
Ini Aku (3)
πππππ
γ
"Iya sayang menangislah, menangislah. Keluarkanlah semua dukamu. Ada aku di sini, berbagilah semua kepedihanmu padaku". Ucap Aisakha sambil mengecup dalam ubun-ubun kepala Nia.
γ
Tangan Nia meremas kuat kemeja abu-abu Aisakha, tubuhnya kembali terguncang. "Hikss, hiksss, hikssss", air mata dukanya terus berjatuhan, membasahi kemeja abu-abu lelaki itu.
γ
"Maafkan aku terlambat datang". Aisakha masih terus memeluk Nia, masih membiarkan kemejanya basah oleh air mata yang terus berjatuhan.
γ
Perlahan, kerapuhan Nia terlihat jelas. Air mata yang sedari awal dilarangya jatuh, sekarang mengucur deras.
γ
"Jangan tinggalkan aku". Suara lirih Nia sukses membuat Aisakha semakin mengiba.
γ
"Tidak, tidak akan pernah, sekarang sudah ada aku, menangislah. Luapkan semua, aku akan menjagamu. Kamu ingat sayang, aku telah berjanji padamu". Ucap Aisakha sambil terus memeluk Nia dan sekali lagi mengecup ubun-ubun kepala Nia.
γ
Entah sudah berapa lama Nia bertahan di dalam pelukan Aisakha, air matanya terus menetes seakan tidak akan ada habisnya. Dan selama itu pula, Aisakha terus membisikkan kata-kata menghibur untuk Nia, menguatkan hati Nia, begitu menenangkan bagi Nia.
γ
Kemudian, Nia menjauhkan wajahnya dari dada Aisakha. Menatap mata biru yang menatap penuh cinta pada dirinya.
γ
"Maaf, lagi-lagi aku. Aku membasahi kemejamu". Terdengar suara Nia di sela sesegukannya karena lamanya menangis.
γ
__ADS_1
Aisakha memegang wajah Nia lembut, mengecup pelan kening wanita cantik yang terlihat pucat itu dan tersenyum hangat pada Nia.
γ
"Kamu boleh membasahi semua kemejaku sebanyak yang kamu suka, aku punya banyak stok kemeja yang siap menerima tetesan hangat dari mata indah ini". Bisik Aisakha di telinga Nia, sambil menghapus air mata Nia yang masih terjatuh.
γ
Nia hanya tersenyum, seulas senyum kaku di sudut bibirnya.
γ
"Maafkan aku, sayang. Aku terlambat datang". Ada nada penyesalan di suara berat Aisakha.
γ
Nia hanya menggeleng pelan dan kembali menyembunyikan wajahnya kedalam dada bidang Aisakha.
γ
"Terima kasih sudah datang, terima kasih". Ucap Nia di sela derai air matanya.
γ
γ
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon. Hikssssss". Dan isak tangis Nia pun kembali terdengar.
γ
"Tidak akan pernah, tidak akan pernah sayang. Percayalah padaku". Sebentar, Aisakha melepaskas pelukannya pada Nia. Memegang dagu Nia dan memaksa mata Nia yang terlihat mulai sembab menatap padanya. "Tidak akan pernah, selamanya. Aku telah berjanji padamu. Peganglah kata-kataku ini Nia. Sampai kapan pun, aku akan ada untukmu, di sisimu, hanya milik kamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu".
γ
Nia melihat dalam ke mata biru itu, mencoba mencari celah kecil atau mungkin satu titik kecil yang memperlihatkan kebohongan dari kata-kata Aisakha padanya. Lama Nia berusaha mencari pertanda ketidak jujuran Aisakha, tetapi Nia tahu. Sangat tahunya dia banya Aisakha tulus padanya, Aisakha memang sangat menyayangi dirinya. Nia pun menemukan jawabnya dalam mata biru itu.
γ
"Berjanjilah".Β Jawab Nia pelan.
γ
__ADS_1
"Peganglah kata-kataku, sampai hayat memisahkan kita. Syania Fira Sujoko, Aku adalah milikmu, lelakimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Sampai tarikan nafas terakhirku". Janji Aisakha pada Nia sambil sekali lagi mencium puncak kepala Nia.
γ
Nia mengangguk pelan, hatinya sangat tenang. Kepedihan di dalam relung hatinya semakin pergi menjauh. Ketenangan dan getaran hangat terus mengalir, menghempaskan rasa duka bernganti rasa percaya dan bahagia.
γ
Aku percaya padamu, aku sangat percaya. Terima kasih Tuhan. Terima kasih telah mengirim lelaki ini dalam hidupku, terima kasih atas ketulusan cintanya padaku. Aku sayang padanya, aku sangat mencintai dia. Aisakha Elang Britana, aku telah jatuh cinta padamu.
γ
Bi Kartik menangis menyaksikan semua adegan yang terjadi di depan matanya, Pakde mengelus punggung sang istri. "Sudah, sudah. Sudah ada tuan, jangan menangis lagi Bu". Bujuk Pakde pada istrinya.
γ
Bowo berlalu, walaupun matanya dapat melihat bagaimana tubuh Nia terguncang sedih dalam pelukan sang Presdir. Tetapi hatinya sudah tenang, Nia sudah di tangan yang tepat, lelaki yang mencintainya telah datang. Dia yakin, kebahagian akan segera mengisi hati dan kehudupan sahabatnya itu.
γ
Wulan, Resya dan Anita menatap nanar, mata mereka membesar dengan mulut terbuka lebar. Mereka tidak percaya, rasanya mereka sama-sama tidak percaya. Sang Presdir, tuan Aisakha si penguasa dunia bisnis bisa begitu khawatirnya pada sahabat mereka, pada Syania.
γ
SangΒ Presdir bisa dengan tenang menerima semua pukulan Nia di dadanya tadi yang berasal dari Nia. Diam tidak bergeming, tidak mengelak apa lagi berusaha membalas. Hanya pasrah memasang badan membiarkan Nia melampiaskan dukanya sampai Nia terlihat kelelahan sendiri. Bahkan lebih parahnya lagi, telinga mereka dapat mendengar dengan jelas semua janji-janji sang Presdir pada Nia, hingga pernyataan cinta suci sang tuan pada Nia.
γ
Wulan menatap Resya dan Anita bergantian, ekspresi kedua temannya sama seperti dirinya. Wulan menatap Profesor Yandi, tenang dan terlihat senyum di wajah lelaki paruh baya itu. Sekarang, Wulan pun menjadi yakin, semua yang terjadi dihadapannya adalah nyata. Dia tidak sedang mimpi, apa lagi berhalusinasi.
γ
Jadi...Presdir adalah lelaki yang sedang mendekat Nia? Sukurlah, sukurlah. Aku tenang sekarang. Wulan menghembuskan nafas lega dan tersenyum bahagia, sama seperti senyum bahagia di wajah si Profesor yang berdiri di sudut lain lorong sepi.
γ
γ
γ
γ
__ADS_1