SENJA BARU UNTUK SYANIA

SENJA BARU UNTUK SYANIA
Episode 113


__ADS_3

Pagi Yang Indah


🌈🌈🌈🌈🌈


γ€€


Entah sudah berapa lama Nia memandang dirinya di depan cermin kamar mandi, Nia masih bisa merasakan hawa panas di wajahnya. Jelas dia tidak deman lagi, tetapi yah itulah kenyataannya. Wajah Nia memang masih terasa panas. Panas yang di timbulkan dari adegan bibir Aisakha yang membalas pernyataan cinta dari Nia, tepat di bibirnya.


γ€€


Bibir Aisakha lama tertahan di bibir Nia, mengecup penuh cinta. Sebagai wujud pernyataan cinta terdalam dariΒ  hati Aisakha, tidak ada lumatan, tidak ada selipan nafsu di dalamnya. Hanya sebuah kecupan sayang yang ingin Aisakha beritahu pada Nia. Agar gadis cantik pemilik hatinya itu tahu, betapa besar arti Nia dalam hidupnya.


γ€€


Nia membiarkan telunjuk kanannya mengelus pelan bibirnya, tempat dimana bibir Aisakha bersatu dengan dirinya tadi. Nia mencoba menjelajahi tempat dimana lekut-lekut bibir tegas Aisakha terasa berlama-lama. Aku sangat malu. Nia menatap matanya.


γ€€


"Mas bilang bibirku rasanya manis, duhhh..kok jadi malu banget". Nia mengeleng menahan malu sendiri. "Mana belum gosok gigi lagi. Hah...iya, tadikan bangun langsung cerita sama Mas. Aku belum kumur-kumur loh. Apa lagi gosok gigi. Ya ampunnnnnn Nia. Masa first kissnya gituh, ihhhhhhhhh....memalukan banget Nia". Nia menatap kecewa pada wajahnya sendiri. "Mas pasti boong, belum gosok gigi kok bilang manis, ya Tuhannnnn first kissku". Nia merasa sangat tidak percaya diri. Nia pun memilih berlalu dari depan cermin dan berdiri di bawah tetesan air dingin shower. Nia lebih memilih menghilangkan hawa panas yang masih bertahan di wajahnya saat ini.


γ€€


Saat Nia sedang bertahan di bawah shower menikmati air dinginnya, Aisakha memilih turun ke lantai satu apartemen sang kekasih. Aisakha ingin meminta Bi kartik agar menyiapkan menu sarapan pagi untuk Nia dan dirinya sendiri pastinya, pagi ini Aisakha sangat ingin sarapan bersama Nia, sebuah pengalaman yang sangat dinantinya.


γ€€


Dari jauh Pakde bisa melihat sinar cerah mentari pagi seakan berasal dari mata Aisakha. Aura kebahagiaan jelas terpancar dari senyum yang menghiasi wajah tampan Aisakha. Memang udara pagi ini sangat cerah, awan dan mentari telah memberikan kehangatannya di langit biru, sepertinya masyarakat Kota Bengkulu akan menikmati langit biru yang asri hari ini. Tetapi menurut Pakde kehangantan mentari pagi ini masih kalah dengan pancaran cerahnya sinar mentari yang terlukis jelas di mata biru Aisakha. Sukurlah, aku yakin semua baik-baik saja. Pakde pun ikut merasakan aura kebagaian Aisakha.


γ€€


"Ada yang bisa Pakde bantu tuan?" Sapa Pakde pada Aisakha saat Aisakha telah berdiri di tepi meja makan.


γ€€


"Bibi mana Pakde?" Tanya Aisakha.


γ€€


"Ooo, Bibi lagi di dapur tuan. Sebentar ya, Pakde panggil". Pakde berniat meninggalkan Aisakha dan berlari ke dapur memanggil sang isteri.


γ€€


"Enggak usah, minta tolong Pakde bilang aja. Siapkan sarapan buat aku dan Nia, bentar lagi dia turun!" Perintah Aisakha pada Pakde.


γ€€


"Non dah sehat tuan?" Pakde terlihat tersenyum penuh keyakinan.


γ€€


"Iya, udah gak papah lagi". Jawab Aisakha menyakinkan.


γ€€


"Sukurlah..sukurlah". Pakde terlihat sangat senang. "Bentar ya tuan, Pakde minta Bibi bawa sarapannya ke atas".


γ€€


"Nggak usah ke atas. Di sini aja" tunjuk Aisakha pada meja makan.


γ€€


"Oo, iya tuan. Baik, baik". Pakde mengerti dengan perintah Aisakha.


γ€€


Aisakha berlalu, berniat kembali kekamr Nia, dia ingin melihat apakah Nia sudah selesai dengan kegiatan mandinya. Tetapi tiba-tiba Aisakha ingat sesuatu. Dirinya ingat pada sosok sekretaris setianya, Kristo.


γ€€

__ADS_1


"Pakde, sebentar!" Dengan suara sedikit keras, Aisakha berhasil membuat Pakde yang ingin ke dapur berhenti melangkah.


γ€€


"Iya tuan, ada lagi yang mau disiapkan?"


γ€€


"Bukan, saya mau tanya, Kristo mana dia?" Tanya Aisakha kemudian.


γ€€


"Den Kristo lagi di bawah tuan. Tadi setelah sarapan pamit mau manasin mobil. Mungkin bentar lagi naik tuan". Pakde menjelaskan.


γ€€


"Ooo, sudah bangun dia". Aisakha menganguk pelan.


