SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
92


__ADS_3

🌈🌈🌈🌈🌈


Sore ini langkah Nia sedikit perlahan, tubuhnya benar-benar lelah, wajah agak pucat dan mata panda yang terlihat jelas. Tampilan kacau yang membuat sang Mama mertua langsung tersentak. Nyaris berlari, wanita paruh baya ini segera datang menyambut Nia. Hari ini Mama Aisakha itu sengaja memulai janjiannya bersama Bibi Ros di kediaman wanita yang terlihat sudah sangat membaik, sepertinya persiapan pernikahan Nia sukses membuat sang Bibi lupa dengan sakit di kakinya.


 


"Sayang....kamu kenapa Nia ?" Mama mertua Nia ini sampai di teras tempat Nia berdiri. "Kenapa jadi kacau dan pucat seperti ini ? Apa pekerjaan di kantor terlalu banyak ?" Mama memberi pelukan hangat pada Nia.


 


"Ma ". Nia sengaja berlama-lama, bertahan dalam pelukan hangat seorang Ibu yang sudah lama tidak dirasakannya. Jujur, di saat hatinya sedang tak tentu seperti ini, Nia merindukan sosok Ibunya.


 


"Kamu kenapa nak ?" Mama melepas sebentar pelukannya pada Nia, memberi jeda dan menatap wajah Nia.


 


"Aku nggak papah Ma, mungkin karena mau dapet aja, jadi bawaannya lelah ". Nia berbohong.


 


"Bukan karena pekerjaan ?" Tanya Mama sambil kembali memeluk Nia.


 


Nia mengeleng pelan sambil berusaha menahan air matanya.


 


"Kalau begitu kamu istirahat dulu ya, nanti akan Mama suruh Lita buatkan teh jahe merah untukmu. Biasanya kehangatan jahe merah ampun untuk membuat kita yang mau dateng bulan itu lebih rileks ".


 


"Lita, Ma ?" Nia cukup heran.


 


"Iya Lita. Mama meminta Lita ke sini buat bantu-bantu Mama ". Kali ini Mama kembali melepaskan pelukannya dari Nia.


 


"Ayo Mama antarkan ke kamarmu, Nia ". Dengan menuntun Nia, Mama membawa calon menantunya itu berjalan ke arah lantai 2.


 


"Sebentar lagi Mama ada janjian sama Bibimu, ada beberapa persiapan pernikahanmu yang harus kami cek. Jadi Lita Mama suruh di sini ya, temani kamu ?" Mama membuka pintu kamar Nia

__ADS_1


 


"Iya Ma ". Nia mengangguk setuju.


 


"Sekarang masuklah dulu, Mama mau bilang Lita agar membuatkan teh jahe untuk kamu, sama bilang Bibi Ros kalau perginya sebentar lagi saja !" Pintu kamar Nia kembali tertutup.


 


Tanpa menganti baju kerjanya, Nia memilih naik ke atas ranjang empuknya. Mungkin dengan berbaring sejenak rasa lelah Nia akan berkurang. Begitu kira-kira isi pikirannya.


 


Beberapa saat berlalu, sang Mama mertua kembali ke kamar Nia. Sungguh kasihan hati Mama melihat kondisi Nia, jelas perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, tetapi Mama tidak bisa membuat Nia berbicara jujur.


 


"Apa kamu tahu Nia, Sakha sangat cemas dengan kondismu ?" Mama mengagetkan Nia yang sedang termenung di atas ranjangnya.


 


"Apa yang kamu lamunkan ?" Tanya Mama sambil duduk di tepi ranjang Nia. "Ceritakanlah sama Mama !" Mama memegang tangan Nia.


 


 


Mama tersenyum, "jangan boong nak, dosa loh. Kamu gak takut dosa apa, boongin Mama mertuamu ?" Sekali lagi Mama menyentuh tangan Nia.


 


Nia menatap Mama lama, Mama sadar. Mata Nia mulai berkaca-kaca.


 


"Ma ". Nia mengeser tubuhnya masuk dalam pelukan Mama.


 


"Ada apa sayang, ceritalah sama Mama !" Mama memeluk erat Nia.


 


"Ma ". Suara iba Nia diantara tangisannya. Lelah sekali, Nia sangat ingin merasakan perlindungan dan kasih sayang dari sosok Ibu yang di rindukannya.


 

__ADS_1


"Menangislah, menangislah sepuasmu ! Ada Mama di sini, Mama tidak akan pernah meninggalkanmu. Mama janji sayang ". Mama masih memeluk Nia erat.


 


Lama Nia bertahan di posisi itu, air mata mengalir menjadi bukti kepenatannya beberapa hari ini, lelah batin ini semua tercurah begitu saja. Nia terisak-isak bersama Mama.


