
πππππ
γ
Damar dan Satriyo sudah rapi dari beberapa menit yang lalu, stelan warna biru gelap kompak mereka pilih untuk menyempurnakan tugas mereka hari ini. Tidak mau menunggu lebih lama, maka Satriyo segera menjalankan laju kemudi menuju apartemen sang nona, majikan baru mereka sekarang.
γ
Nia baru saja selesai sarapan pagi saat kedua pengawalnya sampai, awalnya Damar dan Satriyo sedikit khawatir mana tahu mereka terlalu cepat datang, tapi saat tahu nona yang akan di kawalnya sudah cantik di meja makan, mereka pun tersenyum semeringah.
γ
"Kalian sarapan dulu yuk, menunya enak loh. Ayo...jangan sungkan ". Ajak Nia pada Damar dan satriyo yang sudah menunduk hormat padanya.
γ
"Terima kasih nona. Kami tadi sudah sarapan sebelum berangkat ke sini ". Jawab Satriyo ramah.
γ
"Beneran ? Padahal Bibi masak enak ".
γ
"Benar nona, kami sudah sarapan tadi. Mungkin belum 10 menit lamanya ". Sekarang giliran Damar yang menyakinkan Nia.
γ
"Lain kali sarapannya di sini saja, bareng saya ".
γ
"Baik nona ". Jawab Damar dan Satriyo bersama. Sama seperti hati mereka yang bertepuk senang secara bersamaan mendengar tawaran Nia barusan, seperti mendapat durian runtuh saja. Mereka bersorak senang di dalam hati masing-masing.
γ
Dan 30 menit sebelum menunjukkan pukul 07 : 00 Wib, Nia sudah berangkat menggunakan mobil pribadinya yang di kemudikan oleh Pakde dan di dampingi Damar di dalamnya menunju kantor, sedang Satriyo membawa mobil sendiri mengikuti mobil Nia dari belakang.
γ
__ADS_1
***************
γ
Damar memasang muka waspada saat tahu sosok Bowo telah berada di laboratorium, sepertinya Bowo datang lebih dulu dari yang lainnya. Bowo terlihat sedang serius dengan 3 buah tabung larutan dengan 3 warna berbeda di dalamnya, Bowo sedang mengerjakan apa yang diperintahkan Nia padanya kamaren. Sepertinya Bowo belum menyadari kedatangan Nia yang kebetulan sudah berada di sudut laboratorium, Nia sedang menyusun kertas-kertas hasil pemetaan tahap demi tahap jalannya projek terbaru dia dan semua rekan-rekannya. Nia memilih bekerja tanpa bersuara termasuk tanpa menyapa Bowo pagi ini.
γ
"Kenapa kamu masuk ?" Nia heran melihat Damar yang telah berdiri di ujung meja tempat dirinya menyusun sejumlah kertas-kertas menjadi satu bundelan penuh.
γ
"Maaf nona, tapi sepertinya Bowo memandangi nona. Dia tahu nona ada di sini". Damar berbicara setengah berbisik pada Nia.
γ
"Trusss, ada yang salah kalau dia mandangin saya ?" Nia menghentikan aktifitas tangannya dan memilih menatap ke arah Damar.
γ
"Kalau cara dia memandangi nona biasa saja, bagi saya gak masalah. Tapi ini berbeda ". Damar masih berbicara dengan setengah berbisik pada Nia.
γ
γ
"Tatapan matanya saat memandang nona berbeda ". Jawab Damar sangat yakin.
γ
"Bedanya ?"
γ
"Saya belum bisa mengartikannya nona. Tapi akan lebih baik kalau nona berhati-hati pada Bowo. Saya yakin, dia dia punya sebuah rencana ". Damar memperingati Nia.
γ
Masa iya Damar bisa tahu kalau Bowo punya rencana terhadap aku ? Padahal aku enggak ada cerita apapun. Apa karena Damar adalah pengawal profesion jadi instingnya enggak bisa dibohongi, hanya dengan menatap Damar bisa menebak tentang kebohongan yang ditutupi ?
__ADS_1
γ
"Nona ?" Suara Damar menghentikan isi spekulasi di kepala Nia.
γ
"Apa ada yang nona sembunyikan ?" Damar memandang mata cokelat Nia dalam.
γ
"Apa, sembunyikan apa ?" Tanya Nia sambil mengalihkan padangannya dari Damar, kembali menyusun kertas-kertasnya. Jelas Nia harus melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa terpojoknya saat ini karena pertanyaan Damar barusan.
γ
"Kecurigaan saya memang belum berdasar nona. Tapi, saat saya bisa menemukan apa rencana Bowo dan ternyata itu memang benar berhubungan dengan nona. Saya tidak ragu untuk menghajarnya ". Nia bergidik ngeri mendengar penuturan Damar barusan. Rasanya apa yang diucapkan Damar lebih mirip tanda siaga bagi Bowo agar jangan pernah berurusan dengannya.
γ
"Sudahlah, kamu jangan berlebihan begitu. Kalau kamu memang khawatir dengan saya, kamu duduk saja di dekat meja ini. Ambil kursimu sana !" Tunjuk Nia pada sebuah kursi plastik warna hijau di dekat kaki Damar. "Kalau kamu terus berdiri, saya malah jadi grogi. Perasaan kayak saya lagi diawasi sama bagian Pemasaran saja ".
γ
Damar menganguk patuh pada permintaan Nia, hingga tanp menimbulkan suara Damar sudah membawa kursi yang di maksud oleh Nia tepat ke ujung kiri Nia. Damar duduk diam dengan sudut mata tertuju pada Bowo.
γ
Apa maksud lelaki itu duduk di dekat Nia ? Apa dia curiga padaku ? Atau jangan-jangan Nia membocorkan kalau aku mau membawanya siang nanti ? Gawat. Sadar diperhatikan, Bowo berbalik badan cepat, pura-pura sibuk dengan pekerjaannya kembali.
γ
***************
γ
Sementara itu pada bagian belakang Kantor Pengadilan Tinggi Negeri di Kota Bengkulu, Bagas tengah di giring keluar dari sebuah ruang tahanan pengadilan oleh 2 orang petugas penjaga penjara pengadilan. Pagi ini adalah jadwal sidang putusan kasus Bagas atas pelanggaran lalu lintas yang dengan sengaja mengakibatkan rusaknya kendaraan atau barang orang lain di jalan raya 2 minggu yang lalu. Bagas dengan baju putih lengan panjang dan celana hitamnya terlihat santai, penuh percaya diri, walaupun tahu dia memang bersalah dan terancam di jerat Undang-Undang lalu lintas pasal 310 ayat 1, namun semua ituΒ tidak menyurutkan keyakinannya bahwa dia bisa melenggang pulang, bebas siang nanti, khas seorang Bagas yang terlalu pongah dengan keyakinannya.
γ
γ
__ADS_1