γ€€


"Sudah tuan, begitu bangun den kristo tanya tuan". Jawab Pakde sambil berusaha mengingat pertanyaan Kristo padanya pagi tadi. "Tuan gimana Pakde, bisakan tidur semalam. Tuan baikkan? Lagi apa tuan? Apa tuan perlu sesuatu dan.....", Pakde terlihat kembali berpikir. "Masih ada beberapa lagi pertanyaannya tuan. Banyak banget, Pakde sampe lupa. Hehehehe". Pakde tertawa sendiri mengingat cara Kristo bertanya tadi.


γ€€


"Ah, anak itu. Hahaha". Aisakha pun tertawa pelan sambil menaiki satu persatu anak tangga kembali kekamar Nia.


γ€€


Saat Aisakha telah kembali ke kamar Nia, terlihat Nia sedang mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk. Nia menurunkan rambutnya yang panjang ke arah depan, menutupi seluruh wajahnya hingga dia tidak menyadari kalau Aisakha sudah berdiri memperhatikannya sedari tadi, sambil bersandar di pintu kamar, dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. Aisakha tersenyum melihat Nia yang sibuk dengan rambutnya.


γ€€


"Sini Mas bantu". Aisakha sudah berdiri persis di depan Nia.


γ€€


"Aduh". Nia menjatuhkan handuk yang di pegangnya. "Mas buat aku kaget aja". Nia terlihat ingin membungkuk, ingin mengambil handuknya yang jatuh. Tetapi gerakan Nia kalah cepat dari tangan kekar Aisakha yang sudah duluan mengengam handuk tersebut.


γ€€


γ€€


Perasaan Mas udah dua kali deh nyebut dirinya Mas, gak aku? Nia sedang berpikir.


γ€€


Pelan Aisakha memijat kepala Nia, dia sedang berlama-lama memainkan rambut panjang sang kekasih dengan handuk di tangannya. Nia terlihat menikmati cara Aisakha mengeringkan rambutnya, rasanya cara kerja Aisakha ini mengalahkan cara kerja pesalon profesional dimana pun berada. Nia suka dengan setiap sentuhan ringan Aisakha di kepalanya.


γ€€


"Mas hebat". Puji Nia sambil menatap Aisakha dari cermin di depan dirinya.


γ€€


"Serius?" Tanya Aisakha dengan tatapan penasaran.


γ€€


"Hu-uh". Nia menganguk pelan. "Yang di salon-salon itu kalah sama Mas". Jawab Nia berbangga.


γ€€


"Wah berarti Mas bisa nih melamar kerja di salon". Jawab Aisakha asal.


γ€€


"Enak aja". Nia langsung mencebek. "Pengen pegang-pegang rambut wanita lain, iya?" Tanya Nia sewot.


γ€€

__ADS_1


"Kamu cemburu ya?" Aisakha berusaha menahan tawa.


γ€€


"Ihhh, sapa juga yang cemburu". Nia tambah sewot.


γ€€


"Sayanggggg, kalau bibirmu seperti itu nanti Mas bisa menciummu loh. Terlalu mengoda". Aisakha menyudahi kegiatan mengeringkan rambut Nia dan beralih serius menatap pantulan wajah Nia di cermin.


γ€€


Ci-cium lagi..? Nia hanya bisa menunduk malu.


γ€€


Cantik banget kamu.. kapan ya kita bisa sepenuhnya bersama, aku bisa mengikatmu dalam sebuah ikatan suci? Aisakha mencium puncak kepala Nia.


γ€€


"Mas ngapain". Nia terkejut.


γ€€


"Ngambil upah udah bantuin kamu". Jawab Aisakha senang. "Mana sisirnya, sini Mas yang sisirin?" Aisakha mengulurkan tangan kanannya pada Nia.


γ€€


Bagai mahakarya terbaik, Aisakha terlihat sangat lembut menyisir rambut panjang Nia. Perlahan dan sangat berhati-hati, Aisakha tengah menikmati mainan barunya itu, rambut sang kekasih.


γ€€


"Rambut kamu wangi banget". Puji Aisakha di akhir kegiatan menyisir rambut Nia. "Besok-besok Mas yang bantuin keringin rambutmu ya?" Aisakha mengajukan permintaan pada Nia.


γ€€


"Lah, gimana caranya Mas. Kan enggak mungkin tiap aku keramas, akunya minta Mas datang sini?" Tanya Nia dengan wajah polosnya.


γ€€


"Hahaha", tawa Aisakha lepas.


γ€€


"Ihhhh, ketawa lagi". Nia kesal, berbalik badan dan memukul pelan perut sispeck Aisakha.


γ€€


"Habis, pertanyaannnya lucu. Hahaha". Masih ada sisa tawa di bibir Aisakha.


γ€€


"Ihhhhhh". Nia kembali bersiap memukul perut Aisakha. Tapi, gerakan Nia kalah cepat.


γ€€


Aisakha terlebih dahulu berhasil menangkap tangan wanita cantik itu dan mengangkatnya ke arah bibirnya. Hingga satu kecupan manis mendarat di punggung tangan Nia.


γ€€


Nia diam, memperhatikan kecupan Aisakha pada tangannya. Pikiran Nia membawa dia terbang pada kejadian subuh tadi, saat..saat. Nia segera menghalaw imemorinya itu, rasanya dia siap meledak sekarang, wajahnya terlalu panas menaham efek rasa malunya.


γ€€


"Ayo". Aisakha membantu Nia berdiri. "Bi Kartik sudah siapin sarapan buat kita". Aisakha mengajak Nia turun ke meja makan.


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


γ€€


__ADS_2