 


"Aisakha begitu khawatir padamu, nak. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres, beberapa hari ini pikirannya hanya tercurah padamu saja. Sepertinya kalian memang berjodoh, saling merasakan meskipun berjauhan ". Setelah beberapa saat, mama merasakan sesegukan Nia mulai mereda.


 


"Kamu tahu Nia, dulu sepanjang 3 tahun yang lalu. Mama selalu saja sibuk memaksa Sakha. Kamu tahu ?" Mama mengusap-usap punggung Nia. "Mama sibuk memaksanya agar segera menikah. Mama sindir dia yang pulang kantor dalam keadaan lelah tanpa ada yang menyambut dan mengurusinya. Bahkan Mama paksa dia menerima acara perkenalan dengan segudang anak-anak gadis dari teman-teman Mama. Tetapi selalu saja berakhir dengan Mama dan Sakha ribut. Mama sibuk carikan dia jodoh, dia sibuk menolak semua pilihan Mama, dia benar-benar buat Mama kesal ". Tanpa Nia sadari ada senyum tipis di bibir tua Mama.


 


"Dia selalu mencarimu Nia, menunggumu dan berharap dapat berjodoh denganmu. Mama kadang tidak habis pikir, apa keistimewaan kamu, gadis yang hanya ditemuinya sesaat di dalam penerbangan ? Tidak banyak bicara, tetapi dia bisa begitu mendalam menyimpan rasa ". Mama melihat Nia terlihat sudah lebih tenang.


 


"Sampai akhirnya kita bertemu, tanpa tahu siapa Mama, kamu begitu baik mau menolong Ibu tua ini. Hingga akhirnya Mama tahu siapa kamu, si gadis penolong Mama. Gadis yang diam-diam Mama incar untuk jadi menantu Mama ". Mama melepas pelukannya dari Nia sesaat. Memberi ruang untuk melihat mata yang sedikit memerah akibat tangisan berkecamuk hatinya tadi.


 


"Mama akhirnya mendapat jawaban, Mama akhirnya tahu. Kenapa anak lelaki Mama satu-satunya bisa begitu mencintaimu ". Mama tersenyum pada Nia sambil kembali menarik Nia dalam pelukannya.


 


"Kamu gadis baik nak, kamu tulus, cintamu murni. Kamu tidak hanya cantik fisik, tetapi hatimu juga cantik. Wajar kalau Sakha begitu memujamu, karena Mama sendiri tidak bisa boong. Mama juga sangat sayang sama kamu, wahai menantuku ". Mama mengecup puncak kepala Nia.


 


"Jadi...apa yang membuatmu ragu ?" Tanya Mama setelah begitu banyak cerita di sampaikannya.


 


"Apakah ada yang lebih layak bagi hatimu ? Melebihi Sakha kita ? Sakha Mama dan kamu ?" Pertanyaan Mama membuat Nia memejamkan mata. Entah kenapa ada rasa menohok dalam di sudut hatinya


 


"Menjelang pernikahan itu akan sangat banyak cobaannya Nia. Kadang masalah sepele bisa besar dan berakhirnya ikrar suci tentang keinginan berumah tangga. Tetapi, semua kembalikan lagi pada hati kita. Hati kecil kita tidak akan berbohong. Bagaimanapun kamu berpura-pura menolak, kalau memang itu bukan yang terbaik, hati kecilmu bakal memberontak. Mama tidak ingin mengiklankan anak Mama sebagai lelaki terbaik di dunia ini. Namun, percayalah Nia, cinta Sakha memang terbaik untuk mu !" Nia masih memejamkan matanya, menyerap perlahan semua penuturan sang calon Mama mertuanya itu. Mama begitu sabar menhadapi kegalauan Nia, membelainya, mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Sungguh besar kasih sayang wanita paruh baya ini, begitu sayangnya hingga bisa membuat Nia menyadari sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


 


Nia melepaskan diri dari pelukan Mama mertuanya, menghapus sisa air mata yang mulai mengering di antara pipinya. Nia menarik nafas dalam, mengangkat tangan kanan Mama dan menciumnya dalam. Entah bagaimana caranya, tetapi Nia telah terjaga. Hilang sudah himpitan besar di hatinya, lenyap sudah ketidak pastian di dala. dirinya. Sekarang, apapun itu, diam-diam Nia telah berjanji akan mengapai masa depannya dengan lelaki yang di cintainya. Lelaki yang tulus mencintainya sepenuh jiwa, lelaki yang menurut hatinya adalah paling baik untuk masa depannya. Kali ini Nia sudah mantap, dirinya memilih mengikuti kata hatinya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2