SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 117


__ADS_3

Bibi Ros (1)


🌈🌈🌈🌈🌈


 


"Kamu kenapa?" Aisakha masih merangkul erat Nia.


 


Kristo semakin membesarkan lototan matanya kearah dua pengawal yang sudah membeku terdiam saking takutnya. Lihat ulah kalian, kira-kira begitu arti tatapan marah Kristo pada pengawal yang sudah membuat Nia berubah pucat.


 


"Aku enggak papah Mas, cuma sedikit pusing". Jawab Nia jujur.


 


"Kita obatin dulu ya". Aisakha sangat khawatir melihat wajah Nia yang mulai memutih.


 


"Enggak usah Mas. Aku gak papah, cuma pusing aja. Mas jangan cemas ya". Bujuk Nia sambil berusaha tersenyum.


 


"Kamu yakin?" Aisakha masih merasa khawatir.


 


"Beneran". Nia memeluk Aisakha untuk membuat kekhawatiran sang kekasih mereda.


 


"Okeh, tapi kalau tambah sakit bilang ya. Gak boleh di tahan". Aisakha menatap serius pada Nia.


 


"He-eh". Jawab Nia sambil mengangguk pelan.


 


"Apa maksud kalian tadi". Sekarang Aisakha sudah beralih ke arah dua orang pengawalnya, suaranya terdengar dingin. Membuat dua orang pengawal yang sudah ketakutan menjadi semakin ciut, tangan mereka mulai terasa dingin.


 


"Tuan". Sambil berusaha menarik nafas panjang demi membuat dirinya bisa sedikit tenang, pengawal berdasi kotak-kotak kembali berbicara. "Subuh, kami di kagetkan dengan teriakan tuan tersebut. Dia minta tolong karena isterinya mendadak kejang. Walaupun sudah di pegangnya kedua bahu si isteri, tetap saja tidak mereda kejangnya".


 


"Bibi". Nia menutup mulutnya, pikiran buruk mulai melanda.


 


"Tenang ya". Bujuk Aisakha saat tahu reaksi Nia mendengar penjelasan para pengawal.


 


"Dimana Bibi saya sekarang?" Dengan mata berkaca-kaca Nia bertanya.


 


"Sekarang sedang di ruang operasi nona". Jawab pengawal berdasi kotak-kotak pelan.


 


"Ya Tuhan". Nia mulai panik.


 


"Sudah-sudah, kita lihat Bibi ya". Aisakha berusaha membujuk Nia.


 


Rasanya tenaga Nia mulai berkurang, dia hanya bisa mengangguk pelan mengikuti ajakan Aisakha. Melintas berbagai kemungkinan buruk yang perlahan memenuhi isi kepalanya.


 

__ADS_1


"Urus mereka!" Perintah tegas Aisakha pada Kristo.


 


"Baik tuan". Kristo pun membukakan pintu utama Rumah Sakit mempersilahkan sang tuan dan Nia masuk.


 


"Tuan".


"Tuan".


"Tuan".


Silih berganti, para medis dan staf Rumah Sakit menyapa Aisakha. Mereka memang sengaja berbaris panjang menyambut kedatangan Aisakha, saat tahu kalau pemikik Rumah Sakit itu akan datang.


 


"Tuan". Seorang dokter paruh baya berjalan mendekat ke arah Aisakha.


 


"Anda salah satu tim dokter Bibi Ros, bukan?" Aisakha merasa ingat siapa sosok yang sekarang berdiri di depannya itu.


 


"Benar tuan. Saya dokter Yoga". Jawab dokter ramah.


 


"Ada apa dengan Bibi Ros?" Aisakha langsung mengajukan pertanyaan.


 


"Subuh tadi Nyonya Ros mengalami shock, tuan". Jawab dokter sambil memandang Aisakha dan Nia bergantian.


 


"Maaf nona, ada terlihat kurang baik?" Dokter menyadari kalau wajah Nia sedikit pucat.


 


 


"Tuan, bagaimana kalau kita periksa kondisi nona?" Dokter bersimpati pada Nia.


 


"Tidak usah dok. Terima kasih. Tolong bawa saya ke tempat bibi". Nia menolak tawaran dokter.


 


"Sayang, sebentar saja ya. Kamu di periksa dulu. Setelah itu kita lihat Bibi!"


 


"Tapi Mas?" Nia masih menolak.


 


"Sebenar, percaya sama aku". Aisakha tersenyum pada Nia.


 


Nia pun pasrah, rasanya percuma menolak keinginan Aisakha. Dari pada berlama-lama berdebat untuk menolak, akhirnya Nia memilih mengiyakan saja keinginan Aisakha. Setidaknya dengan mengiyakan permintaan Aisakha, maka akan semakin cepat dirinya bisa melihat Bibi.


