
🌈🌈🌈🌈🌈
 
Pesawat pribadi Aisakha berhasil mendarat sempurna di Bandara Fatmawati Kota Bengkulu, proses terbang burung besi itu berjalan lancar, Aisakha tiba tepat waktu di Kota Bengkulu.
 
"Telepon pengawal bodoh itu, tanya bagaimana perkembangan situasi saat ini !" Perintah Aisakha pada Bowo persis sebelum dirinya masuk ke mobil sedan mewah yang telah terparkir di dekat tangga pesawat miliknya.
 
Kristo tidak bersuara, hanya mengangukkan kepala cepat lalu menutup pintu mobil bagian belakang tempat sang tuan duduk. Barulah setelah itu Kristo memposisikan dirinya di kursi penumpang bagian depan di sebelah sopir kepercayaan Aisakha. Sambil mobil berjalan Kristo sibuk menunggu panggilan teleponnya di angkat.
 
"Dimana ?" Panggilan telepon Kristo telah di terima.
 
"Kami menuju jalan Cempaka, Pak ". Jawab Damar cepat.
 
"Hasilnya ?" Tanya Kristo singkat.
 
"Kamera cctv berhasil menangkap mobil Bowo yang terlihat lewat di sini tadi ". Jelas Damar yang sekarang meminta semua orang-orang yang di bawanya agar segera kembali ke mobil. Sepertinya mereka akan melanjutkan perjalanan kembali.
 
"Buka map, coba telusuri opsi-opsi yang mungkin bisa menjadi pilihan lelaki itu ! Jalan Cempaka bukanlah jalan padat penduduk juga bukan jalan raya utama, aneh kalau Bowo mengemudikan mobilnya ke arah sana ". Kristo seakan menyadari arah mobil Bowo sangat misterius.
 
"Mungkin ada gedung tua atau bangunan lainnya yang mencurigakan ?" Suara Kristo mendadak pelan. Sepertinya Kristo terlihat takut kalau sang tuan mendengar apa yang baru saja di sampaikannya pada Damar.
 
Damar terdiam di ujung telepon. Kalaulah Kristo bisa melihat, saat ini Damar sedang sibuk memperbesar tampilan layar handphonenya demi bisa melihat jelas opsi yang di maksud oleh Kristo padanya.
 
"Bagaimana ?" Desak Kristo yang mulai bosan menunggu.
 
"Tidak ada yang mencurigakan Pak ". Damar kembali bersuara. "Di ujung kiri jalan ini ada perumahan penduduk dan sebuah sekolah ". Jemari Damar sibuk menelurusi garis berbelok-belok di dalam layar handphonenya.
 
"Setelah keluar jalan ini ada sebuah gang Pak ". Sesaat Damar kembali terdiam. "Pak, akhir dari gang itu adalah Rumah Sakit ". Damar menemukan sebuah tanda khusus yang melambangkan Rumah Sakit.
 
__ADS_1
"Kau serius ?" Kristo mulai berdebar cemas.
 
"I, iya Pak. Ru, Rumah Sakit Jiwa dan ketergantungan Obat ". Damar tergagap membacakan tulisan yang tertera di layar handphonenya.
 
***************
 
"Itu pasti bukan Amanda ?" Nia telah menghapus air matanya, terlihat beberapa kali Nia berusaha mengatur nafasnya, Nia sedang berusaha menenangkan diri dari cerita memilukan yang sangat menguras emosinya itu.
 
"Anda benar, itu memang bukan foto-foto Amanda, melainkan foto-foto anda ". Nia terlihat kaget, walaupun diam-diam Nia sudah mulai curiga itu pasti bukan Amanda, melainkan dirinya. Apa lagi saat di singgung tentang sosok wanita dengan jas laboratorium tengah berdiri di depan papan tulis putih. Hati Nia meronta keras, sangat yakin kalau itu adalah dirinya. Hanya saja, saat kecurigaan itu di benarkan oleh dokter Zaky, Nia tetap saja terlihat terkejut. Kaget karena selama 2 tahun ini dirinya tidak pernah sadar kalau ada yang mengambil foto-foto dirinya diam-diam.
 
"Selama 3 tahun ini kakak lelaki Amanda berhasil mengambil foto anda di setiap aktivitas anda, dan dia selalu memperlihatkan foto-foto anda itu kepada Ibunya. Dan percayalah, wajah mirip anda dan Amanda sangat membantu". Dokter Zaky menatap Nia serius.
 
"Kalau begitu apa lagi yang anda mau dari saya ? Kenapa Bowo membawa saya ke sini ? Dan kenapa anda menahan saya untuk pergi ?" Nia fokus menatap dokter Zaky.
 
"Saya perlu bantuan anda, kakak lelaki Amanda, adik perempuan Amanda, kami semua perlua bantuan anda !" Dokter zaky terlihat sangat serius.
 
