SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 97


__ADS_3

Tidak


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


γ€€


"Biarkan Paman bersama Bibi". Ucap Aisakha sambil merangkul Nia dan mengajaknya duduk pada sofa besar di sudut lain ruangan tersebut. "Mas, ajaklah Akika duduk dulu". Aisakha meminta Pandu agar juga membawa Alika duduk di sofa besar tersebut.


γ€€


Semua terdiam, memperhatikan Paman yang duduk di samping ranjang Bibi. Paman memegang jemari sang isteri, mengangkatnya pelan dan meletakkannya di atas tangan Paman. Paman memandangi sang isteri dari kepala hingga ujung kaki, melihat kabel warna warni yang terpasang di beberapa bagian tubuh Bibi, menatap iba pada layar-layar di samping kanan Bibi. Entah apa arti semua benda tersebut, Paman tidak bisa memahami fungsi satu-persatu dari jenis alat-alat yang mengelilingi Bibi.


γ€€


"Ooh..sayangku". Ucap Paman penuh kesedihan. "Kenapa kita harus mengalami ini semua? Kenapa kamu harus merasakan ini semua?" Tanya Paman sambil menyeka air matanya.


γ€€


"Maafkan aku sayang. Maafkan aku". Paman mencium jemari Bibi yang berada tepat di atas tangannya.


γ€€


Lama setelah itu, semua hanya terdiam. Kesunyian tercipta di dalam ruang perawatan Bibi. Paman masih menatap sedih pada sang isteri yang tidak juga memberi respon padanya. Aisakha membelai rambut panjang Nia yang terdiam dalam rangkulannya, Pandu memeluk Alika demi memberi kekuatan pada sang isteri. Sedang Kristo, memilih duduk di bangku panjang, di depan kamar rawatan setelah mengantar tim medis keluar tadi.


γ€€


Aisakha melihat ke arah jam tangannya, sudah hampir masuk jam delapan malam. Terbayang olehnya kalau tidak ada satu pun di antara mereka yang sudah mengisi perut di malam ini. Cepat dirinya memanggil Kristo melalui handphonenya.


γ€€


"Iya tuan". Kristo telah berdiri di dekat sofa yang diduduki Aisakha dan Nia.


γ€€


"Pergilah ke bagian lobby, minta mereka siapakan makan malam. Lalu telepon Pakde, suruh dia bawa baju ganti dan baju hangat untuk Nia!" Perintah Aisakha pada Kristo.


γ€€


"Baju ganti tuan juga mau saya bawakan sekalian?" Tanya Kristo kemudian.


γ€€


"Hem". Jawab Aisakha singkat.


γ€€


Kristo pun permisi pada Aisakha, segera turun ke lobby memberitahukan perintah Aisakha tadi pada petugas lobby, kemudian menelepon Pakde, sopir Nia untuk membawakan baju sesuai permintaan Aisakha. Terakhir, dengan setengah berlari Kristo menuju parkiran, mengambil baju ganti sang tuan yang tersusun rapi pada travel bag di bagasi mobil mewah Aisakha.

__ADS_1


γ€€


Selang beberapa lama, petugas pantry datang. Membawakan satu kereta dorong yang penuh dengan aneka hidangan lezat. Setelah mendapat izin dari Aisakha, petugas tersebut menata semua hidangan makan malam yang terlihat sangat enak itu di atas meja. Sepertinya menu makan malam ini sangat lengkap dan enak, aroma wangi hadir sebagai cermin kelezatan makan tersebut.


γ€€


"Coba bujuk Paman untuk makan barang sesuap". Aisakha meminta Alika agar menemui Papanya dan mengajak mengisi perutnya dulu.


γ€€


Alika mengangguk, berjalan ke depan pintu ruang kaca. "Pa". Panggil Alika pelan.


γ€€


"Hemm". Jawab Paman tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah pucat sang isteri


γ€€


"Papa makan dulu yuk". Ajak Alika.


γ€€


Paman memgangkat tangannya sebagai tanda penolakan


γ€€


"Dikit aja, supaya Papa enggak sakit". Alika mencoba membujuk sang Papa.


γ€€


γ€€


"Trus kalau Papa kenapa-napa, Mama gimana?" Tanya AlikaΒ  sedih. "Dikit aja Pa, demi Mama". Bujuk Alika lembut.


γ€€


Paman mengalihkan pandangannya, menatap mata Alika dengan mata yang tidak kalah sembab pula. "Makanlah dulu nak, Papa sebentar lagi". Terdengar suara pelan Paman.


γ€€


"Janji ya Pa?" Alika meminta kepastian dari sang Papa. "Demi Mama".


γ€€


"Iya". Jawab Paman singkat.


γ€€


Alika kembali ke sofa tempat dia dan sang suami duduk, mengelengkan kepala kepada semua sebagai wujud informasi kalau dirinya gagal membujuk sang Papa.

__ADS_1


γ€€


Nia menetapa sedih pada Aisakha, memohon agar Aisakha mau membantu membujuk Paman. Nia sangat tidak tega melihat Paman satu-satunya yang dia punya terlihat begitu tidak berdaya.


γ€€


"Maaf, aku tidak bisa memaksa Paman". Ucap Aisakha sambil menatap dalam mata Nia.


γ€€


"Kita beri waktu sebentar pada Paman, biarkan saja dulu. Nanti pasti akan lebih tenang". Ucap Aisakha menyakinkan Nia.


γ€€


Aisakha terlihat mengambil sedikit nasi lengkap dengan lauk pauknya. "Makan ya". Sekarang giliran Aisakha mencoba membuat Nia mau makan.


γ€€


"Enggak laper". Jawab Nia sambil mengelengkan kepala.


γ€€


"Sedikit saja, aku suapin". Aisakha mendekatkan sendok berisi nasi dan sedikit sayur ke mulut Nia.


γ€€


Nia hanya mengeleng sebagai wujud penolakannya.


γ€€


"Dengar Nia, kalau kamu tidak mau makan. Nanti saat Pakde datang kamu ikut pulang, kamu tidak boleh di sini. Istirahat di rumah saja". Ancam Aisakha pada Nia.


γ€€


"Tidak". Nia menolak.


γ€€


"Kalau begitu makan ya. Supaya kamu tetap sehat. Semua belum berakhir, kita harus sehat. Bibi perlu kita. Tapi kalau seperti ini, kamu bisa sakit. Lantas Bibi, Paman?" Lembut Aisakha mencoba memberi pengertian pada Nia..


γ€€


Nia memandang Aisakha yang mencoba tersenyum padanya. Senyum yang membuat wajah lelaki tampan itu menjadi berpuluh-puluh kali lebih tampan. Aisakha benar-benar tulus cintai padanya, rasanya Nia sangat ingin menangis saat ini. Mendapati lelaki yang mencintainya begitu sabar berbagi duka bersamanya.


γ€€


Akhirnya Nia mengalah, walaupun dia sangat tidak ingin makan, tetapi dirinya memaksakan juga mengunyah sau sendok suapan pertama yang di beri Aisakha padanya. Benar kata Aisakha, kalau dia jatuh sakit apa gunanya nanti. Semua orang malah akan semakin repot karena dirinya.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2