktu bisa berputar begitu cepat di sekitarnya, dalam hitungan jam semua bisa berubah antah barantah. Baru saja merasakan senang tidak terkira hingga dirinya pun tidak henti-henti bertanya tentang kebaikan yang telah dilakukannya semalam. Hingga Tuhan begitu baik padanya, tepatnya beberapa saat tadi. Kekasih hatinya dengan wajah merona merah berani mengungkapkan isi hatinya. Nia, di depan semua keluarga besarnya menyatakan cintanya pada dirinya, hanya pada dirinya seorang. Aisakha baru saja berbangga hati, penantiannya tidak sia-sia, kesabarannya berbuah manis. Nia mengakui kalau detik itu hingga kedepannya, dirinya, hidupnya, hatinya hanya milik seorang Aisakha.
 
Dan sekarang, selang waktu berjalan, kenapa harus muncul sosok lelaki yang dulu pernah mengisi hati Nia, hidup Nia ? Kenapa harus di saat Nia telah yakin dengan dirinya, lelaki itu malah bisa menemukan Nia begitu mudahnya ? Langkah Aisakha pun terhenti tepat di depan pintu kamar Nia. Perlahan Aisakha menempelkan keningnya di sana, perasaannya sedang kacau saat ini.
 
Kamu miliki Nia, kamu hanya milikiku...aku mohon jangan tinggalkan aku...aku tidak tahu bagaimana cara hidup di dunia ini, jika kamu pergi dari sisiku.
 
 
 
Meskipun waktu sudah sangat malam, tetapi Pakde dan Bi kartik masih terlihat bersemangat dengan pekerjaan mereka. Pakde menata dan sang isteri bertugas sebagai komentatornya.
 
Seperti saat ini....
 
"Bapakkkkkkkk, itu ke kiri sedikit !" Suara Bi karti setelah menimbang hasil pekerjaan sang suami.
 
"Seperti ini ?" Tanya Pakde setelah mengeser sedikit barang yang sedang di tatanya ke arah petunjuk si isteri.
 
"Emmm, agak 2 centi lagi deh Pak ! Kalau itu masih belum ". Lagi terdengar suara Bibi memberikan arahan pada Pakde.
 
"Kalau begini Bu ?" Sekarang Pakde sudah mengeser ulang tatanan barang yang berada di tangannya persis seperti permintaan si isteri.
 
"Sebentar !" Bi karti diam memandang hasil akhir pekerjaan Pakde.
 
"Pas...sudah pas Pak ". Suara Bi Kartik terdengar senang.
 
"Itu pasnya menurut Ibu, apa berdasarkan gambar ?" Tanya Pakde sambil berjalan mendekat ke arah sang isteri.
 
"Ya berdasarkan gambar dong Pak ". Jawab Bi Karti sambil memperlihatkan selembar kertas di tanganya yang berisi sebuah gambar. Pakde pun membandingkan antara gambar tersebut dengan hasil kerjanya.
 
"Gimana ?" Tanya Bibi sambil menatap wajah sang suami.
__ADS_1
 
"Iya..sudah pas ". Pakde tersenyum senang.
 
"Yang lainnya besok saja Pak, sudah malam. Kita lanjutkan besok !" Bibi mulai merapikan beberapa lembar kertas yang memenuhi meja di dekat kakinya.
 
"Menurut Ibu apa semua ini bisa selesai sebelum hari pernikahan si non dan tuan ?" Pakde ikut membantu sang isteri memisahkan antara lembar kertas yang telah di beri tanda silang dan yang tidak bertanda.
 
"Bisa Pak, pasti bisa. Kan hanya beberapa poin saja lagi. Kalau untuk depan, kita sudah sepakat sama den Kristo. Dia akan memberikan kita tanaman yang sudah berbunga ". Jawab Bibi sambil mengusap-usap punggung tangan Pakde, Bibi sedang menyakinkan Pakde.
 
"Tapi piano Bu ?" Pakde sepertinya masih saja ragu.
 
"Pianokan bukan tugas kita mencarinya Pak, kita hanya menatanya saja saat pianonya sudah datang ", ucap Bibi sambil menyatukan semua lembar kertas yang ada di tanganya dan yang ada di tangan sang suami.
 
"Bapak kok ya khawatir saja Bu, takut-takut nggak terkejar semuanya ". Ucap Pakde sambil mengeleng pelan.
 
"Bapak jangan ragu, jangan khawatir. Semua pasti selesai sebelum si non menikah. Ini semua akan menjadi kado terindah dari tuan untuk si non ". Bibi pun meletakkan telapak tangannya di pipi tua sang suami. Pakde tersenyum, sepertinya ucapan Bibi itu, ampuh mengusir kekhawatiran di dalam hatinya.
 