 
Apa artinya ini...Bowo....?
"Dan....?" Nia semakin mendesak dokter Zaky.
 
"Akibatnya depresi di tubuh renta si Ibu itu semakin menjadi hingga membuatnya menjadi lemah, dia menolak makan ".
 
"A, apa ?" Nia mengeleng tidak percaya.
 
"Dan tadi, Ibunya Amanda pingsan. Tubuhnya kehilangan banyak nuterisi di tambah semangat hidupnya sudah tidak ada lagi ". Dokter Zaky penuh kesedihan. "Karena itu, sudah seminggu ini saya terus mendesak kakak lelaki Amanda agar membawa anda ke sini. Saya sangat berharap kedatang anda bisa membangkitkan semangat hidupnya lagi, untung-untung malah bisa membuatnya bicara lagi ".
 
"Bowo adalah kakak lelaki Amanda ?" Nia memperhatikan sepasang bola mata hitam dokter Zaky.
 
__ADS_1
"Iya, dia adalah Bowo ". Jawab Dokter Zaky cepat.
 
Jadi, jadi karena semua ini Bowo membawaku?
Kenapa dia tidak jujur saja ? Kenapa menutupi semua ini ?
 
"Cepat antar saya ke kamar Ibu itu ". Entah kenapa Nia sangat ingin segera menemui sosok Ibu yang menurut cerita dokter Zaky tadi sedang dalam keadaan sangat tidak baik.
 
"Bagus, itu yang saya harapkan sejak awal ". Senyum antusias mengembang di wajah tua si dokter. "Ayo cepat, kita harus bergegas !"
 
Nia memaksa langkah kakinya agar bisa menyamai kecepatan langkah lebar sang dokter. Diam-diam Nia merutuki dirinya karena kesulitan berjalan cepat dengan sepatu bertumit tinggi. Andai saja pagi tadi pilihan sepatunya bukan yang ini, mungkin Nia akan merasa lebih nyaman kalau di minta berjalan cepat seperti sekarang.
 
Dasar Bowo, kenapa coba pake sembunyi-sembunyi segala, coba aja jujur dengan senang hati aku bakal tolong. Dan semua gak perlu seperti ini. Aku juga bisa bawa teman-teman kesini, Wulan, Resya dan Anita pasti senang buat membantu. Tapiiii, apa Resya tahu tentang hal ini, kan Resya yang paling lama kenal sama Bowo ?
Emmm.....kayaknya enggak deh. Buktinya Resya waktu itu kaget banget waktu Mas tanya tentang Ibunya Bowo kan.
Ehhh, tunggu......Astaga jadi Mas tahu tentang Ibu Bowo yang di rawat di sini ?
 
"Silahkan ". Sibuk dengan pikirannya sendiri hingga Nia tidak menyadari kalau dokter Zaky sudah berdiri di depan sebuah kamar rawatan. Nia berjalan masuk, melewati dokter Zaky semakin ke dalam. Kamar rawatan sederhana, mungkin sebuah kelas biasa.
 
Seorang wanita yang sepertinya sangat tua, atau memang usianya telah tua. Nia tidak tahu pasti, yang jelas sosok wanita itu hanya tertidur diam di ranjang dengan tangan terpasang impus. Di samping ranjang Nia melihat sosok lelaki duduk memegang erat tangan renta wanita itu. Meskipun lelaki itu duduk dengan membelakangi Nia, tapi Nia bisa mengenali kalau itu adalah Bowo, sahabatnya.
 
"Kak Manda ". Gadis kecil dengan rambut di kuncir tinggi berjalan ke arah Nia. Bowo segera membalikkan badannya, sejenak Bowo merasa tidak percaya. Aku pikir kamu sudah kabur.
 
Gadis kecil itu memeluk Nia, menangis sejadinya di bahu Nia. Sepertinya sudah terlalu banyak beban berat yang menghimpit batinnya selama ini.
 
Nia hanya diam membalas pelukan gadis kecil yang sebenarnya sangat imut menurut pandangan matanya menangis puas di bahunya. Entah kenapa ada rasa iba luar biasa, Nia berusaha membelai punggung yang masih terguncang itu. "Cuuuppp, udah ya ". Bujuk Nia menenangkannya.
 
"Lili, sudah. Lepaskan Nia. Dia bukan Amanda, kamu buka matamu baik-baik ". Ada nada suara tidak senang terdengar dari mulut Bowo. "Dia tidak mau membantu kita, biarkan dia pergi ". Ucap Bowo tidak senang.
 
Si gadis kecil yang bernama Lili pun perlahan melepaskan pelukannya dari Nia, memandang Nia sesaat dan segera berjalan mendekat ke arah Bowo.
__ADS_1