 


Dokter Yogi meminta kepada seorang perawat untuk membawakan kursi roda agar dapat di gunakan oleh Nia. Hingga, "mari tuan". Dokter bersama beberapa para medis berjalan mengantarkan Aisakha dan Nia yang telah duduk di kursi roda keruang periksa.


 


****************


 


"Kenapa kalian begitu bodoh?" Kristo terlihat marah saat sedang berbicara dengan dua orang pengawal yang mendapat tugas menemani Paman Nia, di parkiran.

__ADS_1


 


"Maafkan kami tuan". Sekarang giliran teman si dasi kotak yang berbicara. Mewakili diri mereka berdua. "Kami sudah mau menghubungi tuan. Tetapi tuan itu melarang kami, dia memaksan kami untuk tidak mengabari tuan Aisakha". Si pengawal berusaha menceritakan semuanya.


 


"Dan kalian mengiyakan begitu saja?" Kristo mengangkat kedua tanganya keudara, tidak percaya.


 


"Kami di paksa tuan. Kata beliau itu, tuan Aisakha sedang fokus pada kesehatan calon isterinya. Kami di larang menganggu". Si pengawal sangat putus asa.


 


"Hey, kalian itu sudah dapat perintah dari tuan Aisakha. Jadi, seharusnya kalian dengarkan. Sepertinya kalian tidak sayang masa depan kalian?" Kristo menatap tajam.


 


"Ampun tuan, kami mohon. Ampuni kami. Kami salah tuan, tolong ampuni kami". Spontan pengawal berdasi kotak-kotak berbicara. Rasanya dunianya sudah runtuh mendengar ucapan Kristo barusan.


 


"Saya saja sangat kecewa pada kalian, apalagi tuan Aisakha". Kristo berbicara membelakangi kedua orang pengawal.


 


Serta merta merasa sudah tidak ada harapan lagi, kedua pengawal tersebut kompak tanpa di komandoi langsung bersimpuh di hadapan Kristo. Mereka benar-benar memohon kesempatan kedua pada Kristo, demi masa depan kehidupa mereka.


 


***************


 


"Dok, bagaimana kondisi Bibi saya? Kenapa Bibi di bawa ke ruang operasi?" Nia segera mengajukan pertanyaan yang sangat menganggu pikirannya begitu dokter selesai memeriksanya. Sedang Aisakha membantu Nia kembali duduk di tempat tidur dia diperiksa tadi dengan meletakkan tubuh Nia bersandar di dadanya.


 


"Oo..iya, maaf. Saya belum selesai memberi penjelasan tadi". Dokter tersenyum pada Nia. "Nona tidak perlu kawatir, Bibi nona baik-baik saja".


 


"Kalau baik, kenapa bisa di ruang operasi sekarang?" Nia tidak mengerti.


 


"Nona, tekanan darah anda rendah. Anda sepertinya kurang istirahat ya dan sepertinya terlalu memikirkan kondisi Bibinya?" Dokter mencoba menebak.


 


"Benar dok. Semalam juga kondisi suhu tubuhnya sangat panas, setelah di beri obat, di kompres air hangat dan beristirahat. Pagi sudah mulai membaik, tetapi sekarang dokter lihat sendirikan". Aisakha membenarkan dugaan dokter.


 


"Nona, kalau boleh saya sarankan. Jagalah kesehatan nona! Saya tahu nona sangat cemas, ya...itu wajar. Kecemasan nona itu sebagai wujud bakti nona pada sang Bibi. Tapi, kalau terlalu cemas hingga membuat imun tubuh kita menurun, itu sangat tidak baik. Nona juga harus memikirkan diri nona, demi Bibinya". Sabar dokter mencoba memberi nasehat pada Nia.


 


Nia tertunduk diam, perasaannya menjadi tidak enak. Percaya atau tidak, semua yang diucapkan dokter terdengar benar semua oleh Nia. Ada rasa bersalah dalam hatinya.


 


"Nona, Bibi anda baik-baik saja. Subuh memang beliau kejang, tapi itu adalah sebuah reaksi dari otaknya yang mulai berstimulus terhadap organ-organ vital lainnya. Saya menduga, selama beberapa saat mungkin paman anda mengajak isterinya bercerita. Hingga timbullah reaksi shock tersebut. Tetapi nona, ada hikmah di balik semua itu, bibi anda sudah sadar, paru-parunya sudah normal kembali". Dokter masih mempertahankan senyumnya saat bercerita pada Nia dan Aisakha.


 


"Be-benarkah dok". Nia tidak percaya.


 


"Sukurlah, sukurlah". Aisakha memeluk dan mencium kepala Nia.


 


"Sekarang kita sedang melepas alat-alat penunjang organ dalam yang sempat di pasang sebelumnya. Nona tidak perlu kawatir lagi ya! Pikirkanlah kesehatan nona, demi kebaikan nona tentunya dan orang-orang yang menyanyangi nona".


 

__ADS_1


 


__ADS_2