"Ayoooo Pak, kita istirahat. Supaya besok kita bisa lebih semangat lagi mempersiapakan semua ini ". Bibi pun mengandenga tangan Pakde, sepasang suami isteri yang sudah lama mengabdi kepada Nia ini saling tersenyum bahagia. Akhirnya, majikan kecil kesayangan mereka akan segera menikah.
 
 
 
 
Sementara itu...
 
Edo baru saja memarkirkan mobilnya di garase besar rumah keluarganya. Jelas malam ini Edo sengaja pulang terlambat, Edo sengaja menjalankan laju kendaraannya entah kemana, memutari sudut Kota Jakarta seakan sedang mencari sesuatu yang dirinya sendiri ragukan kebenarannya.
 
"Lama sekali baru pulang Do ?" Tanya Papa saat tahu Edo berjalan melaluinya begitu saja di ruang keluarga.
 
"Papa ?" Edo terlihat kaget.
 
"Hey...kamu kenapa nak ? Sebegitu kagetnya melihat Papa ?" Tanya Papa sambil berjalan ke arah Edo.
 
"Maaf Pa, aku gak liat kalau Papa ada di sana tadi ". Jawab Edo pelan.
 
__ADS_1
"Ikut Papa !" Papa pun mengajak Edo ke arah meja makan. "Duduk !" Ucap Papa menunjuk sebuah kursi, lalu Papa juga ikut mendudukan dirinya persis di depan Edo.
 
"Ada apa ?" Tanya Papa tanpa ragu pada Edo. Jelas Papa melihat ada yang tidak beres dengan anaknya, nalurinya sebagai seorang ayah bisa dengan mudah mengetahui hal itu.
 
"Aku ragu Pa ", jawab Edo tanpa menguraikan jelas kata-katanya.
 
"Dooo, kan sudah Papa bilang, kalau kamu tidak mau, maka pernikahan ini akan dibatalkan ! Papa gak mau kamu menyesal dengan keputusanmu ". Jawab Papa lantang.
 
"Pa...... ", mendadak suara Edo terdengar bergetar.
 
"Do, kamu kenapa ?" Cepat Papa beranjak dan berjalan ke arah Edo, Papa berdiri di samping Edo yang sudah menunduk, menyembunyikan mukanya pada lipatan tangannya di atas meja.
 
Papa melihat bahu Edo berguncang, Edo hanya diam tanpa kata.
 
"Ada apa Do ?" Tanya Papa lembut sambil mengusap-usap kepala Edo. Jauh di dalan hatinya, sang Papa merasa sangat iba pada keadaan anak semata wayangnya itu. "Bicaralah nak, kasih tahu Papa !"
 
"Pa, kenapa aku tidak bisa melupakannya ? Bahkan di saat aku akan segera menikahpun, aku tidak juga bisa melupakannya ?" Tanya Edo dengan suara pelan, tahulah sang Papa, Edo sedang menangis sekarang.
 
"Kamu masih mencintai Nia, nak ?" Tanya Papa cepat. Tidak sulit bagi Papa menebak sosok dia yang di maksud Edo tadi, jelas Papa tahu siapakah gerangan wanita yang sampai detik ini tidak pernah bisa dilupakan anak tunggalnya itu.
 
"Aku lelah Pa, aku juga ingin bahagia. Tapi kenapa dia selalu saja muncul di kepalaku ?" Bukan menjawab pertanyaan sang Papa, Edo malah kembali bertanya.
 
"Berarti kamu masih mencintainya Do ", jawab Papa tegas, Papa sangat yakin dengan perasaannya.
 
"Aku membencinya Pa, dia wanita jahat ", tolak Edo pada jawaban sang Papa.
 
Nia tidak jahat nak, Mamamulah yang jahat..
Harta, status sosial, asal usul keturunan lebih penting baginya. Sehingga tega membuat kamu jadi seperti ini.
 
"Kalau kamu ingin mendapatkan kebahagiaanmu, maka lupakan Nia ! Ikhlaskan dia dengan hidupnya sekarang, berhentilah membencinya, karena itu semua percuma !" Perintah Papa pada Edo.
 
"Tidak, aku tidak akan mengikhlaskan semua yang dia perbuat padaku Pa. Aku akan membuat perhitungan dengan wanita sial itu ". Tolak Edo dengan suara lantang. Edo mengangkat mukanya dan menghapus asal sisa air matanya, dia harus kuat. Hatinya sibuk menyoraki Edo memberi semangat, ya...dia harus kuat.
 
"Aku akan menampar wajah sok lugunya itu sampai puas, agar dia tahu seperti apa sakitnya aku atas semua perbuatannya padaku Pa ". Sang Papa hanya bisa menarik nafas dalam saat mendengar semua upat marah Edo yang di yakininya akan sangat di sesali Edo saat sebuah kebenaran terungkap.
__ADS_1